Pilihan Ku

Pilihan Ku
[S2] Tunggu Aku.


__ADS_3

Natali menunggu Raina dengan gelisah di kos-kosannya, ia terus mondar-mandir di depan pintunya, sesekali berjalan keluar untuk melihat Raina di jalan,


"Kenapa Raina belum pulang juga, ke mana dia." gumam Natali.


Natal merasa bersalah, ia takut Anes akan menyakitinya setelah apa yang ia katakan pada Anes, ia telah membuat Raina dalam bahaya.


Natali tidak bermaksud melakukannya, tapi ia tak punya pilihan lain, ia harus menyelamatkan dirinya dari kemarahan Anes.


Natali menelpon nomor Raina , terdengar nada sambung tapi Raina tak mengangkatnya,


"Kemana kamu Raina, ayo dong angkat teleponnya," gumam Natali terus mencoba menelpon nomor Raina.


Hingga malam tiba, Raina tak juga pulang. Natali mulai ketakutan dan khawatir kemudian.


Natali menelepon Gavin.


Di kediaman Abraham semua sedang berkumpul membahas masalah penculikan Raina, Ponsel Gavin berdering.


"Natali menelepon," ucap Gavin mengangkat dan mengaktifkan pengeras suara meletakkan ponselnya di atas meja, semua fokus pada ponsel Gavin.


"Halo Gavin," terdengar suara Natali dari balik telepon.


"Iya ada apa Natali?!"


"Gavin Raina belum pulang," ucap Natali.


"Maksudnya?!" Gavin pura-pura bertanya.


Natali pun menceritakan apa yang terjadi padanya di gudang sekolah siang tadi, dan ia mengakui jika ia telah menceritakan hubungan Arya dan Raina.


Arya mengepal tangannya mendengarkan apa yang Natali katakan.


"Gavin, tolong cari Raina, Kami tidak punya siapa-siapa lagi. Aku nggak tahu harus minta tolong sama siapa lagi. Gavin tolong ya, aku akui aku salah, tapi aku ga punya maksud untuk nyakitin Raina, aku sangat mencemaskannya. Sudah selarut ini dia belum pulang, teleponnya juga tidak diangkat, Bagaimana kalau Anes berbuat sesuatu padanya," ucap Natali Sudah menangis di seberang sana.


"Kau tidak usah khawatir kami akan mencarinya , hubungi kami jika kau mendapat informasi dari Anes atau siapapun," ucap Gavin mematikan teleponnya.


"Sepertinya memang benar, penculikan Raina didalangi oleh Anes." ucap Kelvin.


"Pah bagaimana ini, Anes seorangnya nekat, aku tak ingin terjadi apa-apa pada Raina," mohon Arya pada Papanya.


Bram menelpon Alex dan meminta mereka bertemu di kediaman keluarga Anes.


Ketiga putranya juga berangkat ke kediaman Anes.


Saat Bram datang puluhan anak buah Alex sudah berkumpul di luar rumah ke keluarga Anes, Ayah Anes terkejut melihat apa yang terjadi di luar rumahnya. Bram masuk Dan disambut oleh ayah Anes,


"Pak Abraham, Ada apa ini ?" tanya Ayah Anes ketakutan.

__ADS_1


"Apa aku boleh bertemu dengan anak Anda?!" tanya Bram ,


"Ada apa dengan Anes?" tanya Ayah Anes,


" Kita akan tau setelah kita menanyakan sendiri kepada Anes."jawab Bram.


"Tapi Anes belum pulang," jawab ibu Anes,


"Apa Anda tahu di mana dia, tolong hubungi putri anda dan minta dia segera kembali," ucap Bram tegas.


Dengan tangan yang gemetar Ibu Anes nelpon anaknya, Anes tak mengangkat teleponnya, Ibu berulang-ulang menelponnya namun hasilnya tetap sama.


"Alex lacak keberadaannya!" perintah Bram.


Dengan sigap Alex melacak ponsel Anes.


"Sepertinya dia ada di luar kota, tepatnya di kota B," ucap Alex setelah beberapa saat mencari lokasinya.


Bram menatap tajam kepada kedua orang tua Anes, setelah mendengar penjelasan Alex.


"Kami punya villa di sana, mungkin saja Anes ada di sana," ucap Ibu Anas.


"Berikan alamatnya pada kami, biar kami akan ke sana menemuinya," ucap Arya.


Mereka pun memberikan alamat villa mereka di kota B. Bram dan rombongan Alex menuju kesana.


