Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] PILIHAN KU.


__ADS_3

Diandra memasak makan malam untuk mereka berdua.


Sementara Gavin menyiapkan meja untuk mereka berdua di balkon. Menghiasi meja makan dengan lilin dan bunga mawar,  gitu juga dengan di sekitaran meja, Gavin meletakkan banyak lilin di pembatas balkon dan di sekitaran meja. Tak lupa Gavin juga menggambar bentuk love di lantai dengan kelopak bunga mawar.


Balkon sudah di sulap menjadi tempat yang sangat Romantis, dipenuhi lilin dan bunga mawar, cantik  sungguh sangat romantis.


Diandra tercengang saat melihat meja makan yang telah disiapkan oleh Gavin.


"Kakak, kita mau makan di sini?" tanya Diandra ragu.


"Iya, bawa sini makanannya!" ucap Gavin.


Diandra membawa piring makanan yang dipegangnya dan diletakkan di atas meja, dengan sedikit ragu. Meletakkannya di meja yang dipenuhi dengan kelopak bunga mawar yang  sangat harum dan segar, Diandra merasa sangat sayang letakkan piring di atasnya.


Gavin menarik kursi dan meminta Diandra untuk duduk.


"Duduklah," ucapnya saat melihat Diandra hanya berdiri mematung melihatnya.


"Terima kasih, Kak." Diandra duduk dengan canggung, suasana romantis yang diciptakan oleh Gavin sungguh sangat membuatnya gugup.


Gavin juga duduk, dan mereka mulai makan.


"Oh ya, pagi tadi aku habis dari sekolah Clara. sepertinya dia sangat senang bersekolah disana," ucap Gavin membuka pembicaraan, bukan hanya Diandra, Gavin juga sangat gugup.


"Syukurlah. Aku sangat merindukan adikku," lirih Diandra sedih.


"Iya, Clara juga bilang, kalau dia sangat merindukanmu, tapi aku sudah janji kita akan pergi  jalan-jalan saat liburan sekolah nanti."


"Apa aku sudah boleh keluar dari Apartemen ini?" tanya Diandra.


"Saat liburan sekolah nanti kita akan jalan-jalan, aku rasa sudah cukup kau tinggal di Apartemen. Biarlah Alex and kak Kelvin menemukan mu, aku ingin tau apa yang akan mereka lakukan jika susah menemukan mu.


"Kak, aku tak minta tanggung jawab kepada kak Kelvin atas apa yang telah dia lakukan padaku, lalu mengapa kita harus bersembunyi seperti ini?"


"Aku kan sudah bilang sebelumnya, kalau Kelvin itu orangnya sangat baik. Ia pasti akan bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukan padaku. Mungkin jika wanita lain, mereka akan menuntut pertanggungjawaban kepada kak Kelvin dengan apa yang telah ia lakukan. Apa kamu tak ada sedikitpun keinginan untuk menikah dengan Kak Kelvin?" Gavin menatap serius pada Diandra.


Diandra menggeleng dengan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya,

__ADS_1


"Nggak kak, aku sudah menganggap kak Kelvin seperti kakakku sendiri, terlalu banyak kebaikan yang dia berikan kepada almarhum ibuku begitu juga aku dan Clara selama ini, malam itu  hanya sebuah kecelakaan bukan kesengajaan."


"Bagaimana denganku, apa kamu mau menikah denganku?" Gavin tiba-tiba mengajak Nandira menikah, membuat Diandra yang tadinya ingin memakan makanannya menghentikan tangannya dan mematung menatap pria yang yang juga menatapnya dengan tatapan serius.


Diandra meletakkan kembali makanannya mengambil serbet dan membersihkan bibirnya, mengusir kecanggungan yang merasuki tubuh dan pikirannya.


Gavin menarik tangan Diandra dan menggenggamnya, membuat debaran jantung Diandra semakin tak karuan.


"Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Gavin sekali lagi dengan penuh keyakinan.


Diandra melepas genggaman tangan Gavin,


"Jika kau ingin menikahi ku hanya karena merasa bersalah dengan apa yang dilakukan kak Kelvin padaku, itu tak usah. Kau tak usah bertanggung jawab untuk kesalahan saudaramu," ucap Diandra berdiri dari duduknya dan meninggalkan Gavin yang masih mematung menatap Diandra yang pergi meninggalkannya.


