Pilihan Ku

Pilihan Ku
Ada Hati yang Terluka


__ADS_3

Bram duduk bersandar di sandaran tempat tidur,ia bisa melihat kasih sayang yang Zaky terima dari Zahra dan Randy.


"terimakasih pak,anda mau menolong Zaky,aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika anda tak bersedia membantunya."ucap Zahra menghampiri Bram.


Bram hanya mengangguk dan tersenyum,ia bingung harus menjawab apa.


Randy ikut menghampiri mereka.


"saya juga berterimakasih atas bantuan anda,Zaky sudah seperti anak kandung saya sendiri.


"siapa saja yang tau masalah ini,?"tanya Bram.


"hanya kita saja pak,"jawab Randy.


"tolong rahasiakan semua ini dari istri ku.,"


"tentu saja masalah ini akan kami rahasiakan selamanya."jawab Randy meyakinkan Bram.


"Buukk",,,terdengar suara benda jatuh dari balik pintu,semua melihat ke arah pintu.


"ada apa itu,,"ucap Zahra berjalan ke arah pintu.


Randy kembali menemani Zaky yang sudah sadar.


Bram mengambil ponselnya,ia melihat banyak panggil disana.


Panggil dari Mikaila,bi Yanti dan Yoga.


"kenapa bi Yanti dan Yoga memanggil ku hingga berkali-kali."gumam Bram sambil melihat tiga pesan.


Pesan dari Mikaila yang menanyakan kabarnya,


"maaf aku sedikit sibuk dan baru lihat pesanmu.aku baik-baik saja,nanti aku telfon."ketik Bram pada balasan untuk pesan dari Mikaila.


"Mikaila ke Batam"Bram menyatukan alisnya membaca pesan dari bi Yanti.


"Mikaila sepertinya tau kalau kamu ke Batam untuk operasi Zaky,"isi pesan Yoga.


Mata Bram melebar membaca pesan dari Yoga.


"Mikaila,"pekik Zahra saat membuka pintu dan melihat Mikaila pingsan di sana.


"Mikaila"ucap Bram melihat ke arah Zahra,ia bisa melihat Mikaila terbaring di sana dan ia juga melihat Yoga dan Anindita kakak nya berlari ke arah Mikaila pingsan.


Nyawanya seakan melayang meninggalkan tubuhnya,Bram langsung mencabut infus yang masih terpasang di tangannya berlari menghampiri wanita yang kini terkulai lemah di lantai rumah sakit.

__ADS_1


"sayang bangun sayang,"Bram langsung membawa Mikaila ke pelukannya,hatinya bagai tersayat pisau saat melihat wajah pucat dan tubuh dingin Mikaila.


Randy langsung memanggil dokter.


"bawa kedalam,"ucap Anindita yang baru sampai dan melihat keadaan Mikaila.


Anindita memasangkan oksigen yang tersedia di sana,ia melakukan beberapa pertolongan pertama sambil menunggu dokter datang.


Bram terus memegang erat tangan istrinya itu.Lagi lagi kesalahannya telah menyakiti hati istrinya.


Dokter datang dan langsung memeriksa kondisi Mikaila dengan teliti,memasang infus di tangannya.


"bagaimana keadaan Dok?"tanya Anindita pada dokter yang kebetulan adalah kenalannya.


"ia sudah membaik,tubuhnya sangat kelelahan,dan kekurangan banyak cairan.sepertinya beberapa hari ini asupan makanannya kurang baik dan begitu juga dengan pola tidurnya."jawab Dokter itu.


"dan ia mengalami syok dan tingkat stres yang tinggi."tambah Dokter.


"terimakasih Dokter,"ucap Anindita saat dokter tersebut meninggalkan mereka.


Anindita menatap Bram tajam,


"ada apa sebenarnya ini Bram,kenapa istrimu bisa dalam kondisi ini,"ucap Anindita sudah sangat emosi.


Bram tidak menjawab,ia mengusap wajahnya kasar.Dadanya sangat sesak,ia tak mengira Mikaila akan tau masalah ini dengan sendirinya,ia pasti sangat sakit hingga jatuh pingsan.Bram tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada rumahtangganya nanti.


