
Keadaan rumah masih sangat sepi, Ghina yang sudah turun dari kamarnya terlihat menoleh kan kepalanya ke segala arah, niat Ghina adalah mencari bibi, ia ingin berpamitan, tak ingin Mommy nya sampai khawatir karena tak menemukan dirinya saat pulang nanti, lebih baik Ghina berpamitan kepada bibi.
Ghina berjalan menuju ke arah dapur, betul sekali, bibi masih berada di dapur, bibi sedang membereskan beberapa peralatan memasak nya, sambil menunggu sang majikan datang.
"Bi, aku mau pergi dulu ya, aku mau ke rumah mas Zian, nanti kalau mommy dan Daddy datang bibi tolong beri tahu" Bibi pun mengangguk sambil tersenyum kepada Ghina.
"Baik non, sudah mau berangkat atau belum??" Tanya Bibi.
"Belum Bi, Aku masih menunggu mas Zian datang menjemput".
Ditempat lain, Zian baru saja keluar dari dalam kamarnya, ia ingin segera berangkat untuk menjemput Ghina karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.30.
Zian melihat Mamanya yang saat ini sedang menata seluruh menu makan malam, Kemudian Zian segera menghampiri mamanya dan kemudian berpamitan kepadanya.
"Ma, aku berangkat dulu ya ma, Aku mau jemput Ghina" Zian kemudian mencium tangan mamanya sebelum ia berangkat.
"Iya, hati-hati dijalan sayang" Jawab Tania sambil pandangan nya beralih ke arah meja makannya.
Zian kemudian pergi dari rumahnya, berjalan keluar dan mengambil mobilnya dan segera berangkat menuju ke rumah Ghina, Zian tidak mau telat, ia harus tepat waktu untuk menjemput Ghina.
Perjalanan menuju ke rumah Ghina membutuhkan waktu sekita 30 menit, jadi pas tepat jam 7 nanti Zian akan Sampai di rumah Ghina.
Ghina saat ini sedang duduk di sofa ruang tamunya dan ia sambil memainkan ponselnya, menunggu Zian membuat ia sedikit bosan, jadi Ghina menunggu sambil membuka akun sosial medianya.
Tak lama setelah itu, terdengar suara mobil berhenti tepat di depan rumah tersebut, terlihat Alisa dan Fandi yang baru saja datang, kemudian mereka segera turun dan segera masuk kedalam rumahnya.
"Assalamualaikum" Ucap Alisa saat memasuki rumahnya yang pintunya sudah terbuka lebar tak seperti biasanya.
Ghina yang mengetahui orang tuanya sudah datang langsung saja tersenyum.
"Waalaikum salam Mom, Dad" Jawab Ghina, Ghina kemudian segera bangun dan mencium tangan kedua orang tuanya.
Alisa melihat putrinya yang saat ini sudah cantik, dan sepertinya akan segera pergi dan Alisa masih belum tahu dengan siapa.
__ADS_1
"Kamu mau kemana sayang??" Tanya Alisa dan Fandi juga ikut memperhatikan putri nya kali ini.
"Aku mau pergi ke rumah Mas Zian Mom, Tante Tania ngundang Ghina buat makan malam bareng, katanya mumpung Tante Tania masih di Jakarta"
"Terus kamu perginya sama siapa??" Tanya Alisa lagi, dan kemudian Fandi duduk di sofa bersama dengan putri nya dan Alisa.
"Aku di jemput sama mas Zian habis ini Mom, Dad, mungkin habis ini datang", Jawab Ghina, Fandi dan Alisa kemudian ikut menunggu kedatangan Zian yang tak lama lagi akan sampai di rumah nya.
Kedua orangtuanya pun hanya beroh saja, dan tak lama setelah itu Zian pun datang dan masuk kedalam rumah besar itu.
"Assalamualaikum" Ucap Zian.
"Waalaikum salam", Jawab ketiganya yang sedang menunggu kedatangannya.
"Ayo silakan masuk" Ajak Fandi kepada Zian dan Zian kemudian segera masuk dan menyalami calon mertuanya.