"Bukan itu maksud ku," ucap Gavin mengajar Diandra masuk kedalam Apartemen nya.


Gavin yang memiliki perasaan pada Diandra dan ingin memulai kehidupan baru bersama Diandra di negara ini, ia sama sekali tak pernah berfikir jika Diandra akan berpikir jika ia ingin menikahinya untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Kelvin.


Awalnya niat Gavin memang hanya ingin melindunginya, Namun, seiring berjalannya waktu, dan kebersamaan mereka Gavin jatuh cinta pada Diandra.


"Kak, aku  sudah bilang, aku sudah melupakan apa yang terjadi malam itu."


"Aku sama sekali tak pernah berniat untuk menggantikan kak Kelvin bertanggung jawab, aku benar-benar menyukaimu aku mencintaimu. Aku ingin hidup bersamamu dan Clara," ucap Kak Gavin serius.


"Sudahlah, aku ingin istirahat. Permisi!" ucapnya kemudian berjalan cepat menuju ke kamarnya, mengunci pintu dan bersandar di daun pintu.


"Diandra, dengarkan dulu. Buka pintunya kita bicara, aku bener-bener serius ingin menjalin hubungan denganmu." Lama Gavin mengetuk, tapi Diandra tak bergeming. "Jika kau belum siap untuk menikah, kita bisa saling mengenal terlebih dahulu." Gavin kembali  menggedor-gedor pintu kamar Diandra. Namun, tak ada jawaban.


"Baiklah aku akan pulang, Aku mohon pikirkan apa yang tadi aku ucapkan, kita bisa saling kenal terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk menikah, tapi aku benar-benar serius denganmu." ucap Gavin sebelum meninggalkan Apartemen Diandra.


Sebenarnya Diandra sangat senang mendengar pernyataan Gavin, tapi ia sadar akan dirinya. Dia hanya gadis sederhana dan sekarang sudah tak suci lagi, ia meresa tak pantas untuk sosok Gavin yang begitu baik.


Diandra kembali menagis mengingat kejadian malam dimana ia kehilangan kesuciannya, ia meresa sangat kotor. Diandra memang sudah memaafkan Kelvin, tapi ia tak ingin bertemu lagi dengan sosok Kelvin. Itu satu alasan ia meninggalkan Apartemen milik ibunya.


Jika ia menerima Gavin tentu mereka akan sering bertemu dan Diandra tak ingin itu terjadi.


Sementara di kota X

__ADS_1


Semua terlihat bahagia saat berkumpul di rumah besar. Saat mereka melihat dua bayi kecil yang terus saling berebut mainan.


Aira bayi kecil yang sangat cantik dan sudah mulai aktif terus saja merebut mainan yang dipegang oleh Daffa putra dari Ustaz Ilham dan Syana.


Tingkah mereka berdua menjadi pusat perhatian keluarga besar Wijaya. Walau mereka saling berebut mainan dan silih berganti dan menangis, Namun, itu terlihat sangat lucu di mata mereka.


"Apa Gavin benar akan menetap di luar negri?" Tanya pak Wijaya.


"Iya Pah, seperti Gavin serius ingin memulai kehidupannya di sana," jawab Bram.


"Apa dia sudah memiliki gadis yang ia cintai di sana, sehingga memutuskan menetap?" 


"Sepertinya memang seperti itu," ucap Bram. "Alex bilang, ia menemukan kotak hadiah untuk seorang gadis di kamar Gavin,"


"Walau ia sudah menikah, Meraka bisa 'kan tinggal bersama kita," sahut Mikaila.


"Kita lihat saja nanti, gadis seperti apa yang berhasil membuat jiwa petualang nya mencari wanita itu berlabuh, kita bisa menariknya untuk tinggal di negara ini. Masih banyak pekerjaan di negara ini tak harus tinggal di luar negri, perusahaan kalian di sana serahkan saja pada asisten seperti biasanya," tambah ibu Bram.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote dan komennya 🙏


Oh ya, kak mampir lagi yuk ke karya ku lainnya.


www



Makasih sebelumnya 😘😘🥰


Salam dariku Author m anha ❤️


di tunggu ya, kak 😉


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖

__ADS_1


__ADS_2