
Denis Nisa Fandi dan Alisa ingin tertawa mendengar semua perkataan Bu Susi.
" Sudah lah Bu, percuma saja kenapa anda begitu repot-repot memotret saya, mungkin anda mau jadi fotografer saya dengan Alisa ??", Ujar Fandi.
Bu Susi pun semakin kesal kepada Fandi,
matanya pun seketika melotot seperti mau keluar dari dalam.
" Pak Fandi, anda ternyata tidak mempunyai sopan santun sama sekali kepada orang tua ", Bu Susi pun sudah sangat marah kali ini.
" Saya sudah menghormati anda Bu, tapi anda yang membuat saya merubah rasa hormat saya, sayang sebaiknya tidak usah bertele-tele lagi, kita selesaikan semuanya, mas tidak mau dua orang ini masih berada disini.
Pak Surya pun terlihat marah kepada Fandi,
Tangannya pun sudah mengepal seperti ingin melayangkan satu pukulan ke wajah Fandi.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dari arah luar,
" Assalamualaikum ", Pak Ardi lah yang masuk kedalam ruangan tersebut.
" Waalaikum salam ", Jawab mereka semua.
Pak Ardi pun segera mendekat ke arah putrinya yang tengah bersama Fandi.
Fandi pun mencium tangan Pak Ardi membuat Surya dan Susi pun mengerutkan keningnya.
" Kamu disini Fand??", Papa Ardi pun bertanya, tidak biasanya menantunya itu akan berada di kantor istrinya pada saat jam kerja seperti ini.
" Iya Pah, ada sedikit masalah jadi Fandi kesini mendampingi istri Fandi Pah ", Pak Ardi pun mengangguk.
Pak Ardi begitu sangat senang jika Fandi bisa membantu Alisa saat Alisa membutuhkan dirinya.
Bu Susi pun semakin bingung, bagaimana bisa Fandi memanggil Pak Ardi dengan sebutan Papa, atau mungkin Fandi adalah ??...
Bu Susi pun terlihat memandang ke arah Suaminya, ia sama sekali tak bersuara saat ini , badan mereka pun diam membeku tak bergerak sama sekali.
Pak Ardi pun melihat ke arah pak Surya yang masih diam tak bersuara,
__ADS_1
" Pak Surya ??", Pak Ardi pun menghampiri Pak Surya yang juga sedang berada di dalam ruangan itu.
" I- iya Pak Ardi ", Surya pun menjawab.
" Selamat pagi Pak Surya, suatu kebetulan anda bisa datang ke kantor saya ", Pak Ardi pun menyalami tangan pak Surya.
" Ini bukan suatu kebetulan pak, saya kesini sebenarnya ada urusan dengan bapak ",
Ujar Surya kepada Ardi.
Semua orang yang berada di sana pun terdiam.
" Tapi maaf Pak Surya, semua urusan perusahaan sudah saya serahkan kepada putri saya dan menantu saya " Tunjuk Ardi kepada Alisa dan Fandi.
Pak Surya pun semakin tak mengerti, " maksud bapak apa ?? ",
" Fandi dan Alisa lah yang memegang kendali disini, saya sudah menyerahkan semuanya, Alisa adalah putri saya dan Fandi adalah menantu saya ", Pak Ardi pun menjelaskan.
Pak Surya dan Bu Susi semakin kaget, ia tak menyangka jika Fandi benar-benar menantu dari Ardi Bachtiar.
Fandi kemudian tersenyum ke arah Surya,
Pak Surya pun terlihat diam, begitu juga dengan Pak Ardi, kini Pak Ardi terlihat bingung melihat perseteruan antara Surya dan menantunya tersebut.
" Ada apa ini Fand??, mengapa kamu bicara seperti itu ??", Pak Ardi pun terlihat kaget melihat nada bicara Fandi seperti tidak suka kepada Surya.
" Maaf Pah, Fandi punya alasan untuk ini pah, Pak Surya sengaja menjalin kerjasama dengan perusahaan Fandi dan bermaksud mendatangkan Fandi ke Bandung,
Tapi pak Surya punya maksud lain kepada Fandi, disana Fandi akan dijodohkan dengan putrinya dan Fandi langsung saja menolaknya. ", Ujar Fandi karena tidak ingin Papa mertuanya salah paham.
