
Acara terus berlangsung, Para tamu undangan larut dalam pesta. Mereka menikmati acara yang telah di siapkan dengan sangat megah oleh Yoga dan David.
Kelvin yang tadi melihat Gibran dan Queen keluar langsung menyusul mereka setelah selesai mengiringi Natali.
Kelvin mencari keberadaan Gibran dan Queen. Iya sudah mencari ke semua ruangan namun ia tak menemukan mereka, Ia juga mencari di sekitaran hotel tersebut Namun sama saja, ia tak menemukan mereka.
"Kemana mereka berdua pergi, apa mereka pergi meninggalkan pesta ini," batin Kelvin terus mencari keberadaan mereka dengan pandangan matanya.
Kelvin yang melihat Gavin berjalan dari arah luar memanggil dan menghampirinya.
"Gavin apa kau melihat Gibran?" tanya Kelvin.
Gavin yang mendengar Kelvin memanggilnya menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Tadi sepertinya Gibran dan Queen berjalan ke arah luar," jawab Gavin yang tadi tak sengaja melihat Gibran dan Queen berjalan ke arah pintu gerbang.
"Maksudmu mereka keluar dari gerbang itu?" tanya Kelvin menuju gerbang hotel.
"Iya, tadi aku melihat mereka hanya berjalan-jalan keluar, emangnya ada apa Kak?" tanya Gavin.
"Enggak apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan Gibran," ucap Kelvin.
"Aku masuk dulu ya Kak," ucap Gavin yang dijawab anggukan oleh Kelvin.
Setelah Gavin pergi, Kelvin mencoba untuk berjalan keluar dari gerbang. Ia melihat ke kiri dan ke kanan Namun sepertinya ia tak melihat sosok Gibran dan Queen di sana.
Kelvin mengambil ponsel di sakunya dan mengirim pesan kepada Gibranal. "Kamu dimana?" pesan Kelvin yang di kirim pada Gibran. Kelvin bisa melihat jika Gibran sudah membaca pesannya.
Tak lama kemudian masuk pesan balasan dari Gibran "Aku ada di taman bersama Queen," isi pesan Gibran.
"Taman?" tanya Kelvin memastikannya.
"Iya taman," jawab Gibran kemudian mengirim share lokasi tempat mereka.
Kelvin yang melihat lokasi tersebut tak jauh dari sana langsung menuju ke tempat Gibran dan Queen berada hanya dengan berjalan kaki.
Di taman itu masih banyak anak-anak yang bermain, walau hari sudah malam. Cahaya lampu menambah kegembiraan anak-anak.
Ada yang bermain perosotan, ayunan dan saling kejar-kejaran. Mereka berlarian di taman itu.
Queen dan Gavin duduk di bangku taman dan hanya melihat mereka tertawa dan saling kejar-kejaran.
"Kenapa kau meninggalkan acara?" tanya Gibran mencoba memulai pembicaraan mereka. Sejak tadi ia hanya diam, Gibran hanya bisa menatap wajah Queen yang terlihat sedih.
"Aku hanya bosan!, Kamu sendiri kenapa mengikutiku?" tanya Queen.
"Aku hanya khawatir melihat mu, kamu enggak bosan kan? kamu cemburu kan melihat Kelvin dan Natali tadi?!" tebak Gibran.
"Entahlah, aku juga tak tahu seperti apa sebenarnya perasaanku. Aku sudah berusaha melupakan perasaanku ini, namun rasanya aku masih nggak suka melihatnya kak Kelvin dekat dengan Kak Natali. Walau aku tahu mereka memang sedang menjalani hubungan," pilu Queen.
"Apa kau benar-benar menyukai Kak Kelvin?" tanya Gibran menatap anak-anak yang Sedang bermain.
__ADS_1
"Entahlah, aku tak tau. Yang jelas saat ini aku ga mau ketemu kak Kelvin dulu." Kata Queen.
"Aku lihat Kak Kelvin sudah sangat dekat dengan Natali," ucap Gibran.
"Iya, aku juga bisa melihatnya. Mereka pasangan yang cocok," timpal Queen mencoba tersenyum.
"Apa kamu akan terus di sini?!" tanya Gibran.
"Hmmm, kalau kamu mau kembali ke tempat acara kembali saja, aku nggak apa-apa kok. Aku di sini dulu, nanti juga aku akan pulang saat aku sudah merasa lebih tenang ," ucap Queen.
"Enggak kok, aku akan menemanimu di sini. Siapa tahu aja kan kamu butuh teman curhat, aku siap kok jadi pendengar terbaikmu," canda Gibran.
"Terima kasih ya,!" ucap Queen mencubit gemas pipi Gibran.
"Sakit tahu Queen," ucap Gibran menepis tangan Queen yang mencubit pipinya dengan keras.
"Iya maaf," Queen tertawa saat melihat ekspresi wajah Gibran.
Mereka pun berbincang-bincang, Gibran sengaja mengalihkan pembicaraan mereka agar Queen kembali tertawa.
"Baiklah, sekarang aku harus benar-benar menghilangkan perasaan ini. Ayo kita kembali," ucap Queen saat merasa lebih.
