
Matahari sudah mulai terbit dari arah timur menampakkan cahayanya yang indah, menghangatkan dan memancarkan cahaya.
Memberi kehangatan bagi setiap umat manusia di bumi, menerangi setiap kegiatan dan aktivitas mereka. Begitu juga dengan keluarga Mikaila.
Di kediaman Abraham Wijaya,
Semua mulai disibukkan dengan pekerjaan mereka masih-masing.
Para penghuni rumah mewah tersebut sudah beraktivitas bahkan sebelum sang surya menampakkan cahayanya.
Bi Yanti sudah mulai sibuk di dapurnya, di usianya yang sudah semakin tua tak membuat semangat bekerja nya menjadi luntur. Namun karena usianya yang semakin tua dan semakin lemah Bram mempekerjakan seorang koki lagi untuk membatu pekerjaan bi Yanti.
Bi Yanti tak ingin meninggalkan anak asuhnya itu, ia ingin terus bersama dengan keluarga Abraham hingga akhir hayatnya dan Bram merasa sangat senang. Ia tak mempermasalahkannya.
Bram sudah melarang Bi Yanti untuk bekerja. Namun Bi Yanti merasa seluruh tulang-tulangnya terasa kaku saat tak bekerja. Kebiasaan melakukan aktivitas di pagi hari membuatkan makanan untuk mereka semua sudah menjadi kebiasaannya sampai sekarang. Bi Yanti meresa senang saat semua keluarga Abraham memakan makanannya dengan lahap.
Meja makan merupakan salah satu tempat favorit di rumah itu.Mereka memulai aktivitas dengan bercanda gurau sambil menyantap makanan nya.
Nasi goreng, roti dan potongan buah menu wajib saat sarapan.
Mbak Lala yang juga sibuk membersihkan rumah dibantu oleh Mbak Siti. Mba Siti masih betah bekerja di sana walaupun sudah tak ada bayi lagi yang harus dijaga nya.
Ia beralih menjadi teman bersih-bersih buat Mbak Lala, mereka berdua sangat betah bekerja di sana. Selain gajinya yang tinggi, selama bekerja di sana mereka selalu mendapatkan berbagai hal dari majikannya.
Baik berupa makanan, pakaian dan beberapa perabotan rumah tangga.
Walaupun probotan yang diberikan kepada mereka merupakan barang bekas, Namun saat
probotan tersebut sempai kerumah mereka semua itu menjadi barang baru dan mewah.
Dan yang paling utama adalah Abraham membiayai semua biaya sekolah anak-anaknya mereka selama mereka bekerja di sana, Bram Bahkan tak sungkan menyekolahkan mereka hingga ke luar negeri.
Semua memulai aktivitas dengan sangat bahagia, melupakan segala kesedihan di hari kemarin.
Arsy dengan semangat menyambut hari ini. Ia sangat ingin kembali bertemu dengan teman-temannya di sekolahan.
Begitu juga dengan Arya ya sudah siap dengan jas kerjanya.
"Kamu sedang apa?" tanya Arya menghampiri Gavin di meja makan dan melihat Gavin bukannya makan malah bermain dengan ponselnya.
"Aku ingin menghapus semua nomor pacar-pacarku, aku sudah memutuskan mereka semua ," ucap Gavin santai.
Arya yang sudah memasukkan nasi goreng ke dalam mulutnya tersendak dan terbatuk-batuk hingga nasi di mulutnya menyembur ke jas Gavin.
"Kakak apaan sih," protes Gavin berdiri membersihkan pakaiannya.
__ADS_1
"Maaf, maaf kakak nggak sengaja. Kamu bilang apa tadi!, memutuskan mereka semua? kamu yakin?!" tanya Arya tak percaya.
"Yakinlah Kak, ngapain juga aku bohongin Kakak tidak ada untungnya ," jawab Gavin.
Arya memandang Kevin penuh curiga,
"Apa kau menyukai seorang wanita dengan sungguh-sungguh sekarang?" tanya Arya mengira kalau Gavin sedang jatuh cinta sehingga mendapatkan hidayah.
"Maksud kakak, aku sedang jatuh cinta begitu?!"
Arya mengangguk.
"Enggak lah Kakak, belum ada wanita yang mampu menggetarkan hati seorang Gavin," ucap Davin bergaya membusungkan dadanya, membanggakan dirinya.
"Bukannya kakak seksi yang kemarin itu pacarnya kakak?!" ucap Arsy.
