
Arya yang kelelahan harus terus bolak-balik, mengerjakan pekerjaannya selama seminggu kedepan. Membuat Iya sedikit bersantai menikmati kebersamaan mereka di kampung .
Hari ini Arya mengajak mereka ke rumah Raina, rumah kakek yang selama ini merawat Raina dan Natali.
Natali tak sengaja melihat sepeda yang ada di garasi rumah tersebut , dua sepeda kecil yang sepertinya pernah ia lihat. Natali terus memperhatikan sepeda itu,
"Ada apa ?" tanya Raina,
"Enggak, sepertinya sepeda ini tak asing ," gumamnya terus memperhatikan dua sepeda yang masih sangat baru yang ada di garasi, seperti tak pernah dipakai oleh pemiliknya.
Sepeda itu hanya dipakai sekali oleh mereka bertiga saat pergi ke kebun mangga milik kakek Raina saat kecil dan sampai sekarang sepeda itu masih tersimpan rapi di garasi. Tak Ada Yang memakainya.
Bahkan saat mereka kembali berkunjung ke rumah kakek, mereka tak berniat lagi untuk memakai sepeda itu.
"Ada apa ?" tanya Gavin menghampiri mereka,
"Ini sepeda siapa?" tanya Natali.
"Ohh, sepeda kami waktu kecil, kamu ingat gak 3 orang yang kamu kejar pakai batu?!" tanya Gavin.
Natali mengangguk, ia memang selalu mengingat dengan jelas saat ia mengejar 3 anak laki-laki yang membuat Raina pingsan.
"Nah mereka itu adalah kami," ucap Gavin tertawa melihat ekspresi kedua.
Raina baru mengingat jika saat itu ia memang seperti mendengar suara Arya sebelum ia pingsan.
"Oh jadi saat itu memang kak Arya ya," batin Raina.
"Ada sepeda lagi nggak ya,?" tanya Raina.
"Emangnya kenapa?" tanya Gavin,
"Kita naik sepeda aja yuk ke sana,"ajak Raina.
"Boleh, ya udah aku beli dulu ya," ucap Gavin berlalu mengambil kunci mobil dan pergi begitu saja, Raina dan Natali saling tatap.
"Maksud Gavin, Iya mau pergi beli sepeda untuk kita?!" tanya Raina,
Natali mengangguk ,
"Kalau begitu sih mending kita naik mobil aja kesana, aku pikirnya ada sepeda yang lain yang bisa kita pakai," lanjut Raina.
Natali tertawa,
"Itulah Gavin yang sebenarnya oon bin aneh," ucap Natali.
Dan benar saja, Gavin kembali membawa 3 sepeda.
"Kok cuman 3 sih ," protes Natali melihat sepeda yang di bawa Gavin hanya 3 sedangkan mereka berempat.
"Sepeda nya cuman ada 3 , ada sih cukup 4 tapi kecil, kamu mau?!" tanya Gavin.
__ADS_1
"Kamu aja yang pakai sepeda kecil," ucap Natali mengambil satu sepeda dan langsung mengayuhnya.
Gavin yang melihat Natali sudah menjauh ikut mengambil sepeda dan mengejarnya.
Arya dan Raina menyusul mereka dengan berboncengan. Mereka mengayuh sepeda dengan santai menikmati pemandangan kampung yang masih sangat hijau, hamparan sawah yang baru ditanam membuat mata menjadi segar. Udara juga masih sangat segar sangat berbeda di kota mereka.
Arya dan Raina menyapa setiap petani yang sedang membersihkan sawah, orang-orang di sana sudah mengenal siapa Arya, mereka membalas sapaan tersebut dengan ramah.
Begitu sampai di rumah kakek Raina langsung membuka kunci rumahnya, sudah sangat berdebu.
Mereka membersihkannya sebentar,
"Kenapa kamu enggak titipin aja ke orang-orang sini, suruh mereka tinggalin sini daripada dibiarin kosong seperti ini!" ucap Arya,
"Iya ya Kak," jawab Raina.
"Waktu itu sih kami cuman coba-coba aja ke kota, rencananya Kalau kami nggak betah tinggal di kota kami akan pulang lagi. makanya rumahnya dibiarkan kosong," jawab Natali.
Natali pun menghampiri tetangga di sana, mereka tinggal satu rumah bersama dengan anaknya yang sudah menikah.
