Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Papa Mama Muda.


__ADS_3

Sejak pagi Arsy sibuk menyiapkan keperluan dede bayi, itulah sebutan yang disematkan untuk ponakannya. Anak dari kak Arya dan kak Raina.


"Apa benar ,Pah! Dede bayinya sudah mau pulang. Ini bukan alasan Papa aja kan, nggak mau bawa Arsy ke rumah sakit?" tanya Arsy sambil terus merapikan boneka-boneka yang sudah disusun rapi di atas tempat tidur.


"Iya, tadi Papa sudah nelpon bunda, katanya kita nggak usah ke rumah sakit karena dede bayi juga sudah mau pulang."


"Pah! boleh nggak ya, Dede bayinya bobo sama Arsy, kamar Arsy 'kan luas?" ucap Arsy menghentikan kegiatannya.


"Nanti kalau sudah besar baru Dede bayinya tidur sama Arsy, sekarang dede bayi yang masih sangat kecil, masih minum ASI dari mamanya," ucap Bram.


"Gitu ya, Pah." Arsy kembali menyusun boneka yang dibelinya.  "Kok, Bunda nggak mau punya bayi lagi, Pah?" tanya Arsy pelan.


Bram tertawa dan menarik Putri tercintanya itu kepelukan nya.


Apapun yang Arsy inginkan selama ini Bram selalu menurutinya. Namun, hanya satu permintaan Arsy yang tak bisa Bram penuhi, permintaan ingin mempunyai seorang adik dari bundanya.


"Bunda sudah punya kak Arya, Kak Kelvin, kak Gavin dan juga Arsy. Jadi, Papa rasa Bunda sudah cukup punya bayi lagi, kasihan Bunda."


"Iya Pah, Arsy sayang sama Bunda," ucap Arsy memeluk dan mengecup pipi Papanya berulang-ulang.


"Papa juga sangat sayang dan cinta sama Bunda kamu, sama putrinya juga" ucap Bram menggelitik Arsy.


Pagi tadi Arsy dan Bram sudah bersiap-siap akan ke rumah sakit.


Saat  di jalan Mikaila  menelpon jika mereka sudah bersiap-siap untuk pulang dan sebaiknya menunggu di rumah saja. Bram yang tak ingin Arsy merasa kecewa karena telah bersiap-siap dan terlihat begitu antusias akan menjemput Dede bayi, Bram mengajak Arsy ke toko boneka dan mainan untuk anak bayi. Arsy membeli beberapa mainan dan boneka untuk Dede bayinya.


Arsy sangat senang. Ia membeli sangat banyak untuk bayi kecil itu dan sekarang dia sendiri kelelahan mengatur dimana saja harus disimpannya mainan itu.


"Papa, kok kamar Dede bayi kecil sih?" tanya Arsy membandingkan kamar nya.


"Ya kan dedeknya masih kecil, kamar ini cukuplah untuk Dede bayinya."


"Tapi, Pah! Arsy bingung simpan mainannya dimana," keluh Arsy.


Kamar Arsy sangat luas karena dia masih menempati kamar yang berhubungan langsung dengan kamar utama, dimana tempat ketiga kakaknya sewaktu mereka kecil.


Walau sudah memiliki kamar sendiri, tetapi Arsy  selalu tidur bersama dengan papa dan bundanya.


Arsy berdiri dan menatap kamar tersebut. "Akhirnya selesai juga ya, pah!" ucap Arsy berlaga menyeka keringatnya.


"Kita tunggu Bunda dan Dede bayinya di bawah, yuk!" ajak Bram.


"Iya deh, Pah." Arsy dan Bram pun turun ke bawah. Saat menuruni tangga ponsel Bram berdering, itu panggilan dari Mikaila. "Halo Sayang! kamu sudah mau berangkat?" tanya Bram.


"Gimana mau berangkat, Mas. Arya nya masih tidur. Kita semua sudah siap-siap mau pulang eh dianya malah pergi tidur," ujar Mikaila.


"Kok, bisa tidur sih? Dia belum pernah bangun dari semalam?" tanya Bram, tak biasanya anaknya itu bangun hingga siang.


