
Hari ini Mikaila akan membawa anak-anak nya berkunjung ke rumah besar,salah satu rutinitas akhir pekan yang sudah di wajibkan.
Menginap di sana membuat mereka saling menghibur,ayah Bram menghabiskan waktu nya dengan bermain bersama cucu-cucunya.
itu salah satu cara untuk mengusir rasa sedihnya.
Queen sangat senang memeluk Kelvin,ia selalu duduk di dekat Kelvin.
Kelvin yang merasa risih terus menjauh membuat Queen terkadang menagis.
Rumah besar terasa ramai dengan kehadiran Mikaila dan anak-anaknya.
"ibu dengar Raihan sering menemui mu ,"tanya ibu hati-hati tak ingin menyinggung perasaan menantunya.
"iya Bu,,,aku selalu menghindari nya namun ia tetap tak mengerti.
Raihan bahkan pernah melamar aku lho Bu.,"ucap Mikaila mengupas buah apel.
Mereka berdua berbincang-bincang di dapur,
Mikaila sudah menganggap ibu Bram sebagai ibunya sendiri.
"Raihan seperti pria yang baik,"ucap ibu memegang tangan Mikaila yang memegang pisau.
"Bu,,,aku yakin mas Bram masih hidup,ia sudah janji ga akan ninggalin aku Bu.Mas Bram pasti kembali suatu hari nanti."ucap Mikaila mengerti apa maksud ibu mertuanya itu.
Arabela ikut bergabung bersama mereka.
"Arya seperti masih terpukul ya mba?,ia masih malas berbicara."ucap nya.
"iya ,terkadang ia masih sering melamun saat sendiri."ucap Mikaila menghela nafasnya.
Di kontrakan,
Bram berbaring ia menatap langit-langit kamar nya,wajah cantik wanita yang dilihatnya tadi terus terbayang di pikirannya,,,
"ada apa dengan ku."batin Bram.
Dimas keluar dari kamar mandi sambil bersiul,ia sangat senang mendapat nomor telepon Ibu bosnya.
"mas Juna,aku sudah dapat nomor telepon wanita incaran ku."ucap Dimas memperlihatkan layar ponselnya.
Bram yang mengerti siapa wanita incaran yang di maksud Dimas mendekat saat Dimas menelfon nomor tersebut.
Bunyi nada dering telepon terdengar,,, Dimas mengaktifkan pengeras suara.
"halo,"terdengar suara dari balik telfon.
Dimas melihat Bram yang juga melihatnya,dan langsung mematikan .
"apa ibu bos kalau di telfon suaranya cowok ya?"tanya Dimas kepada Bram dengan ekspresi heran.
Bram hanya mengangkat bahu nya.
Dimas kembali mencoba dan hasilnya sama,suara cowok terdengar lagi,dan Dimas kembali mematikan panggilan nya.
Bram tertawa..
"jangan dekat-dekat,"ucap Bram menjauh dan menggeleng melihat Dimas.
"walau aku lupa ingatan tapi aku masih normal ya,,ga suka batangan,"ucap Bram keluar kamar.
"kurang aja lho mas Juna,,,aku juga masih normal ga suka brewokan."ucap Dimas.
__ADS_1
Ponsel Dimas berdering tertera nama my honey.
"halo"ucap Dimas terbata-bata.
"jangan main-main ya,"ucap di seberang sana..
"maaf pak,saya salah sambung."ucap Dimas.
Telfon di matikan.
"wah,,,bikin makin cinta aja ni Bu bos,"ucap Dimas memandang ponselnya..
Pagi hari Bram bangun lebih pagi dari biasanya,ia bahkan tak sempat sarapan.
Bram melajukan mobilnya ke perusahaan Wijaya grup.
Lama ia menunggu di sana,hingga ia melihat sosok yang dari semalam terus hadir dalam pikirannya.
"cantik,"ucap Bram tanpa sadar,
Mikaila berbalik saat merasa ada yang memanggilnya.
"mas Bram,"ucap Mikaila memegang dadanya,ia merasa kalau Bram ada di sekitarnya.
Mikaila menengok ke segala arah namun ia tak melihat sosok Bram di sana.
"cari siapa Bu,?"tanya satpam yang melihat bosnya seperti mencari sesuatu.
"ga ada pak,lanjutin aja kerjanya."ucap Mikaila ramah dan kembali berjalan masuk kantor.