Natali memberikan kunci rumah tersebut dan meminta mereka tinggal disana tanpa sewa, mereka hanya menginginkan mereka merawat rumah peninggalan kakeknya.
Setelah itu mereka berjalan-jalan ke kebun. Mereka kembali mengingat kejadian masa kecilnya,
"Oh ya kak, yang dulu ngelempar Raina siapa ?" tanya Raina pada Arya.
"Itu Kelvin,"ucap Arya,
"Iya, katanya sih dia mau ngelempar burung," jawab Arya.
Gavin langsung melakukan video call kepada Kelvin, memperlihatkan dimana mereka sekarang berada,
"Hay Kak Kelvin," ucap semuanya,
"Kalian lagi di mana?" tanya Kelvin melihat pemandangan di sekitaran mereka.
"Coba tebak?!" ucap Gavin memperlihatkan pohon-pohon yang banyak di sana dan beberapa pohon mangga yang berbuah lebat.
"Oh kalian di kebun buah kakek itu ya ?" tebak Kelvin.
"Betul kak," jawab Gavin.
"Jadi Kakak ya yang lebar Raina dulu" tanya Natal , Kelvin tertawa.
"Maaf ya Raina, hari itu aku nggak sengaja," ucap Kelvin melihat ke arah Raina.
"Iya Kak, padahal hari itu karena mendengar suara kak Arya makanya Raina menghampiri kalian," ucapan Raina jujur.
"Benarkah ?"tanya Arya.
"Iya, aku baru akan menyapa Kakak, tapi aku malah pingsan," ucap Raina membayangkan kejadian waktu itu.
__ADS_1
Mereka pun mulai memetik mangga, beberapa mangga sudah ada matang.
Arya dan Kelvin mencoba untuk memanjat pohon tersebut walau kesusahan tapi mereka berhasil memetik buah mangga untuk dibawa pulang.
Saat mereka pulang, mereka melihat banyak warga berkumpul di depan rumah kakek mereka dan Bunda mereka juga ada disana.
Arya menghampiri Papa dan kakeknya yang duduk di teras.
"Kok di sana rame Pah, ada apa? tanya Arya ,
"Papanya Humaira meninggal," ucap kakek,
"Innalillahi wainnailaihi Raji'un," jawab mereka semua.
Kalian temani Kakek ya, Papa mau melayat ke sana," ucap Bram,
"Pah Arya juga ikut ," ucap Arya.
Arya dan Gavin menyimpan mangga yang mereka bawah, mencuci tangan dan mengganti pakaian mereka.
Zahra Sudah lama tak pernah datang ke kampung itu, semenjak kejadian yang membuat kedua orang tua Mikaila marah, dan kedua orangtuanya malu.
Dulu orang tua Zahra tinggal bersama Zahra, Namun karena merasa tak enak mereka merepotkan anaknya di masa tuanya, Ayah dan ibu Zahra memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya.
Hubungannya dengan kedua orang tua Mikaila yang sempat renggang kembali terjalin harmonis dan mereka melupakan semua kejadian yang sudah berlalu.
Zahra yang mendengar kedua orang tuanya meninggal langsung pulang ke kampung begitu juga dengan Humaira adiknya.
Zahra masih ada rasa bersalah kepada Mikaila, saat ia bertatapan dengan istri dari Abraham Wijaya itu. Mikaila yang melihat Zahra tersenyum padanya membalas senyumannya.
Semenjak kejadian itu Mikaila tak mau bertemu dengan Zahra. Zahra yang mengerti jika Mikaila marah padanya tak pernah memaksa menemuinya, ia hanya meminta maaf melalui pesan dan melalui perantara saja.
"Zaky di mana adikmu ?" tanya Ibu Zahra pada Zaky yang tak melihat adiknya ikut bersama mereka.
"Masih di perjalanan nek, ia kesini ikut bersama dengan kakek dan nenek," ucap Zaky.
Arya yang mendengar nama Zaky langsung menoleh dan melihat orang yang bernama Zaky yang di maksud ibu Zahra,
Walau terlihat samar, Arya bisa melihat ada kemiripan di wajah Zaky dan Papanya.
"Apa anak ini yang bernama Zaky, Zaky yang ada di daftar warisan Papa!" batin Arya.
ππππππππππππ
Terima kasih sudah membaca π€
Like ,Vote dan komennya masih sangat di butuhkan ya,βΊοΈπ
Salam dariku Author m anha π
πππππππππππππππ
__ADS_1