"Bukan, Mas. Semalam itu Arya nggak bisa tidur. Bayinya terus rewel dan maunya digendong dan dipangku sama Papanya. Akhirnya Arya nggak pernah tidur dari semalam. Aku sudah dari tadi membangunkannya, tapi sepertinya dia sangat mengantuk."


"Ya sudah. Jangan dipaksa, biar Mas jemput kalian takutnya kalian kenapa-napa lagi kalau Arya  menyetir saat mengantuk," ucap Bram  kemudian bergegas menuju ke Rumah Sakit bersama dengan Arsy.


Sesampainya di rumah sakit Arsy langsung menghampiri Dede bayinya, mencium kedua pipinya sampai bayi itu menangis.


Mendengar tangisan dari bayi nya, Arya refleks langsung bangun.


"Pah, papa dari tadi datangnya?" tanya Arya melihat papanya sudah ada di sana sambil mengucek matanya, meregangkan otot-otot nya.


"Kami baru sampai, Ayo kita pulang kamu tidur di mobil saja lagi," ucap Bram.


Mereka Pun pulang dengan Bram yang menyetir mobil dan Arya kembali melanjutkan tidurnya.


Saat dalam perjalanan bayi itu juga  tertidur sangat pulas, seperti ia sama dengan papanya. Mereka sama-sama sangat mengantuk.


Arsy selalu mengganggu agar bayi itu terbangun, tapi tetap saja dia bayi itu hanya menggeliat kemudian kembali tertidur di dekapan Raina.


"Kak, nama Dede bayinya siapa?" tanya Arsy pada Raina.


"Kakak juga belum punya nama untuk dedeknya, tanya kak Arya aja ya!" jawab Raina.


Arsy beralih menatap Arya yang tertidur pulas di jok belakang.


"Kak, Kak Arya!  nama Dede bayinya siapa?" Tanya Arsy menggoyang-goyangkan tubuh Arya. Arya tetap saja tidur bahkan ia tidur sambil mendengkur begitu juga dengan bayinya.


Arsy melipat tangan di dada dan mengerucutkan bibirnya, ia merasa kesal. Ia sangat ingin tahu siapa nama Dede bayinya.

__ADS_1


"Arsy punya ide gak buat nama Dede bayinya?" tanya Raina.


"Siapa ya, Kak?" ucap Arsy  berpikir keras, ia memainkan jari telunjuknya di dagunya. Ibu Mikaila yang gemes melihat cucu perempuan itu langsung mencium pipi Arsy yang terlihat sangat menggemaskan saat melakukan ekspresi itu.


Bram juga ikut tertawa melihat ekspresi wajah anaknya yang terlihat serius memikirkan nama buat Dede bayinya.


"Siapa ya, Kak! Arsy ga punya ide!" ucapnya pasrah Saat ia tak memiliki ide untuk nama Dede bayinya.


Sepanjang perjalanan Arsy terus menyebut beberapa nama. Namun, ia sendiri mengatakan jika itu kurang bagus, hingga sampai di rumah tak ada satupun nama yang menurut Arsy cocok untuk adik bayinya.


Saat mobil mereka memasuki gerbang Bu Yanti dan yang lainnya langsung menyambut, berlari menghampiri mobil mereka. Bi Yanti dan yang lainnya juga sangat senang, hari ini  keluarga mereka semakin bertambah.


Mikaila langsung menggendong cucunya masuk ke kamar yang telah mereka siapkan.


"Wah … kamarnya cantik sekali," ucap Mikaila saat masuk ke kamar. 


Kamar bayi itu sudah seperti toko mainan, sangat penuh dengan berbagai macam permainan. Bram sudah mengatakan tentang situasi di kamar itu dan mengatakan jika semua itu adalah ide Arsy dan tak ada yang boleh protes.


Raina bahkan menyingkirkan beberapa boneka agar bayinya bisa tidur di atas tempat tidur yang dipenuhi boneka.


"Gimana, Cantik kan? Banyak kan mainannya? ini Arsy loh yang beli dan menatanya?" ucap Arsy membanggakan dirinya.


"Iya, terima kasih ya, dedeknya pasti senang," ucap Raina.


"Mas, ini kok mainannya banyak sekali sih?" bisik Mikaila pada Bram.


