
Ayasa dan Dimas pergi ke klinik Dokter Anindita,
"Syana kamu yakin ini akan berhasil?"tanya Dimas ragu-ragu,
"Yakinlah percaya sama aku,"ucap Syana.
Mereka pun masuk keruangan Dokter Anindita yang tak lain adalah ibu Syana, mereka mengambil beberapa kebutuhan pasien seperti infus,kapas,kasa dan masih banyak lagi.
Mereka memasukkan nya ke dalam ransel dan segera pergi dari sana secara diam-diam.
Sesampainya di Apartemen mereka mengeluarkan isi ransel tersebut.
"Ini nggak apa-apa kita ngambil ini semua?"tanya Dimas.
"Nggak apa-apa,nanti kalau ketahuan Ibu aku yakin ibu juga nggak akan marah."jawab Syana.
Syana mulai membalut kaki dan tangan Dimas,memasang selang infus dijari Dimas seolah-olah infus itu berfungsi.
"Beres,"Ucap Syana.
Dimas berbaring di kasur nya layaknya seseorang yang sedang terluka parah.
1 foto Dimas yang sedang berbaring dengan beberapa luka perban di tangan dan kakinya,Syana menatap foto tersebut cukup lama.
"Apa ini tidak berlebihan ya,"batin Syana kembali melihat Dimas yang kesusahan bergerak.
"Lebih menyedihkan lebih baik,"batin Syana kemudian ia mengirim foto tersebut ke WA Ayasa dengan disertai tulisan,"Kasihan banget mantan gue ."
Setelah membaca pesan tersebut Ayasa langsung membalas chat Syana,
"Kak dimas kenapa?"tulis chat Ayasa.
"Tu apa aku bilang kan,baru beberapa detik saja udah langsung dibalas.
"Masa sih,"ucap Dimas mengambil ponsel Syana dan melihat foto profil Ayasa.
Dimas tersenyum saat melihat chat jika Ayasa benar menanyakan keadaanya.
"Kamu yakin ini akan berhasil,tidak menimbulkan masalah baru?"tanya Dimas takut jika kebohongan yang mereka lakukan diketahui oleh orang lain.
"Enggak lah, tenang aja nggak ada yang tau, kita cuman ngebohongin Ayasa saja, enggak usah takut,"ucap Syana.
Syana terus membalas pesan Ayasa dan semakin menambah kebohongannya,ia sengaja ingin membuat Ayasa panik.
Namun diluar dugaan ternyata Ayasa memberitahu Bram dan mengirim foto tersebut kepada Bram, membuat Bram langsung menelpon Dimas.
"Halo Dimas kamu kenapa? kok bisa diperban gitu, kamu sakit?" ucap Bram.
"aku baik-baik saja pak."ucap Dimas langsung mematikan ponselnya.
Tak lama kemudian beberapa pesan masuk di ponsel Dimas, semua menanyakan keberadaan dan kesehatan Dimas.
"Nah loh, kok semua pada tahu?"tanya Dimas kaget,
"Gimana nih?" tanya balik Syana ikut panik.
"Ya udah kak Dimas sakit beneran aja,"ucap Syana.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Dimas menatap mantannya itu.
"Ya kak Dimas lompat gih,"tunjuk Syana pada balkon Apartemen Dimas .
"Kamu gila ya,dari lantai ini bukannya masuk rumah sakit langsung dikubur aku," ucap Dimas.
"Terus kalau kita ketahuan bukan hanya kak Dimas yang kena hukum,aku juga bakalan kena,"ucap Syana.
Syana mengambil tongkat baseball,
"kamu mau ngapain?"tanya Dimas.
"Kalau kak Dimas di pukul pake ini,pasti tangan dan kaki kak Dimas beneran patah,"ucap Syana memperlihatkan tongkat yang ada di tangannya.
"Enak aja,,ga.Cari cara lain."ucap Dimas.
"Nanti kita pikirkan lagi, temanin aku ke bawah,"ucap Syana mengambil tasnya dan berjalan lebih dulu.
Syana berjalan menuju tangga darurat,
"Loh kenapa nggak lewat lift aja?" tanya Dimas.
"Lagi pingin olahraga,kita lewat tangga saja,"ucap Syana,
"Ya sudah lha,"ucap Dimas pasrah, ia masih memikirkan cara bagaimana agar kebohongan mereka tak diketahui.
Mereka pun jalan di tangga,baru setengah jalan Syana langsung mendorong Dimas.
Dimas jatuh berguling-guling tersungkur di lantai, Dimas memegang tangannya yang terasa sakit.
"Nggak sengaja apanya....kamu sengaja kan dorong biar aku jatuh,"ucap Dimas mencoba untuk berdiri.
