
Kota X, kota dan negara yang asing buat seorang Diandra dan Clara. Ayah dan ibu mereka berasal dari negara Indonesia, mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, mengerti tata krama dan budaya. Namun, mereka lahir dan besar di luar negeri, tak sekalipun mereka mendatangi negara yang sering mereka dengar dan banggakan dari kedua orang tuanya. Selain sudah tak memiliki siapa-siapa di negara ini, mereka juga memiliki keuangan yang minim. Ibu dan ayah nya hanya bekerja paruh waktu dan sebagai asisten rumah tangga.
Diandra memejamkan matanya. Namun, hati dan pikiran masih saja gelisah. Diandra melihat Bunda Mikaila yang ada di sampingnya, "Apakah dia malaikat dalam sosok manusia, hatinya sangat baik dan lembut. Aku bisa merasakan kasih sayang walau belum mengenalnya secara dekat. Pelukannya begitu hangat," batin Diandra mengagumi sosok yang sedang tertidur pulas di samping nya.
Malam ini Diandra tidur bersama dengan Mikaila, Mikaila mencoba menenangkan Diandra dan juga meminta maaf atas apa yang dilakukan oleh anaknya. Diandra merasa lebih tenang saat mengetahui jika ada Mikaila yang merangkulnya. kegelisahan dihatinya seolah sirnah sudah.
Diandra memandang lekat wajah Mikaila yang begitu tenang.
Lama ia dalam posisi itu, hingga Mikaila membuka mata dan pandangan mereka bertemu,
"Kau belum tidur?" tanya Mikaila mengusap air mata Diandra yang lolos dari mata indahnya.
"Apa aku mengganggu tidur bunda?" Masih tetap memandang lekat pada sosok pengganti ibu bagi Diandra.
"Ada yang ingin kau katakan?" tanya Mikaila masih menempatkan satu telapak tangannya di pipi Diandra. Mengusap lembut disana.
"Apa aku pantas untuk Gavin?" tanya Diandra tiba-tiba.
"Gavin?" tanya Mikaila, ia mengerti apa maksud Diandra tapi Mikaila ingin memastikan nya.
"Aku sudah tak … aku tak pantas buat Siapapun!" Kembali meneteskan air mata.
"Bunda Minta maaf atas apa yang telah Kelvin lakukan, tapi Bunda janji kamu akan mendapatkan keadilan," janji Mikaila menatap nanar pada gadis yang begitu lemah di sampingnya.
Diandra mencurahkan segala isi hatinya, segala kesedihannya kepada Mikaila, ia merasa lebih tenang saat sudah mengungkapkan semua perasaannya keluh kesahnya.
Diandra mengeluarkan semua beban yang selama ini ditahan nya, beban pikiran tak bisa menjadi pelindung untuk adiknya. Diandar juga menceritakan jika Gavin telah melamarnya dan ingin menjadikannya pendamping.
"Lalu apa jawabanmu?" Mikaila sedikit terkejut mendengar apa yang Diandra katankan. Ia sudah menduga jika Gavin menyukai Diandra, tapi tak berpikir jika Gavin sudah melamarnya.
"Aku ini siapa, Bunda! Apakah pantas aku bersanding dengan anak Bunda. Aku juga sudah tak suci lagi," Diandra mengecilkan volume suaranya saat mengatakan kalimat terakhirnya.
"Kebaikan hati kamu itu sudah cukup menjadikanmu pantas berada di keluarga Bunda," ucap Mikaila mengusap punggung Diandra.
"Aku takut, perasaan Gavin padaku hanya perasaan kasihan, dan ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi, aku takut perasaan nya hanya sesaat padaku," lirih Diandra.
"Bunda mengenal semua anak-anak, jika Gavin mengambil keputusan untuk menikahi mu itu berarti dia memang ingin menikahimu karena mencintaimu dan ingin menjagamu. Bunda yakin Gavin akan bisa membahagiakanmu," ucap Mikaila menatap dalam mata Diandra.
"Bunda benar-benar minta maaf atas apa yang dilakukan Kelvin padamu," lanjutnya.
Diandra hanya mengangguk menjawab perkataan Mikaila.
"Tidurlah besok kita akan membahas masalah ini," ucapnya.
Kemudian mereka pun kembali tertidur, hari ini sungguh sangat melelahkan untuk mereka berdua.
Di saat semuanya sudah tidur Gavin dan Kelvin serta Arya masih bangun. Sekarang mereka bertiga berkumpul di kamar Kelvin berdiri di balkon kamar.
