Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Menjelang persalinan Raina


__ADS_3

Malam nanti Raina akan melakukan operasi sesar, ia sudah diminta untuk berpuasa.


"Kak, aku  takut," lirih Raina menggenggam erat tangan Arya.


"Kita percayakan semuanya sama Allah SWT, dan kita serahkan semua proses persalinannya pada tante Anin."


"Apa kita tunggu sampai Raina kontraksi dan melahirkan secara normal saja, Kak!" ucap Raina masih menginginkan untuk melahirkan secara normal. Membayangkan dirinya akan melakukan operasi membuat ia terus memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi padanya.


"Dengarkan Kakak. Tante Anin sudah sangat berpengalaman, dia yang membantu persalinan bunda saat melahirkan Kakak, Kelvin, Gavin dan Arsy. Jadi Kakak percaya 100% pada tante Anin dan Kakak yakin Tante Anin akan berhasil kali ini juga."


Raina mengambil tangan Arya dan menempelkannya pada dadanya,


"Kakak bisa merasakan degup jantung Raina? Aku sangat ketakutan, Kak!" lirih Raina dengan suara yang bergetar.


"Kakak lebih takut lagi jika kamu melahirkan bayi kita secara normal," ucap Arya.


Disaat jadwal operasi sudah di tetapkan, dan mereka hanya tinggal menunggu waktu, Raina masih terus berdebat ingin melahirkan secara normal.


Bagi Raina, waktu berlalu sangat cepat, tinggal beberapa jam lagi ya harus memasuki ruang operasi.


Kata operasi sungguh menakutkan bagi sebagian orang, termasuk Raina.


tangannya terasa dingin terus saling menautkan tangannya di sana.


"Bunda menghampiri Raina dan mengusap perutnya, "Semua pasti akan baik-baik saja, kamu jangan terlalu banyak berpikir. takutnya itu akan berdampak pada bayimu," 


"Iya Bunda, Raina nggak mau memikirkan nya, tapi tetap saja mengingat sebentar lagi Raina akan masuk ruang operasi membuatku jadi Semakin takut Bunda," ucap Raina memandang ibu mertuanya dengan memelas.


"Sudah jangan sedih, kamu nggak malu  sama bayimu," ucap Mikaila, sebenarnya ia juga takut. Namun, ia harus terlihat berani agar tak semakin menakuti Raina.


"Kamu jangan khawatir, nanti Kakak akan izin ke Tante Anin untuk menemanimu sepanjang operasi." ucap Arya.


"Kakak janji ya, temani Raina di ruang operasi, jangan pernah tinggalkan Raina."


"Iya, Kakak akan selalu menjagamu. Kak, gimana jika terjadi sesuatu dengan Raina diruang operasi," lirih Raina.


"Kakak kan sudah bilang, jangan pernah katakan itu lagi. Kakak yakin semuanya pasti baik-baik saja," tegas Arya.


Arya membawa Raina ke pelukannya dan semua itu membuat Raina semakin terisak.


Anin datang dan juga beberapa perawat.


Melihat itu Raina semakin mengeratkan pelukannya dan semakin terisak.


"Kamu itu harus kuat, ini semua demi bayi kamu, Apa kamu nggak mau bertemu dengan dia. Tante yakin, dia pasti sudah sangat ingin berada di pelukan mamanya,"  ucap Anin dengan penuh lemah lembut.

__ADS_1


"Tante apa semuanya akan baik-baik saja, apa Raina akan baik-baik saja?" tanya Raina disela tangisnya.


"Tante yakin, semua pasti akan baik-baik saja. Tak ada masalah dengan kandunganmu, kita hanya perlu mengeluarkan bayi kecil kalian," ucap Andita mengusap perut Raina.


"Tante periksa dulu ya?" ucap Anin minta beberapa perawat memeriksa Raina.


"Tante, Apa Arya ikut ikut di ruang operasi."


"Iya, boleh. Agar Raina nggak ketakutan, usahakan kau terus membuatnya tenang," ucapan Anindita.


Waktu terus berlalu kini tiba waktunya Raina menjalani operasinya. Semua keluarga sudah datang.


Raina dan Arya sudah mengganti pakaiannya.


Ibu Mikaila menghampiri cucu menantunya.


"Semua pasti baik-baik saja, doa Nenek selalu bersama kalian," ucap Ibu Mikaila mengecup kening cucu menantunya.


"Terima kasih ya, Nek." Ucap Raina mencoba untuk tetap tersenyum.


