
Rafa tengah duduk termenung sendiri, memikirkan penyakit apa yang di derita oleh Disya sampai Disya tidak mau ia dekati, Rafa mengusap wajahnya kasar, seperti nya dirinya akan mencoba berkonsultasi dengan adiknya yang berprofesi sebagai seorang dokter itu.
Setelah sholat subuh, Rafa memaksa membangunkan Ghani, biasanya Ghani akan bangun terlebih dahulu untuk sholat dan setelah itu tidur kembali.
Dari dalam Ghani sudah terusik dengan suara gedoran pintu yang tidak biasa, bukan mengetuk lagi, tapi pintu kamarnya saat ini seperti sedang dipaksa untuk di buka.
"Siapa sih, ganggu aja" Gumam Ghani yang kemudian berjalan dengan langkah terpaksa Ghani kemudian membuka pintu kamarnya, entah Ghani salah lihat atau tidak, yang ia lihat saat ini adalah kakak nya yang berada di balik pintu kamarnya.
"Kak Rafa??, ada apa??" Tanya Ghani yang mulai menyadari jika benar kakaknya yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.
"Tolong kakak Ghani, ini sangat penting, ini gawat banget" Ujar Rafa panik, Ghani yang dapat melihat kepanikan kakaknya pun juga seketika berubah menjadi panik juga.
Ghani kemudian mengajak kakaknya masuk, pasti ada sesuatu yang sangat penting sehingga kakaknya menjadi seperti ini.
Keduanya kini saling duduk berhadapan dan Ghani masih menanti kakak nya berbicara,
Rafa terlihat mengambil nafas, mencoba untuk tetap tenang meskipun hatinya samasekali tidak tenang.
"Tolong kakak, Disya sakit Ghan, Disya sakit" Ujar Rafa, Ghani pun masih belum mengerti, sakit apa yang dimaksud oleh kakak nya.
"Sakit apa kak??, coba jelaskan, mana mungkin aku tahu Kaka Disya sakit apa jika kakak tidak memberi tahu aku terlebih dahulu" Rafa kemudian menghembuskan nafasnya lagi dengan sangat berat, jika mengingat istrinya ia sangat frustasi sekali, kenapa bisa Disya tak mau ia dekati pagi ini, padahal tadi malam tidak apa-apa.
__ADS_1
"Istri kakak tidak mau kakak dekati pagi ini, setiap kakak dekat pasti langsung mual-mual, pasti parah kan, ayo Ghani, bantu kakak, Disya sakit apa" Rafa terlihat memohon kepada adiknya agar adiknya bisa membantu dirinya.
bukankah Ghani seorang dokter, jadi Rafa rasa Ghani bisa menyembuhkan Disya, dan membuat Disya kembali seperti semula, entah bagaimana jika Disya akan seperti selama 4 bukan ke depan, pastinya Rafa akan semakin uring-uringan.
Ghani seketika menahan tawa melihat ekspresi kakaknya, apalagi setelah mendengar semua yang dikatakan oleh kakak nya membuat ia ingin sekali tertawa sekencang-kencangnya, tapi itu tidak mungkin, dan itu akan membuat kakaknya pasti akan marah kepadanya.
"Kakak masih belum menyadari nya??" Tanya Ghani, dan Rafa pun menggeleng, pikiran nya benar-benar buntu, jika ia harus memikirkan perusahaan ia masih bisa mengatasi, tapi untuk istrinya, ia langsung saja down saat istri nya menginginkan berjauhan dengannya.
Kini giliran Ghani yang menyandarkan tubuhnya sambil melihat ekspresi kakaknya, ia meraup wajahnya frustasi, harus bagaimana ia menjelaskan semuanya kepada kakaknya ini, mengapa kinerja otak kakaknya mendadak lambat jika menyangkut istrinya.
"Kak Rafa, bukanya aku sudah bilang, Kak Disya itu sedang hamil, masa kak Rafa belum menyadarinya, apalagi dengan semua perubahan Kak Disya??" Tanya Ghani sambil menatap ke arah kakaknya, Ghani gak mengerti mengapa kakaknya belum peka juga dengan perubahan istrinya.
"Kamu gak bohong kan??" Tanya Rafa memastikan.
