
Suasana romantis, ceria, gembira berubah menjadi menegangkan saat layar besar yang menjadi fokus mereka menampilkan foto-foto Gavin dan mantan kekasihnya. Yang paling membuat miris bukan cuman satu atau dua orang tapi puluhan gadis cantik dan seksi.
Setelah mematikan layar tersebut Gavin langsung berlari menuju Diandra.
"Itu hanya teman," ucap Gavin dengan cepat menjelaskannya, saat melihat mata Diandra mulai berkaca-kaca.
"Gavin, kamu jangan suka bohong ya, sudah jelas-jelas mereka semua itu mantan pacar kamu, pakai acara bohong bilang teman," ucap Syana memperkeruh suasana.
Gavin menetap Syana yang berdiri tak jauh darinya dan Diandra, ia membelalakkan matanya dan mulutnya komat-kamit membaca mantra agar Syana tutup mulut.
"Gavin, kamu itu harus jujur. Belum apa-apa Kamu sudah bohong sama calon istri kamu. Dengar ya Diandra, Gavin itu Playboy cap kadal bukan cuman satu atau dua pacar, dalam seminggu ia bisa memacari 10 wanita sekaligus," tambah Syana yang semakin membuat Diandra menatap tajam pada Gavin.
"Jangan percaya ya, kak Syana emang kayak gitu, suka ngomporin."
"Bukannya emang gitu ya, Dek!" sahut Kelvin yang dengan santainya memakan makanannya membenarkan ucapan Syana tanpa melihat raut wajah Gavin yang sudah menjerit minta tolong.
"Udah kalau memang Playboy cap kadal ya udah, nggak usah ditutup-tutupin," tambah Arya yang semakin membuat Gavin ingin melompat dari apartemen itu.
"Udah jangan didengar, itu kan Gavin yang dulu. Dulu Gavin memang suka pacaran sana-sini," ucap Mikaila entah ia membelah Gavin atau justru ikut menjerumuskan nya.
"Diandra kamu jangan dengerin mereka ya, aku janji setelah menikah nanti aku akan selalu setia dan membahagiakan mu."
" Kak. Cewek yang dulu Kakak bawa ke Batam itu siapa namanya? Itu loh Kak, yang seksi yang suka nempel-nempel ke kakak. Kok tadi fotonya ga ada di layar," tambah Arsy sambil menunjuk layar yang sudah di matikan oleh Gavin..
Bram berusaha menahan tawanya saat melihat ekspresi Gavin yang pasrah dengan keadaan, bahkan adik kecilnya juga ikut mendorongnya ke dalam jurang yang akan membuatnya gagal mengucapkan ijab kabul dua hari lagi.
"Bunda aku mau pulang," lirih Diandra pada Bunda Mikaila yang berdiri di dekat nya sambil menggendong cucunya.
"Iya Bunda, sebaiknya kita pulang. Ayra juga sudah mengantuk," sahut Raina.
"Yaudah, kita pulang," ucap Mikaila mengambil tasnya.
Raina pamit pada Arya untuk pulang lebih dulu.
Gavin sudah tak punya cara lagi untuk merayu Diandra, Playboy cap kadal kini berubah menjadi playboy cap cicak, dia benar-benar tak bisa berkutik di depan Diandra.
Gavin melihat ke arah dimana Syana tadi berdiri. Namun, Syana sudah tak ada disana, hanya tersisa Ustaz Ilham yang duduk santai menghabiskan makanannya.
"Ini pasti ulah kak Syana," batin Gavin.
Syana sudah kabur bersama dengan Mikaila, Raina dan Diandra. Mereka akan pulang lebih dulu bersama dengan Bram.
"Syana itu ulah kamu kan," ucap Mikaila.
Syana tak menjawab, dia hanya tersenyum.
"Diandra maaf ya, tadi tuh jangan diambil hati. Aku hanya mengerjai Gavin, dia itu pembuat onar. Sekarang Gavin sudah memantapkan hatinya untuk memilihmu, Kakak percaya dia sangat mencintaimu, wanita-wanita tadi itu hanya masa lalunya," jelaskan Syana.
"Iya kak, Diandra ngerti kok. Semua orang punya masalalu," jawab Diandra.
"Mereka sudah sampai di mobil, "Kak Syana, mau ikut pulang bersama kami ?" tanya Raina.
