Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] INGIN BERHIJAB


__ADS_3

Semua berangsur kembali normal, Diandra dan Gavin semakin dekat, kesalahan Kelvin juga sudah mulai mereka maafkan. Namun, Kelvin masih tetap tinggal di Apartemen Dika.


Mikaila memintanya itu tetap di sana sampai Gavin adiknya bertunangan dengan Diandra. Kelvin tak masalah, karena semenjak hari itu bundanya hampir setiap hari menelponnya. Bahkan tak jarang bundanya juga menghampiri mereka di apartemen Dika membawakan makanan untuk mereka. 


Semua itu sudah cukup untuk Kelvin. 


Acara pertunangan Gavin diundur dua minggu lagi, sesuai permintaan pak Wijaya yang sedang sakit. Ia juga ingin melihat cucu kesayangannya bertunangan, takut jika ia tak bisa melihat Gavin menikah, setidaknya ia sudah melihat Gavin bertunangan.


Kondisi pak Wijaya sudah semakin lemah, usia dan penyakit mengharuskan ia beristirahat total di kamarnya. Beruntung ia memiliki anak dan menantu dokter, sehingga ia bisa mendapatkan perawatan dirumah.


Sambil menunggu kondisi kakek membaik dan Diandra agar semakin siap, akhirnya mereka semua setuju mengundur acaranya.


Pagi ini Gavin membawa Diandra ke butik Syana, mereka akan melakukan fitting baju pertunangannya. Tadinya mereka hanya akan bertunangan secara sederhana dan hanya memakai pakaian sederhana. Karna acaranya di undur dan mereka masih punya waktu 2 Minggu, akhirnya Gavin ingin pertunangannya di rayakan , selain keluarga, sahabat ia juga ingin mengundang para karyawannya. 


Begitu sampai dibutik Gavin langsung masuk ke ruangan Syana, "Selamat siang, Kak! lagi sibuk, ya?" tanya Gavin yang melihat Syana sedang berkutat di meja kerjanya.


"Kalian udah datang, Ayo Diandra masuk," sapa Syana berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Diandra yang baru masuk, saat acara pelulusan Kelvin, Syana tak datang, ia juga sedang hamil besar.


"Kamu cantik sekali," ucap Syana saat duduk di dekat Diandra, Diandra hanya tersenyum canggung pada Syana.


Syana baru pertama kali bertemu dengan Diandar, dia tak menyangka jika Gavin akan mendapatkan gadis yang begitu cantik, Ia tak percaya saat mendengar kabar jika Gavin akan segara bertunangan. Apalagi saat mendengar Nenek dan ibunya bercerita dan ia mendengar jika gadis yang nama Diandra ini  anak orang yang bekerja sebagai asisten rumah tangga Kelvin.


"Makasih, Kak!"  jawab Diandra begitu lembut membuat Syana tersenyum.


Gavin yang konyol mendapat calon istri yang begitu cantik lembut dan juga terlihat sangat tenang.


Syana mulai menanyakan tema apa yang dia inginkan Diandra, baru ia akan  menjawab, Gavin langsung berbicara lebih dulu,


"Kami maunya temanya sederhana saja Kak, nggak usah yang terlalu megah, sederhana dan Cantik itu cukup, karena yang diundang juga cuman keluarga, beberapa teman Gavin dan karyawan kantor saja" jawab Gavin.


Syana hanya melirik malas pada adik sepupunya itu.


"Kamu mau warna apa?" tanya Syana pada Diandra.


"Warna putih aja, Kak," jawab Gavin lagi.


"Kamu bisa diam enggak sih! aku tuh sedang bicara sama Diandra kamu kok dari tadi menggangu terus," sewot  Syana.


"Yang mau jadi teman Nikahnya, Siapa?" tanya Gavin.


"Kamu." Jawab Syana


"Yang bayar gaunnya siapa?"


"Kamu,"


"Yang mau pakai siapa?"


"Kamu …!"


" Lalau Kenapa aku nggak boleh berkomentar," sahut Gavin dengan santainya dan duduk di dekat Diandra.

__ADS_1


"Gimana! Apa kamu suka dengan pilihanku?" tanya Gavin.


Diandra hanya mengangguk dengan senyum yang dipaksa.


"Tuh  Kak! Diandra aja ga nggak keberatan kok, dengan pilihan Gavin. Kanapa kakak yang  keberatan. Kakak itu designer nya jadi nurut aja apa kata pelanggan."