Pak Ardi terlihat sangat marah sekali,
" Pak Surya perlu anda ketahui jika Fandi adalah suami putri saya, jadi jangan pernah anda mencoba untuk menikahkan putri anda dengan menantu saya ", Pak Ardi kali ini tidak dapat menahan emosi nya.
" Ma-maaf Pak saya tidak tahu ", Pak Surya pun terlihat gugup, begitu juga dengan Bu Susi,
" Sekali lagi maafkan kami pak, jangan cabut semua dana yang bapak beri kepada perusahaan saya " Pak Surya pun memohon kepada pak Ardi.
__ADS_1
1 Tahun lalu, pak Surya sempat datang menemui Pak Ardi untuk meminta suntikan dana untuk perusahaan nya yang hampir pailit.
Dengan nada memohon nya pak Surya meminta agar perusahaan Bachtiar Group mau untuk membantu perusahaan nya.
Pak Surya terlihat menunduk sedari tadi, dan Bu Susi terlihat sudah sangat malu,
" Saya rasa urusan kita sudah selesai, saya ingin anda segera pergi dari sini dan jangan pernah datang kembali, Silahkan anda keluar, dan satu lagi bersyukur lah karena saya tidak mencabut dana suntikan yang sempat diberikan oleh perusahaan kami".
Pak Surya dan Bu Susi langsung saja pergi meninggalkan ruangan itu, Pak Ardi terlihat menghela napasnya,
" Terimakasih sudah membantunya Fandi Pah, jujur pikiran Fandi sempat kacau dengan masalah ini, Surya dan istrinya juga sempat meng iming-imingi kontrak kerja sama tanpa surat kontrak, dan balasan nya Fandi harus menjadi suami dari putrinya ".
Fandi pun menceritakan semuanya kepada Papa mertuanya.
Pak Ardi kemudian menghampiri Fandi dan menepuk pundaknya secara pelan, maafkan papa yang tadi sempat berprasangka buruk kepada mu, dan terimaksih sudah menolak dan mempertahankan putri Papa " Papa Ardi terlihat sangat terharu.
" Jangan berterimakasih Pah, Fandi sangat mencintai Alisa Pah, dan Fandi tidak akan meninggalkan Alisa dalam keadaan apapun, kita sudah berjanji akan selalu bersama sampai kita tua pah ",
Alisa terlihat tersenyum mendengar penuturan suaminya, dan Denis dan Nisa yang sedari tadi hanya menjadi penonton juga ikut terharu dengan kekuatan cinta dari kedua bosnya.
"Sekarang masalah kita sudah selesai sayang, kamu tidak perlu takut dan khawatir, mimpi mu semalam hanya bunga tidur dan tak mungkin jadi kenyataan, jadi sekarang tersenyumlah ", Fandi pun memeluk istrinya, ia sekarang sudah lega dan sangat bersyukur karena masalah nya sudah selesai.
" Iya mas, aku sudah benar-benar lega sekarang, aku ingin terus bersama mu mas", Alisa Kemudian membalas memeluk kembali suaminya.
" Ya sudah, sebaiknya Papa pamit pulang dulu, dan papa tidak mau mengganggu kalian", Papa Ardi pun keluar dan Fandi dan Alisa langsung saja mencium tangan papa nya, begitu juga dengan pak Ardi, Denis dan Nisa pun jga ikut berpamitan keluar dari ruangan itu,
" Bos izin dulu ya, mau makan siang berdua sama Nisa ", Fandi dan Alisa pun langsung mengangguk dan tersenyum.
" Kamu juga mau makan siang sayang ?", Fandi pun berbisik di telinga istrinya membuat Alisa kegelian.
" Mas jangan begini, aku geli ", Alisa pun mundur satu langkah dan berbalik arah untuk mengambil tasnya.
" Ayo mas ", Alisa dan Fandi pun akhirnya juga makan siang diluar menyusul kedua sekertaris nya yang sudah mendahului nya tadi.
*Mungkin episode ini terlalu bertele-tele, jujur saja author mau menyelesaikan episode ini buruh waktu lama, jadi harap maklum ya
Terimakasih untuk selalu membaca karya saya
__ADS_1
Salam sayang dari author๐๐๐*