Zian kemudian segera duduk dan setelah mengutarakan niatnya, Fandi pun kemudian mengangguk dan memberikan pesan kepada Zian.
"Jangan pulang malam-malam ya, kalian masih belum suami istri" ucap Fandi mengingatkan yang Langsung di angguki oleh Zian.
Fandi dan Alisa pun mengangguk dan keduanya kemudian berpamitan kepada orang tua Ghina.
"Jangan lupa sampaikan salam kami kepada orang tuamu Zi" Ucap Fandi dan Zian pun mengangguk.
"Baik pak, kami permisi dulu, assalamualaikum" Ucap Zian dan Ghina lalu mencium tangan Kedua Orangtuanya.
Zian membukakan pintu untuk Ghina, dan Ghina segera masuk kedalam mobil tersebut, Keduanya kini sudah berangkat menuju ke rumah Zian, mereka saat ini sudah di tunggu oleh Kedua Orang tua Zian.
Keduanya masih saling diam, belum ada yang membuka suaranya sama sekali,
"Sayang, maafin mas ya, mas tau kamu pasti tadi kesal kan sama mas??" Tanya Zian, dan Ghina pun seketika menoleh ke arah Zian.
"Nggak apa-apa mas, aku mengerti, kamu pasti sedang sibuk kan, aku yang seharusnya minta maaf, bukan kamu" Zian pun tersenyum mendengar penuturan Ghina.
__ADS_1
"Undangan sudah siap atau belum??" Tanya Zian.
"Aku belum membuatnya mas, rencana besok, itu pun kalau kamu bisa, kalau nggak aku bisa sama Nita besok"
Zian pun tak mau mengecewakan Ghina karena tidak bisa mengantar nya, ia tak mau membuat Ghina marah lagi dengan nya dan Zian kemudian mengangguk memberi isyarat jika dirinya besok bisa mengantar Ghina untuk membuat undangan pernikahan mereka.
"Besok mas antar ya, jam berapa??" Tanya Zian, karena besok ia sudah tidak terlalu sibuk.
Ghina pun kemudian tersenyum lebar, senang sekali akhirnya Zian mau mengantarkan dirinya untuk pergi ke percetakan undangan.
"Jam 10 aja, Daddy udah ngasih Izin kok mas" Ujar Ghina.
"Oke, Jam 10 ya" Jawab Zian sambil terus menatap jalanan di depannya, Melihat Ghina tersenyum ia sangat bahagia sekali rasanya, tak mau Sampai harus membuatnya sedih lagi, dan Zian akan menebusnya besok.
Mereka Sampai di rumah besar Zian, baru pertama kali Ghina datang kemari, dan Ghina juga baru tahu ternyata rumah Zian tak terlalu jauh dari rumahnya, hanya setengah jam saja.
Zian turun, dan kemudian langsung berlari kecil untuk membukakan pintu untuk wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Mereka berdua kemudian segera masuk kedalam rumah tersebut dan di sambut dengan ramah oleh Tania.
"Assalamualaikum" Ucap Zian dan Ghina sambil masuk kedalam rumah.
"Waalaikum salam", Jawab Tania dengan tersenyum.
Zian dan Ghina langsung saja mencium punggung tangan Tania.
"Akhirnya kalian datang juga, sudah Mama tunggu dari tadi" Ghina pun tersenyum mendengar perkataan dari Mama nya Zian.
"Maaf Ma, tadi masih bicara sama pak Fandi dan Bu Alisa" Jawab Zian.
"Oh ya Tante, dapat salam dari Mama" Ujar Ghina.
"Waalaikum salam, Terimakasih sayang" Ucap Tania,
__ADS_1
"Ya udah ayo kita masuk kedalam, makanan nya keburu dingin nanti, oh ya Zi, kamu panggil Papa kamu, dia ada di ruang kerjanya" Zian pun mengangguk.
"Ghina, aku ke atas dulu" Ghina pun mengangguk, dan Zian pergi ke lantai atas untuk memanggil Papa nya yang sedang berada di lantai atas, Niko membawa pekerjaan nya ke Jakarta, jika tidak pastinya akan menumpuk setelah Niko dan Tania kembali lagi ke Bandung.