
Pagi ini Arabela merasakan hal yang sama,ia berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan bening.
"sebenarnya apa yang terjadi"mencuci wajahnya di wastafel.
Arabela kembali melihat jadwal menstruasinya,
"seharusnya aku dapat di awal bulan,"
Arabela terduduk dan bersandar di pintu kamar mandinya,ia mencari tau tanda-tanda kehamilan di ponselnya.
"aku ga mungkin hamil,ini ga boleh terjadi,"air matanya mulai menetes.
"Bela kamu di mana sayang,"panggil ibu.
"iya Bu,aku lagi di kamar mandi,"jawabnya sambil mengusap air matanya, mencuci kembali wajahnya.
"ada apa Bu?"menghampiri ibu.
"kamu habis nangis sayang,"
"enggak ko Bu,"
"ini ibu bawa nasi goreng kesukaan kamu,di makan ya,"
"iya Bu,makasih."
"jangan terlalu banyak pikiran,ibu ga mau kamu sampai sakit."Ucap ibu meletakkan nasi goreng di meja riasnya.
Arabela duduk dan mulai memakan nasi goreng yang di bawa ibunya.
Arabela kembali memuntahkan semua makanan yang baru saja di makannya.
"bagaimana ini,kalau aku benar-benar hamil,"kembali menangis.
"Isabela,iya aku harus minta bantuan dia,"mengambil ponsel dan menghubungi ponakannya.
Isabela datang ke rumah besar dan langsung ke kamar Arabela.
"Tante sejak kapan mengalami mual?"tanya Isabela.
"sudah seminggu ini,"
"tanggal berapa Tante terakhir menstruasi?"
"awal bulan,sekitar tanggal 2 atau 3,"jawab Arabela pelan.
Isabela mulai memeriksa Arabela,
Arabela sudah memberitahukan apa yang di alaminya saat menelfon nya.
Isabela mengunci pintu dan kembali duduk di dekat Arabela.
"Sepertinya Tante memang sedang hamil,biar lebih pasti kita bisa tespek,"Isabela mengeluarkan tespek dari dalam tasnya.
Arabela ke kamar mandi dan melakukan tespek.
"Gimana ini,"Arabela terduduk lemah saat melihat 2 garis pada alat tespek nya yang berarti ia positif hamil.
Isabela memeluknya mencoba menenangkan tantenya yang seumuran dengan dirinya itu.
"kita aborsi saja,gimana,"ucap Arabela.
"astagfirullah Tante,apa tante ga kasian,dia ga salah apa-apa,aku ga setuju.David pasti mau bertanggung jawab atas kandungan tante,"
"kamu aja ya yang beritahu ibu,aku takut."
"aku juga ga berani."jawab Isabela.
"terus gimana?"
"aku ngomong ke ibuku dulu,nanti biar ibu yang bicara ke Nene."usul Isabela.
"ya udah,"ucap Arabela pasrah.
Isabela mengeluarkan obat mual dan beberapa vitamin untuk ibu hamil yang sudah di siapkan nya.
"minum ini aja dulu,biar ga terlalu mual.Aku balik ke rumah sakit dulu ya tan, nanti aku kesini lagi."
__ADS_1
Arabela hanya mengangguk sambil memeluk boneka beruang nya.
Malam hari Isabela menghampiri ibunya di ruang kerjanya.
"Bu,aku mau ngomong,"
"ngomong aja, biasanya juga langsung ga pake permisi dulu,"jawab ibu tanpa melihat ke arahnya.
"Bu,aku serius"ucap Isabela mendekati ibunya.
"iya,ada apa bilang aja langsung,"masih terus menatap layar ponselnya.
"Arabela hamil,"ucap Isabela dengan sangat pelan,
"apa,,,kamu hamil,"pekik itu yang hanya mendengar kata hamil.
"bukan bukan aku,"ucapnya panik saat melihat tatapan membunuh ibunya.
"lalu apa maksud kamu?"sedikit lebih tenang.
"itu Bu,tante Bela hamil anak David,"ucap Isabela menunduk.
"kamu jangan bercanda ya Isya,"suaranya kembali meninggi.
"bener ko Bu,aku ga bercanda,"jawab Isabela penuh keyakinan.
Anindita mengambil ponselnya menghubungi adiknya itu.
"apa benar kamu sedang hamil?"tanyanya pada Arabela dari belok telfon.
"iya mba,"jawab Isabela singkat.
"Besok datang ke klinik mba,"langsung mematikan ponselnya.
Saat Anin kembali ingin bicara pada Isabela,anaknya itu sudah tak ada di tempatnya.
"perasaan dia baru aja ada di sini,"guman Anin mencari keberadaan anaknya itu,bahkan ia melihat di bawah meja untuk memastikan Isabela Memang sudah tidak ada di sana.
