Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Menerima Apa Yang Telah Di Takdir kan.


__ADS_3

Zaky menatap rumah kediaman kedua orang tuanya, rumah yang selama ini ia tinggali bersama Mama dan Randy Papanya, Papa yang selama ini selalu menyayanginya dan menganggapnya sebagai anak kandungnya sendiri.


Zaky tak pernah merasa jika Randy Papanya membeda-bedakan kasih sayang nya dengan adiknya Zunaira anak kandung papanya.


Zaky turun dari taksi dan perlahan berjalan masuk ke pekarangan rumahnya, Zunaira yang melihat Zaky masuk ke gerbang langsung menghampiri kakaknya itu,


"Kak Zaky," teriak Zunaira berlari dan langsung memeluk kakaknya. Zaky membalas pelukan adiknya itu, ia sangat merindukan adik yang selalu membuatnya tertawa, tingkah lucu Zunaira selalu membuat Zaky melupakan segala kesedihannya.


Zahra yang mendengar Zunaira memanggil nama Zaky langsung keluar dari dapur. Ia sedang membuat sarapan untuk mereka,


"Zaky" ucap Zahra langsung ikut berlari keluar dan betapa senangnya ia saat melihat putranya berdiri di hadapannya.


Zahra memeluk anaknya itu, mencium kedua pipinya, kening dan kembali memeluknya.


"Maaf ya ma, aku sudah buat mama khawatir ," ucap Zaky.


Zahra menggeleng, air matanya sudah menetes.


"Tidak anak, ini semua bukan salahmu. Ini semua adalah kesalahannya Mama, Maaf sudah membuatmu dalam masalah ini," ucap Zahra terus memeluk anaknya dan mengusap punggung Zaky, Zaky juga membalas pelukan mamanya.


Rendy yang baru turun melihat mereka berdua di teras rumah, Ia pun menghampiri mereka.


"Masuk lah dulu, tak enak dilihat sama tetangga. ucap Randy mengusap punggung Zaky, merekapun masuk menuju ke meja makan.


Zahra menata hidangan di meja makan dengan senyum yang terus terbit di bibirnya.


Ia sangat bahagia bisa melihat kedua anaknya dan suaminya duduk di meja makan.


Zahra tersenyum memandang ibunya, seolah mengucapkan Terima kasih atas doa-doa ibunya. Ibu membalasnya dengan senyuman.


Mereka pun ikut makan bersama.


Pagi hari ini mereka kembali sarapan bersama Zahra kembali bisa merasakan kehangatan keluarga kecilnya.


Setelah mereka makan Randy memanggil Zaky ke ruang kerjanya, Sebelum ia berangkat ke kantor ia ingin bicara berdua dengan Zaky. Ada yang ingin ia tanyakan.


Di ruang kerja Randy.


"Maaf Pah, aku sudah membuat Papa khawatir dengan ulah ku," ucap Zaky di saat ia sudah duduk depan Papanya.


"Papa ngerti kondisimu saat itu, tapi tolong jangan buat hal itu lagi, kau tahu kau membuat kami semua cemas. Bahkan Papa sempat berpikir kalau mengakhiri hidupmu karena masalah ini," ucap Randy


"Maaf Pah," sesal *****.


"Malam itu petugas kepolisian menemukan motormu di sungai sehingga kami semua berpikir bahwa kamu mengakhiri hidupmu dengan melompat dari jembatan itu, lalu malam itu sebenarnya kau kemana " tanya Randy.


"Malam itu aku bertemu dengan Arya Pah," jawab Zaky,

__ADS_1


"Arya?, maksudmu putar Abraham ?" tanya Randy.


"Iya pah, dia menemui ku waktu itu di jembatan, beberapa preman mengeroyok ku. Arya yang membantu ku. Dan waktu itu Arya membawaku ke luar negeri, selama ini aku tinggal di rumah Kelvin," ucap Zaky.


Zaky pun mulai menceritakan apa yang terjadi di sana, mulai dari bagaimana mereka memperlakukannya dan bagaimana cara mereka mengajarnya pekerjaan kantor.


"Apa kamu sudah memutuskan akan mengambil perusahaan yang diberikan oleh Bram?" tanya Randy.


"Iya pah, Zaky akan coba menjalankannya. Aku hanya tidak ingin memperkeruh suasana di antara keluarga kita dan mereka, aku menerima apa yang diberikan oleh mereka jika itu bisa membuat mereka tenang. Aku ingin memulai kehidupan baru dengan keluarga kita. Walau Zaky Ini bukan anak kandung Papa, tapi Papa tetaplah Papa Zaky dan mama," ucap Zaky.


"Papa bangga sama kamu. Kamu benar, sebaiknya memang kamu menerima perusahaan dan pemberian lainnya, mereka memberikannya bukan karena menghina atau tak ingin mengakui dirimu, mereka sangat menghargai mu, namun mereka juga tak ingin membuat Bunda mereka merasa sedih" ucap Randy.


"Papa bisa mengerti posisi Bram, dia pasti sangat mencintai istrinya," tambah Randy.


"Iya Pah, Zaky juga mengerti kok kondisi mereka, apa yang dialami mereka dan membuat Papa kandung Zaky tak pernah mengunjungi ku selama ini, sekarang Zaky menjadi lebih paham sebenarnya mereka sama sekali tak seperti yang selama ini ada dalam pikir Zaky."