"Apa kamu yakin? Nanti kamu nangis lagi di sana," goda Gibran.
"Enggaklah, aku kan bukan anak kecil yang suka nangis. Aku sudah bilang ke Papi ku kalau aku akan kuliah ke luar negeri," ucap Queen.
"Kau akan kuliah ke luar negeri? Kau yakin bisa berpisah dengan Mami mu?!" ucap Gibran.
Kelvin datang menghampiri mereka.
"Disini kalian rupanya," ucap Kelvin berjalan menghampiri mereka berdua.
Queen dan Gibran langsung berbalik melihat arah suara.
"Kak Kelvin," lirih Queen.
Queen melihat Gibran dengan tatapan kesal.
Gibran mengerti arti tatapan Queen dengan cepat ia menggeleng dan mengangkat tangannya.
"Kenapa kalian meninggalkan acara?" tanya Kelvin duduk dan menarik Queen untuk duduk di dekatnya.
Gibran yang mengerti jika mereka perlu waktu berdua pura-pura terbatuk-batuk.
"Aku cari minum dulu ya, tenggorokanku tiba-tiba kering," ucap Gibran berdiri dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan mereka berdua.
Queen baru ingin berdiri menyusul Gibran namun Kelvin kembali menariknya untuk tetap duduk di dekatnya, bahkan ia merangkul bahu Queen agar tak berdiri dan kabur dari nya.
Sudah beberapa hari ini ia memperhatikan adik sepupunya itu terus kabur saat melihat dirinya.
"Kenapa kau menghindari kakak ha," tanya Kelvin mempererat rangkulannya.
__ADS_1
"Enggak kok, siapa bilang aku menghindari kakak. " Kata Queen. "Biasa aja," gumamnya.
"Kamu jangan bohong, kakak tahu kamu menghindari Kakak. Kamu masih marah karena kakak memblokir nomormu waktu itu?" tanya Kelvin.
"Enggak kok," ucap Queen. Ia mencoba untuk tenang walau hatinya sangat sakit pengingat saat Kelvin memblokir nomornya.
"Maaf, waktu itu Kakak tidak tak bermaksud melakukannya. Kakak lupa telah memblokir nomor mu. Maaf ya?!" ucap Kelvin melepas rangkulannya dan mengacak-acak rambut Queen.
"Iya Kak, lupakan saja," lirih Queen merapikan kembali rambutnya.
"Kamu kenapa sih sebenarnya? Kamu benar-benar berubah. Kakak sangat merindukan Queen yang dulu, Queen yang selalu mengganggu Kakak," ucap Kelvin menatap Queen yang sedari tadi hanya terus menunduk.
Queen hanya bisa menggeleng, ia takut saat berbicara Kelvin tahu kalau dirinya sedang menahan isak nya.
"Queen, apa benar yang Gavin katakan kalau kau menyukai Kakak?" tanya Kelvin.
Queen langsung menatap Kelvin mendengar apa yang diucapkan Kakak sepupunya itu.
Setetes air mata kini lolos membasahi pipinya yang sejak tadi di tahan olehnya.
Kelvin menggenggam tangan Queen dan menarik agar ia menghadap padanya. Menghapus air matanya.
"Queen dengarkan Kakak baik-baik, Kita ini saudara, Kakak sangat menyayangimu seperti kakak menyayangi Arsy. Kakak yakin, itu bukan perasaan cinta tapi hanya perasaan sayang Queen kepada kakak. Kakak yakin suatu saat nanti Queen akan menemukan pria yang lebih baik dari kakak." Kelvin menggenggam erat tangan Queen mencoba meyakinkan kalau apa yang dikatakannya itu benar. " Percaya sama kakak." Lanjutnya.
"Maaf Kak, maaf karena telah menyukai Kakak," lirih Queen.
"Itu bukan kesalahanmu Queen, itu wajar jika kau memang menyukai Kakak. Tapi Kakak yakin perasaanmu itu bukanlah cinta tapi hanya sayang," ujar Kelvin mencoba tersenyum dan mencubit hidung Queen.
"Iya Kak," hanya itu yang bisa diucapkan oleh Queen. Dia mengerti arti dari ucapan Pria yang duduk di dekatnya itu. Ia mengerti jika Kelvin tak punya perasaan seperti perasaannya padanya.
"Kita kembali ke acara ya, pasti Mami mencari mu," ajak Kelvin.
Kali ini Queen hanya mengangguk, hatinya benar-benar sakit namun ia mencoba untuk tetap tenang, seperti tak terjadi apa-apa pada dirinya.
Mereka pun berjalan Kembali ke tempat acara, sepanjang jalan pulang Kelvin terus merangkul bahu Queen.
Kelvin terus bercerita tentang apa saja kegiatannya di luar negeri. Kelvin mencoba untuk membuat Queen bisa seperti dulu lagi padanya, menganggapnya seorang kakak seperti dulu lagi.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Mohon dukungannya 🙏
Like, Vote dan komennya 🙏
Salam dariku 🤗
Author m anha ❤️
love you all 💕💕
__ADS_1
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