Arya menatap kedua adiknya itu, ia tak bisa menyalahkan siapapun, baik itu Gavin ataupun Kelvin. Disini situasi lah yang mereka salah.
"Dengarkan Kakak, apapun keputusan Papa dan Bunda tolong kalian terima," ucap Arya, memecah keheningan di antara mereka bertiga.
Gavin dan Kelvin masih tak ingin saling sapa dan tak ada yang merasa bersalah.
"Tapi Kakak, bagaimana kalau Papa meminta Kelvin menikahi Diandra?" ucap Gavin menatap pada kakaknya.
"Kelvin, ini kesalahanmu, terima apapun keputusan Papa, walau kalian harus menikah," ucap Arya melihat kearah Kelvin.
__ADS_1
Kelvin terdiam, yang ada di benaknya Sekarang hanyalah bagaimana hubungannya dengan Natali.
"Kau sudah menyentuhnya, kau orang pertama yang menyentuhnya. Itu hal yang sangat berharga, merupakan suatu kehormatan bagi seorang wanita,"
"Tapi, bagaimana dengan Natali. Aku sangat mencintainya," Lirih Kelvin menunduk melihat ujung kakinya yang sedari tadi menendang dinding pembatas balkon.
"Walau kau mencintai Natali, kamu tak boleh egois, kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang telah kau lakukan!" Menatap prihatin pada adiknya.
Kelvin tak bisa berbuat apa-apa ia mengangguk samar menyetujui perkataan kakaknya dan membuat Gavin menggeleng tak terima jika Kelvin harus menikahi Diandra.
Gavin terlihat sangat marah. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa menatap Kelvin dengan tatapan yang penuh kekecewaan.
Arya belum tahu jika Gavin ternyata menyukai Diandra. Ia berpikir Gavin hanya melindungi Diandra karena ingin membantu Kelvin.
"Kak, tak bisakah kau bicara dengan papa untuk mencari jalan keluar, jika memang papa menginginkan Kelvin menikahi Diandra. Jika mereka menikah itu akan menyakiti hati Natali dan Diandra sendiri sangat tak ingin menemui kak Kalvin, menikahkan mereka malah hanya akan menambah masalah." Gavin mencoba membujuk Arya agar bicara pada papanya, sedangkan Kelvin masih dengan Posisi yang sama. Menendang tembok yang tak berdosa.
"Kita percayakan semua pada pemikiran papa, papa lebih tahu mana yang baik untuk kita semua. Jadi jangan membantah apapun yang papa perintahkan. Aku tahu kalau selama ini kamu selalu berbuat hal yang selalu menentang, tapi kakak mohon kali ini turuti saja apa yang Papa ingin," pinta Arya pada Gavin.
Gavin hanya menghembuskan nafas, tak ada gunanya ia meminta bantuan pada Kakaknya.
Gavin sangat frustasi mendengar apa yang dia katakan Arya. Ia tak sanggup lagi berada di ruangan itu. Gavin memilih keluar dan membanting pintu.
"Apakah kamu memukul Gavin?" tanya Arya begitu Gavin keluar. Arya bisa melihat bekas pukulan di pipi Gavin.
"Aku lepas kendali," hanya itu yang Kelvin ucapkan, ia sendiri menyesal telah memukul adiknya itu.
"Seberapapun emosimu sebaiknya kau jangan menggunakan tangan jika itu menyangkut adikmu sendiri begitu pula dengan kemarahan pada seorang wanita."
"Maafkan, aku takkan mengulangi lagi," lirih Kelvin menjawab setiap pertanyaan Arya tanpa melihat kakaknya.
Gavin juga ikut duduk, ia memilih duduk di samping Diandra.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Gavin pelan saat sudah duduk di samping Diandra.
"Aku sudah baikan, Kak!" jawab Diandra mencoba tersenyum pada Gavin.
"Makan yang banyak, anggap rumah sendiri, tapi jangan di jual, ya!" tambah Gavin.
Diandra tersenyum lebar menanggapi candaan Gavin.
Mikaila bisa melihat bagaimana Gavin menghibur Diandra.
Tak lama kemudian Kelvin datang dan ikut bergabung di meja makan.
Begitu Kelvin datang, tubuh Diandra bereaksi dan bergetar, Mikaila yang tahu apa yang dirasakan Diandra langsung menggenggam tangan Diandra mencoba menenangkannya.
Mikaila mengusap pelan punggung tangan Diandra dan meletakkan sarapan di depannya.
