
Mikaila masih tertidur pulas,Bram dengan setia menemani nya,menatap wajah cantik istrinya.
Randy dan Zahra membawa Zaky ke kamar lain agar memberi ruang untuk mereka berdua....
Yoga bermaksud untuk memberi kan Bram makan malam,sejak pagi Bram Belum makan apapun.
Bram melihat seseorang yang mencurigakan yang sedang mengawasi Bram dan Mikaila.
Orang itu langsung lari saat melihat Yoga mendekat.
Yoga langsung mengejar orang tersebut yang tak lain adalah Sonia.
Ia mengawasi Bram dan Mikaila untuk memastikan jika mereka sekarang tidak baik-baik saja dan dijadikan bukti untuk di berikan kepada Niken...
"siapa orang itu,"gumam yoga,
Yoga menghentikan langkahnya saat melihat Isabela dan Jabbar memasuki gerbang rumah sakit.
Yoga menghampiri Jabbar.
"bisa ikut saya sebentar"ucap Yoga kepada Jabbar.
Mereka berjalan menuju restoran yang ada di depan rumah sakit.
"Isabela kamu pesan meja lain dulu,ada yang harus aku bicarakan dengan Jabbar."ucap Yoga kepada Isabela yang sejak tadi menggandeng tangan Jabbar.
"iya om,"jawab Isabela.
Isabela memilih meja sebelah meja mereka dan langsung memesan makan.
"Apa yang sebenarnya terjadi ? Isabela mengatakan kalau Mikaila sedang ada masalah?"ucap Jabbar.
Yoga melihat Isabela yang ada di meja sebelah terlihat jelas kalau ia berusaha mendengar pembicaraan Yoga dan Jabbar.
"aku hanya tak ingin kesalah faham ini semakin memperburuk keadaan sekarang."
ucap Yoga memberikan ponselnya kepada Jabbar.
Jabbar melihat Yoga dan mengambil ponsel yang Yoga sodorkan kepadanya.
"Itu Vidio yang di ambil dari rekaman Cctv."ucap Yoga mulai menjelaskan tentang masalah yang sebenarnya,,,
Jabbar melihat rekaman itu dengan teliti,ia mengepalkan tangannya saat melihat Zahra keluar dari kamar Bram.
Yoga menjelaskan semua yang ia ketahui termasuk keadaan Zaky Sekarang.
"jadi Zahra juga terlibat dalam penculikan Mikaila waktu itu,"tanya Jabbar yang telah melihat Vidio di ponsel Yoga.
"ya,ini semua rencana Niken,mereka hanya di jadikan sebagai alat saja."ucap Yoga.
"walau ini hanya jebakan Zahra, tetap saja ini akan sangat menyakitkan bagi Mikaila,Zaky ada di antara hubungan mereka."Ucap Jabbar membayangkan wajah adiknya.
"semua sudah terjadi,kita tak dapat mengubahnya.Aku harap kamu dapat membantu menjelaskan masalah ini kepada Mikaila."ucap Yoga.
Jabbar memijat keningnya,
"apa Mikaila sudah melihat rekaman ini?"
"aku belum sempat memperlihatkannya,Bram masih berusaha menenangkannya.Aku harap kamu tak menambah masalah."tegas Yoga.
__ADS_1
Di kamar rawat Mikaila.
Mikaila kembali membuka matanya, melihat Bram yang masih duduk di dekatnya menggenggam tangannya.
"maaf,"ucap Bram saat melihat Mikaila membuka matanya.
Bram tak sedetikpun mengalihkan pandangannya dari Mikaila.
Mikaila tak berkata apapun, matanya kembali berkaca-kaca,dadanya kembali sesak.
Bram mengecup punggung tangan Mikaila,mengusap air mata yang menetes dalam diamnya.
"maaf "ucap Bram lagi.
Tak ada kata lain yang ada di pikiran nya sekarang,hanya kata maaf yang memenuhi otaknya.
"mas jahat,"ucap Mikaila mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Bram.
"maaf,"ucap Bram mempererat genggamannya.
"ini sangat menyakitkan mas,"ucap Mikaila sudah terisak.
"sayang,ini ga seperti yang kamu pikirkan,mas ga bermaksud menyakitkamu,menghianati cinta kita."ucap Bram sambil mengusap lembut pipi Mikaila menghapus air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"lalu apa ini semua mas?"tanya Mikaila dengan suara tersendat-sendat,ia kesulitan berbicara menahan sesak di dadanya yang semakin memuncak.
"mas bisa jelasin semua ini,"ucap Bram menatap mata Mikaila dengan penuh rasa bersalah.
"jelasin,mas mau jelasin apa?,Jelasin kalau Zaky adalah anak mas? jelasin kalau mba Zahra,"Mikaila tak sanggup meneruskan kata-katanya.Rasa sesak di dada kembali menyerangnya,membayangkan Zahra telah berbagi ranjang dengan suaminya sungguh sangat menyakitinya,menghabiskan malam dengannya sehingga Zaky hadir di rahimnya.
