Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Lamaran Syana.


__ADS_3

Pagi hari semua sudah berkumpul kediaman Pak Surya.


Begitu juga dengan Bram dan Mikaila serta anak-anak. Arya, Raina, Gavin dan juga Arsy.


Semua sangat antusias akan menyambut kedatangan rombongan ustad Zakaria dalam acara lamaran Syana.


Hari ini mereka akan datang siang hari. Pak Wijaya sudah datang ke sana saat pagi dan memanggil Syana untuk bicara dengannya di ruang tengah.


Mereka semua duduk di ruang tengah termasuk Syana dan juga Pak Wijaya kakeknya.


Sana sedikit heran kenapa rumahnya begitu ramai. "Ada apa ini, Kenapa semua keluarganya berkumpul di sini!" pikir Syana.


Perlahan Syana berjalan mendekati kakeknya dan duduk di sofa dan duduk di dekat Kakeknya.


"Ini ada apa ya kek?" tanya Syana melihat mereka semua dengan tatapan yang sulit diartikan nya.


Semua tersenyum penuh arti kepadanya. Membuat Syana menjadi curiga.


Gavin bahkan melempar isyarat cinta dengan jarinya dan mengedipkan sebelah mata padanya.


Arandita duduk di dekat Syana, mamastikan ponakannya itu tidak akan kabur saat mengetahui tujuan mereka semua berkumpul di sana.


Syana sebenarnya kami semua berkumpul disini untuk menunggu seseorang" Ucap pak Wijaya kakeknya.


"Menunggu siapa ya kek?" lirih Syana.


"Kami menunggu seseorang yang ingin bertemu denganmu ," ucap kakek.


Jantung Syana berdetak kencang, perasaan sudah tak enak.


Syana melihat ke arah tantenya Arandita yang duduk di dekatnya.


Arandita menaik turunkan kedua alisnya saat Syana melihat ke arahnya.


"Apa ... jangan bilang Ini semua adalah ... ! Ah, tidak, tidak mungkin. Ini tidak mungkin terjadi, aku pasti salah mengira," batin Syana.


Syana kembali menunggu apa yang kakeknya ucapkan. Dalam hati ia berdoa semoga saja dugaannya tak benar.


Kakek menggenggam tangan Syana.


"Syana cucuku, usiamu sekarang sudah sangat pantas untuk menjalani sebuah hubungan rumah tangga.


"Aaaaaaahg, tidak. Jangan katakan semua ini ...!"batin Syana menjerit.


Semua kembali fokus mendengar apa yang akan kakeknya katakan.


Kakek tidak melanjutkan perkataannya, ia sendiri bingung harus berkata apa agar Syana mau menerima Perjodohan ini.


"Kakek mau bilang apa sih sebenarnya?" tanya Syana tak ingin menduga-duga apa yang akan kakeknya katakan.


"Siang nanti ustadz Ilham dan keluarganya akan datang untuk bersilaturahmi ke sini." Kata Ayah.


"Benarkan kan firasat ku, ini pasti kerjaan tante Aran," batin Syana menatap tajam pada tantenya itu.


Aran yang ditatap oleh Syana kembali menaik turunkan alisnya melihat keponakannya itu sepertinya sudah mengerti maksud dari semua ini.


"Kakek, maksud kakek ... ?" tanya Syana mencoba menerka apa yang akan kakek katakan padanya.

__ADS_1


"Iya Nak, kamu sudah dewasa. Kakek berencana menjodohkanmu dengan anak ustad Zakaria, ustaz Ilham . Dia anaknya sangat baik, Kakek yakin saat kalian menikah dia akan membuatmu bahagia ," ucap kakek mengusap-usap tangan cucunya.


Tubuh Syana melemah, ternyata ucapan tantenya itu benar, Jika ia akan menjodohkan nya dengan ustaz Ilham. Syana selama ini tak pernah berfikir jika apa yang tantenya ucapkan itu akan terlaksana.


"Tapi kakek ... ? Kenapa kalian baru mengatakannya sekarang?" protes Syana.