"Udah biarin aja, nanti anak kamu ngambek lagi kalau kau menegurnya."


"Ya sudah, kita pesan lemari untuk boneka dan semua mainan ini. Biar tidak berantakan seperti ini," ucap Mikaila.


"Raina kamu bisa kan mengurus bayi mu? Bunda mau istirahat dulu?" Tanya Mikaila,


"Iya, Bunda. Raina bisa, kok! Ada Kak Arya yang bantuin." jawab Raina.


Sejak semalam Mikaila juga kurang tidur karena selalu membantu Arya. Mikaila terus mengawasi Arya saat menggendong bayinya sambil menutup matanya, takut jika Arya menjatuhkan bayi kecil itu.


Mikaila dan Bram keluar.


Mikaila sangat mengantuk, dia pun ke kamarnya. Walau sudah sangat mengantuk ia tetap menyempatkan diri untuk membersihkan tubuhnya. Mikaila masuk ke kamar mandi, "Sepertinya akan terasa nyaman jika aku berendam di air hangat sebentar," gumam Mikaila melihat bathtub, kemudian ia mengisi air dan memberi aroma favoritnya.


Bram berbaring di atas kasur, "Kenapa Kaila lama sekali di kamar mandi, Apa yang dia lakukan sampai selama ini," gumam Bram yang sejak tadi menunggu Mikaila sambil berbaring di ranjangnya.


Bram duduk dan menatap pintu kamar mandi, menajamkan pendengaran nya. Tak ada suara gemericik air. Bram pun berjalan ke kamar mandi dan betapa terkejutnya saat membuka pintu kamar mandi ia melihat istrinya itu tengah tertidur di dalam dengan sangat pulas nya.


Bram mengunci pintu kamarnya, kemudian kembali ke kamar mandi. Bukannya membangunkan Mikaila Bram justru ikut masuk kedalam bathtub.


 Mikaila terkejut saat merasakan sesuatu yang melingkar di perutnya.


"Mas," pekik Mikaila. "Kamu ngagetin aja," ucap Mikaila memukul pelan lengan Bram.


"Lagian kamu kok tidur di sini, mau mandi berendam kok nggak ngajak-ngajak," ucap bram sudah tak bisa mengkondisikan tangannya.


"Mas, nanti Arsy datang," Ucap Mikaila yang berusaha menghentikan tangan suaminya yang terus menjelajah.


"Mas sudah mengunci pintunya, lagian Arsy lagi sibuk dengan dedeknya. Sudah lama kita tak mandi berdua. Mari kita nikmati kebersamaan kita," ucap Bram semakin menikmati tubuh istrinya.


Mikaila yang juga merasa mereka sudah lama tak mandi bersama, akhirnya menuruti kemauan suaminya. Mereka di kamar mandi berjam-jam. Bukan hanya mandi mereka melakukan sesuatu lebih dari mandi. 


Mereka baru keluar saat makan malam.


Setelah melakukan di kamar mandi Mikaila pun ambruk dia benar-benar kelelahan, semalam tak tidur dan siang hari ia melayani Bram.


Mikaila tertidur pulas, ia baru bangun saat Bram membangunkannya untuk makan malam.


Saat makan malam Kelvin tak ada bersama mereka.


"Kelvin kemana?" tanya Mikaila pada Gavin yang sudah ada di meja makan. 


"Tadi sih di kantor, tapi pulangnya mau jalan sama Natali," ucap Gavin. 


Mendengar jika Kelvin bersama dengan Natali Mikaila tak membahasnya lagi, ia mengerti jika anaknya itu pasti menghabiskan waktu dengan Natali.


Mereka pun makan bersama.  Setelah Arya selesai makan, ia langsung kembali ke kamar bayinya dan bergantian Raina yang turun untuk makan.


"Bagaimana bayi mu? Dia tidak rewel kan?" tanya Mikaila yang tak pernah melihat cucunya itu dari siang tadi.

__ADS_1


"Sedikit rewel Bunda, tapi saat Arya yang menggendongnya dia langsung tenang."


"Sepertinya kak Arya bakalan cuti lagi nih dari kantor," celetuk Gavin.