Syana memutar bola matanya malas, ia tak ingin berdebat dengan Gavin di depan Diandra.


Menurut Syana, Diandra gadis yang sangat lembut, senyum tak pernah lepas dari bibirnya sangat berbeda dengan calon suaminya yang sangat ga banget. Pikir Syana.


"Diandra, apa kamu punya ide untuk gaun yang akan kamu pakai, kamu bilang aja nanti kakak usahain untuk membuatnya."


"Diandra ingin …! "ucapan Diandra  lagi-lagi terpotong saat ia ingin mengutarakan keinginannya.


"Bagaimana selain putih kita beri sedikit sentuhan warna, kasih nuansa pink gitu agar Diandra lebih cantik,  terus gak usah terlalu ribet ya, Kak. Ga usah pakaian ekor yang panjang banget, aku ga suka lihatnya. Yang Simpel aja, tapi mewah megah elegan," ucap Gavin lagi-lagi memotong pembicaraan mereka.


Syana menarik nafasnya mencoba menahan amarahnya ia berdiri dan langsung menarik Gavin keluar dari ruangannya, mengunci pintu agar si pembuat onar itu tak lagi mengganggu mereka.


"Kak, kak Syana. Ini apa-apaan, sih! Aku dikunciin seperti ini, buka nggak," ucap Gavin terus memutar-mutar gagang pintu mencoba membuka pintu.


"Sana, ngobrol sama mbak Dian aja," ucap Syana melihat Gavin lewat jendela kaca dan menunjuk salah satu karyawan yang ada di butiknya.


Mungkin karyawan tersebut sesuai dengan Bundanya, tapi ia masih belum menikah.


"Ngapain juga aku ngomong sama si Dina," ucap Gavin menggedor pintu.


"Siapa tahu aja 'kan kamu juga naksir dia, dia masih gadis loh," Canda Syana.


"Ogah ... kak, kak Syana buka dong pintunya aku nggak ganggu lagi deh," Gavin terus berusaha mengetuk pintu ruang kerja Syana.


"Kak, kak Syana, aku dobrak ya," teriak Gavin. tapi Syana tak mengindahkannya, ia yakin Gavin tak akan mampu untuk mendobrak pintu ruang.


"Hai ganteng. sendirian aja, mau kakak temenin," ucap Dina dengan suara yang dibuat selembut mungkin.


"Nggak Kak, terima kasih," ucap Gavin terkejut melihat Dina yang terus mengedipkan mata padanya. Dina adalah gadis yang bisa dibilang perawan tua, Namun ia selalu berpakaian seksi dan selalu menggoda pelanggan yang datang


"Sambil nunggu Bu Syana sama calon istrinya, kita ngadem dulu, yuk! Di sana," tunjuk Dina pada bangku yang ada di luar butik.


"Makasih kak! Aku ada keperluan lain, Aku  permisi dulu," ucap Gavin memilih untuk pergi dari sana dari pada harus menemani Dina. 


"Loh kok pergi sih," ucap Dina menarik lengan nya..


"Lepas nggak, Dina aku mau ke kantor?" ucap Gavin yang kesusahan melepas genggaman Dina.


"Kamu alasan aja kan, mau menghindari kakak kan,? Ayo dong kita duduk di sana, udah lama nih Kak nggak ada temen," ucap Dina merangkul Gavin memaksanya untuk ikut dengannya.


Gavin pasrah dan berjalan malas mengikuti Dina. Gavin juga tak tahu harus kemana menunggu Syana dan Diandra selesai.


Syana dan Diandra membahas masalah gaun yang akan digunakan, walaupun sering bertengkar. Namun Syana sudah menganggap Gavin sebagai Adiknya sendiri, ia ingin membuat gaun yang sangat indah untuk calon istrin Gavin.


Diandra memiliki tubuh yang bagus dan kulit yang putih bersih, membuat Syana dengan mudah dapat merancang pakaian untuknya.

__ADS_1


"Kak?"panggil Diandra.


"Iya," jawab Syana sambil terus merencanakan beberapa model dan meminta Diandra memilihnya.


"Ada apa, kamu punya ide lain?" tanya Syana yang melihat  Diandra terlihat ragu ingin mengungkapkan sesuatu.


