
Begitu mereka semua sampai di Apartemen Kelvin, semua tercengang saat melihat seorang gadis cantik yang membuka pintu untuk mereka. Khususnya Gavin, Gavin sudah tahu jika di rumah itu ada gadis cantik bernama Diandra. Namun, ia tak menyangka ternyata wajah asli Diandra jauh lebih cantik daripada yang sering dilihatnya saat melakukan video call dengan kelvin.
"Silahkan masuk," ucap Diandra gugup saat semua memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan nya.
Mikaila masuk lebih dulu,
"Kamu Diandra kan?" tanya Mikaila.
"Iya, Tante. Aku Diandra, Kak kelvin sedang keluar katanya ada urusan di kampusnya," ucap Diandra.
Mereka semua masuk,
"Siapa gadis ini, apa yang dilakukan di Apartemen Kelvin," batin Natali terus memperhatikan Diandra yang berjalan ke arah dapur, sepertinya gadis itu ingin menyiapkan minuman dan cemilan untuk mereka.
Natali ngeliat Mikaila berjalan ke dapur iapun menyusulnya. Ia ingin mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya. Natali merasa aneh, merasa ada sesuatu yang salah di sini. Mengapa seorang gadis tinggal bersama Kelvin di Apartemen miliknya.
Mikaila membantu Diandra membuat minuman dingin untuk mereka semua begitu juga dengan Natali.
"Ibu kamu masih sakit?" tanya Mikaila.
"Iya Tante, Ibu masih sakit dan belum bisa bekerja, untuk sementara saya yang akan menggantikan ibu."
"Bukannya kamu juga bekerja? Terus apa nggak apa-apa kamu meninggalkan pekerjaanmu?"
"Aku sudah berhenti bekerja di toko dan memutuskan untuk bekerja disini," ucap Diandra.
"Berhenti ... kenapa? Kamu tau kan sebentar lagi Kelvin akan kembali."
Diandra hanya tersenyum menjawab pertanyaan bunda Mikaila.
Diandra berhenti bekerja dari toko sepatu karena dirinya hampir dilecehkan oleh bos-nya sendiri. Sudah lama sebenarnya dia mendapatkan perlakuan yang tidak baik. Namun, Ia terus bertahan demi untuk membantu membiayai kehidupan keluarganya. Saat ibunya sakit ia memilih lebih baik meneruskan pekerjaan ibunya daripada harus terus bertahan di tempatnya bekerja.
Diandra tak mengatakan itu semua kepada ibunya, Ia hanya mengatakan jika ia melakukan kesalahan dan dipecat dari pekerjaannya. Ibu pun menyarankan jika ia melanjutkan pekerjaannya di rumah Kelvin, karena ia sendiri sudah tak sanggup untuk bekerja lagi.
Ibu Diandra mengalami penyakit yang cukup serius. Namun, mereka tak memiliki biaya dan hanya dirawatnya di rumah.
"Apa kamu sudah mempunyai pekerjaan lain?" tanya Mikaila.
"Aku sudah mencari pekerjaan lain, tapi sampai sekarang belum dapat pekerjaan yang cocok," Diandra tersenyum menatap Bunda Mikaila, ia bisa merasakan jika Ibu dari majikannya ini sangatlah baik.
Mereka terus berbincang-bincang, walau baru pertama bertemu. Mikaila merasa sudah akrab dengan Diandra, setiap ia melakukan panggilan pada Kelvin mereka sering membahas tentang Diandra.
"Siapa sih sebenarnya Diandra ini, dari tadi kenapa dia terlihat begitu akrab dengan Bunda," batin Natali.
Mikaila yang menyadari sikap Natali yang sepertinya tak suka melihat Diandra memperkenalkan mereka.
"Natali, perkenalkan ini Diandra. Dia anak dari Ibu Sulastri dan ibu Sulastri itu bekerja disini. Berhubung ibunya sedang sakit, Diandra yang menggantikannya," jelas Mikaila yang tahu jika Kelvin dan Natali mempunyai hubungan.
