Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Rasa sayang Abraham.


__ADS_3

Anin sangat kesal dengan Bram. Saat menerima telepon dari Adiknya itu, Anin begitu khawatir, ia mengira jika sesuatu yang buruk terjadi kepada mereka. Ternyata Mikaila dan Arsy baik-baik saja.


Mikaila mengalami luka lecet di bagian jari kelingkingnya, sedangkan Arsy sendiri hanya mengalami luka kecil di siku kirinya. Tak ada luka lain yang dialami oleh mereka. Namun, Bram mengatakannya seolah Meraka mengalami luka yang parah saat menelepon dirinya. Membuat Anindita sangat panik, bahkan ia telah menyiapkan ruang operasi untuk mereka.


Anindita bisa melihat jika Mikaila dan Arsy sangat ketakutan dan berusaha menahan air mata mereka, disaat Bram terus saja memarahi Mikaila karena kesalahan yang di perbuat.


"Jika kau ingin melakukan sesuatu, minta izin terlebih dahulu padaku. Mikaila, kau sudah lama tak mengendarai motor, mengapa kau harus mengantar Arsy dengan motor. Bukannya aku sudah bilang padamu sebelum berangkat ke kantor, minta pak Wahyu yang mengantar kalian" ucap Bram penuh penekanan di setiap kata-kata nya, seolah memberitahu Mikaila apa saja kesalahan yang telah dilakukannya.


"Bram, sudahlah. Mereka kan tidak apa-apa, hanya mengalami luka lecet saja. Kalau kau terus memarahi mereka seperti ini, itu hanya menambah ke ketakutan mereka saja."


Bram melihat istri dan anaknya yang sedari tadi hanya diam. Bram bisa melihat jika mereka berdua masih sangat ketakutan dan syok karena kecelakaan tadi, di tambah lagi dirinya yang sejak tadi memarahi mereka.


Bram menghela nafas dalam dan membawa Mikaila ke pelukannya. "Berjanjilah kau tak akan mengulanginya lagi, jangan pernah membahayakan dirimu dan anak kita,"


Mikaila hanya bisa mengangguk dan membalas pelukan Bram, menghapus dengan cepat setetes air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya.


Arsy yang baru selesai diobati oleh Anindita merentangkan tangannya pada Bram menginginkan sebuah pelukan dari papanya.


Bram menghampiri putri kesayangannya. Membawa Arsy ke pelukannya. Wajah Arsy dan Tasya Hampir mirip, memiliki mata dan senyuman yang sama. kehadiran Arsy seolah mengisi relung hati Bram yang selama ini terasa kosong, walau ia terlihat bahagia dan biasa saja. Namun, hatinya masih terasa perih saat mengingat kenangan dengan almarhum putrinya.


Bayangan kehilangan putrinya untuk kedua kali membuat Bram tanpa sadar memarahi mereka berdua.


"Maaf ya Sayang, Papa sangat khawatir dengan kondisi kalian, tak bermaksud memarahi kalian, Papa hanya takut terjadi hal yang buruk dengan kalian."


"Maaf ya, Pah." Tangis Arsy pecah.


"Iya Sayang, Papa juga minta maaf. Maaf sudah marah sama Arsy."


Air mata dan isakan yang sejak tadi ditahan oleh Putri Abraham Wijaya itu kini tak terbendung lagi. Air matanya menetes membasahi pipinya, suara Isak tangis terdengar di ruangan Anindita.


Anindita ikut mengelus punggung Arsy yang bergetar karena tangisnya, mencoba menenangkannya.


Tangis Arsy mulai tak terdengar lagi, hanya isakan kecil yang keluar dari mulutnya.


"Kita pulang sekarang ya?" ucap Bram hapus air mata putrinya itu.


Mereka pun pamit untuk pulang, Bram sudah lebih tenang saat Anindita mengatakan jika mereka berdua baik-baik saja, tak ada luka serius yang harus dikawatirkan.


Di kantor.


Arya yang baru selesai memimpin rapat langsung menghubungi Papanya.

__ADS_1


Selama rapat berlangsung, Arya terus memikirkan mengapa papanya sampai meninggalkan rapat seperti ini, Ada hal penting apa yang telah terjadi.


"Halo, Pah! Papa di mana?" tanya Arya setelah panggilannya tersambung.


"Papa ada di rumah sakit," jawab Bram.


