
Sore hari semua berkumpul di rumah besar.Seperti biasa mereka akan datang Sabtu sore dan pulang Minggu sore.
Bram dan yang lainnya berbincang-bincang di ruang keluarga,sedangkan Mikaila memilih duduk di tepi kolam renang bersama Arabela dan Isabela.Meraka asyik berbincang-bincang,terkadang Isabela menanyakan tentang kakak Mikaila.
"Tante di kak Jabbar kerja apa?"
"sekarang si lagi sibuk di bengkel,soalnya mas Bram merenovasi bengkelnya,"kata Mikaila sambil bermain air.
"Dia dah punya pacar belum Tante?"
"kakak itu setahu aku ga pernah pacaran,pernah sih dia itu deketin cewek tapi ga sampai pacaran deh,"katanya menjelaskan.
"kamu naksir ya Isya?"kata Bela.
"emang kalau ia kenapa?ga ada larangan kan tante?"
"iya sih,"jawab Mikaila singkat.
"eh,kita buat grup WhatsApp keluarga yuk,"usul Arabela mulai membuka aplikasi di ponselnya.
"Iya, masukin no WA kak Jabbar juga."seru Isabela.
Arabela pun mulai membuatnya,iya memasukkan seluruh kontak keluarga Wijaya dan meminta kontak keluarga Mikaila.
Mereka foto bertiga dan menjadikannya foto profil.
Ting,
Pesan pemberitahuan masuk kepada semua grup.
Beberapa dari mereka hanya mengirim balik pesan balasan"👍🤗😍🙂😘".
"tengah paling cantik"balas Bram.
Mengomentari foto profil,ditengah adalah Mikaila.
"baju mereh paling imut"Balas Jabbar.Yang di maksudnya adalah Isabela.
Isabela histeris membaca pesan Jabbar dan memamerkannya kepada Arabela.
"semua cantik"Balas ibu.
"baju biru paling gendut,"tulis Arabela menggoda adiknya.
"😭😭😡😡,"balas Arabela.
"😂😂😂 setuju,"balas Anindita.
"pasti anak ibu bahagia,pipinya makin tembem aja,"balas ibu Mikaila.
"👍"balas Bram.
"mas Bram sama ibu sama aja bilang pipi aku tembem, bilang aja kalau aku gendut 🥺,"balas Mikaila.
"iya dek kamu memang makin gendut 🤣,"balas Bram.
"🙏🙏😘,*balas Bram.
Mereka pun saling ledak dan saling tanya kabar di grup keluarga itu,berbeda dengan Isabela ia chat di WA pribadi Jabbar..
Pagi hari sesudah sarapan mereka bersiap untuk bermain bola kasti di halaman belakang.
Mereka di bagi menjadi 2 kelompok, kelompok Bram dan kelompok Yoga. Bram dan Mikaila di kelompok yang sama.
Hanya nenek,ayah dan ibu Bram yang tidak ikut bermain.Mereka hanya duduk di Gasebo melihat keceriaan anak-anak mereka.
Permainan di mulai mereka sangat bersemangat berlarian ke sana kemari,
Mikaila memegangi perutnya,ia merasa sakit di bagian bawah pusarnya.
"mungkin karena mau haid"batinnya dan melanjutkan permainan.
Babak pertama di menangkan oleh kelompok Yoga,Bela sedikit protes dengan kekalahannya,ia berada di kelompok Bram.
"Mas babak ini kita harus menang,"semangat Arabela.
__ADS_1
"semangat"ucap tim Bram.
Permainan kembali di mulai, namun saat giliran Mikaila yang memukul bola, tiba-tiba perutnya kembali sakit dan kali ini ia benar-benar tidak bisa di tahannya.
Mikaila menjatuhkan pemukul bola kasti nya dan berjongkok memegangi perutnya.
Ia meringis kesakitan.
Arandita yang sudah bersiap melempar bola berlari mendekati Mikaila.
"Kamu kenapa dek?"tanya Arandita.
"ga tau mba perut aku sakit banget,"jawabnya mulai menangis.
Arandita memanggil Bram,semua yang melihat kepanikan mereka berdua berlari mendekatinya.
"Ada apa sayang,"tanya Bram yang melihat wajah Mikaila sudah pucat.
"mas perut aku sakit,"keluhnya sambil menagis menahan sakit.
"Bawa masuk dulu dek,"kata Anindita.
Namum saat Bram akan mengangkatnya ia merasa ada yang aneh di tangannya saat menyentuk celana Mikaila,ia melihat telapak tangannya dan melihat darah Mikaila disana.
"mba,,"ucapnya menatap kakaknya Anindita yang seorang dokter kandungan dan kembali menatap istrinya yang terus meringis kesakitan.
"ke mobil mba,kita harus cepat bawa ke rumah sakit"
Bram langsung menggendong Milaila menuju mobil kakaknya,Yoga dengan sigap mengambil alih kemudi Arandita pun ikut masuk ke dalam mobil.
Anindita yang memang seorang Dokter kandungan dengan sigap memberikan pertolongan kepada Mikaila.
Milaila terus merintih kesakitan dan mencengkram lengan Bram,Bram bisa merasakan tangan Mikaila bergetar menahan sakit.
"jangan di tekan "ucap Anin saat tangan Mikaila ingin memegang perutnya,
"sakit banget mba,"
"tahan ya sayang, sebentar lagi kita sampai ke rumah sakit,"ucap Bram menenangkan Mikaila.Ia menggenggam tangan dan mengusap pelan perut Mikaila.
Keluarga yang lain juga menuju ke rumah sakit dengan mobil lainnya.
"sudah lah Bu,kita doakan saja semua baik-baik saja,Anin pasti berusaha menolongnya,"kata ayah menenangkan.