"Emangnya kenapa kalau kakak kamu cuti, ia kan harus menjaga anaknya. Lagian Kelvin juga sudah bisa membantu kamu, menggantikan Arya untuk sementara waktu. Ada kamu juga kan. kalian bantu Arya dulu menyelesaikan pekerjaannya.Jangan bilang kamu ga mau bantuin kakak kamu?" ucap Mikaila menatap Gavin penuh tanya.


"Ih!  Bunda, siapa juga yang nggak mau bantu kakak. Gavin selalu siap bantu kak Arya kapanpun dan dimanapun. Biar kami aja dulu yang ke Kantor, kak Arya biar fokus sama kak Raina dan bayinya aja dulu," ucap Gavin "Aku kan cuman bilang kalau kakak akan cuti lagi, bukan ga mau bantu dia."


"Udah, kamu nggak usah ngeles! Bunda tahu makna arti dari perkataan kamu itu."


"Iya, Bunda. Bunda emang selalu benar," ucap Gavin.


Raina makan dengan cepat, saat Arya terus memanggilnya dan Bayinya terus menangis.


"Nanti Bunda beliin alat pompa Asi, biar kamu bisa tenang, terutama saat mandi dan makan."


"Iya, Bunda. Bayinya mau menyusu terus. Tadi aja Raina mandinya cuma sebentar," keluh Raina.


"Emang gitu, lama-lama kamu akan terbiasa dan ga akan capek menjalaninya," ucap Mikaila mengambilkan Raina air minum.


"Raina keatas dulu ya Bunda,"


"Pelan-pelan saja naik tangganya."


Kelvin baru pulang saat tengah malam. Saat pulang Kelvin tak langsung masuk. Namun ia memilih untuk duduk di bangku taman. Kelvin kembali terus mencoba menghubungi nomor ponsel Diandra dan juga nomor ponsel teman yang ia minta untuk mencari Diandra.


Kelvin menghela nafas saat ponsel Diandra tidak aktif sedangkan orang yang mencari Diandra juga mengatakan jika ia belum mendapatkan kabar apapun.


Arya melihat Kelvin dari jendela kamarnya, ia melihat Kelvin terduduk sambil menatap ke langit. Arya tahu jika seperti itu pasti adiknya itu sedang dalam masalah.


Arya turun dan menghampiri Kelvin.


"Kamu kenapa?" tanya Arya duduk di samping Kelvin.


Kelvin tak menjawab, dia hanya menghembuskan nafasnya kasar.


"Kamu punya masalah?" tanya Arya.


"Iya, Kak." lirih Kelvin.


"Masalah apa?" tanya Arya.


Kelvin kembali menghembuskan nafasnya kasar dan mengusap wajahnya, menarik-narik rambutnya. Kelvin terlihat sangat frustasi.


"Gavin bilang tadi kamu jalan sama Natali, Apa kalian ada masalah?" pancing Arya agar Kelvin mau bercerita padanya tentang masalah yang sedang ia hadapi.


"Iya, Kak. Tadi aku jalan dengan Natali, tapi kami baik-baik saja. Aku tak ada masalah dengan Natali," jawab Kelvin.


"Lalu apa masalahmu?" tanya Arya mengerutkan keningnya mencoba menyelidiki masalah apa yang tengah dihadapi adiknya itu.


Kevin menunduk dan kembali memukul-mukul kepalanya.


"Kakak benar, alkohol itu bisa merusak segalanya, alkohol bisa membuat kita menjadi orang yang jahat, kita bisa berbuat di luar kendali kita," ucap Kalvin menatap lurus kedepan.


"Apakah kau membuat masalah karena sedang mabuk?!" tanya Arya mulai bernada serius.


Kelvin mengangguk samar.


Arya memijat pelipisnya, sepertinya ia gagal untuk menjaga adiknya itu dari pengaruh alkohol. Ia sudah gagal menjalankan amanah papanya.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Mohon terus mendukung karya ku ini ya, Kak🙏


bisa dengan memberi like, vote, dan komennya 🙏


salam dariku 🙏


Author m anha ❤️🌹


thank you all 💕💕💕


💖💖💖💖💖💖💖🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2