"Di rumah sakit? Papa ngapain di rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Arya.


"Bunda dan Arsy kecelakaan dan sekarang Papa ada di rumah sakit."


"Arya ke sana sekarang juga," ucap Arya langsung mematikan panggilannya.


Bram melihat ponselnya, baru saja ia ingin mengatakan jika keadaan Bunda dan adiknya baik-baik saja. Arya sedang mematikan panggilannya.


Arya bergegas keluar dari ruangannya sambil berlari.


"Kakak mau ke mana?" tanya Gavin yang tak sengaja bertemu dengannya di lobby.


"Bunda dan Arsy kecelakaan, Aku mau ke rumah sakit, Papa sudah ada di sana," ucap Arya sambil terus berjalan.


Gavin yang mendengar apa yang diucapkan Arya langsung ikut berlari mengikuti nya.


Arya melajukan mobilnya dengan sangat kencang menuju rumah sakit, Dia sangat khawatir dengan kondisi Bunda dan adiknya.


Seingatnya Bundanya itu sangat hati-hati dalam melakukan segala hal, termasuk membawa mobil. Jika Bundanya yang mengendarai mobil, jarak yang ditempuh 1 jam bisa ditempuh 2 jam oleh Mikaila. " Jarak antara rumah dan sekolahan Arsy tidak begitu jauh," batin Gavin mengira jika Bundanya mengalami kecelakaan mobil saat mengantar Arsy ke sekolah.


"Kakak ga tahu, tadi Papa hanya bilang kalau mereka di rumah sakit. Kak nggak sempat nanya penyebabnya" jawab Arya masih terus fokus mengemudi.


Begitu sampai di rumah sakit mereka langsung bergegas masuk ingin melihat keadaan bundanya.


Mereka berjalan cepat menapaki lorong Rumah Sakit. Arya menelpon Papanya ingin mencari tahu di mana keberadaan mereka.


Mereka melangkah dengan cepat. Namun langkah mereka terhenti saat melihat di depan mereka Bunda dan Arsy baik-baik saja, mereka sedang berjalan menuju ke arah Arya dan Gavin.


Arya dan Gavin semakin mempercepat langkahnya menghampiri Papa yang sedang menggendong Arsy dan bundanya yang berjalan di sampingnya, tak ada luka sedikitpun.


"Bunda baik-baik saja?" tanya Arya menelisik keadaan bundanya.


"Iya, bunda baik-baik saja kok."


"Katanya Bunda kecelakaan? mana yang sakit?" tanya Arya.

__ADS_1


Mikaila memperlihatkan jari kelingking yang telah dibalut.


"Hanya itu?" tanya Arya dengan alis terangkat.


"Iya, hanya ini," jawab Mikaila.


"Emangnya kakak berharap Bunda terluka parah," sahut Gavin.


Arya membelalakkan matanya mendengar celetukan konyol dari Gavin.


"Ade mana lukanya?" tanya Gavin mengusap rambut Arsy yang berada digendongan Bram.


Arsy memperlihatkan luka yang ada di sikunya,


"Sakit ya?" tanya Gavin mengusap perbannya.


"Udah enggak sakit kok kakak," jawabnya.


"Terus, ini kenapa air mata masih jatuh seperti ini," ucap Gavin mengusap air mata Arsy yang masih menetes di pipinya.


"Papa marahin Arsy," ucap Arsy kembali menambah tangisnya.


"Sudah dong, Papa kan sudah minta maaf," ucap Bram mencoba menghentikan tangis putrinya.


"Iya nih Papa. Bukannya disayang-sayang malah dimarahin. Adik kan baru kecelakaan," tambah Gavin yang membuat Arsy semakin menangis.


Bram menendang kaki Gavin, bukannya membantu menenangkan adiknya malah memperkeruh suasana. Beberapa orang bahkan menoleh kearah mereka, mendengar tangis Arsy yang semakin nyaring.


Bram berlalu meninggalkan Gavin yang terus mengusap kakinya yang terasa sakit karena tendangan nya.


"Rasakan, sakit ya?!" ledek Arya berjalan mengikuti papanya dan bundanya yang sudah jauh meninggalkan mereka.


Gavin ikut berjalan sambil sesekali mengusap kakinya. Bram menendang pas di tulang keringnya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote dan komennya 🙏


salam dariku 🤗

__ADS_1


Author m anha ❤️


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2