
Di kantor Wijaya group,
Arya sedang berkutat dengan pekerjaannya, tiba-tiba ia dikejutkan saat Dika asistennya membawa setumpuk berkas dihadapannya,
Arya hanya bisa melongo melihat tumpukan berkas itu kemudian melihat ke arah Dika.
"Ini untuk bulan depan," ucap Dika lalu berlalu meninggalkannya.
Arya hanya bisa menghela nafasnya saat melihat berkas tersebut.
"Sepertinya aku butuh Raina," Arya mengambil ponsel lalu menelpon calon istrinya itu.
Raina setuju akan datang untuk membantunya, atau hanya sekedar menjadi penyemangat nya.
"Kau menyuruh Raina datang kemari?" tanya Dika kembali menambah tumpukan berkas yang bahkan belum di sentuh oleh Arya.
"Hmmm," jawab Arya memijat kepalanya.
"Aku dengar orang-orang kantor sering membicarakan kalian berdua," ucap Dika yang secara kebetulan beberapa kali mendengar beberapa karyawan membahas tentang Arya dan Raina.
"Mereka membahas tentang apa?" tanya Arya,
"Kalau aku dengar beberapa dari mereka ada yang tak setuju kalau kau menikah dengan Raina, ya karena status sosial kalian berdua yang sangat jauh berbeda." jawab Dika.
"Apa bedanya sih menikah dengan orang biasa dan orang berada, toh aku juga yang mencari nafkah." ucap Arya.
"Menurut salah satu karyawan banyak dari mereka terus menghina Raina, bahkan beberapa yang menganggap kalau Pernikahan mendadak kalian itu karena Raina sedang hamil, Karena ia menggoda mu, dan masih banyak lagi omongan yang kurang pantas dari karyawan lain."
"Kami mau nikah sekarang ataupun bulan depan apa urusan dengan mereka, Kenapa mereka yang terus menjelek-jelekkan Raina. Mau hamil atau tidak itu juga bukan urusan mereka. Apa pekerjaan mereka sudah selesai sehingga masih memiliki waktu untuk berbuat seperti itu," geram Arya yang baru mengetahui ternyata di kantornya calon istrinya sering dihina dan kemungkinan besar Raina berhenti bekerja di kantor karena ulah mereka.
Arya mengambil berkas tersebut lalu memberikan sebagiannya kepada Dika.
"Aku akan mengerjakan ini, kerjakan sisanya ," ucap Arya ngambil lebih dari setengah tumpukan tersebut dan memberikan kepada Dika.
"Tolong bantu aku, aku tidak bisa menyelesaikan semuanya. Aku pikir akan mudah menyelesaikan semua itu, tapi ternyata...," Arya menghela nafas kasar.
Arya melihat jarum jam di tangannya,
"Kenapa Raina lama sekali, seharusnya dia sudah sampai di sini, apa jangan-jangan sesuatu terjadi di bawah," gumam Arya.
Saat sampai di parkiran kantor Raina menelepon Arya menanyakan keberadaanya,,
Raina langsung masuk ke kantor saat Arya mengatakan ia ada di ruangannya.
Arya baru mengetahui jika calon istrinya itu ternyata adalah bahan bully-an di kantor.
Arya pun bergegas keluar dari ruangan dan memencet tombol lift, lift terbuka.
__ADS_1
Iya melihat Raina ada di dalam dan terlihat jelas jika ia sedang menahan air matanya,
"Kamu kenapa?" tanya Arya melihat wajah-wajah yang ada di dalam lift tersebut. Iya yakin calon istrinya itu juga mendapat bully di dalam lift tadi.
Arya mengepal tangannya.
Dika datang saat mendengar pertanyaan Arya dan melihat Arya hanya berdiri di depan lift, menahan lift tersebut agar tidak tertutup menatap tajam kepada mereka.
Raina hanya menunduk dan berjalan keluar, tak lupa ia menarik Arya untuk pergi ke ruangannya.
"Ayo Kak kita ke ruangan kakak," ucap Raina.
Arya semakin kesal menatap mereka semua saat terdengar isakan yang tertahan dari mulut Raina.
Arya masih mematung berdiri menatap mereka,
"Ayo Kak," ucap Raina semakin kuat menarik Arya, Iya tak ingin Arya membuat masalah dengan para karyawannya.