"Apa dia tidak menggetarkan hati Kakak?!" tanya Arsy lagi sambil menggigit roti yang sudah di olesi selai coklat oleh bi Yanti yang sejak tadi duduk bersama mereka di meja makan.
"Maksud kamu Vanessa?" tanya Gavin.
Arsy mengangguk sambil memasukkan gigitan terakhir roti nya kedalam mulutnya hingga mulutnya penuh.
Bi Yanti hanya menggeleng melihat tingkah nona nya itu.
"Yang bener aja dek, masa kakak jatuh cinta sama Vanessa. Cewek gituan mah cuma buat main-main aja, Vanessa belum mampu menggetarkan hati kakak hanya menggetarkan anggota tubuh yang lain," ucap Gavin tertawa, bi Yanti ikut tertawa mendengar ucapan konyol Gavin.
"Menggetarkan apa kak" tanya Arsy polos,
Gavin duduk sambil memakan apel yang tadi di lemparkan Arya padanya. Gavin mengambil buah pisang yang ada di dekatnya.
"Menggetarkan pisang ini," ucap Gavin kembali tertawa terbahak-bahak.
Bram dan Mikaila turun menghampiri mereka, "Wah,,, pagi-pagi udah pada tertawa, apa yang lucu nih?" tanya Mikaila kepo.
"Ini bunda katanya Vanessa menggetarkan pisangnya kakak Gavin," ucap Arsy, dengan polosnya tak mengetahui apa yang sebenarnya arti dari ucapan kakaknya itu .
Mikaila menatap tajam pada Gavin,
"Awas ya kamu Gavin, jangan macam-macam dengan pisang mu," ucap Bunda Mikaila mengambil buah pisang dan melempar anaknya itu.
"Jangan bermain dengan makanan," tegur Bram saat Mikaila melempar Gavin dengan buah pisang.
"Enggaklah bunda, pisang ku cuma satu macam aja. Cuma untuk di makan." ucap Gavin mengupas buah pisang yang dilempar Bundanya dan memakan buah Pisang itu..
"Hati-hati keselek loh ,"tegur Arya,
__ADS_1
Baru saja Arya mengatakan itu Gavin sudah ter batuk-batuk karena ulah konyolnya yang memasukkan hampir semua buah pisang itu ke dalam mulutnya.
Mikaila langsung menghampiri anaknya itu dan memukul punggungnya.
Memberikan air putih agar Gavin merasa lega pada tenggorokannya.
"Hati-hati sama buah pisang, buah pisang itu berbahaya," ucap Bram membuat Arya tertawa.
"Kenapa buah pisang berbahaya Papa?" tanya Arsy,
"Makan buah pisang bisa ada bayi.," celetuk Gavin yang sudah merasa lebih baik pada tenggorokannya.
"Bayi?" ucap Arsy berbinar kemudian ia mengambil 2 pisang dan memberikan kepada bundanya.
Bunda mengambil pisang yang diberikan kan Arsy padanya,
"Bunda habiskan 2 pisang ini, Arsy ingin 2 bayi," ucap Arsy.
Mereka semua tertawa,
"Bukan pisang itu dek, tapi pisangnya Papa,"ucap Gavin yang semakin menambah tawa mereka semua. Kecuali Mikaila dan Arsy.
Mba Lala dan Siti juga ikut tertawa, mereka kebetulan lewat dan mendengar candaan mereka.
Inilah salah satu yang membuat bi Yanti betah tinggal di rumah ini, ia sudah dianggap sebagai keluarga dan bisa merasakan kehangatan yang terjadi diantara mereka.
"Apanya yang lucu bunda?! emang Papa punya pisang?" tanya Arsy.
"Papa nggak punya pisang, Papa punya burung elang," ucap Mikaila berlalu menuju dapur dan membuatkan kopi untuk Bram.
"Burung elang," gumam Arsy melihat Papanya,
"Emang Papa punya burung elang?" tanya Arsy dengan ekspresi heran.
"Udah ah,, aku pergi dulu,,, aku mau jemput Vanessa dulu.," canda Gavin berdiri mengambil jas dan tas kantor nya.
"Pah aku berangkat dulu," pamit Gavin lalu pamit pada bundanya yang ada di dapur.
💖💖💖💖💖💖🙏💖💪💪💖💖💪💪💪
Terima kasih sudah membaca
Terima kasih atas dukungannya
Terima kasih atas like Vote dan komennya 💗
__ADS_1
salam dariku Author m anha ❤️
💖💖💖💖💖💖💖💪💪💪💪💖💖💖💖💖