
Hari ini adalah hari pernikahan Abraham Wijaya dengan Mikaila putri.
Yang akan di selenggarakan di hotel.
Hotel yang sederhana di sulap menjadi hotel yang sangat mewah dengan dekorasi yang sangat megah.
Para tamu undangan yang datang sangat kagum dengan kemewahan yang di suguhkan keluarga mempelai. Semua itu terwujud tentu saja karena kecekatan Yoga dan tentu saja rupiah dari Bram.
Kedua mempelai di pisahkan di ruangan yang berbeda. Mikaila di temani dengan Humaira, Isabela, Arabela dan juga Ayu. Mereka menunggu di ruang tunggu mempelai wanita yang sudah di sediakan.
Mikaila terlihat sangat cantik dengan kebaya modern yang ia gunakan, di tambah beberapa hiasan di bagian hijabnya yang terbuat dari beberapa permata asli yang di rancang oleh Arandita khusus untuknya.
" Mikail kamu cantik banget sih," kata Humaira.
"Iya Tante! Om Bram pasti pangling lihatnya,"
"Kalau ga cantik mana mungkin mas Bram suka. Mas Bram itu susah banget lupain kak Inanti, udah banyak banget yang di jodohkan, tapi mas Bram terus nolak. untuk aja ada kamu, Mikaila. Jadi mas Bram mau nikah lagi," tutur Arabela
Raut wajah Mikaila tiba-tiba berubah,
mendengar kata Inanti entah mengapa ada rasa cemburu di hatinya.
Ayu yang menyadari itu menggenggam tangan sepupunya itu dan mengusapnya lalu mereka tersenyum. Ayu berusaha menenangkan Mikaila, ia tidak ingin merusak suasana hati adiknya itu.
"Lama banget si acaranya, aku dah lapar banget nih," Ayu mengalihkan pembicaraan mereka.
"iya ya. Aku lihat dulu ya," kata bela.
"ikut Tante." Isabela ikut berlari keluar.
"Aku cari cemilan dulu ya," kata Humaira.
Mereka bertiga keluar dari ruang itu kini hanya ada Ayu dan Mikaila.
"Kak, kenapa ya setiap membahas almarhum istri mas Bram hati aku sakit, Kak?"
"Itu karena kamu cinta dengan Bram, kamu ga rela ada wanita lain yang di kaitkan dengannya walaupun itu almarhum istrinya.
Kaila dengerin kakak ya, nanti kamu jangan pernah menanyakan masa lalu suami kamu, kecuali dia sendiri yang memulainya. Kamu ngerti kan maksud kakak?"
"Iya kak, Kaila ngerti. Makasih ya kak."
"Iya, senyum dong nanti cantiknya hilang," ucap Ayu berusaha menghibur.
Ibu masuk dan menyuruh Mikaila keluar karena acaranya akan segera di mulai.
Mikaila berjalan di dampingi ibu dan Ayu, semua tamu tertegun melihat mempelai wanita yang berjalan anggun dan sangat cantik bahkan Bram tak berkedip melihat wanita yang sebentar lagi menjadi istrinya itu.
__ADS_1
Mikaila di dudukkan di sebelah Bram, ia tersenyum ke Bram. Senyuman itu benar-benar menyihir seorang Abraham, jantungnya kini berdetak sangat kencang, ia menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.
"Bagaimana, pak. Bisa kita mulai?" tanya penghulu Kepada Bram.
"Iya, pak," jawab Bram.
Mikaila meremas jari-jarinya, ia sangat gugup. Bram bisa melihat kegugupan calon istri nya itu. Namun, ia tak bisa menenangkannya karena ia sendiri merasakan hal yang sama.
"Saudara Abraham Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan kamu dengan anak saya Mikaila putri binti Musab dengan seperangkat alat sholat dan uang 1 milyar rupiah di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Mikaila putri binti Musab dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."
"Bagaimana saksi sah?"
"SAH." yang menjawab hanya dari pihak laki-laki saja karena pihak perempuan masih tidak percaya mendengar jumlah mas kawinnya.
"Bagaimana saksi, sah?" ulang penghulu meyakinkan.
"Sahhhh." Kini semua tamu pun mengatakan nya.