"Kami mengatakannya sekarang atau kemarin-kemarin apa bedanya toh Pak ustad Zakaria sudah setuju kau menjadi menantunya, begitu juga dengan ustaz Ilham ia sudah setuju dengan Perjodohan kalian," ucap Arandita.


"Tapi Tante, Syana belum mau menikah. Syana masih ingin berkarir. Syana ingin seperti tante menjadi desainer terkenal," ucap Syana.


"Dengar Syana kalau alasanmu seperti itu kita tak bisa membatalkan Perjodohan ini. Kau tahu saat ini usiamu sudah sangat pantas menjadi seorang istri. Bahkan saat Tante belum memiliki Ayasa Tante belum sesukses seperti sekarang. Tapi lihat Tante masih bisa berkarir setelah menikah. Kalau Tante bisa kenapa kamu juga tidak bisa berkarir setelah menikah." kata Aran.


"Masalahnya Tante, kami itu belum saling kenal, masa kami harus langsung menikah," jawan Syana.


"Kalau masalah itu, kalian bisa ta'aruf kan setelah pelamaran ini," ucap ibunya.


"A_pa ... ? pelamaran, bukannya tadi Kakek bilang ini masih silaturahmi saja, masih bisa kan Syana menolak?" tanya Syana pada kakeknya.


"Memangnya kenapa kamu tidak setuju menikah dengan ustad Ilham? dia itu pria yang baik." ucap kakek.


"Kakek, Syana sudah bilang. Syana tidak mengenalnya. Bagaimana mungkin kami bisa menjalankan rumah tangga jika kami tak saling kenal," ucap Syana.


"Jika Itu alasanmu, kalian bisa saling kenal kan setelah lamaran ini," kekeh Ibu Bram.


"Iya nak, ibu sangat berharap kamu mau menerima perjodohan ini," kali ini Arandita yang berbicara pada putrinya.


"Apa setelah kami saling kenal dan kenyataan kami tetap tak cocok, apa lamaran ini bisa dibatalkan?" tanya Syana.


"Tentu saja tidak. Kakek ingin kamu menikah dengan ustadz Ilham," tegas Kakek.


Syana mulai berkaca-kaca, ia tak menyangka akan berada di situasi seperti ini.


"Syana, apa kau punya seseorang yang kau cintai?" tanya Yoga.


Syana menggeleng, Ia memang mempunyai pacar. Namun, ia berpacaran hanya untuk bersenang-senang saja, hanya untuk teman jalan tak ada perasaan cinta sedikitpun di hatinya kepada mereka.


" Syana, Kamu kenalan saja dulu sama ustadz Ilham Siapa tahu aja kan kalian bisa saling mencintai," ucap Anindita ibunya.


Syana tak berkata apa-apa lagi, sepertinya percuma saja ia membantah Perjodohan itu jika kakek, ibunya dan tantenya serta neneknya semua sudah sepakat.


Apalagi hanya tinggal beberapa jam saja rombongan lamarannya akan datang.


Mereka terus membujuk Syana.Namun, Syana hanya diam, ia tidak menerima dan tidak pula menolak.


Anindita, Arandita, Nenek dan Kakek terus membujuk Syana sedangkan yang lain hanya diam menunggu jawaban Syana. Menunggu keputusan apakah Syana akan menerima Perjodohan itu atau tidak.


"Syana, ibu mohon cobalah kau mengenal dulu seperti apa sosok Ilham sebelum kau menolak Perjodohan ini. Ibu sangat yakin kalau kalian akan bahagia setelah menikah nanti," ucap Ibu menggenggam tangan Syana. "Ibu ingin melihat kau bahagia, kau Putri ibu. Ibu tidak akan melakukan hal-hal yang bisa merusak masa depan mu. Bisakah kau percaya pada ibu kali ini."Lanjut ibunya.


"Ibu, Syana belum mau menikah," lirih Syana, air matanya sudah menetes membasahi pipinya.


Gavin datang dengan sedikit berlari,


"Rombongan ustaz Ilham sudah datang," ucapnya.


