Pilihan Ku

Pilihan Ku
"papa bukan ya,"!!!!,


__ADS_3

"Pak Bram bukan ya,,,"batin pak Subri.


Mba Lala dan yang lainnya mendapat bonus gaji,sehingga langsung di pakai sebagai modal baksonya.


Karena menang sudah banyak pelanggan dan rasanya yang enak,dalam waktu setahun pak Subri sudah bisa membuka warung bakso sederhana.


"ada apa pak"tanya mba Lala.


"tadi aku ketemu orang yang mirip banget dengan pak Bram Bu,"ucap pak Subri mengingat kejadian di warungnya.


"masa sih pak,"tanya mba Lala mendekat.


"iya,tapi penampilannya beda Bu dan namanya juga Juna,"ucap pak Sabri bingung.


"mungkin mirip aja pak,"ucap mba Lala melanjutkan beres beres nya.


Di kontrakan.


Dimas memamerkan nomor ponsel Mikaila pada Bram,ia berhasil mendapatkan nomor tersebut setelah tak sengaja bertemu Mikaila di sebuah minimarket.


Dimas tak mau di tipu lagi,ia memastikan apa itu nomor Bu bosnya atau bukan saat itu juga.


Dimas mulai menelfon Mikaila dan tersambung.


"halo,"ucap Mikaila.


Bram langsung menoleh ke arah Dimas saat mendengar suara Mikaila yang terasa tak asing di telinga nya.


Dimas sengaja mengaktifkan pengeras suara agar Bram bisa mendengarnya.


"halo Bu,ia saya mas Dimas,"ucap Dimas bergaya di depan cermin.


"iya mas Dimas ada apa?"tanya Mikaila.


"engga Bu,cuma mau memastikan ini nomor asli atau palsu."ucap Dimas.


"maaf ya ,kemarin aku salah kasih nomor,"ucap Mikaila menahan tawanya,


"ga apa-apa Bu,salah kasih hati juga boleh,"ucap Dimas mencandai ibu bos tercintanya.


Mikaila tertawa.


"sudah ya,saya mau temani anak-anak saya dulu.,"ucap Mikaila yang melihat anak-anak sudah bersiap untuk tidur.


"iya Bu,maaf menggangu,"ucap Dimas mengakhiri panggilannya.


Dimas mencium layar ponselnya,,


"mas Juna,kayanya Bu bos adalah pelabuhan terakhir ku."ucap Dimas duduk di samping Bram.


Tanpa menjawab Bram mengambil ponsel Dimas dan menyimpan nomor Mikaila ke ponselnya.


"wah,wah , wah ga bener ini."ucap Dimas mencoba mengambil ponselnya dari tangan Bram.


"kenapa kamu takut bersaing dengan saya."tantang Bram meledek Dimas.


"siapa yang takut,Aku yakin Bu bos ga akan melirik kamu Arjuna."ucap Dimas.


"kita lihat saja nanti,"ucap Bram menyerahkan kembali ponsel Dimas.


"baiklah kita bersaing secara jantan.Jika ibu bos milih aku kamu harus mundur dan begitu juga sebaliknya,"


"setuju,"ucap Bram menjabat tangan Dimas.

__ADS_1


Mulai hari itu mereka mencari cara untuk bertemu Mikaila.


Dimas yang sengaja mengikuti Mikaila dan menyapanya dengan alasan kebetulan.


Bram juga sering mengikuti Mikaila,ia menjadi tau di mana saja Mikaila sering pergi dan apa saja yang ia lakukan.


Bram semakin kagum saat mengetahui Mikaila rutin ke panti asuhan.


Pagi hari Bram kembali menunggu Mikaila dan anak-anaknya di depan sekolah,kali ini Gavin kembali melihat papanya di dalam mobil, begitu ia akan berlari seseorang menghalanginya,saat itu Bram menjatuhkan ponsel sehingga ia menunduk untuk mengambilnya.


"papa ko hilang,"batin Gavin kembali melihat kedalam mobil Bram,tapi Bram tak ada di sana.


"ada apa sayang nya bunda,"tanya Mikaila menghampiri Gavin yang terlihat bingung dan mencari seseorang.


"ga apa-apa bunda,"ucap Gavin menoleh pada bundanya,ia berpikir mungkin kali ini ia juga salah melihat.


Gavin kembali melihat ke arah mobil,ia tersentak saat melihat Bram dengan rambut panjang nya.


Karet yang dipakai Bram mengikat rambutnya putus dan rambut panjangnya menjuntai kedepan.Di tambah brewok Bram yang semakin lebat.


Gavin lari terbirit-birit masuk ke dalam sekolahnya.