"aww,"pekik Dimas saat kedua sikunya terasa sakit,ia bahkan tak bisa menggerakkan kedua tangannya.
Dimas mengerang kesakitan saat Syana menggerakkan kedua tangannya.
"Aku beneran sakit di tangan,jangan di sentuh,"ucap Dimas meringis kesakitan.
"Rencana gue berhasil,"batin Syana.
Dimas ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Dokter mengatakan jika tulang Dimas retak sehingga harus di gips.
Setelah dari rumah sakit Dimas kembali ke Apartemennya, ia benar-benar terbaring di kasur bukan lagi pura-pura tapi sungguh kesakitan. Syana tertawa terbahak-bahak melihat Dimas.
"Kurang ekor kamu Syana tertawa diatas penderitaan ku," ucap Dimas.
"Eh kak Dimas,kalau kita sampai ketahuan berbohong mungkin bukan hanya tangan kak Dimas yang gips, tapi mungkin seluruh tubuh kak Dimas."ucap Syana kembali tertawa dan membayangkan Dimas menjadi mumi.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian satu per satu keluarga Wijaya datang menjenguk Dimas termasuk Ayasa.
Saat semua berkumpul, Syana membawakan Dimas air minum dan sengaja menyenggol kaki Dimas, Dimas berteriak kesakitan dan orang yang pertama mendekat adalah Ayasa. "Ada apa kak, mana yang sakit?"tanya Ayasa.
Dimas merasa terbang ke langit ke-7 mendapat perhatian dari gadis pujaannya, "kak Dimas harus bayar mahal untuk ide ku ini,"bisik Syana.
Setelah beberapa lama di Apartemen Dimas, semua pun kembali kecuali Ayasa dan Syana.
Syana duduk menemani Dimas sedangkan Ayasa ke dapur masak makan malam untuk mereka.
__ADS_1
Syana, bantuin Ayasa sana masak,"ucap Dimas.
"Aku nggak tahu masak,"ucap Syana cuek,ia bermain ponsel.
Ayasa masuk dan membawa sepiring makanan untuk Dimas dan meletakkan di meja dekat tempat tidur Dimas,
"Ini makananya Kak,"ucap Ayasa.
"Terima kasih ya," ucap Dimas.
"Ayasa, tangan kak Dimas sakit,bagimana bisa makan, suapin aja,"ucap Syana masih fokus pada ponselnya.
Ayasa menghampiri Syana, kamu aja yang suapin,"ucap Ayasa duduk di dekat syana.
"Enggak ah, aku lagi main game online nggak bisa ditinggal," ucap Syana.
Lama mereka seperti itu,Syana bermain game online sedangkan Ayasa terus melihat Dimas yang tak bisa mengambil makannya.
"Syana Ini sudah malam kita pulang yuk," ucap Ayasa.
"Ayo,"ucap Syana langsung mengambil tasnya.
"Suapin Kak Dimas dulu," ucap Ayasa menghentikan langkah Syana.
" enggak ah,kalau dia lapar nanti juga dia makan sendiri ,"ucap Syana melihat Dimas yang juga melihatnya.
"Gimana caranya?"tanya Ayasa bingung.
"Ya pakai kaki lah,"ucap Syana santai.
"Kamu ini ada-ada aja,masa pakai kaki,"gerutu Ayasa menghampiri Dimas dan menyuapinya.
Dimas terus menatap wajah Ayasa sambil terus mengunyah,dan Ayasa terus tertundu.
Setelah Ayasa memberi minum ia langsung keluar kamar ,menghembuskan nafasnya,sedari tadi iya sangat kesulitan mengatur nafasnya.Detak jantungnya berdetak kencang, iya melihat pantulan wajahnya di cermin yang sudah sangat memerah.
"Cie cie, seneng nih disuapin," ledek Syana berjalan mendekati Dimas.
" Makasih ya,ide kamu memang brilian, ya walaupun sakit beneran," ucap Dimas.
"Oke santai aja ,yuk kita tos,"Syana melakukan tos pada tangan Dimas yang memakai gips dan langsung lari keluar kamar.
"Syaaaana," teriak Dimas kesakitan dan sana hilang pun hilang di balik pintu.
Mereka kembali ke rumah masing-masing
πππππππππ
terima kasih sudah setia membaca karya aku tanpa kalian karya Aku bukan apa-apa, tetap tinggal kan jejak kalian ya dengan beri like dan komen sebanyak-banyaknya terima kasih.
Terharu banyak yang senang dengan karya akuπππ
Tapi maaf ya kak, season ini tinggal beberapa bab lagi,tapi aku janji akan ada season kedua untuk pilihanku...
Entah lanjut disini atau kita buat judul yang baru..
Tetap favoritkan ya πβΊοΈβΊοΈβΊοΈ
__ADS_1