"Hai, perkenalkan aku Natali" ucap Natali mengulurkan tangannya Dan disambut oleh Diandra.
"Aku Diandra," ucap Diandra dengan senyuman di wajah cantiknya.
Walau Natali sudah tahu siapa Diandra. Masih ada perasaan cemburu di hatinya, selama ini Kelvin tak pernah membahas jika ada seorang gadis cantik yang bekerja di rumahnya.
Natali mengakui jika Diandra adalah gadis yang sangat cantik.
Mereka menyiapkan minuman dan cemilan untuk semua keluarga, Mikaila juga memperkenalkan diantara kepada keluarga besarnya.
Selang beberapa waktu Kelvin datang dan langsung ikut bergabung dengan yang lainnya.
__ADS_1
Begitu Kelvin datang, Diandra langsung pamit.
"Sebentar, Diandra. Ikut Bunda ke kamar, Yuk! ucap Mikaila memanggil Diandra ke kamarnya.
Diandra menuruti apa yang dikatakan oleh Mikaila dan ikut berjalan di belakangnya.
Mikaila mengambil sebuah amplop dan memberikannya kepada Diandra.
"Apa ini Tante?" tanya Diandra.
"Panggil saja Bunda, ini untuk ibu kamu. Semoga ibu kamu cepat sembuh," ucap Mikaila memaksa Diandra menerima uang itu.
"Terima kasih, Bunda. Ini sangat berarti buat Diandra dan ibu." Diandra menerima pemberian Mikaila, ia memang sangat membutuhkan uang untuk pengobatan ibunya.
Keesokan harinya acara wisuda Kelvin berlangsung dengan sangat lancar, Kelvin mendapat gelar cumlaude.
Bram dan Mikaila sangat bangga melihat Kelvin ke atas panggung dan dinyatakan memiliki nilai tertinggi diantara semua peserta wisuda.
Acara berlangsung dengan sangat meriah, seluruh keluarga Wijaya ikut bahagia dengan pencapaian Kelvin.
Disaat keluarga Wijaya sedang bersenang-senang merayakan kelulusan Kelvin, Diandra justru menangis di lorong rumah sakit sambil memeluk Clara yang juga menagis hingga sesegukan.
Setelah mendapat uang dari Mikaila, Diandra pulang dengan hati yang gembira, tujuannya malam ini adalah membawa ibunya ke rumah sakit dengan uang yang dipegangnya.
Begitu sampai di rumah, ia mendengar suara Clara yang sedang menagis memanggil- manggil ibunya.
Dengan cepat Diandra berlari masuk ke rumah dan melihat Clara duduk di samping ibunya sambil menangis dan terus menggoyang-goyangkan tubuh ibunya.
"Ibu" lirih Diandra. Uang yang dipegangnya tanpa sadar terjatuh ke lantai, dengan pelan Diandra berjalan menghampiri ibunya.
Diandra memegang tangan ibunya yang begitu dingin. "Bu, Ibu bangun," ucap Diandra dengan suara bergetar.
Clara hanya menggeleng dan terus menangis.
Walau Diandra sudah tahu jika ibunya sudah meninggal, ia tetap membawa ibunya ke rumah sakit.
Begitu sampai di rumah sakit dokter menyatakan jika Ibu mereka sudah meninggal beberapa jam yang lalu.
Uang yang seharusnya dipakai untuk mengobati ibunya kini di menggunakannya untuk pemakaman.
Diantara dan Clara hanya berdiri mematung memandang pusara ibunya yang sudah beristirahat dengan tenang di samping makam ayahnya.
"Kakak, bagaimana sekarang ibu sudah tidak ada?" tanya Clara disela Isak tangisnya.
"Kakak juga nggak tahu, Dek." Hanya itu yang bisa diucapkan Diandra menjawab pertanyaan adiknya.
"Apa kita minta bantuan kak Kelvin saja?" usul Clara.
Diandra menatap kearah adiknya itu, perkataan Clara ada benarnya. Kelvin selama ini menganggap mereka sudah seperti keluarga sendiri dan kemarin ia bisa melihat kehangatan keluarga Kelvin, Bundanya juga sangat baik.