"hantuuuuu"teriak Gavin.,,,


Arya tertawa melihat adiknya yang gendut itu lari dengan sangat cepat.


Kelvin dan Arya ikut berlari mengejar Gavin.


Mikaila hanya menggeleng melihat tingkah mereka.


"mba saya titip anak-anak ya,"ucap Mikaila pada mba Siti.


Mikaila ke kantor dan seperti biasa Bram kembali mengikutinya,mamastikan ia sampai dengan selamat di tujuannya.


Pak slamat hanya mengantar bi Yanti saat ke pasar, kondisi sudah tak sebugar dulu sehabis insiden itu.


Di sebuah restoran.


Mikaila dan anak-anaknya makan malam bersama keluarga Yoga dan David.


Mereka semua ada di sana,Arandita dan juga Arabela serta anak-anak mereka.


Gavin terus memikirkan apa yang dilihatnya tadi.


Gavin mengaduk-aduk Makanannya,


"sayang dimakan dong, makanannya,"ucap Mikaila.


"bunda ayah jadi hantu ya,"ucap Gavin membuat semua orang melihat kearahnya.


"Arabela bahkan tersendat makanan yang baru dimasukkan ke mulutnya.


Dengan sigap David memberikan minuman kepada istrinya.


"kok ade ngomong gitu sih,"tanya Mikaila tak terima suami tercintanya di sebut hantu.


"iya bunda wajah ayah serem,banyak bulunya ,hantu monyet,"ucap Gavin dengan ekspresi sangat serius ,menjelaskan apa yang dilihatnya sambil memperagakannya dengan tangan.


Semua saling pandang.


"Ade lihat di mana?"tanya Mikaila lagi.


"di depan sekolah,papa selalu liatin kita dari dalam mobil."ucap Gavin.

__ADS_1


"Ya udah,ayo kita makan dulu ya,"ucap Arandita mencairkan suasana yang sedikit tegang.


Arabela memengang tengkuknya,ia merinding mendengar cerita Gavin.


"apa benar mas Bram menjadi hantu,"batin Arabela.


Keesokan harinya Mikaila kembali mengantarkan mereka ke sekolah.


"Gavin,Gavin lihat papa di mana sayang?"tanya Mikaila,dari semalam ia terus mikir kan cerita anaknya.


"di sana bunda,"tunjuk Gavin.


"mana hantu papa,"ucap Kelvin mencari keberadaan papanya dengan pandangannya.


"hilang,"jawab Gavin singkat...


Mikaila berjalan ke arah yang di tunjuk Gavin,namun tak ada mobil di sekitar sana.


Mikaila kembali ke anaknya.


"mungkin Gavin salah lihat karena terlalu merindukan papanya."batin Mikaila.


yang sesekali mencari sosok Bram yang sangat di rindukannya.


Di kontrakan,


Bram terus menggedor-gedor pintu kamar mandi,sedari tadi Dimas tak keluar dari kamar mandi.


"sebentar,nanggung nih,"ucap Dimas dari dalam kamar mandi.


Bram hanya bisa menghela nafas,


"pasti mereka sudah di sekolah,"batin Bram melihat jam yang tergantung di dinding.


Kamar mandi di kontrakan mereka hanya ada satu.


Saat di kantor,


"Apa orang yang di maksud Gavin kembali ada di sana?"tanya Yoga saat berpapasan dengan Mikaila di lobby.


"ga ada mas, mungkin Gavin hanya berhalusinasi."jawab Mikaila.


Mereka kembali bekerja seperti biasa....


Karena tak melihatnya pagi tadi,Bram kembali ke kantor menunggu Mikaila keluar dan menjemput anak-anaknya.


Bram mengikuti Mikaila saat menuju ke sekolah.


Anak anak sudah menunggu di luar, Mereka langsung masuk mobil saat Mikaila menghentikan mobilnya dan kembali melajukan mobilnya meninggalkan sekolah.


Bram mengikuti mereka hingga ke taman.


Mikaila membawa anak-anak nya ke taman bermain.ia duduk di bawah pohon dan melihat mereka bermain sepak bola.


Bram duduk di sudut lain juga memperhatikan mereka bermain.


Gavin menendang bolanya dan jatuh pas di kaki Bram.


Gavin berlari mengejar bolanya,ia mengambil bolanya dari tangan seseorang yang membatu memungut bola untuk nya..


"terima kas,"ucap Gavin menggantung saat melihat siapa yang memberi bola padanya.


terimakasih sudah membaca 💗🙏👍

__ADS_1


Jangan lupa like vote dan komennya 💗🙏👍💗💖


__ADS_2