Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Pilihan Yang Sulit.


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Arya masih terus berusaha untuk menguasai pekerjaannya.


Raina dan Natali sangat membantu pekerjaan mereka, Natali yang sudah bekerja di perusahaan setiap hari bertemu dengan Kelvin, membuat mereka semakin akrab. Kelvin selalu meletakkan minuman kemasan di meja Natali begitu pula sebaliknya.


Saat pulang Natali juga terkadang diantar oleh Kelvin.


Tak terasa setahun sudah Arya menduduki jabatan sebagai pemimpin perusahaan menggantikan Papanya, Arya yang awalnya ingin melanjutkan pendidikannya di perguruan tinggi yang ada luar negeri harus mengubur impiannya itu.


Perusahaan sedang sangat membutuhkannya saat ini, Kehadiran Raina sangat berarti untuk Arya dalam menjalani hari-hari yang semakin berat, ia harus menanggung tanggung jawab yang berat di usianya yang masih sangat muda.


Bram tak pernah lagi mendatangi kantor dan mengurus masalah pekerjaan, Bram hanya fokus pada kesehatannya.


Mikaila sangat protektif terhadap Bram. Semua yang berhubungan dengan kantor tak lolos dari pengawasannya.


Dengan sangat telaten ia mengurus suami tercintanya itu, hingga Bram sudah kembali pulih dan sehat seperti dulu. Namun Mikaila masih tetap tak mengijinkan Bram untuk ikut bekerja di kantor.


Tahun ini Wijaya group sudah terkendali, walau tak mengalami peningkatan setidaknya perusahaan tersebut sudah stabil,


Perusahaan milik keluarga bisa mereka handle bersama-sama, namun tidak dengan perusahaan pribadi milik Bram.


Arya yang lebih fokus pada Wijaya grup membuat Kelvin dan Gavin kualahan menangani perusahaan papanya yang semakin menurun. Bahkan beberapa cabang di luar negri milik Bram mengalami titik terendah nya, beberapa bahkan harus ditutup karena mengalami banyak kerugian.


Arya memijat kepalanya melihat laporan tahun ini yang semakin buruk sepanjang sejarah kepemimpinan Papanya.


"Bagaimana ini, perusahaan Papa semakin menurun saja. Aku sudah berusaha semampuku tapi sepertinya aku memang tidak bisa memimpin 2 perusahaan sekaligus saat ini," ucap Arya merasa putus asa.


"Maaf ya kak, aku ga bisa menjaga perusahaan Papa," sesal kelvin.


"Kita sudah berusaha, mau di apa lagi. Memang inilah hasilnya, memang sampai di sini kemampuan kita," ucap Arya.


"Apa kita minta bantuan Papa saja," usul Gavin.


"Entahlah, aku tidak yakin. Aku takut kesehatan Papa kembali menurun jika mengetahui keadaan perusahaan saat ini, bunda sudah mewanti-wanti agar Papa tak lagi mengurus pekerjaan."


Tak lama kemudian Yoga datang ke ruangan Arya.


"Apa kau sudah memeriksa laporan tahun ini ?" tanya Yoga,


"Sudah Om ," jawab Arya.


"Tahun ini bisa dibilang tahun terburuk sepanjang sejarah berdirinya Wijaya group, tapi setidaknya itu lebih baik dibanding perusahaan pribadi milik papamu, sepertinya sangat menurun," ucap Yoga,


"Iya Om, sepertinya aku enggak bisa memimpin dua perusahaan sekaligus," ucap Arya.


"Apa rencana mu?" tanya Yoga.


"Sepertinya kami akan melepas perusahaan keluarga. Aku akan fokus menjalankan perusahaan Papa, aku rasa jika kami bertiga fokus di sana mungkin kami bisa memperbaiki semuanya." jelas Arya.


"Aku juga tidak yakin bisa memimpin perusahaan sebesar Wijaya group," Lanjut Arya putus asa.


"Pikir kan baik-baik sebelum mengambil keputusan, Papa kalian sudah menyiapkan ini semua untuk kalian, ia bekerja keras membangun 2 perusahaan ini hanya untuk kalian," nasehat Yoga.

__ADS_1


Arya mengusap kasar wajahnya, pikirannya benar-benar pusing.


Arya berdiri di depan jendela besar di ruang kerjanya, memandang jauh gedung-gedung yang berjajar.


"Kak, Kakak nggak apa-apa?" tanya Raina yang sejak tadi hanya melihat Arya memandang keluar tanpa mengatakan apa-apa.


"Aku merasa kecewa dengan diriku sendiri, Papa sudah mempercayakan perusahaan Wijaya group kepadaku tapi sepertinya aku tidak bisa menjalankannya. Aku takut di masa kepemimpinan ku perusahaan sebesar perusahaan Wijaya group akan goyah," jawab Arya.


"Maksud kakak?" tanya Raina.