"Kamu benar, Dek. kakak akan coba minta bantuan kepada kak Kelvin, mungkin saja ia bisa membantu kita dan memberikan Kakak pekerjaan," ucap Diandra, ada setitik cahaya masa depan untuk mereka berdua.
Diandra baru berusia 20 tahun,Β pendidikannya sangat minim. Ia hanya bisa bekerja paruh waktu dari toko ke toko atau hanya sebagai tukang bersih-bersih membantu pekerjaan ibunya. Sedangkan Clara baru berusia 8 tahun.
Kini mereka tak punya siapa-siapa lagi, hanya mereka berdua tanpa keluarga. Tanpa kedua orang tua.
****
Di kampus.
__ADS_1
Saat sedang menikmati kelulusan Kelvin, Anindita mendapat telepon dari Arya, jika Raina sudah merasakan kontraksi.
"Benarkah?, cepat bawa Raina ke rumah sakit, Tante akan menelepon beberapa dokter kandungan untuk membantu kalian. Kami akan pulang sekarang juga," ucap Anindita pada Arya yang terdengar sangat panik.
Mendengar kata rumah sakit dan Raina mereka langsung menatap Anin dengan tatapan penuh tanya.
"Sepertinya Raina akan melahirkan, sebaiknya kita pulang sekarang?" ucap Anindita.
Semua langsung panik, Khusus Mikaila.
Semua langsung bergegas pulang, beruntung mereka memiliki pesawat pribadi yang siap membawa mereka kapan saja mereka butuhkan.
Kelvin masih tetap tinggal, masih ada beberapa yang harus diurusnya sebelum ia benar-benar kembali ke negaranya.
Kelvin mengantar mereka semua ke bandara, Setelah keluarganya benar-benar pergi Kelvin melanjutkan acara perpisahannya dengan teman-teman kuliahnya. Malam ini adalah malam terakhir meraka bisa bersama. Mereka semua menghabiskan waktu di klub malam.
Kelvin yang sudah lama meninggalkan alkohol kembali meminumnya, ini untuk yang terakhir kalinya." pikir Kelvin dan mulai mengisi gelasnya dengan minuman beralkohol.
Diandra dan Clara menunggu Kelvin di Apartemennya. Hingga tengah malam Kelvin tak juga pulang.
"Kak, Clara ngantuk." ucap Clara mengucek matanya.
"Kamu tidur aja, nanti Kakak bangunkan jika kak Kelvin sudah datang" ucap Diandra.
Lama menunggu Kelvin tak kunjung datang,
Diandra melihat jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi, Clara sudah tertidur di sofa.
Baru saja di anda akan tidur, ia mendengar suara pintu terbuka.
"Sepertinya kak Kelvin sudah datang," ucap Diandra dengan cepat bangun dan menghampiri Kelvin.
Kelvin berjalan gontai menuju kamarnya.
"Kakak baru pulang?" siapa Diandra.
Kelvin berbalik dan menatap Diandra. Karena pengaruh alkohol Kelvin bukannya melihat Diandra, Kelvin justru melihat Natali lah yang sedang menyapanya.
"Natali, kau masih di sini?"
Diandra mematung, saat menyadari jika Kelvin sedang mabuk dan menatapnya dengan aneh.
Diantara berbalik dan ingin pergi. Namun, Kelvin dengan cepat menahan tangannya. Membawanya masuk dalam kamar.
Kelvin yang sudah dikuasai alkohol dan merasakan sangat merindukan Natali, langsung menyalurkan semua rasa rindunya yang selama ini dipendamnya. Diandra tak bisa berbuat apa-apa saat Kelvin terus berusaha menyalurkan hasratnya.
ππππππππππππππππ
Terima kasih sudah membacaπ
terus dukung ya karya Pilihan Kuπ
bisa memberi dukungan dengan cara memberi like dan vote serta mohon beri komennya setiap bab nya.π
Salam darikuπ€
Author m anhaβ€οΈ
Thank you all.πππ
__ADS_1
ππππππππππππ