Setelah Arya dan Raina pergi dan masuk ke ruangannya, Dika yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana langsung menghampiri mereka semua.
"Keluar," ucap Dika tegas,
Para karyawan yang masih ada di dalam lift akhirnya satu persatu keluar.
"Apa yang kalian lakukan hingga sampai ke sini," tanya Dika pada mereka semua.
Di lantai atas hanya diperuntukkan untuk orang-orang penting termasuk di lantai tersebut terdapat ruangan pemilik perusahaan. sedangkan mereka semua hanyalah karyawan biasa.
Tak ada yang berani menjawab mereka semua tertunduk.
"Apa ada yang mau bicara?" tanya Dika pada semua karyawan yang ada di depannya.
Semua masih tetap terdiam,
"Baiklah, jika tak ada yang berbicara akan kupasti kan kalian semua tak akan bekerja di kantor Ini lagi mulai besok," tegas Dika semua langsung menatap Dika terkejut.
"Tapi Pak, Apa kesalahan kami," ucap salah satu dari mereka.
"Apa kalian benar tak tahu apa kesalahan kalian?" tanya Dika menatap orang yang berani berbicara tadi.
Orang tersebut seketika diam, karena dialah yang paling banyak bicara saat di dalam lift tadi.
"Ayo katakan apa yang menyebabkan Raina menangis, jika kalian masih ingin bekerja disini cepat kalian mengakui kesalahan kalian," ucap Dika.
"Maaf pak, saat di dalam lift saya hanya diam saja, tidak menghina Raina, yang menghina Raina hanyalah mereka," ucap seseorang penunjuk siapa saja yang tadi menghina Raina.
Dari 10 orang ada 4 orang yang ia tunjuk, dan memang 4 orang itulah yang sejak tadi saling bersahut-sahutan menghina Raina.
__ADS_1
Keempat orang itu sontak melihat menatap tajam pada karyawan yang baru saja menunjuk mereka.
"Kamu jangan memfitnah kami ya," ucap salah satu dari mereka.
"Tapi memang benar Pak, mereka berempat yang menghina Raina, mereka mengatakan jika Raina tak pantas untuk pak Arya Karena Raina hanyalah gadis yatim piatu," bela karyawan lain nya.
"Iya Pak, Iya Pak, mereka berempat yang menghina Raina," Ucap ke-6 orang tersebut saling membela.
"Kalian boleh kembali ke ruangan kalian," ucap Dika pada ke-6 orang yang menganggap diri mereka tak bersalah dalam hal ini.
Setelah mendengar ucapan dari Dika mereka semua langsung bergegas masuk ke dalam lift dan menekan nomor lantai yang seharusnya mereka tuju.
"Selamat,,, Untung tadi aku ga ikut bicara," ucap salah satu mereka.
"Iya, padahal aku tadi juga gemes ingin bicara hanya Aku tak punya waktu karena mereka terus saya berbicara tanpa henti," ucap yang satunya lagi.
"Apa kalian tidak mengambil pelajaran dari peristiwa tadi, karena mulut kalian itu yang suka ikut campur urusan orang lain, kita semua hampir saja kehilangan pekerjaan."
"Sebaiknya kalian tak usah mengurus urusan orang lain, urus saja urusan kalian. Belum tentu kalian lebih baik daripada Raina.,"
"Kalian tak tahu kan Raina itu seperti apa sebenarnya, kalian hanya mendengar desas-desus dari orang lain kan?!"
"Iya lagian jika kalian terus menghinanya, Apa untungnya buat kalian, itu kan hanya akan merugikan kalian sendiri," ucap yang lainnya lagi.
Mereka berdua langsung terdiam, selama ini mereka juga sering membuly Raina, namun kali ini mereka berhasil lolos.
Keempat wanita tadi dipanggil ke ruangan, Dika mereka langsung diberi surat peringatan.
"Aku masih mengampuni kalian, jika aku mendengar lagi kalian menghina Raina atau menghina karyawan lain di perusahaan ini aku takkan segan-segan memecat kalian, kalian paham kan," bentak Dika.
"Paham, paham Pak," ucap mereka semua.
"kalian boleh keluar dari ruangan ku,"
Mereka dengan cepat keluar dari sana, saat keluar pun mereka masih merasakan aura kemarahan dari Dika.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa untuk memberi LIKE VOTE dan KOMENNYA 🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1