Setelah semuanya pergi Ayah Anes terus menelpon putrinya, tapi hasilnya tetap sama Anes tak mengangkat panggilan mereka,


"Bagaimana ini ayah kalau Anes ada disana. Anas anak kita satu-satunya, bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya," ucap Ibu Anes yang sudah menangis nasib putrinya.


"Semoga saja mereka masih mengasihani nyawa anak kita, ayo cepat kita juga menyusul mereka," ucap Ayah Anes bergegas menuju ke villanya.


Bram membawa mobil, ia tak membiarkan Arya yang menyetir. Kelvin juga ikut bersama mereka, sedangkan Gavin, Bram menyuruhnya untuk membawa Natali ke rumah mereka, takutnya Anes juga akan berbuat sesuatu padanya.


*****


Raina tersadar dari pingsannya, saat di mobil Raina terus memberontak ingin menyelamatkan diri, membuat mereka harus memukul punggung Raina hingga pingsan.


"Dimana Aku," ucap Raina mencoba untuk bangun tengkuknya terasa sakit.


Raina di sekap di sebuah kamar, walau kepalanya masih terasa pusing, ia mencoba berjalan mendekati pintu kamar itu,,, betapa terkejutnya saat ia melihat beberapa orang berbadan besar ada di luar sana. Mereka seperti meminum minuman beralkohol dan tertawa entah apa yang mereka tertawa kan.


Raina yang merasa ketakutan kembali menutup pintu kamarnya, ia duduk di sudut kamar itu, Seketika kenangan pahit masa kecilnya kembali teringat saat dirinya juga di sekap disebuah kamar. Membuat tubuh Raina bergetar karena rasa takut.


Raina hanya bisa menangis, tak tahu harus minta tolong pada siapa.


"Kak Arya tolong aku, aku takut," batin Raina, hanya nama itu yang ada di dalam pikirannya Sekarang.

__ADS_1


Jangankan untuk membebaskan diri dari mereka, mengusap air matanya saja Raina tak punya kekuatan lagi, trauma masa kecilnya membuat tubuhnya lemas.


Raina membiarkan air matanya jatuh begitu saja.


Tak lama kemudian masuk seseorang yang tak ia kenal,


"Kamu siapa ?! kenapa kamu membawaku kesini?" tanya Raina mencoba untuk berdiri saat orang tersebut mendekatinya.


"Apa kamu yang bernama Raina ?!"tanya orang tersebut yang tak lain adalah Anes.


"Iya kak, aku Raina. Tolong keluar kan aku dari sini, aku takut," lirih Raina memohon mengatupkan kedua tangannya yang masih bergetar.


Anes tersenyum sinis mendengar ucapan memohon Raina, ia mendekat dan langsung melepas cadar yang digunakan Raina dan melempar nya ke segala arah.


Anes sedikit terkejut saat melihat kecantikan Raina, ia tak menyangka dibalik cadar nya gadis ini ternyata benar-benar sangat cantik.


"Pantas saja Arya tergila-gila kepadanya, dia memang sangat cantik," batin Anes mengakui kecantikan wajah Raina.


Raina menunduk ingin mengambil kembali cadarnya namun Anes langsung menarik tangannya ,


"Aku tak ingin mencari masalah dengan mu, kaulah yang mencari masalah dengan ku ," bentakan Anes.


"Apa maksud kakak, aku tidak mengerti. Aku tidak mengenal Kakak, bagaimana mungkin aku mencari masalah dengan kakak," ucap Raina.


"Tentu saja kau punya masalah dengan ku, Arya itu kekasihku beraninya kau berharap untuk menjadikannya milikmu. Aku takkan membiarkan siapa pun mengambil Arya dariku," bentak Anes menatap tajam Raina.


Raina hanya diam.


Sementara itu Bram dan yang lainnya terus memacu kendaraan mereka menuju ke alamat yang diberikan oleh Ayah Anes.


"Raina tunggu aku, aku takkan membiarkan siapapun menyakitimu," batin Arya


❤️❤️❤️❤️💖💖💖❤️❤️❤️❤️


Terima kasih sudah membaca, mohon ya berikan dukungannya kepada karya ini dengan memberi


👉Like


👉 Vote


👉 komennya


👉 Favorit kan


Agar menjadi penyemangat bagi kami dalam membuat cerita yang lebih baik lagi .🤗


Terima kasih.

__ADS_1


Kakak bisa mampir juga ya ke karya terbaruku judulnya" My Papa My Boss "beri dukungannya juga ya 🙏❤️🙏


Salam dari ku Author m anha ❤️


__ADS_2