"Diandra pengen pakai hijab," ucap Diandra pelan. Namun masih dapat didengar oleh Syana.


"Masya Allah, Alhamdulillah. Ya udah Kakak buatkan desain untuk gaun yang hijab, ya!" tersenyum mendengar ucapan Syana.


"Iya Kak, terima kasih. Mohon bimbingannya ya Kak, Diandra ingin menjadi muslimah yang lebih baik lagi" ucap  Diandra kagum melihat penampilan Syana.


Syana sekarang memakai gamis panjang dengan hijab yang menjuntai hingga ke bawah lututnya, menikah dengan seorang ustad sungguh mengubah penampilan seorang Syana yang dulunya berpakaian ketat dan sedikit seksi kini menjelma menjadi wanita yang menutup auratnya bahkan di beberapa kesempatan saat Syana keluar bertemu dengan beberapa rekan kerjanya yang memakai cadar untuk menjaga auratnya.


Ketakutan Syana akan karirnya juga tak terbukti . Sekarang bisnis Syana masih berkembang walau ia sudah menjadi seorang istri dan seorang ibu walau Syana sudah tak aktif lagi di butiknya masih banyak pelanggan yang mempercayakan desain mereka pada Syana.


Semenjak ia sendiri memakai hijab, dengan perlahan mulai pelan-pelan mengubah gaya-gaya desain nya menjadi pakaian muslimah bahkan sana berencana hanya akan mendesain pakaian khusus pakaian berhijab.


Kesibukan Syana menjadi seorang ibu tak membuatnya berhenti berkarir, syana hanya akan ke butik saat ada yang mengasuh putranya. Jika suami dan ibunya bekerja ya akan memilih mengerjakan pekerjaannya di rumah dan mempercayakan butik kepada para karyawannya.


Hari ini kakak nggak banyak pekerjaan, Apa kamu mau kakak temenin membeli pakaian untuk berhijab," Ajak Syana.


"Iya, boleh Kak, setelah menikah Aku ingin memakai hijab" jawab Diandra.


"Diandra juga belum punya pakaian khusus untuk berhijab, Setelah menikah, Diandra ingin mulai mengenakan berhijab, kak. Sama seperti Raina dan Bunda," ucap Diandra.


Diandra awalnya hanya merasa tak enak, di rumah itu hanya dirinya yang tak mengenakan hijab. bahkan Raina memakai cadar. Arsy juga menggunakan hijab saat keluar rumah begitu juga dengan Clara, ia mulai menggunakan hijab walau harus menggunakan pakaian Arsy berhubung mereka memiliki ukuran yang sama.


"Kenapa harus tunggu setelah kamu menikah dengan Gavin. Niat baik jangan ditunda-tunda, kalau perlu besok mulailah memakai hijab," ucap Syana penuh semangat.


Bagaimana dengan ini," ucap Syana memperlihatkan gaun yang sudah di rancang nya.


"Iya kak, ini bagus. Aku suka."


"Ya udah, ini aja," ucap Syana yang sudah selesai mendesain gaun untuk Diandra.


"Ayo sekarang kita shopping, Kita kuras uang calon suami kamu, dia pasti tak akan menolak mengeluarkan uangnya untuk mu, dia tidak akan keberatan kita membeli sebanyak apapun. Berbeda saat dia sudah menjadi suami kamu nantinya, dia akan memberi jatah bulanan dan membatasi jatah shopping kamu," ucap Syana terkekeh membayangkan dirinya sendiri.


Walau Ia mempunyai uang sendiri, tetapi suaminya tetap membatasinya untuk berbelanja. Menurutnya berbelanja barang-barang yang tidak penting termasuk dalam kata boros. Ustaz Ilham tak menyukai itu. Belilah sesuai dengan kebutuhan, itulah yang sering Syana dengarkan dari suaminya, saat ia ingin membeli pakaian baru sedangkan Di lemarinya masih banyak pakaian yang belum dipakainya.


Ustadz Ilham menyuruh Syana memberikan semua pakaiannya kepada orang yang lebih membutuhkan daripada harus ditumpuk di lemari pakaiannya dibiarkan begitu saja dan tak dipakai selama bertahun-tahun.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


mohon dukungannya ya dengan memberi like vote dan komennya 🙏


salam dariku Author m Anha.


mampir ke karya yang lainnya juga ya kak🙏

__ADS_1



Makasih🤗


__ADS_2