
Di kantor Wijaya Group.
Bram memanggil Dimas keruangan nya, Dimas datang dan langsung duduk di kursi depan Bram.
"Kamu kenapa?" tanya Bram melihat Dimas yang kurang semangat.
"nggak apa-apa,"jawab Dimas.
"Malam ini ada yang ingin aku bicarakan kan, bisa kah kau datang ke rumah?" tanya Bram. "Ada masalah apa?"tanya Dimas.
"datang saja,"ucap Bram.
"baiklah,"ucap Dimas.
Dimas datang rumah Bram dan menghampiri pak Wahyu di pos satpam nya,
"Selamat malam Pak Wahyu,"sapa Dimas.
"Selamat malam Pak Dimas,"ucap pak Wahyu.Mereka pun berbincang-bincang di pos.
Bram melihat Dimas yang sedang berbincang di pos ronda dari balkon kamarnya,Kayla menghampiri Bram.
" Mas itu Dimas ya?" tanya Mikaila melihat pada arah yang dilihat Bram.
"Iya,Mas yang minta dia ke sini,Mas ingin tanya seperti apa perasaannya pada Ayasa,"ucap Bram.
"Mas yakin Dimas orang yang tempat buat Ayasa,"tanya Mikaila.
"Insya Allah sayang, salah satu yang buat Mas bangga pada Dimas dia tidak pernah membeda-bedakan status seseorang, hidup sederhana.
Dimas ikut makan malam bersama mereka. "Kalau makan rame-rame begini jadi ingat ibu di kampung," ucap Dimas.
"Kenapa kamu nggak ngajak ibu kamu saja tinggal di Apartemen?"tanya Bram
"Udah,udah diajak, tapi Ibu lebih senang tinggal di kampung sama cucunya,"ucap Dimas.
"Makanya kak Dimas nikah dong,"ucap Dika. "Aku nunggu Arsy besar dulu,"ucap Dimas melihat Arsy yang sedang dipangku Mikaila.
"Nggak boleh,kak dimas nggak boleh deket-deket Arsy,"ucap Kelvin posesif pada adiknya.
"Kok nggak boleh sih?"tanya Dimas.
"Pokoknya nggak boleh dekat-dekat dengan adik Arsy,"ucap Kelvin.
"Terus kak Dimas sama siapa dong," ucap Dimas pura-pura bersedih.
"Sama Mba Siti aja Kak Dimas," ucap Kak Gavin.
"Iya benar ,atau sama bi Sumi gimana?"tanya Dika.
Semua tertawa di meja makan, Dimas juga ikut tertawa.
__ADS_1
"Nggak dapat Syana dan Ayasa masa dapat Mba Siti sih,"Batin Dimas melihat Mba Siti yang sedang membereskan permainan anak-anak .
Selesai makan malam,Bram dan Dimas langsung ke ruangan kerjanya bersama-sama.
Berapa saat kemudian Mba Siti datang membawa minuman dan cemilan,Dimas terus memperhatikan Mba Siti yang menyiapkan minuman dan cemilan tersebut di atas meja, setelah Mba Siti keluar,
"Jangan bilang kamu juga naksir sama Mba Siti,"ucap Bram.
"Apaan sih Juna, masa iya aku suka sama baby sister lu," ucap Dimas melempar Bram dengan biskuit yang ada di depannya.
Bram tertawa terbahak-bahak.
"Oh ya sebenarnya aku mau tahu perasaan kamu ke Ayasa? tanya Bram mengingat tujuannya pemanggil Dimas.
"Perasaan yang mana lagi, tentu saja aku sangat menyukainya.Oh ya, apa benar papanya Ayasa bekas bos mafia?"tanya Dimas sedikit mendekat kepada Bram,ia masih penasaran dengan hal itu.
"Itu dulu, sekarang kan dia di kantor,"jawab Bram.
"Sepertinya aku tak ada harapan bersama Ayasa,El Barack terlalu berat dijadikan saingan,"ucap Dimas putus asa.Dia menyandarkan bahunya di sandaran kursi membuang nafasnya kasar.
"Sejak kapan kamu menyukai Ayasa?"tanya Bram.
"udah lama sih,"ucap Dimas mengingat senyum manis gadis pujaannya itu.
"Terus kanapa kamu pacaran sama Syana?"tanya Bram.
"Soalnya waktu itu mau deketin Ayasa takut sama bokap nya, makanya deketin Syana aja,tapi sering bertemu Ayasa aku semakin jatuh cinta dengan dia."ucap Dimas.
"Terus rencana kamu apa sekarang? kau mau menyerah mendapatkan Ayasa?"tanya Bram memutar-mutar pulpen di jarinya.