"Andaikan kamu adalah Mikaila.,"batin Bram melajukan mobilnya meninggalkan perkantoran itu.
Setiap hari seperti itu, sebelum berangkat bekerja Bram akan ke kantor hanya untuk melihat Mikaila dari jauh.
Bram kembali menatap Mikaila dari kejauhan, tiba-tiba ia melihat seorang pria mendekatinya.
"siapa pria itu"gumam Bram yang bisa melihat ketertarikan pria itu terhadap Mikaila.
Mikaila naik ke mobil pria itu dan Bram mengikuti mereka.
Raihan dan Mikaila ke sekolah,hari ini adalah jadwal penerimaan raport anak-anak mereka.
Bram kembali berdiam di dalam mobilnya, memcoba mencari tau apa yang mereka lakukan di dalam sekolahan.
Beberapa saat kemudian Raihan keluar bersama Mikaila dan beberapa anak sekolah,mereka terlihat bagai keluarga yang harmonis.
Bram mencengkram setir mobil nya, entah mengapa ia merasa marah dan cemburu melihat pemandangan itu.
"apa mereka Keluarga,"batin Bram,
Bram yang tak tahan melihat mereka memilih pergi dari sana,sepanjang hari ia merasa gelisah.
Keesokan harinya Bram tak lagi pergi ke kantor melainkan ia ke sekolah,memarkirkan mobilnya di parkiran sekolah.
Tak lama kemudian ia melihat Mikaila datang bersama tiga orang anak laki-laki.
Hati Bram kembali menghangat melihat mereka.
Ternyata pria itu hanya ayah teman anak-anaknya."Bram tersenyum saat melihat Raihan juga datang bersama Syakila.
Bram mengikuti mobil Mikaila hingga ke kantor,dan pergi setelah memastikan Mikaila masuk ke kantornya.
Itulah sekarang rutinitas Bram di pagi hari.
__ADS_1
Hari ini Dimas dan Bayu gajian,
Ting,pesan masuk di ponsel Bram.
pesan dari Dimas,ia meminta Bram ke suatu tempat.
"ok "jawab Bram setelah membaca pesan tersebut.
Mereka bertiga berada di sebuah warung bakso sederhana,namun cukup terkenal dan rasanya terkenal enak.
"hari ini aku yang traktir,,,"ucap Dimas
"yakin nih,"tanya Bayu.
"yakin lah,hari ini aku dapat nomor ponsel ibu bos,"ucap Dimas
"yakin itu nomor nya?"ucap Bram.
"kali ini aku yakin 1000% "ucap Dimas percaya diri.
"kamu yang traktir ya,"tanya Bayu kembali meyakinkan.
"iya,,,"
Mereka masuk dan memesan bakso pak Subri,,,Nama warung tersebut.
Pak Subri yang melihat Bram masuk mengucek matanya,
"pak Bram"batin pak Subri.
Namun ia sedikit ragu, melihat penampilan Bram yang sangat berbeda.
Untuk memastikannya, pak Subri mengantarkan sendiri baksonya.
"Oya mas Juna,, bagaimana tawaran bekerja di perusahaan kami,"tanya Bayu.
"sepertinya saya lebih nyaman seperti ini mas, terimakasih tawarannya."ucap Bram mengambil mangkok bakso yang di tawarkan pak Subri.
"makasih pak,"ucap Bram.
"owww namanya Juna to,"batin pak Subri.
pak Subri menganggap mereka hanya kebetulan mirip saja, karena kalau itu pak Bram pasti beliau menegurnya.
Pagi hari Bram kembali menunggu Mikaila di sekolah,
Bram membuka kaca mobil nya agar lebih jelas melihat mereka.
"papa,,,"batin Gavin melihat Bram di dalam mobil,namun ia tak begitu yakin.
Jaraknya mereka terlalu jauh dan Bram terlihat seram bagian.
Bram tak pernah memotong rambut dan malas mencukur bulu yang tumbuh wajahnya.
Gavin berjalan masuk sambil sesekali melihat ke belakang... Memastikan penglihatannya.
"papa bukan ya,"gumam Gavin dan berlari masuk ke kelasnya Karena ibu guru sudah berjalan ke arah kelasnya.
Terimakasih sudah membaca 💗🙏👍💗
Jangan lupa like vote dan komennya 💗🙏👍
.
__ADS_1