Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Tak ingin menyarah.


__ADS_3

Kediaman Abraham Wijaya


Bram terbangun saat dadanya terasa sakit, ia melihat Mikaila masih terlelap dalam tidurnya.


Bram mengambil air yang ada di meja,


"Ada apa denganku ,"batin Bram terus menekan dadanya, ia bahkan kesulitan untuk bernafas.


Bram mencoba untuk tidur namun rasa sakitnya semakin terasa, ia kemudian mengirim pesan kepada kakak iparnya Pak Surya mengenai apa yang sedang ia rasakan.


Pak Surya menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya, Bram terlalu sibuk mengurus perusahaan sehingga sudah lama ia tak pernah memeriksakan kondisi tubuhnya.


Hari ini ada rapat yang sangat penting dan Bram selaku pimpinan perusahaan harus menghadirinya.


Walau masih merasa sesak di dadanya, Bram tetap memaksa diri untuk berangkat ke kantor, kali ini ia meminta Dika untuk menjemputnya. Iya sudah tak kuat membawa mobil apalagi Arsy juga ikut bersamanya.


"Mas nggak apa-apa, wajah mas pucat sekali," ucap Dika memperhatikan wajah Bram.


"Enggak apa-apa, kita ke kantor sebentar lagi meeting akan dimulai," ucap Bram.


Dika melajukan mobilnya menuju ke kantor , rapat dimulai. Sepanjang rapat Bram terus memegang dadanya, Dika terus memperhatikan Bram dengan rasa khawatir.


Sepulang kantor Bram minta Dika untuk mengantarnya ke rumah sakit, Pak Surya sudah menunggunya di sana.


Setelah melakukan beberapa pemeriksaan pak Surya menyatakan jika jantung Bram tidak dalam kondisi baik.


"Bram sebaiknya kau berhenti dari perusahaan, kondisimu sudah tidak sekuat dulu. Arya seperti sudah bisa menggantikan posisimu,"ucap Surya .


"Seberapa parah penyakit ku?" tanya Bram.


"Jika kau rutin mengkonsumsi obat dan menjaga pola makan serta tidak terlalu kelelahan kau bisa mengontrol kesehatanmu dan semuanya akan baik-baik saja,"


"Aku minta mas merahasiakan penyakit ku dari siapapun," pinta Bram,


"Aku tidak keberatan jika kau rahasiakan dari semua keluarga, tapi sebaiknya kamu memberitahu istrimu," saran pak Surya .


"Justru aku ingin dia tak mengetahuinya, aku hanya tak ingin melihatnya bersedih, Aku akan berusaha menjaga kesehatan ku, jadi aku mohon tetap rahasiakan ini dari siapapun."


"Baiklah," Pak Surya menuliskan resep obat dan memberikannya kepada Dika.


Sepanjang perjalanan Bram hanya bersandar dan menutup matanya, membuat Dika menjadi tambah khawatir.


"Mas yakin nggak apa-apa ?" tanya Dika.


"Hhmm, aku baik-baik saja," ucap Bram.


Malam hari Bram meminta Arya ke ruangannya, "Ada apa-apa pah? tanya Arya.


"Kau sudah bisa melihatkan kondisi Papa saat ini tidak sekuat dulu lagi, Papa harap kamu bisa menggantikan posisi Papa di Perusahaan,"

__ADS_1


"Iya Pah, Arya akan berusaha," Jawab Arya.


"Jika kau kesulitan ada Dika yang akan selalu membantu, Kau bisa percaya sepenuhnya padanya. jika terjadi sesuatu kepada Papa tolong kau jaga adik-adik dan bunda mu,"


"Maksud Papa apa ? Papa baik-baik saja kan ?" tanya Arya khawatir mendengar ucapan Papanya.


"Papa baik-baik saja, Papa hanya menyampaikan ini padamu, kita tidak tahu kapan Papa akan dipanggil," ucap Bram mencoba tersenyum menghilangkan kekhawatiran putranya itu.


"Papa pasti akan sehat-sehat saja,"


"Papa ini sudah tua, kondisi Papa sudah semakin melemah tak sebugar dulu, Papa hanya ingin kau bersiap dalam segala hal. Baik untuk perusahaan maupun keluarga kita. Tolong kau jaga bunda untuk papa."


"Pah, Arya yakin Papa akan baik-baik saja, Papa pasti bisa jagain Bunda," ucap Arya,


"Papa mau istirahat dulu, belajarlah kau punya tanggungjawab yang besar kedepannya." ucap Bram menepuk bahu Arya lalu berjalan menuju kamarnya.


