
Di kediaman Abraham Wijaya.
Anindita masih betah tinggal di sana, bahkan ia melakukan panggilan video kepada Arandita yang sudah ada di butiknya.
"Menurut Mbak Bram, kita nggak usah memberitahu Syana dulu. Jika ustadz Ilham sudah mau menerima Syana, masalah persetujuan Syana itu gampang, biar kami yang mengurusnya," ucap Arandita dari balik telepon.
"Tapi Mbak nggak baik seperti itu, alangkah baiknya sebelum kita menemui orang tua Ilham, kita meminta pendapat Syana terlebih dulu," ucap Bram.
"Mbak sudah bicara sama dia, dia nggak mau katanya dia takut di ruqyah tiap hari," kesal Aran mengingat kelakuan ponakannya satu itu.
Mikaila yang juga mendengar pembicaraan mereka tak bisa menahan tawanya.
"Jangan tertawa, orang lagi serius," tegur ibunya.
"Iya Bu maaf." kata Mikaila.
"Kalau menurut Ibu sih, Apa yang diucapkan Bram benar, sebaiknya Kalian mendiskusikannya hal ini juga kepada Syana. Walau bagaimanapun dia yang akan menjalankan pernikahan ini," ucap Ibu Mikaila ikut memberi pendapat.
"Ya sudah Bram, kamu saja yang memberi tahu Syana, Sepertinya kalau sama kamu dia sedikit lebih nurut," ucap Anindita.
"Iya Mbak, nanti aku akan coba bicara dengan Syana dulu. Kalau dia memang setuju Aku akan langsung bicara dengan ustadz Zakaria untuk menjodohkan mereka berdua." jawab Bram.
Setelah mendiskusikan masalah Syana Anindita pun pamit kepada besannya.
"Bu Saya permisi dulu, ini saya sudah terlambat ,"ucap Anin pada ibu Mikaila.
"Iya, pasti pasien-pasien kamu sudah menunggu. Kasihan mereka," ucap ibu Mikaila.
"Iya Bu, kalau begitu saya pamit permisi dulu ya," ucap Anindita kemudian meninggalkan kediaman Abraham.
"Mas aku setuju deh kalau Syana menikah dengan ustadz Ilham," ucap Mikaila setelah Anindita pergi.
"Tentu saja Mas juga setuju, tapi masalahnya Mas gak yakin ustadz Ilham setuju menikah dengan Syana, kamu tahu sendiri kan Syana seperti apa ," ucap Bram sedikit ragu dengan perjodohan itu. Namun ia juga tak mau mengatakannya pada Anindita kakaknya, melihat kakaknya itu sangat antusias menjodohkan mereka.
Sementara di kantor, begitu mereka sampai Kelvin melihat Natali yang juga baru sampai.
"Natali kau baru tiba?" tanya Kelvin menghampiri Natali yang baru turun dari Taksi.
"Iya, aku telat soalnya biasanya Raina yang suka bangunin aku. Tapi sekarang kan dia udah nggak tinggal lagi sama aku," ucap Natali.
Baru beberapa hari Raina tinggal berpisah dengannya, Natali sudah merasa ada yang berbeda di tempatnya. Biasanya ia selalu bercanda dengan Raina sebelum mereka tidur, namun kini ia hanya sendiri di kamar nya .
Mereka bertiga pun berjalan memasuki kantor tersebut dan langsung ke ruangan Arya.
Natali langsung membereskan berkas-berkas yang ada di meja Arya, mengelompokkan mana yang harus terlebih dahulu Arya kerja.
Mereka mulai sibuk mengerjakan tugas mereka masing-masing.
Kelvin melihat-lihat hasil pekerjaan Gavin,
"Pekerjaannya boleh juga," gumam Kelvin melihat hasil pekerjaan Gavin yang jauh lebih meningkat dari sebelumnya.
"Apakah kak Arya masih belum datang ke kantor?" tanya Natali.
__ADS_1
"Mau kok, tadi dia sudah siap. Tapi sepertinya dia agak terlambat," jawab Kelvin.
"Kapan kamu kembali ke luar negeri?" tanya Natali duduk di dekat Kelvin.
"Besok pagi," jawab Kelvin tanpa melihat Natali, dia terus fokus melihat hasil pekerjaan Gavin.
"Kak, aku ke ruang rapat dulu ya," pamit Gavin.
"Hmmm," jawab Kelvin.
Saat Gavin keluar, Natali juga pamit ingin ke ruangannya.
Natali berdiri dari duduknya dan ingin melangkah.
Kelvin langsung memegang tangannya dan memintanya untuk duduk kembali.
"Kau mau ke mana?" tanya Kelvin.
"Aku ingin ke ruanganku," jawab Natali.
"Kau kerjakan pekerjaanmu di sini saja, temani aku di sini. Besok aku akan pergi, Aku ingin menghabiskan waktu denganmu hari ini, walau hanya seperti ini," ucap Kelvin.
Natali mengangguk samar dan kembali duduk. Ia mulai mengerjakan pekerjaannya sambil sesekali bercanda.
