Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Hari Pertama Menjadi Menantu.


__ADS_3

Raina mencoba melepaskan pelukan Arya yang begitu erat. Dari semalam Arya tak pernah melepas pelukannya, ia memeluk Raina seolah-olah ada yang akan mengambil dari nya.


Semalam Arya kembali meminta haknya, ia sudah melupakan surat perjanjian yang sudah ia tanda tangani.


Raina juga sudah tak mempermasalahkan surat perjanjian itu lagi, Walau Raina mengungkit tentang surat perjanjian itu, namun ia tak bisa menolak saat Arya terus memintanya dengan berbagai macam bujuk rayunya.


"Kak, Ini sudah pagi,," ucap Raina mengelus tangan Arya yang melingkar di perutnya.


"Sebentar lagi sayang," ucap Arya yang justru semakin mempererat pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di leher jenjang Raina.


"Aku ga enak sama bunda jika bangun telat," ucap Raina kembali membangunkan Arya.


Arya melepas pelukannya dan menatap wajah cantik istrinya itu.


"Ada apa?" tanya Raina.


"Aku sangat bahagia, aku sangat mencintaimu," ucap Arya mengusap wajah Raina.


"Aku juga bahagia kak, terima kasih sudah memilih aku menjadi teman hidup kak. Aku tak punya siapa pun di dunia ini kecuali kak. Jangan pernah berubah ya kak!" ucap Raina menatap kedalam mata Arya yang kembali memeluk nya.


"Kakak akan selalu mencintaimu apapun yang terjadi," jawab Arya penuh keyakinan.


Mereka kembali menyatukan cinta mereka.


Raina menghampiri bunda yang sedang sibuk di dapur bersama bi Yanti dan beberapa pekerja lainnya. Mereka sedang membuat sarapan.


"Maaf ya Bunda, Aku baru bisa bantu." gumam Raina menghampiri mertuanya.


"Iya sayang, Bunda ngerti kok," ucap Mikaila memeluk gemes menantu yang Sudah seperti anak kandungnya sendiri.


"Raina, apa kamu masih ingin tetap bekerja di kantor?" tanya bunda Mikaila.


"Raina di rumah aja deh bunda," ucap Raina.


"Bunda setuju, lebih baik kita mengurus suami kita saja di rumah. Biarkanlah mereka yang mencari nafkah buat kita, Bunda takut jika kalian sama-sama sibuk kebersamaan kalian akan berkurang. Arya sangat sibuk di kantor, ia pasti senang jika pulang ada istrinya yang melayaninya," ucap bunda.


"Iya Bunda, Raina sudah memutuskan untuk di rumah saja mengurus kak Arya," ucap Raina.


"Bunda senang dengarnya, dengan begitu Arya akan lebih perhatikan olehmu," ucap Bunda.


"Hari ini jadwal Mas Bram ke kantor, kita jalan-jalan ya daripada kita di rumah aja," ajak Bunda.


"Iya Bunda boleh," ucap Raina setuju.


Para pria di rumah itu pun sudah datang dan duduk di meja makan.Kecuali Gavin.


Makanan sudah terhidang dan mereka sarapan bersama.


"Rencananya besok kami akan pulang ke kampung," ucap Ayah Mikaila.


"Kenapa Kakek cepat sekali pulangnya?" tanya Kelvin.


"Iya, besok Papanya Adam juga akan pulang, jadi sekalian saja kami ikut pulang. Kamu tahu sendiri kan Om kamu itu sudah mulai sibuk dan Isabela juga tidak bisa meninggalkan kliniknya terlalu lama," ucap Kakek.


"Apa sebaiknya kalian tinggal di sini saja Bu, Ayah," ucap Mikaila.


"Iya, Ayah akan pikirkan, tapi untuk sekarang Ayah masih senang tinggal di rumah. Ayah lebih merasa nyaman tinggal di rumah ayah di kampung," ucap Ayah.

__ADS_1


"Kami akan datang lagi saat Arya sudah memberikan cicit kepada kami, siapa tahu saja kan Kalau ada cicit ayah akan betah tinggal di sini." timpal ibu.


"Amin, amin semoga saja Ayah dapat cicit sebelum menghadap yang kuasa," ucap Ayah.


"Raina, Arya kalian tidak menundanya kan?" tanya nenek kepada mereka berdua.


"Enggak kok Nek," jawab Raina.


"Gavin mana?" tanya Bram yang tak melihat sosok putranya itu.


"Gavin masih tidur Pah," jawab Kelvin.


"Ya ampun, anak itu kapan sih dia bisa serius bekerja," keluh Bram.


"Sudah lah Mas, mungkin semalam ia banyak kerjaan." bela Bunda Mikaila.


Di kamar, Gavin tertidur pulas. Semalam Arya menghukumnya.


Awalnya Gavin menolak, menganggap hukuman itu adalah hukuman untuk anak SD, namun ia tak punya pilihan lain. Gavin menulis surat permintaan maaf yang sangat banyak, membuat dia harus begadang dan baru tidur saat matahari terbit agar bisa menyelesaikan hukumannya.


Saat mereka hampir selesai makan Gavin baru turun dengan pakaian kantor nya. Ia bersiap akan ke kantor.


"Kamu mau ke kantor dek? Aku pikir kamu akan tidur seharian," ledek Kelvin.


"Ke kantor lah, aku ada rapat penting pagi ini," lesu Gavin.


Mikaila mengambilkan sarapan untuk anaknya.


"Makan dulu ya, sebelum ke kantor" ucap Mikaila.