"sebenarnya ibu sudah curiga kalau mungkin saja dia hamil yah,dia kelihatan lebih berisi sekarang."
Ibu Bram terus mengomel di sepanjang jalan menuju ke rumah sakit,ia sangat geram dengan ketidak pekaan putranya itu.
Mikaila langsung di tangani Dokter-dokter terbaik di rumah sakit tempat Anin dan suaminya bekerja,dan rumah sakit itu salah satu milik keluarga Wijaya.
Semua keluarga menunggu dengan cemas di depan pintu perawatan Mikaila.Bram tidak tenang ia terus mondar-mandir layaknya setrikaan, sedangkan ibunya terus mengomelinya tanpa henti.
Tak ada yang berani menegur mereka,mereka cemas namun merasa lucu melihat seorang Abraham Wijaya pengusaha sukses mendapat Omelan layaknya anak kecil.
Anindita keluar dari ruangan perawatan,semua menatapnya penuh tanya,
"mba bagaimana keadaan Mikaila?"Bram dengan cepat menghampiri kakaknya itu saat pintu kamar rawat itu terbuka.
Bukanya menjawab Anindita langsung menjewer telinga Bram.
"kamu ya dek,ini bukan kali pertamanya kamu menikah dan punya anak,masa kamu ga tau kalau Mikaila hamil,untung aja bayinya masi bisa di selamatkan."
Semua bernafas lega mendengar ucapan Anindita, termasuk Bram.
"makasih mba,"
"Mikaila harus banyak istirahat,di usian yang masih sangat muda dan pendarahan tadi sangat rawan baginya mengalami keguguran.Usia kandungannya baru 3 Minggu,"penjelasan Anin.
"sebaiknya Kaila di rawat di rumah aja,"kata ibu masi kesal,"
"ga usah Bu, Bram akan jagain Mikaila dengan sangat baik."
"ibu ga percaya,kapan Mikaila boleh pulang?"
"sebaiknya dirawat di sini 2 hari Bu,agar lebih mudah di kontrol,"jawab Anin.
__ADS_1
"ya udah kalau sudah boleh pulang kamu urus kepulangannya kerumah ibu aja,"
"tapi Bu"protes Bram.
"ibu ga mau dibantah".
Bram hanya bisa dibantah mendapat tatapan tajam dari ibu dan kedua kakaknya.
Mikaila di pindahkan ke ruang rawat inap.
Semua keluarga baru meninggalkan rumah sakit saat menjelang magrib.
Bram dengan setia menemani istri tercintanya.
"mas,maafin Kaila ya."ucap Kaila
"kamu ga salah sayang,"ucap Bram menggenggam tangan Mikaila.
"aku dah nyakitin anak aku sendiri,"
"mas yang seharusnya minta maaf sayang,ga bisa jagain kalian,"
"aku benar-benar ga tau mas kalau aku lagi hamil,"
"itu wajar sayang,ga usah di bahas lagi ya yang penting sekarang bayi kita baik-baik saja.Dia pasti akan jadi anak yang kuat."ucapnya mengelus perut Kaila yang masi rata.
Anindita masuk membawa makan untuk mereka,ia masih berada di rumah sakit karena bertepatan dengan piket nya.
"kamu kenapa bisa ga tau sih dek kalau istri kamu lagi hamil,emang ga ada tanda-tanda kehamilan ya?"tanya Anin sambil memberikan makanan kepada Bram.
"dia selalu makan sisa aku mba,hanya itu aja,aku ga kepikiran kalau dia lagi hamil.Dulu Inanti saat hamil sering muntah-muntah dan mengeluh pusing,"
"aku bukan Inanti mas aku Mikaila,"ucap Mikaila sedikit kesal.
"maksud mas bukan gitu sayang,"
"mas,aku ngantuk mau tidur,"menarik selimut dan membelakangi Bram.
"makan dulu ya," tak ada jawaban dari Mikaila.
Bram melihat ke arah Arandita meminta bantuan,ia bingung harus bagaimana.
Arandita hanya mengangkat bahu.
"sayang makan dulu ya,nanti perut kamu sakit lagi,".ucap Bram ragu.
"dek mba keluar dulu ya ,nanti mba kesini lagi.Makan ya biar cepat sembuh,"
"iya mba,makasih."berbalik sambil menghapus air matanya.
"kamu jangan banyak pikiran ya,kasian bayi kamu,"
Mikaila hanya mengangguk mengiyakan.
Anin memukul lengan Bram sebelum keluar.
Mikaila kembali ingin membelakangi Bram namun di tahan oleh Bram.
"sayang mas ga bermaksud membandingkan kamu dan Inanti,"ucap Bram mengusap air mata Kaila.
"aku ga papa ko mas,aku ngerti mas masi mencintai mba Inanti,"ucapnya pelan dan menundukkan wajahnya.
"Inanti masalalu mas dan kamu sekarang dan masa depan mas sayang,"
"maaf mas,"
"Sekarang kamu mau apa,biasanya wanita hamil banyak maunya kan?"mengecup kening Kaila.
Mikaila menarik nafas dan menutup matanya,dengan ragu ia berkata
"mas,aku ga nyaman melihat foto mba Inanti masi ada di dompet mas,"menggigit bibirnya masi menunduk.
Bram sedikit terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.Ia bahkan tak pernah melihat foto itu lagi sejak menikahi Mikaila.
Ia mengeluarkan dompetnya dan benar saja foto Inanti masi ada di sana,sejenak ia menatap foto itu.
__ADS_1
"maaf kalau permintaan aku sulit buat mas,mas ga harus menurutinya,"mengusap air matanya sendiri.
Bersambung.