Mikaila memukul-mukul lengan Bram dengan sisa-sisa tenaganya,meluapkan segala kekesalan yang selama ini di pendamnya,meluapkan apa yang selama ini di sembunyikan nya.Walau pukulan itu sangat pelan tapi sangat sakit untuk Bram,hingga mampu membuat air matanya menetes.
"kamu jahat mas,kamu jahat.kamu tega sama aku mas,kamu tega mas,kamu jahat,apa salah aku mas sehingga kamu Setega ini menyakitiku seperti ini?
Kenapa mas jahat padaku?,
kanapa mas?,
kenapa mas sekejam ini padaku?,
kenapa mas tak memberiku belas kasihan,ini semua sangat menyakitkan mas,"Mikaila menjeda kalimatnya,ia memukul-mukul dadanya yang terasa semakin sesak.
"Aku sudah berusaha menjadi istri yang baik buat mas,apa semua itu masih kurang mas,?
Aku sudah berusaha menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita apa itu juga belum cukup mas,dimana letak kesalahanku sehingga mas Setega ini padaku,,,"
Mikaila kembali menagis tersedu-sedu, tangis menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya termasuk Jabbar, Yoga dan Isabela yang ada di balik pintu.
Jabbar mengepal tangannya,ingin rasanya ia melayangkan tinjunya ke wajah Bram.
Namun ia berusaha menahannya,ia tak ingin rumah tangga adiknya semakin hancur,ia mengingat wajah anak-anak adiknya itu untuk memenangkan emosinya.
Isabela hanya bisa mengelus lengan Jabbar,ia yakin jika kekasihnya itu sedang menahan arahnya.
Bram tak bisa berkata apa-apa hanya bisa menerima semua pukulan dan cacian Mikaila.
"mas jahat,mas jahat,kenapa mas,apa salah aku?"Mikaila terus melayangkan pelukannya kepada Bram.
Mikaila menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Bram tak bisa lagi mempertahankan genggam tangan nya mendengar ucapan rintihan Mikaila.
__ADS_1
Jika ia seorang wanita mungki ia juga akan menangis tersedu-sedu meluapkan rasa sesak di dadanya.
Setelah Mikaila lebih tenang ia mencoba untuk duduk,
"sayang berbaring saja,"ucap Bram membantu Mikaila duduk.
"jangan sentuh aku mas,"ucap Mikaila menepis tangan Bram dan menghapus jejak air matanya.
"kamu mau kemana?"tanya Bram saat Mikaila mengambil cairan infus nya.
Mikaila tak menjawab pertanyaan Bram,ia mengambil cairan infus nya dan mencoba turun dari tempat tidur.
"kamu mau kemana?biar mas bantu."ucap Bram menahan tubuh Mikaila yang hampir terjatuh.
"lepas mas,aku bisa sendiri,"tolak Mikaila masih sesegukan.
Jabbar masuk dan menghampiri Mikaila.
"kamu mau kemana dek?"tanya Jabbar mengambil selang infus Mikaila.
"kekamar mandi kak,"ucap Mikaila terkejut kakaknya tiba-tiba datang.
Sedari tadi ia memang berharap kakaknya itu datang,sama seperti waktu dulu kakaknya itu selalu datang saat ia sedang kesulitan dan membutuhkannya.
Jabbar langsung menggendong adiknya itu masuk ke kamar mandi.
Bram sedikit terkejut saat Jabbar masuk tadi.
Bram melihat Yoga, melayangkan beberapa pertanyaan dengan tatapan matanya.
Yoga mengangguk seolah-olah mengerti apa yang di maksud tatapan Bram kepadanya..
Bram menatap pintu kamar mandi,ada rasa tak rela istrinya berada di dalam kamar mandi yang sama dengan pria lain walau ia tau itu adalah saudara kandung istrinya.
Jabbar membaringkan Mikaila kembali ke tempat tidur dimana Bram masih setia diduduk di tempat nya.
"tidur lah,"ucap Jabbar memakaikan selimut pada Mikaila.
Mikaila menutup matanya dan menghadap Jabbar membelakangi Bram.
Mikaila menggenggam tangan kakak nya itu membawa tangan Jabbar ke pelukannya,ia sedikit lebih tenang,merasa ada sosok yang selama ini selalu menjaganya sejak ia kecil hingga dewasa dan sampai saat ini.
Jabbar mengusap punggung Kaila mencoba menenangkan adiknya itu yang sesekali masih sesegukan.
Lama mereka dalam posisi masing-masing tak ada suara sedikitpun,larut dalam pikirannya masing-masing.
Mikaila kembali tertidur pulas dalam kehangatan kakaknya.
Terimakasih sudah membaca 💗💗
Like,like dan like.❤️
Selamat hari Raya Idul Adha.(10 Dzulhijjah 1442 H.)
Mohon maaf lahir dan batin.
Semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT dan di berikan umur panjang,nikmat kesahatan,nikmat rezeki,nikmat kebahagiaan dunia dan akhirat.
Nikmat hari raya kurban...🙏🙏🙏🙏💗🙏🙏🙏
__ADS_1