"Baik Ghan, Nanti siang kakak akan membawa Kaka Disya ke rumah sakit, tapi kenapa istriku gak mau dekat-dekat aku Ghan??, apa ada yang salah dengan ku??" Tanya Rafa lagi, ia begitu sangat penasaran dengan apa yang dialami istrinya
"Mungkin itu adalah ujian kakak selama Kak Disya hamil, dan sepertinya itu salah satu drama kehamilan kak Disya yang harus kak Rafa hadapi, jadi kak Rafa harus bersabar sampai 4 bulan ke depan" Mata Rafa seketika membulat, Empat bulan, itu bukan waktu singkat, itu waktu yang sangat lama, satu hari saja tidak berdekatan dengan istrinya teras lama sekali, apalagi Rafa harus menahannya sampai empat bulan ke depan, apakah Rafa sanggup??.
"Kamu jangan bercanda Ghan, pasti kamu lagi mengerjai kakak kan??"
"Kakak tidak percaya dengan ku, aku dokter kak, meskipun aku bukan dokter kandungan aku tahu tentang itu semua" Rafa pun menjadi terdiam, benar juga, adiknya itu tidak mungkin berbohong.
__ADS_1
"Jadi mulai sekarang kakak harus lebih bersabar menghadapi kak Disya, wanita hamil sangat sensitif kak, kadang mood baik, dan kadang juga jelek, jadi kita tidak bisa memprediksinya, dan tugas kakak adalah menjaga emosi kak Disya sebaik mungkin" Ghani memberi pengarahan kepada kakaknya banyak-banyak agar kakaknya itu mengerti dan tidak salah mengartikan semua tingkah kakak iparnya yang akan berubah sewaktu-waktu.
"Ok, terimakasih Ghan, jika gak ada kamu kakak mungkin sudah bingung dengan semua ini" Ujar Rafa.
"Itu tugas ku sebagai seorang adik membantu kakaknya, Jadi sebaiknya kakak sekarang kembali ke kamar kakak, pasti kak Disya menunggu kakak, jadi jangan sampai kak Disya berpikiran aneh kepada kakak" Rafa akhirnya berdiri ia berniat kembali ke kamarnya, meskipun nabati Disya gak mau berdekatan dengannya tidak apa-apa, yang terpenting Rafa bisa melihat Disya tidak mual-mual lagi karenanya.
Rafa kemudian segera keluar, melihat istrinya terlebih dahulu, memastikan istrinya baik-baik saja atau tidak.
Didalam kamarnya saat ini Disya tengah di temani oleh Alisa, setelah mual-mual nya mereda Disya pun kembali ke atas ranjang nya untuk beristirahat, dan tak lama setelah itu Alisa pun masuk, dan kebetulan juga Rafa tidak ada dikamar, jadi Alisa bisa leluasa untuk berbicara dengan Disya.
Alisa menyerahkan testpack yang ia beli kemarin, tadi malam belum sempat, dan pagi ini Alisa segera menyerahkan alat tes kehamilan itu agar Alisa benar-benar tahu hasilnya jika Disya benar-benar hamil.
"Kamu nanti segera pakai ya, biasanya kalau pagi lebih akurat hasilnya sayang" Ujar Alisa, dan Disya pun mengangguk.
"Iya Ma, terimakasih" Ucap Disya sambil tersenyum, dan tak lama setelah itu pintu pun terbuka dan terlihat Rafa yang masuk, segera Disya menyembunyikan alat tes kehamilan itu.
"Mom??, sejak kapan Mommy ada disini??" Tanya Rafa dan Rafa kemudian masuk kedalam kamarnya.
Disya kemudian dapat mencium bau badan suaminya, ia pun mulai merasakan mual lagu, dan ia pun segera berlari menuju ke kamar mandi untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya, meskipun sudah tidak ada lagi isi dalam perutnya, Disya tetap saja muntah sampai mulutnya terasa pahit. Rafa pun seketika panik kembali, tapi ia tidak berani mendekat, ia tak mau istrinya akan semakin mual jika berdekatan dengannya
Rafa terlihat mundur dan membuat Alisa mengerucutkan keningnya, mengapa putranya itu tidak menghampiri istrinya, padahal Disya saat ini tengah membutuhkan dirinya.
__ADS_1
"Fa, kamu masuk dong, istri kamu lagi mual-mual, seharusnya kamu jadi suami siaga, bukannya malah mundur" Omel Alisa kepada putranya, Alisa masih belum mengetahui tentang drama kehamilan menantunya yang mirip dengan mamanya, Nisa.
"Mommy aja yang masuk, aku mau keluar duku, nanti akan aku jelaskan Mom" Rafa pun segera keluar dan Alisa pun segera masuk untuk melihat kondisi Disya.