Bram hanya duduk di dekat Mikaila, terus diam sambil menggenggam erat tangan istrinya sesekali mengecup dan membawa ke dadanya,mengelus pipi putih mulus yang terlihat sangat rapuh, pandangan nya tak pernah lepas dari wajah sang istri.pikiranya melayang entah kemana.


Hatinya perih ingin rasanya ia menangis sekencang-kencangnya meluapkan segala sesak di dadanya.


Bram mengeraskan rahangnya berusaha menahan rasa sakit di dada yang tiba-tiba menyebrang nya, setetes air mata lolos dari pelupuk matanya.Bram mengusapnya kasar air matanya itu dan terus mengelus-elus pipi Mikaila berharap ia cepat membuka matanya.


"Ibu Zahra ada apa ini sebenarnya?" tanya Anin pada Zahra yang masih berdiri mematung di dekat pintu.Ia masih syok melihat Mikaila bisa ada di rumah sakit ini .


Bagaimana pun ini semua bermula karena kesalahannya yang ia perbuat di masa lalu.


Anindita kembali menanyakan pertanyaan yang sama pada Zahra karena tak mendapat jawaban dari Bram dan yoga.namum semua tetap diam,tak ada yang menjawab.


Zahra menghampiri Randy yang menemani Zaky.Memegang erat tangan suaminya mencari pertolongan.


Randy hanya mengusap lembut tangan Zahra mencoba menenangkan nya.


Randy tak bisa berbuat apa-apa, istrinya memang salah dalam hal ini.


Tatapan Anin beralih pada anak kecil yang berbaring di ranjang pasien, karena tak mendapat jawaban ia berjalan dan mengambil hasil laboratorium yang ada di atas meja,ia membaca dan memeriksa Semua berkas yang ada di sana.bahkan hasil tes DNA Bram dan Zaky juga ada di sana.

__ADS_1


Anin berjalan menghampiri Bram membawa hasil tes DNA.


"bisa kamu jelaskan ini Bram,?"tanya Anindita berapi-api.


Bram tetap diam.


"apa anak itu adalah darah daging mu,?"tanya Anin lagi,kali ini ia memaksa Bram menatap wajahnya.


Bram tak bisa berkata-kata lagi ia hanya mengangguk menjawab pertanyaan kakak nya.


"plakkk,"satu tamparan keras mendarat di pipi Bram,semua tersentak melihat kejadian itu termasuk Yoga yang sedari tadi berdiri diam disana.


Anin sangat marah dengan kelakuan adiknya itu.


"Bram lihat dia,"tunjuk Anindita pada Mikaila yang masih menutup matanya.


"lihat wanita yang sudah kau nikahi dengan nama Allah, wanita yang memberimu tiga orang putra.Lihat dia bram,apa pernah sekalipun iya melanggar aturan mu,menghianati cintanya pada mu.


Apa pernah sekali saja ia mengatakan tidak padamu ha,,,"cerca Anin kepada Bram.


Hati Bram semakin sakit mendengar perkataan Kakaknya.


"Bram kakak ga nyangka kamu bisa melakukan semua ini, kalau kakak ga lihat semua ini kakak akan pasang badan untuk kesetiaan dan ketulusan kamu.Kakak malu punya adik kaya kamu Bram."ucap Anin mulai berkaca-kaca.


Tak satu katapun keluar dari mulut Bram.


"mba sabar dulu,ini ga seperti yang mba kira."ucap Yoga membela Bram.


"kamu juga,kamu sudah tau kalau semua ini salah,kenapa kamu tak menghentikan semua ini dari awal."ucap Anin menatap Yoga.


"bukan seperti itu mba,kami bisa menjelaskan semua ini,"ucap Yoga dengan suara pelan.nyalinya menciut saat melihat tatapan Anindita.


"jangan bilang kamu juga menghianati adikku Aran."tunjuk Anin pada Yoga.


"tidak mba,"jawab Yoga cepat.


Yoga memilih untuk mudur dari masalah ini,ia tak ingin memperkeruh suasana atau malah ikut terbawa masalah.


Mikaila perlahan membuka matanya,Bram yang sejak tadi tak pernah melepas pandangannya dari Mikaila langsung menghampirinya.


Terimakasih sudah membaca πŸ’—πŸ™


Jangan pelit kasih like dan votenya doankπŸ™πŸ˜‰


"Menerima masukan"🀭🀭🀭

__ADS_1


__ADS_2