Keesokan harinya Isabela menjemput Arabela untuk menemui ibu di klinik.
"mba Anin marah ya?"tanya Bela.
"jangan nakut-nakutin dong."
"beneran,aku langsung kabur saat ibu nelfon kamu semalam.Lihat nih,lebam kan."memperlihatkan luka bebam di keningnya.
"kok bisa?"tanya Bela yang melihat ada luka dan lebam di kening Isabela.
Isabela tertawa sebelum bercerita.
"jadi semalam itu aku kabur dari ibu saking takutnya, karena lari terlalu kencang aku sampai nabrak Syana,"Isabela menjada ceritanya dan kembali tertawa.
"terus?"tanya Isabela penasaran.
"ya aku dan Syana tabrakan.syana sih ga apa-apa karena ia jatuhnya di sofa.
"kalau kamu,"tanya Arabela tertawa membayangkan para ponakannya itu tabrakan
"nabrak tiang,"ucapnya terbahak-bahak.
"walau kepala aku sakit,aku lanjut lari ke kamar,aku ga mau ibu nanya lebih banyak lagi"lanjut Isabela.
Arabela ikut tertawa melupakan sejenak kesedihannya.
Dengan ragu mereka memasuki ruangan Anin yang sudah menunggunya.
"naik,"Anin menyuruh Arabela naik ke ranjang untuk melakukan USG.
Anindita menghela nafas saat melihat ada janin di rahim adiknya itu.
"David sudah tau?"
"belum mba,"
"siapa aja yang tau?"
"hanya kita,"
__ADS_1
Anin mengambil ponselnya dan menghubungi ibu,mengajak bertemu di taman depan kliniknya.
Isabela membantu Arabela turun.
"ibumu nelfon siapa?"
"ga tau,"jawab Isabela.
"mba sudah minta ibu datang,kita tidak bisa bahas ini di rumah,kondisi ayah sedang tidak baik-baik saja."ucap Anin.
Ibu menemui mereka di taman,
"ada apa,kok manggil ibu ke sini?"tanya ibu yang baru saja sampai.
"minum dulu Bu,"Anin memberi ibunya minuman.
"ibu ga lagi haus,"tolak ibu.
Mereka saling tatap,
"ada apa sih?"tanya ibu penasaran melihat tingkah laku ke tiga wanita di depannya.
"Arabela hamil."ucap Anin.
"apa"pekik ibu memegang jantungnya.
"minum dulu nek,"Isabela memberikan air yang tadi di tolak neneknya,dan di minumnya hingga tandas.
"plak"ibu menampar pipi Arabela yang duduk di dekatnya.
"ibu sabar dulu,"ucap Anin menenangkan ibunya.
"kamu ini sudah dewasa,kamu tau mana yang baik dan buruk.Ayah kamu selalu menyuruh kalian menikah untuk menghindari ini semua,apa yang kamu lakukan ini Bela,"ucap ibu mengais kebodohan putri bungsunya.
Arabela berlutut memegangi kaki ibunya.
"maafin aku Bu,"
Ibu terus memukul lengan putrinya itu sambil terus menagis.
"ibu, kita dengarkan dulu penjelasan Bela Bu."ucap Anin menjauhkan adiknya itu dari amukan ibunya.
"bukannya kalian sudah mengakhiri hubungan kalian,apa ini penyebabnya?"tannya ibu mengatur nafasnya.
Arabela mengangguk.
"coba kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi."ucap Anindita memeluk adiknya.
Arabela pun menceritakan semua yang ia alami di apartemen David.
"Ayo ikut ibu,"Ibu berdiri dari duduknya.
"kemana Bu?"tanya Anin.
"kita kerumah Bram,"ibu berjalan sambil menarik kasar Arabela.
Anindita dan Isabela menyusul mereka.
Isabela mengambil alih kemudi.
Meraka sampai di rumah Bram dan menceritakan semua kepada Mikaila.
"kamu telfon Bram, suruh dia pulang Sekarang.Bilang ada hal penting yang ingin ibu sampaikan."perintah ibu yang masih emosi.
Mikaila menatap kakak iparnya,
"Bu,sebaiknya kita tunggu aja Bram pulang,takutnya kalau kita beritahu sekarang jadinya makin memperkeruh suasana,"ucap Anindita.
"iya Bu,aku takutnya mas Bram terbawa emosi dan bertindak gegabah."tambah Mikaila.
"ya sudah biar ibu saja yang telfon dia."mengambil ponselnya.
"biar aku aja Bu,"Mikaila langsung mengambil ponselnya dan menelfon Bram.
Bersambung,
Mohon dukungannya dengan memberi like dan komennya.
__ADS_1
Terimakasih 💗