"Nggak, aku nunggu mas Ilham aja di mobil dia cuma menghabiskan makanannya, sebentar lagi dia akan turun."
"Ya sudah, hati-hati," ucap Mikaila saat Bram sudah mulai melajukan mobilnya.
Bram membawa para wanita itu pulang.
Di atap gedung Apartemen Gavin terduduk lemas bergabung dengan yang lain.
"Kakak" bukannya belain malah menambah-nambah masalah." gerutu Gavin.
Kelvin hanya tertawa dan menepuk pundak adiknya, "Aku duluan, ya. Mengantar Natali," ucapnya, kemudian menggandeng tangan Natali.
__ADS_1
Ustaz Ilham juga ikut pamit, Syana sudah menunggu di parkiran
"Kak Ilham, bilangin tuh sama istrinya jangan suka menebar aib orang, bukannya itu dosa, ya? Aku batal nikah karena itu gimana, coba!" Sahut Gavin yang ditanggapi ustad Ilham dengan mengangkat jempolnya Sambil tertawa.
Tinggallah Arya, Dika dan juga Gavin.
"Sudahlah, kak Syana hanya bercanda, aku yakin Diandra akan memaafkanmu. Lagian dia juga sudah menerima pernikahan ini di depan Papa, pasti pernikahan akan tetap terlaksana, ya walaupun setelahnya itu kakak nggak tahu apa yang akan dia lakukan padamu! Mungkin kau akan tidur diluar kamar." Ucap Arya mencandai Gavin. Namun dianggap serius oleh adiknya itu.
"Ya … masa pengantin baru tidur di luar kamar, ga ngapain-ngapain dong" ucap Gavin frustasi membuat Dika tertawa terbahak-bahak.
"Kak Dika sendiri kapan mau ngenalin kita dengan calonnya kakak?"
"Calon Kakak ada di pulau, Kakak sudah melamarnya. Tinggal menunggunya siap dan membawanya ke kota ini."
"Maksudnya, kakak menjalin hubungan dengan cewek yang ada di pulau tempat kakak yang dulu?"
"Iya," jawab Dika singkat.
"Bukannya di Pulau itu nggak ada jaringan ya, Kak? Kakak komunikasi nya bagaimana?"
"Di Pulau itu sudah tak sama seperti dulu lagi, Papa kamu sudah memberi banyak, membangun sekolah, rumah sakit, membangun alat komunikasi dan transportasi, semua sudah lengkap.
"Wah ... papa memang sangat hebat, walau tinggal di rumah papa masih bisa mengerjakan banyak hal," ucap Gavin bangga.
"Kakak sering kesana?" tanya Arya.
"Seminggu sekali sih, tiap akhir pekan menggunakan helikopter biar tak memakan waktu."
"Wih keren, ngapelin pacar pakai helikopter," ucap Gavin acungkan kedua jempolnya.
"Harus dong, lagian itu kan helikopter perusahaan, anggap saja aku lagi dinas keluar kota," ucap Dika tertawa.
Arya dan Gavin ikut tertawa, ternyata Dika tak sepolos itu, dia juga memanfaatkan fasilitas perusahaan dan kepentingan pribadinya.
Keesokan harinya Bram menemui Pak Wijaya,
"Ayah sudah semakin sehat," jawab Pak wijaya yang memang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Pak Wijaya mencoba untuk duduk dibantu oleh Bram dan Istrinya.
"Bram kesini untuk mengabarkan jika Kelvin dan Gavin sudah setuju untuk menikah 2 hari lagi,,Yah!"
Ayah senang dengarnya kabar itu.
"Bram Sudah mengatur ijab kabul nya, dan akan dilakukan di rumah ini agar Ayah bisa menyaksikannya juga," ucap Bram memijat telapak tangan ayahnya yang terasa begitu lemah.
"Terima kasih sudah membuat ayah bahagia di saat-saat terakhir, Ayah."
"Apapun akan Bram lakukan untuk kebahagiaan Ayah, Ayah sudah membuat Bram seperti saat ini, tanpa Ayah Bram bukan siapa-siapa."
"Ayah bangga sama kamu, selama ini kamu tak pernah mengecewakan Ayah baik dalam bisnis keluarga dan semuanya."