"Ya sudah, kita bareng ke kantor ya? "Kata Kelvin. " Aku juga ingin kekantor. Sudah lama nggak ke kantor, kangen juga dengan suasana Kantor," Lanjutnya.


Ia menyapa besannya sekaligus mertua dari adiknya.


"Mbak nggak ke Rumah Sakit?" tanya Mikaila memberikan jus di depan Anindita.


"Mbak mau ke rumah sakit kok, Tapi Mbak mau mampir dulu ada yang Mbak mau bicarakan sama suamimu," ucap Anindita.


"Ada apa Mbak?" tanya Bram.


"Kemarin Arandita bicara sama Mbak untuk menjodohkan Syana dengan ustadz Ilham," ucap Anindita yang sukses membuat Arya terbatuk-batuk.


"Yang benar saja Tante, Syana mau dijodohin sama ustadz Ilham. Mereka itu bagai bumi dan langit, Syana setannya ustaz Ilham malaikat-nya ga cocok," ucap Gavin yang bicara tanpa disaring terlebih dahulu, padahal Ia bicara pada pada ibu Syana.


"Hussss jangan sembarangan kalau ngomong," tegur Ibu Mikaila pada cucunya.


"Maaf Nek keceplosan," ucap Gavin menutup mulutnya. Sementara Kelvin terus berusaha menahan tawanya.


Raina dengan sigap mengambilkan air untuk Arya yang terus terbatuk-batuk.


"Masalahnya ustadz Ilham mau enggak sama Syana?!" ucap Arya setelah berhasil menguasai batuknya.


"Emangnya kenapa dia tidak mau, Syana kan cantik lagian mereka itu seumuran jadi kenapa ustadz Ilham harus menolak?!" ucap Bunda Mikaila.


"Bunda nggak tahu aja sih Syana itu lebih parah dari dari Gavin," ucap Gavin.


"Maksud kamu lebih parah apanya ?" tanya Anindita tak mengerti.

__ADS_1


"Enggak Tante, enggak jadi," ucap Gavin kembali menutup mulutnya.


"Makanya coba deh kamu ketemu sama ayahnya ustadz Ilham, bicarakan tentang perjodohan mereka," ucapan Anindita pada Bram.


Sebelum aku bicara dengan orang tua Ilham, Mbak sudah mendapat persetujuan dari Syana?" tanya Bram.


"Kalau kita meminta persetujuan dari Syana, pasti ia tidak mau menikah, Sama siapa saja dia pasti akan menolak. Aku enggak mengerti anak itu, usianya sudah semakin tua namun kelakuannya semakin kekanak-kanakan ," keluh Anindita melihat kelakuan anak bungsu.


"Aran bilang dia Anaknya baik, siapa tahu kan kalau Syana menikah dengan seorang ustadz dia kan lebih baik lagi, bisa membimbing Syana menjadi istri yang Soleha," lanjut Anindita.


"Wah, wah kasihan ustadz Ilham dapat jodoh seperti Syana," ucap Gavin yang tak bisa menahan mulutnya untuk berbicara.


Semua menatap kesal kepada Gavin, sedari tadi anak itu terus saja memojokkan Syana.


Merasa dalam bahaya Gavin ingin menyelamatkan diri.


"Aku ke kantor dulu ya Bunda, Pah. Aku ada rapat penting," ucap nya dengan cepat mengambil tas kerjanya lalu berlari meninggalkan meja makan. Meninggalkan mereka semua yang terus menatapnya tajam hingga Iya hilang di balik tembok.


"Bunda aku juga ke kantor ya, Pah, semuanya Kelvin pamit," ucap Kelvin berlari mengejar Gavin yang sudah tak terlihat batang hidungnya.


Kelvin dan Gavin pergi ke kantor bersama.


Kelvin yang mengemudi mobil mereka.


Sepanjang jalan Gavin terus tertawa membayangkan Syana bersanding dengan ustadz Ilham.


"Kamu Kenapa tertawa sih? Apanya yang lucu?" tanya Kelvin sambil tetap fokus mengemudi.


"Aku nggak kebayang gimana nasib rumah tangga mereka, pasti Kak Syana akan diceramahi tiap detiknya oleh suaminya," ucap Gavin terus tertawa.


"Aku juga setuju dengan ide tante Aran, dengan sifat kak Syana seperti itu memang sangat cocok jika dia dijodohkan dengan ustaz Ilham," ucap Kelvin.


"Iya sih gak cocok, tapi aku hanya kasihan saja sama ustadz Ilham dapat Kak Syana." Kata Gavin.


"Setiap orang itu bisa berubah Gavin, siapa tahu saja kan jika Kak Syana menikah dengan ustadz Ilham dia akan berubah menjadi lebih baik lagi," ucap Kelvin.


"Superhero kali kak berubah," canda Gavin.


"Aku mau chat Kak Syana deh," ucap Gavin ingin memberitahu informasi perjodohan yang baru saja ia dengar.


"Dasar ya kamu lemes, sebaiknya kamu jangan beri tahu Syana dulu. Inikan perjodohan. Gimana kalau kak Syana kabur saat mendengar informasi dari Kamu?!" ucap Kelvin mengambil ponsel Gavin dan menyimpannya kembali.


" Eh kak, mendingan kita beritahu sekarang saja, daripada saat ijab kabul nanti dia kabur," ucap Gavin.


"Sudah kamu jangan ikut campur, serahkan ini pada orang tua. Kamu jangan ngaco ," ucap Kelvin memperingati Gavin.


"Iya kak," jawab Gavin.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan komennya 🙏


Salam dariku


Author m Anha.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2