Natali yang periang dan suka bercanda membuat kelvin yang kaku ikut dalam candaannya.
Kelvin sesekali melontarkan kata-kata candaan yang membuat Natali terus saja tertawa.
***
Ustadz Ilham lulusan dari Kairo, profesi ayahnya sebagai seorang ustadz membuat Ia juga tertarik untuk mendalami ilmu agama dan ia juga ingin menjadi seorang ustadz.
Kesibukannya berceramah dan memberikan kajian dari tempat ke tempat lain, membuat seorang ustadz muda itu tak begitu banyak mengenal wanita, kedua orang tuanya sudah sering menjodohkannya namun Ia terus menolak dengan alasan masih ingin fokus berdakwah.
Ustaz Ilham lebih senang berdakwah dari kota ke kota, ia tak menetap di suatu kota membuat ia belum menikah di usianya yang sekarang.
Kegemarannya berdakwah pindah dari kota satu ke kota lain membuat dia belum memikirkan masalah pernikahan.
Malam hari Anindita memanggil semua orang berkumpul di rumah besar.
Anindita meminta Bram dan Arandita berkumpul di di kediaman orang tua mereka.
Malam hari Anindita datang lebih dulu ke kediaman orangtuanya, ia sudah mengabarkan jika mereka akan datang, namun ia tak memberitahu apa tujuannya.
Anindita dan Pak Surya menghampiri Pak Wijaya yang sedang duduk di ruang tengah, mereka baru saja selesai makan malam.
"Emangnya ada masalah apa sih, kau mengumpulkan adik-adikmu di sini. Apa ada masalah penting?" tanya ibu duduk di samping suaminya.
Begini Bu, aku berencana ingin jodohkan Syana dengan anak teman Ayah," ucapnya.
"Teman Ayah, Siapa?" tanya Ayah.
"Arandita merekomendasikan anak Pak ustadz Zakaria. Bagaimana menurut Ayah?" tanya Anindita.
__ADS_1
"Ayah sangat setuju, Ayah sudah mengenal anak itu sejak kecil. Ayah sangat setuju jika ia menjadi bagian dari keluarga kita," ucap Ayah.
"Apa kau sudah berbicara dengan kedua orang tuanya?" tanya ibu.
"Belum Bu, justru itu Aku ingin minta pendapat kalian semua," ucapan Anindita.
Bram datang bersama dengan Mikaila, begitu juga dengan Aran yang baru datang bersama dengan Yoga.
Mereka langsung ikut bergabung bersama yang lainnya di ruang tengah..
"Bagaimana?" tanya Arandita yang paling semangat dalam hal ini.
"Ayah dan Ibu setuju," ucap Anindita.
"Iya Ibu, aku sangat setuju. Sebaiknya Ayah yang menemui teman Ayah itu, dia pasti setuju kalau Ayah yang menemuinya," usul Arandita.
"Iya, begitu maksud aku Ayah. Jika Ayah dan kamu Bram yang menemuinya pasti dia mau menerima perjodohan ini," ucapan Anindita.
"Apa kau tak meminta Syana untuk datang ke sini?" tanya Bram yang tak melihat sosok Syana ada di sana.
"Kau tak usah memikirkan Syana, dia urusan kami. Kalian atur saja perjodohannya, jika mereka setuju kami pastikan Syana juga akan setuju." ucap Arandita yang mendapat anggukan dari kakaknya, ibu dari Syana.
"Yoga, Bram Kamu atur pertemuan kita dengannya," ucap ayah.
"Iya Yah," jawab Bram. Sebenarnya ia tak setuju dengan rencana kedua Kakaknya itu, Bram ingin sebelum mereka menemui keluarga ustadz Ilham, dia ingin lebih dulu mendengar persetujuan dari Syana.
Mereka pun pulang ke rumah masing-masing, Bram mengirim pesan kepada Yoga agar mereka bertemu setelah mengantar istri mereka.
Yoga dan bram bertemu di sebuah cafe.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Bram.
"Kau tahu pasti kan, jika kita berhadapan dengan mereka apapun yang kita katakan pasti salah," ucap Yoga. " Jadi sebaiknya kau turuti saja kemauan mereka berdua, Jika kau tak ingin mendapatkan ceramah gratis dari kedua Kakak mau itu," ucap Yoga yang tahu betul bagaimana sifat istri dan kakak iparnya itu jika keinginan mereka tak dituruti.
"Baiklah kalau begitu, kita atur pertemuan dengan keluarga Pak Zakaria, semoga saja perjodohan ini tak membuat malu kita. Semoga saja Syana tak berulah. Sikap satu keponakan mu itu tak ada bedanya dengan Gavin, selalu saja membuat masalah," ucap Bram.
πππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
Semoga kalian terhibur ya Kakakπ€
Semoga kalian gak bosan dengan bab yang sudah sangat banyak.βοΈβΊοΈπππ
Salam dari keluarga Wijaya.π₯°π₯°π₯°π₯°
Mohon dukungannya Kak dengan memberi like, vote dan komennya π
Salam darikuβΊοΈ
Author m anha β€οΈ
love you all ππ
__ADS_1
ππππππππππππππ