"Dimas Dimas,"ucap Bram menggeleng-geleng kan kepalanya mendengar ucapan Dimas.
"Juna bantuin dong,"ucap Dimas dengan ekspresi wajah memohon.
"Bantuin apa ?"tanya Bram.
"Bantuin dikit lah, biar bisa dapatin Ayasa,"Ucap Dimas.
"Emang kalau aku bantu kamu dapat ini Ayasa kamu bisa membahagiakan dia?"tanya Bram menatap serius Dimas .
"Aku janji, nggak bikin dia kecewa, janji 100% akan bahagiain dia, aku akan jadi suami terbaik buat dia, aku akan menyerahkan seluruh jiwa dan ragaku untuk membahagiakan dia," ucap Dimas sok puitis.
Bram memberikan setumpuk berkas kepada Dimas,
"Pelajari itu semua ,"ucap Bram meletakkan setumpuk berkas di atas meja.
"Apa ini?" tanya Dimas.
"Kalau kau bisa menyelesaikan semua itu akan membantumu," ucap Bram.
"Beneran ya, kalau aku bisa menyelesaikan pekerjaan ini kamu akan membantuku," ucap Dimas mengulangi perkataan Bram.
__ADS_1
"Sudahlah, aku rindukan istriku,"ucap Bram meninggal kan Dimas di ruang kerjanya.
"Apa aku bisa menyelesaikan semua berkas ini,"batin Dimas melihat tumpukan kertas di hadapannya .
Bram sedikit-sedikit mencoba memberi pengertian kepada Yoga,ia meyakinkan kan Yoga kalau Dimas pria yang baik dan bertanggung jawab .
"Sebenarnya aku juga kurang begitu suka dengan El Barack, sebagai seorang yang memimpin keluarga dia orang yang sangat baik,tapi aku tidak yakin dia bisa menjadi suami yang baik buat Ayasa," ucap Yoga.
"Iya Mas, aku juga sependapat dengan mas, bagaimana dengan Dimas .Saran aku Mas mempertimbangkan Dimas untuk Ayasa. "Dimas ya, apa Dimas bisa menjaga Ayasa."ucap Yoga.
"Aku yakin Mas, Dimas bisa menjaga Ayasa,"ucap Bram.
Ayasa sudah menyelesaikan kuliahnya,
sehari sebelum acara wisuda semua keluarga Wijaya bertolak ke luar negeri,termasuk baby Adam dan baby Arsy .
Semua keluarga memenuhi apartemen Ayasa,kehangatan keluarga benar-benar terasa di apartemen kecil itu.
Acara wisuda berlangsung lancar, Ayasa terlihat sangat cantik dengan balutan kebaya dan make up tipisnya membuat El Barack semakin terpesona,
El Barack meminta berfoto bersama Ayasa dengan toga mereka ,Syana juga ikut mengambil foto mereka dan langsung mengirimnya ke Dimas, Syana menyertakan fotonya dengan tulisan "Kalah cepat loh, makan tu gengsi."
Selesai acara wisuda semua kembali ke Apartemen Ayasa, kecuali Bram dan Yoga. Mereka mengatur pertemuan dengan El Barack, entah apa yang mereka bahas hanya mereka yang tahu.
Dimas menatap foto yang dikirim oleh Syana. "Cantik banget sih,"Dimas terus menatap foto Ayasa, dia tak mempedulikan foto El Barack yang berdiri di samping Ayasa, bahkan Dimas mengedit dan memblur El Barack.
Semua kembali ke kota X, begitu pula dengan Ayasa. Ia membawa pulang gelar sarjananya membuat Yoga semakin bangga kepada putrinya itu.
Syana menemui Dimas di Apartemennya,
"Hai Kak Dimas,ngapain mengeram di Apartemen, bukannya berusaha mendapatkan Ayasa," ucap Syana.
Dimas hanya diam dan duduk di sofa.
"Tau ah, aku benar-benar pusing ,"ucap Dimas .
"Apakah kak Dimas sudah tidak mencintai Ayasa lagi?"tanya Syana lempar bantalan sofa kepada Dimas.
"Cinta, cinta banget tapi apalah daya aku hanya seorang pecinta biasa,"ucap Dimas berlagak meratapi nasibnya.
"Kak, aku punya rencana," ucap Syana.
"Rencana,rencana apa ,?tanya Dimas.
Syana tersenyum licik,
"Kita lihat saja, apakah rencanaku ini berhasil atau tidak," batin Syana.
🙏🙏🙏🙏💖🙏🙏🙏🙏
Terima kasih sudah membaca, jangan lupa like dan komen ya.
__ADS_1
Sekedar info ,ini adalah bab-bab terakhir perjalanan cinta Bram dan Mikaila ,
Salam manis dariku ,m Anha,,,I love you.💖