Arya menghampiri Raina dan memeluk istri tercintanya.


"Apa kau sudah siap?"  Tanya Arya memegang kedua pipi Raina dengan telapak tangannya.


Raina mengangguk sambil tersenyum. Namun, setetes air mata jatuh membasahi pipinya.


Raina melihat perutnya dan mengangguk.


Arya kembali membawa raina ke pelukannya mengusap lembut punggung istrinya itu, sesekali Arya mengecup pucuk kepalanya sambil menunggu Anindita memanggil mereka.


Semua keluarga berusaha menghibur Raina, membuat ia tertawa walau sebenarnya mereka semua juga merasa cemas.


Disaat semua cemas memikirkan Raina. Kelvin justru terus memikirkan Diandra.


Kelvin keluar dari ruangan dan memilih duduk di bangku yang berbaring rapi di lorong rumah Sakit. Kelvin menelpon seseorang dan meminta salah satu kenalannya untuk mencari tahu di mana Diandra berada. Kelvin mengirim alamat Apartemen lama  Diandra dan juga fotonya Diandra dan Clara.


"Semoga saja mereka baik-baik saja," batin Kelvin menata foto Clara di ponselnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Natali menghampiri Kelvin yang duduk sendiri di luar ruangan Raina.


Sejak datang dari luar negeri Kelvin bertingkah aneh, ia tak seperti biasanya. Jika biasanya saat pulang Kelvin langsung mengajak Natali ke suatu tempat untuk menghabiskan waktu berdua. Namun tidak kali ini, ia lebih banyak diam dan seperti memikirkan sesuatu.


"Apakah kau punya masalah?" tanya Natali ragu.


"Nggak kok, nggak apa-apa?" jawab Kelvin menggenggam erat tangan Natali.

__ADS_1


Natali melihat foto Clara di layar ponsel kelvin.


"Ini siapa?" tanya Natali yang melihat foto yang ada di ponsel Kelvin, foto seorang gadis kecil tersenyum sambil memeluk kelvin.


"Ini adiknya Diandra, saat di sana dia selalu menghiburku. Dia selalu datang ke Apartemen saat ibunya bekerja,"Jawab Kelvin melihat foto Clara. Membayangkan hari-hari bersama keluarga Bu Sulastri yang begitu menyenangkan.


"Usianya Clara sana dengan dengan Arsy," tambah Kelvin.


"Kemarin karena terburu-buru,aku jadi lupa berpamitan dengan Diandra. Sepertinya dia gadis yang sangat baik," ucapan Natal.


"Hmm." Kelvin mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Kudengar dia sudah berhenti bekerja dari toko tempat ia bekerja sebelumnya. Sekarang kau sudah tak lagi membutuhkan jasanya. Apa dia sudah menemukan pekerjaan baru?"


"Entahlah, aku juga tak sempat menemuinya sebelum pulang ke sini."


"Kenapa kau tak pekerjaannya pekerjaan  di kantor cabang perusahaan kalian yang ada di sana."


"Aku akan menawarinya jika kami bertemu lagi," ucap Arya kini mengecup kembali punggung tangannya..


Tak lama kemudian Anin dan beberapa perawat menghampiri kamar Raina. Kelvin dan Natali ikut masuk keruangan Raina


Raina yang melihat kedatangan Anindita dengan pakaian khas untuk operasi langsung memegang lengan Arya.


Arya mengusap tangan Raina dan mengecup keningnya.


"Sekarang sudah waktunya, kita ke ruang operasi!"


"Iya, Tante," jawab Raina lemah.


Arya mengangkat Raina turun dari ranjang dan mendudukkannya di kursi roda agar memudahkan memindahkan Raina ke ruang operasi.


Sepanjang menuju ke ruang operasi Raina terus menggenggam tangan Arya.


Sebelum masuk ke ruang operasi semua mengecup kening, pipi dan punggung tangan Raina. Memberikan doa kepada Raina agar operasinya berjalan dengan lancar.


Raina  menghela nafas dalam menyiapkan dirinya untuk melakukan operasi.


Raina mengelus perutnya, "Mama akan kuat demi kamu nak."


Raina dibawa masuk ke ruang operasi, semua keluarga Wijaya menunggu di luar. Perasaan bahagia, cemas, bercampur menjadi satu 


💖 Terima kasih sudah membaca karya Pilihan Ku.🙏


💖 Terus beri dukungan ya, Kak."

__ADS_1


💖 Salam dariku Author m anha


__ADS_2