"Kita lupakan saja masalah ini dan kita akan mulai membangun kebahagiaan keluarga kita" ucap Randy, Apa kau ingin ikut Papa ke perusahaan?" tawaran,


"Aku ingin istirahat saja Pah, Zaky juga sudah banyak ketinggalan mata kuliah dan ingin mulai mengejarnya, Setelah kuliah baru Zaky akan fokus ke perusahaan ," ucap Zaky.


"kalau begitu Papa ke kantor dulu, istirahat lah."


"Iya Pah," jawab Zaky


Sementara di kediaman Abraham Wijaya.


Mikaila memijat-memijat bahu suaminya,


"Mas Gavin itu masih anak-anak, Dia belum terlalu memikirkan masalah pekerjaan. Sebentar lagi Kelvin juga akan menyelesaikan kuliahnya dan bisa mengurus langsung perusahaan "ucap Mikaila,


"Bukan seperti itu Sayang, Aku hanya ingin Gavin memulai bertanggung jawab dengan pekerjaannya, coba lihat ini banyak perusahaan yang komplain karena Gavin tak menghadiri rapat penting mereka , bagaimana kalau mereka semua membatalkan kerjasama karena merasa tak dihargai, Mas akan mengerti Kalau Gavin membatalkannya karena urusan penting" ucap Bram.


"Ia keluar negeri untuk mengurus masalah perusahaan juga Mas," bela Mikaila pada putranya.


"Mas yakin dan percaya tak selama itu ia mengerjakannya, Iya pasti memanfaatkan kesempatan nya di sana untuk berjalan-jalan dan bermain-main saja. Jika saat itu kau memberitahu Mas...!" ucapan Bram terpotong saat Mikaila duduk di pangkuannya.


"Sudahlah Mas, jangan diungkit-ungkit lagi ," ucap Mikaila.


"Aku tahu kau sangat menyayangi anak-anak, tapi rasa sayang kita tak boleh memanjakan mereka, nanti malah akan membuat mereka bertindak seenaknya, Kita juga harus tetap mendidik mereka akan bisa mandiri dan bertanggung jawab. Takutnya mereka akan terus berharap pada kita dan kau tahu sendiri kan itu tidak baik, kita tak selamanya bisa menemani mereka ," ucap Bram.


Mikaila tak menjawab karena memang benar ucapan suaminya, selama ini ia selalu memanjakan mereka semua terutama Gavin, mungkin itu salah satu yang membuat Gavin sekarang bertindak sesuka hatinya. Tak seperti Arya dan Kelvin.


Di kantor Arya menelepon Raina.


"Kamu bisa nggak ke kantor, Aku lagi banyak kerjaan nih?'" pinta Arya.


"Iya, bisa kok. Aku ke kantor sekarang," ucap Raina kemudian bersiap-siap untuk ke kantor.

__ADS_1


Sebenarnya ia merasa takut karena menurut Natali mulut-mulut orang di kantor semakin liar membicarakannya.


Dan benar saja, baru saja Raina melangkah masuk ke kantor, dia sudah menjadi pusat perhatian. Semua mulai berbisik-bisik, bisikan mereka itu tak hanya didengar oleh orang yang ada di sebelahnya saja, bisikan mereka bisa di dengar oleh Raina yang berjalan melewati mereka.


Raina masuk ke dalam lift menekan tombol untuk menuju ke lantai tempat ruang kerja Arya,


Di dalam lift juga beberapa karyawan mulai berisik bahkan ada yang menegurnya secara langsung.


"Oh jadi ini calon istri Arya," ucap seseorang di dalam lift.


"Bagiamana cara kamu menggoda bos kami ?!" tanya yang lainnya.


Raina tak menjawab dan tetap diam saat banyak kata-kata yang tak enak ditujukan kepadanya.


Raina hanya menatap pintu lift berharap pintu itu cepat terbuka, telinganya panas mendengar ocehan mereka semua.


"Aku dengar kau itu yatim piatu ya, Hebat sekali ya, anak yatim sepertimu mengharapkan menjadi istri dari bos kami. Aku yakin kau melakukan hal-hal yang kotor kan agar bisa menggoda bos kami?!"


"Iya, aku yakin dia pasti menggodanya dengan tubuhnya, ia pasti hanya memakai pakaian ini untuk menutupi kebusukannya dan menggoda para pria," ucap yang lainnya.


Raina benar-benar merasa terhina, bahkan air matanya sudah menetes membasahi cadarnya.


Namun Ia tetap terdiam, saat pintu lift terbuka Raina dengan cepat ingin keluar dari sana namun langkahnya terhenti saat di depan lift ada Arya.


Arya menatap mata Raina,


Terlihat jelas ada air mata disana,


"Kamu kenapa?" tanya Arya menatap Raina yang kini menunduk, menyembunyikan kesedihannya.


Pertanyaan Arya itu membuat semua yang ada di lift itu menjadi tegang dan ketakutan,


"Apakah Raina akan mengadukan mereka pada Arya", itulah yang ada dalam pikiran Mereka.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa ya tinggalkan jejak kalian dengan memberi


LIKE, VOTE, KOMENNYA πŸ™


Salam dariku πŸ€—


Author m AnhaπŸ₯°


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–

__ADS_1


__ADS_2