Bram, Yoga dan Pak Surya langsung berdiri dan berjalan untuk menyambut mereka.


"Cepat ganti pakaianmu," ucap ibu pada Syana yang hanya memakai pakaian rumahan.

__ADS_1


Ibu mendorong kursi Ayah untuk menyambut mereka, rombongan ustadz Zakaria.


Syana tak bergeming, ia masih duduk terpaku di tempatnya. Anindita dan Aran langsung mengangkat Syana untuk berdiri dan mereka membawanya ke kamar nya.


Raina dan Ayasa ikut berlari mengikuti Syana, sementara Mikaila pergi ke dapur meminta asisten rumah tangga di rumah itu untuk menyiapkan minuman buat tamu mereka. Kemudian Ia juga ikut bergabung dengan yang lainnya. Menyambut keluarga Pak Zakaria.


Dikamar Anindita memilih pakaian untuk Putrinya,


"Syana kamu ini desainer, tapi kenapa baju kamu semua seperti ini!. Tak ada yang cocok untuk hari seperti ini," ucap Anin membongkar semua pakaian Syana.


Arandita ikut mencari pakaian yang cocok untuk di kenakan Syana,


"Pakai yang ini saja," ucap Aran menyodorkan sebuah gaun kepada Syana.


Syana terus cemberut duduk di atas kasurnya.


"Ayo kamu pakai," Seru Arandita menyerahkan gaun tersebut.


"Ibu, Tante aku belum mau menikah," ucap Syana yang kini menangis terisak di pelukan Ayasa.


"Syana kamu jangan nangis dong, nanti mata Kamu sembab saat bertemu mereka," ucap Ayasa mengelus punggung Syana.


Anindita menarik Syana ke pelukannya, ia juga tak tega melihat putrinya itu. Tapi ia yakin Syana akan bahagia jika menjadi istrinya dari seorang ustadz Ilham.


"Kenapa sih sayang, hm! Kenapa kamu nggak mau menikah? usia kamu sudah berapa sekarang, apa kamu akan seperti ini terus?" tanya Anin penuh kelembutan.


"Syana takut Bu. Bagaimana jika kehidupan rumah tangga Syana tidak bahagia?!, Bagaimana jika Syana tidak bisa menjadi istri yang baik?!,


Bagaimana kalau dia bukan pria yang baik untuk menjadi suami Syana?!" tanya Syana di selah tangisnya.


"Ibu, sahabat Syana sudah menikah, bukannya dia bahagia dia malah hidup menderita. Suaminya sering menyiksanya dan juga membatasi semua kebebasannya. Syana nggak mau seperti dia Bu," ucap Syana kembali terisak di pelukan ibunya.


"Rumah tangga setiap orang berbeda Nak, Coba kamu lihat Ayasa dan Raina, Meraka semakin bahagia setelah menikah. Ibu yakin jika putri ibu ini juga akan bahagia," ucap Anindita menghapus air mata putrinya.


"Ganti ya bajunya...!" pinta ibu.


Syana hanya mengangguk pelan dan mengganti pakaiannya.


Mereka membantu merapikan penampilan Syana.


Syana memiliki sahabat, mereka bersahabat dari sekolah dasar. Mereka selalu bersama. Namun, setelah menikah mereka jarang bertemu lagi. Mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel.


Sahabatnya itu terus mendapat penyiksaan dari suaminya dan hidupnya sangat sengsara dalam hubungan pernikahannya. Ia sering bercerita kepada Syana apa saja yang dialaminya tanpa menutup-nutupi sedikitpun.


Bagian suaminya memukuli dan memperlakukannya.


Itulah yang membuat Syana takut untuk menikah. Ia tak ingin hidupnya seperti sahabatnya itu.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 💗🙏


Jangan lupa like dan komen nya, 🙏💗


Salam dariku 🤗


Author m anha ❤️

__ADS_1


Love you all 💕💕💕


💖💖💖💖🙏🙏🙏💖💖💖💖


__ADS_2