Penghulu membaca doa dan dilanjutkan dengan Mikaila mencium punggung tangan suaminya dan Bram mencium kening Mikaila.
Semua keluarga Wijaya terharu melihat pemandangan itu.
Mereka berharap Bram bisa bahagia kembali dengan Mikaila dan melupakan masa lalunya, yang membuatnya terpuruk selama ini.
Acara berlanjut, kedua mempelai meminta restu kepada semua keluarga.
Setelah acara usai semua tamu dan keluarga kembali ke kampung dengan kendaraan yang sama.. keluarga Wijaya yang menginap di hotel tetap tinggal, begitu juga dengan Bram dan Mikaila.
Yoga sudah menyiapkan kamar pengantin untuk mereka.
"Astagfirullah, Mas aku lupa tasku," ucap Mikaila saat sudah berada di kamar pengantinnya.
"Nggak apa-apa, besok juga kita balik ke sana, kita di sini cuma malam ini aja."
"Tapi, Mas. Aku nggak punya baju ganti."
"Pakai yang ini aja!" Bram menyerahkan kotak seserahan kepada Mikaila.
Mikaila mengambilnya tanpa melihat isi dari kotak itu. Kaila membersihkan riasan wajahnya.
"Mas mandi duluan ya?"
"Iya Mas. Aku mau bersihin makeup dulu."
"Nggak mau mandi bareng?" goda Bram sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
"Apaan sih Mas. Sana mandi!" jawab Mikaila sedikit malu, masih terus membersihkan makeupnya.
Bram masuk ke kamar mandi dengan senyuman dan sambil sekali-sekali bersiul senang.
Mikaila memegang jantungnya yang semakin tak karuan, ia melihat ranjang pengantin yang di taburi bunga mawar yang sangat wangi.
Ia menggeleng mengusir pikiran yang mulai hinggap di kepalanya.
Ia sedikit kesusahan membuka pakaian pengantinnya, tiba-tiba Bram datang membantu membukanya,
"Sini mas bantu," ucapnya sambil berusaha membuka gaun Mikaila.
Mikaila hanya nurut saja karena sedari tadi ia berusaha membukanya. Namun, tetap tak bisa.
Kini gaun pengantin yang mewah itu sudah berhasil terlepas dari tubuhnya, menyadari Bram yang tengah menatap tubuhnya dengan tatapan yang sulit diartikan nya, ia segera menyambar kotak yang tadi Bram berikan dan berlari ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya..30 menit, 45 menit, hingga 1 jam Bram menunggu, tapi Mikaila tak juga ada tanda-tanda akan keluar.
"Sayang kamu baik-baik saja di dalam?" tanya Bram sambil mengetuk pintu.
"Iya mas. Aku nggak apa-apa, bentar lagi aku keluar."
"Mas tunggu ya jangan lama-lama. Makanannya udah datang, kita makan dulu."
"Iya Mas," teriak Mikaila dari dalam kamar mandi, ia meringis menatap pantulan dirinya di cermin. Walau mengenakan pakaian, tapi ia masih bisa melihat jelas bentuk tubuhnya. Ia memakai lingerie dan bra berenda yang tembus pandang.
"Ini apaan sih, siapa lagi yang nyiapin ini di seserahan. Aku pake acara lupa tas aku lagi," gerutu Mikaila memaki dirinya sendiri.
"Sayang, apa masih lama? Mas udah lapar?"
tanya Bram dari balik pintu kamar mandi.
Kaila membuka sedikit pintu dan mengeluarkan kepalanya.
"Mas, apa ada baju yang lain?"
"Emang baju yang tadi kenapa?"
"Aku nggak suka, Mas."
"Coba mas lihat!" Bram mencoba membuka pintu, tapi Mikaila menahannya.
"Bajunya jelek, Mas. Aku malu."
"Kenapa malu? Aku ini suami kamu. Ayo kita makan!" ajak Bram mengulurkan tangannya.
Dengan ragu Mikaila meraih tangan Bram dan membuka pintu kamar mandi perlahan-lahan.
Ia menunduk dan menutup bagian dadanya dengan satu tangannya. Bram tertegun melihat apa yang ada di hadapannya. Ia mengangkat wajah istrinya itu dan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1
bersambung...
🤫🤫🤫