"Makanlah dulu, semalam kamu tak makan 'kan," ucap Mikaila.
Diandra mengangguk samar, ia berusaha menguasai dirinya sendiri. Rasa ketakutan semakin menyerangnya membuat tubuhnya menjadi sedikit bergetar dan berkeringat, dadanya juga seakan sesak.
Gavin yang menyadari kondisi Diandra langsung mengambil sarapan untuknya dan sarapan yang ada di depan Diandra.
"Kita makan disana saja," ajak Gavin berdiri dari duduknya dan berjalan lebih dulu ke arah ruang TV.
Diandra yang mendengar ajakan Gavin tak membuang waktu dan langsung berdiri ikut berjalan dibelakang Gavin. Saat ini ia hanya ingin pergi dari Kelvin. Ia tak ingin duduk satu meja dengan orang yang membuatnya ketakutan.
__ADS_1
Malam itu Kelvin yang dikuasai nafsunya, serta alkohol sudah yang mengambil semua kesadarannya terus berusaha melecehkan Diandra. Namun, Diandra dengan sekuat tenaga mencoba mempertahankan dirinya.
Kelvin yang sudah tak bisa menahan hasratnya beberapa kali melayangkan tangannya pada Diandra. Kelvin tak segan-segan melakukan semua itu pada Diandra, walaupun Diandra memohon sambil menangis.
Malam itu Diandra tak melihat Kelvin tapi seorang laki-laki yang dikuasai hasratnya.
Diandra terus mencoba mempertahankan apa yang selama ini di jaganya. Namun, kekuatan Kelvin tak sebanding dengan kekuatannya. Dengan sangat kasar yang merenggut apa yang dimilikinya.
Pukulan demi pukulan yang diterima oleh tubuhnya dan tindakan paksa merenggut apa yang dijaganya membuat tubuhnya langsung bereaksi ketakutan saat mengetahui Kelvin ada di sekitarnya.
"Kak, Kenapa bunda membawaku kesini?" tanya Diandra pada Gavin saat mereka sudah ada di depan TV.
Bukan hanya mereka berdua yang ada disana, Clara dan juga Arsy membawa makanan mereka mengikuti Gavin dan Diandra. Sarapan sambil menonton acara kesukaan mereka, impian yang selama ini Arsy inginkan.
Mikaila membiarkan apa yang mereka lakukan, Ia mengerti jika Diandra tak ingin satu meja makan dengan Kelvin.
Semua menatap kecewa pada Kelvin termasuk Mikaila. Dari semalam Ia tak pernah menyapa anak nya itu walau mereka saling berpapasan.
Mikaila melirik tajam pada Kelvin yang duduk tak jauh darinya begitu pula dengan yang lain. Suasana makan pagi ini sungguh sangat mencekam dan itu sangat dirasakan oleh Sang pembuat masalah.
"Arya ambil pelajaran dari apa yang dilakukan Kelvin, jangan pernah menyentuh alkohol dan apapun yang bisa menghilangkan kesadaran kalian," ucap Bram saat telah selesai makan.
Arya hanya mengganggu dan melirik pada Kelvin yang terus menunduk.
"Kelvin ...."
"Iya Pah," jawab Kelvin cepat mendongakkan kepalanya. sejak tadi ia hanya menundukkan kepalanya, karena tak ingin melihat tatapan semua keluarga yang menatap kesal padanya.
"Setelah sarapan kamu ruangan papa, ada yang ingin Papa katakan.
"Iya, Pah!" ucap Kelvin.
Bram berdiri dari duduknya dan menuju ke arah ruang kerja, Kelvin yang belum selesai makan dengan cepat ia meraih gelas dan minum dengan cepat, mendorong makanan yang masih tersisa di mulutnya. Kelvin mengikuti Papanya menuju pulang kerja.
Mikaika juga menghentikan makannya dan ikut menyusul Bram dan Kelvin.
"Kak, kamu nggak ikut," bisik Raina yang duduk disampingnya. Raina menitipkan kan Ayra pada bi Yanti.
Tanpa kata Arya juga meraih gelas dan meminumnya, dia juga langsung ikut menyusul mereka ke ruang kerja.
Gavin yang melihat semua itu, juga tak ingin ketinggalan, dengan cepat ia berdiri dan sedikit berlari menuju ruang kerja saat melihat yang lainnya sudah masuk.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya ya dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏
mampir ke karya lainnya ya kak🙏☺️
Salam dariku Author m anha ❤️
love you all 💕🤗🙏💐
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
__ADS_1