"Oh ya, Bram! Bagaimana dengan Zaky? Apa kau juga akan mengundang mereka."
"Aku belum kepikiran untuk mengundang mereka," ucap Bram yang mengatur masalah undangan adalah Mikaila.
"Bukankah dia akan mengurus salah satu perusahaan mu, Apa dia sudah melakukannya?" tanya ayah.
"Dia masih tinggal di Batam dan melanjutkan kuliahnya, Zaky sudah mengatakan jika ia akan mencoba ikut bergabung di perusahaan setelah ia lulus kuliah.
"Jangan pernah melupakan kewajibanmu terhadap anak itu, biar bagaimanapun dia tetap anakmu.
Ia memiliki darah keluarga Wijaya," ucap ayah mengingatkan putranya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Kami sudah tak ada masalah, Zaky sudah menerima semuanya. Aku akan meminta Mikaila mengundang mereka," ucap Bram.
"Sebaiknya memang seperti itu, tak baik memutuskan silaturahmi. Walau bagaimanapun mertuamu kan sangat dekat dengan neneknya Zaky" Tambah ibu.
Di kediaman Abraham Wijaya.
Gavin terus mengikuti kemanapun Diandra pergi, dan terus minta maaf, membuat Diandra menjadi risih.
"Kakak, mau ngapain sih ngikutin Diandra terus. Sana … Ah! Nggak enak diliatin yang lain," protes Diandra.
"Kamu masih marah ya karena foto-foto semalam?"
"Nggak Kak, aku nggak marah aku ngerti itu masa lalu kakak, yang penting Kakak nggak akan mengulangi lagi," jelas Diandra kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Aku nggak percaya, kamu pasti masih marah kan?"
Diandra memutar memutar malas bola matanya dan memilih untuk pergi dari sana. ,Namun Gavin tetap saja mengikutinya.
"Kalau kakak ngikutin aku terus seperti ini dia akan marah dan melempar cincin ini ke wajah Kakak," ancam Diandra menuju cincin yang melingkar di jari manisnya..
"Jangan dong cantik, ya udah aku mau ke kantor aja, tapi Cincinnya harus dipakai ya, kamu nggak marah lagi kan?" Kembali yakinkan.
"Iya, Kak.Diandra udah nggak marah lagi."
"Kita masih tetap akan nikah kan? tetap akan malam pertama kan?"
Diandra mencoba untuk melepas cincinnya, membuat Gavin langsung kabur, mengambil tas kerja dan jasnya yang ada di meja makan.
Diandra menghembuskan nafas kasar, melihat tingkah calon suaminya itu.
"Udah, tenang aja. Gavin emang kayak gitu, Nggak usah didengerin dan dipikirin," ucap Mikaila berjalan menghampirinya dan mengajaknya untuk kembali ke dapur, membantu yang lain membereskan sisa sarapan mereka dan membuat kue, untuk dibawa ke rumah besar.
Acara pernikahan akan dilakukan di rumah besar dan hanya mengundang keluarga yang benar-benar inti.
Bram baru mengundang beberapa kolega dan karyawannya saat resepsi nantii, itupun dengan jumlah yang terbatas.
Jabbar dan Isabella juga sudah datang begitu juga dengan Zaky dan Neneknya. Zahra dan Randy tak bisa datang.
Mereka semua malam ini akan menginap di rumah besar, begitu juga dengan yang lainnya.
Halaman sudah di dekor sederhana. Namun tetap mewah.
Natali, Jessica, dan Alex juga diminta menginap di rumah itu agar tidak menyusahkan mereka saat ijab kabul besok.
Semua berkumpul di kamar Kakek, Kelvin dan Gavin meminta restu kepada kakeknya.
"Kakek menitihkan air mata, Ia merasa sangat senang semuanya berkumpul, semua keluarga Wijaya berkumpul malam ini di rumahnya.
Tak ada yang bisa pak Wijaya katakan selain hanya meneteskan air mata dan senyum bahagia.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon tetap memberikan dukungannya ya dengan memberi like dan komentar.
Satu like dan komentar itu sangat berpengaruh pada level Karya kami,🙏🙏
Mari mampir ke karya yang lainnya
salam dariku author a anha
__ADS_1
Love you all 💕🤗🙏
💖💖💖💖💖💖💕💕💕💕