Arya terus memperhatikan Papa nya yang berjalan pelan seperti menahan rasa sakit,


"Ada apa dengan Papa, apa Papa sedang sakit dan menyembunyikan penyakitnya," batin Arya.


Malam hari Bram kembali terbangun karena rasa sakitnya, ia mengambil obat yang ia sembunyikan. Bram tak ingin Mikaila tahu jika sekarang ia sedang sakit, setelah meminum obat ia merasa lebih baik, Bram terus menatap wajah Mikaila yang tertidur pulas,


"Maafkan mas, jika mas tidak bisa menjagamu lebih lama," batin Bram.


Pagi hari saat sarapan, Bram memperhatikan semua wajah anak-anaknya yang terlihat ceria,


"Papa tidak ke kantor?" tanya Arsy.


"Iya Pah, sebaiknya Papa di rumah saja, biar Arya yang mengurus pekerjaan di kantor. Arya akan berusaha menjalankan perusahaan dengan baik."


Bram mengangguk mengiyakan perkataan Arya,


"Kelvin tolong kau bantu kakakmu ya,"


"Iya Pah," jawab Kelvin.


"Gavin, sesekali pergilah ke kantor. Cobalah ikut membantu kakak-kakak mu di kantor,"


"Iya Pah," jawab Gavin


"Kalau Arsy besar nanti, Arsy juga ingin bekerja di kantor bantuin kakak," ucap Arsy.


"Tentu saja harus, Arsy harus menjadi wanita yang hebat , harus bisa lebih sukses dari Papa," ucap Bram mengelus rambut Putri tersayangnya.


Mereka makan dengan lahap, tak ada yang menyadari jika sejak tadi Bram sedang menahan rasa sakit di dadanya.


Sudah beberapa hari ini Bram tak bekerja, Ia menuruti semua apa yang dikatakan oleh Pak Surya dan rutin meminum obatnya .


Bram kembali meminta Dika mengantarnya untuk check up ke dokter.

__ADS_1


"Bagaimana Mas, gimana kondisiku sekarang ," tanya Bram setelah melakukan beberapa pemeriksaan oleh Pak Surya .


"Kondisimu jauh lebih baik dari sebelumnya, terus pertahankan seperti ini dan hindari memikirkan hal-hal yang bisa memicu penyakit mu, apa kau masih merasa sakit?" tanya Pak Surya


"Rasa sakitnya tidak terlalu begitu sakit lagi, saat malam pun aku sudah bisa tidur dengan nyenyak,"


"Syukurlah terus minum obat mu, jangan pernah telat untuk meminumnya," ucap Surya


*****


Hari ini Raina mengunjungi kediaman Abrahan,


Ia mengabiskan waktu bersama Bunda dan Arsy.


Bram manggil Raina keruangan nya,


"Raina, Bagaimana keadaan kamu?" tanya Bram,


"Baik pah,"


"Kamu suka tinggal tempat barumu?"


"Iya Pah, terima kasih. Tempatnya sangat nyaman," ucap Raina.


"Oh ya bagaimana keadaan Natali?" tanya Bram


"Natali baik-baik saja, ia masih terus bekerja di toko bunga. Aku sudah memintanya untuk berhenti tapi ia tetap melakukannya," jawab Raina.


"Kalau dia memang nyaman untuk bekerja di sana, biarkan saja."


"Iya Pah,Natali ingin belajar mandiri."


"Kemarin aku mendapat kabar dari Alex jika ia menemukan jejak tentang Jessica," ucap Bram.


"Benar Pah, Kak Jessica bisa ditemukan?" tanya Raina antusias mendengar nama kak Jessica.


"Papa belum bisa memastikan, Alex masih terus menyelidiki nya, ada yang pernah melihatnya, Alex sedang mencari lokasi tepatnya tempat Jessica."


"Terima kasih ya Pah, Raina sangat berharap bisa berkumpul kembali bersama Kak Jessica," ucap raina.


"Papa akan usahakan untuk terus mencarinya, bersabarlah,"ucap Bram


🙏💖💖💖💖🙏💖💖💖💖🙏


Terima kasih sudah membaca jangan lupa beri like dan komennya.


tetap semangat


salam dari ku m anha.

__ADS_1


💖💖💖💖💖💖💖🙏💖💖💖💖💖💖💖


__ADS_2