"Aku sudah memikirkannya, aku akan fokus pada perusahaan Papa saja. Papa sudah membangunnya dari nol, Aku tak ingin perusahaan yang Papa bangun harus berakhir di tanganku. Aku yakin Wijaya grup akan tetap berdiri kokoh walau tanpa aku, Ada om Yoga dan Om David. Mereka pasti bisa menjalankannya." ucap Arya.


"Kalau itu yang menurut Kakak baik, Raina hanya bisa mendukung,"


"Aku akan coba bicara sama bunda sebelum mengambil keputusan ini,"


*****


Sudah beberapa minggu ini Arya, Kelvin dan gavin serta Raina dan Natali bekerja lembur, sebelum mengambil keputusan besar Arya ingin mencobanya sekali, jika Papanya bisa memimpin keduanya, dia juga pasti bisa..


Walau Raina dan Natali tak banyak membantu pekerjaan kantor, setidaknya kehadiran mereka menjadi penyemangat dalam bekerja.


Di rumah Abraham Wijaya.


"Sayang apa anak-anak lembur lagi ?"tanya Bram saat di meja makan hanya ada mereka bertiga.


"Sepertinya memang begitu Mas, belakangan ini mereka sering lembur," jawab Mikaila.


"Sudah lama Mas, mas tak usah memikirkan pekerjaan lagi, anak-anak pasti bisa menjalankannya."


"Mas hanya khawatir mereka mengalami kesulitan, sesekali tak apalah kita melihat hasil pekerjaan mereka." pinta Bram.


"Enggak mas, aku ga mau mas bekerja lagi," ucap Mikaila,


"Sayang sebaiknya sesekali kita ke kantor melihat anak-anak, jika mereka sampai lembur seperti ini bisa dipastikan mereka sedang dalam masalah."


"Bunda Kalau Papa tak bekerja nanti kita ga punya uang dong?!" tanya Arsy yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka.


"Kan ada Kakak-kakak mu yang bekerja," jawab bunda Mikaila.


"Sekali saja sayang, mas hanya ingin memastikan nya saja," mohon Bram.


"Baiklah Mas, tapi janji ya mas hanya melihat hasil kerja mereka."


"Iya Mas janji, Mas hanya melihat pekerjaan mereka saja. Apapun hasilnya mas tidak akan ke kantor lagi," ucap Bram.


Bram terbangun di malam hari, ia mengecek kamar anak-anaknya dan mereka belum pulang,


"Ada masalah apa ini, mengapa beberapa hari ini mereka sampai menginap di kantor ," batin Bram.


Pagi hari mereka langsung ke kantor, semua karyawan yang melihat pimpinan mereka datang memberi hormat.

__ADS_1


Yoga yang melihat Bram datang langsung menyambutnya,


"Selamat pagi Bram,"


"Selamat pagi Mas Yoga," jawab Bram


"Apa kau akan kembali berkantor ?" tanya Yoga,


"Enggak Mas, Mas Bram cuman ingin menengok pekerjaan anak-anak saja," ucap Mikaila.


"Sepertinya anak-anak beberapa hari ini sedang sibuk ?" tanya Bram.


"Bukan cuman anak-anak, tapi kami semua juga sangat sibuk," ucap David yang baru bergabung bersama mereka.


"Apa ada masalah?" tanya Bram.


David dan Yoga hanya saling melirik tak menjawab pertanyaan Bos nya itu.


"Bagaimana dengan perusahaan ?" tanya Bram, Meraka mengobrol sambil berjalan menuju ruangannya Bram.


"Perusahaan stabil, walau tak sesukses dulu ," jawab Yoga santai.


"Aku yakin kalian bisa menjalankan perusahaan ini tanpa aku," ucap Bram.


Mereka berjalan santai sambil membahas hal-hal kecil mengenai perusahaan.


Hingga mereka sampai di depan pintu ruangan Bram atau pintu ruangan Arya sekarang.


Dimas yang melihat mereka datang langsung membuka pintu agar mereka semua bisa masuk,


Mereka yang tadinya tertawa dengan candaan mereka masing-masing seketika terdiam saat melihat apa yang terjadi di dalam ruangan itu,


berkas bertebaran dimana-mana, bahkan kursi kebesaran Bram sudah ada di tengah ruangan dijadikan sebagai meja beberapa cemilan mereka.


Kelvin masih tidur di sofa sedangkan Gavin tidur di lantai dengan posisi tengkurap,


Arya keluar dari kamar sambil menguap, dengan dasi yang terpasang asal di lehernya, penampilannya sungguh acak-acakan, semua mata tertuju pada nya.


"Papa , bunda ," ucap Arya melihat mereka dan dengan cepat membangunkan Gavin dan Kelvin.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


πŸ‘‰LIKE ☺️


πŸ‘‰ VOTE πŸ₯Ί


πŸ‘‰ KOMENTAR 😍


Mampir juga ke My Papa My Boss πŸ™


Author m anha ❀️

__ADS_1


πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ™πŸ’–πŸ’–


__ADS_2