Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 28


__ADS_3

Tepat hari ini, sesudah melakukan perjalanan kemarin sore, kini di pagi ini, tepatnya pukul 9 pagi, semua sudah berkumpul di kediaman rumah Disya, tenda pengantin sudah terpasang dengan. sangat indah, para tamu undangan juga sudah datang, Dan begitu juga dengan pengantin pria, Keluarga pengantin pria sudah sampai pukul setengah 9 tadi, dan kini masing-masing sudah duduk di tempat duduk yang sudah disediakan.


Pengantin pria juga sudah duduk di tempat yang sudah disediakan, dengan gagahnya Rafa kini sudah memakai baju pengantin yang sudah di pesan tempo hari, siapa yang sangka jika baju pengantin yang mereka pesan akhirnya jadi, membuat Nisa dan Alisa bisa bernafas lega karena tak membuat Disya kecewa dihari bahagianya.


Jantung Rafa sudah tidak dapat dikondisikan lagi, berdegup cepat dan tak bisa ia kontrol, keringat sudah banyak yang bercucuran membuat Ghina berulangkali mengusap peluh yang ada di wajah sang kakak.


"Kak, aku capek tau, kakak yang santai dong, jangan nervous, ayo tarik nafas pelan-pelan terus buang pelan", ucap Ghina memberitahu sang kakak agar tidak nervous, terlihat jika kakaknya sangat gugup sekali, apalagi dilihat banyak orang seperti ini membuat dia kembali gugup.


Rafa menuruti perintah adiknya, Rafa memang butuh dukungan seperti ini, tapi ia mencoba untuk tetap santai untuk menutupi semua, dan Ghina pun bisa bernafas lega, ia kini kembali duduk bersama mommy nya di tempat duduknya yang semula.


"Kakakmu kenapa sayang??", tanya Alisa kepada putrinya.


"Biasa mom, maklum mau nikah, kak Rafa gugup mom, dan aku dari udah berulang kali mengusap keringat kak Rafa", Alisa pun tersenyum, memang sudah biasa jika seorang laki-laki gugup jika akan melafalkan ijab kabul di depan orang banyak.


Para tamu undangan pun sudah banyak yang datang, hanya dari para tetangga, dan untuk yang lainnya akan di undang di acara resepsi nanti malam.


Denis kini sudah duduk tepat di hadapan Rafa, bersama penghulu, ia akan menikahkan putrinya, putri sulung yang sekarang sudah dewasa dan siap untuk menikah, menikah dengan laki-laki yang sangat dicintainya tentunya.


Kini semuanya sudah siap, Disya yang sudah di Make up oleh MUA pun sudah sangat cantik, dan siapa menunggu Sang pangeran untuk menjemputnya nanti.


Suasana pun Semakin hening, tinggal penghulu saja yang berbicara, menerangkan semua tentang pernikahan, menerangkan apa hukum-hukum pernikahan dan lainnya, Kini sudah masuk acara inti, acara dimana Rafa akan mengucapkan ijab kabul.


"Mas Rafa sudah siap??", tanya penghulu yang sedang ada didepan nya, Rafa mengangguk mantap, ia tak boleh gugup, ia tak boleh sampai mengucapkan ijab kabul untuk kedua kali, raga tidak mau itu, dan kini Rafa sudah siap untuk mengucapkan janji suci itu di depan semua orang Yang ada disini.


"Baiklah, silahkan pak Denis untuk menikahikan putrinya", ujar pak penghulu, dan denia pun segwra mengulurkan tangannya ke arah Rafa.


"Rafardhan Syahreza Wiratama, saya nikahkan dengan Disya Dara Pratama binti Denis Pratama, dengan mas kawin dan seperangkat alat sholat dibayar tunai",


"Saya terima nikahnya, Disya dara Pratama binti Denis Pratama dengan mas kawin tersebut tunai",


Semua para saksi dan para undangan pun sudah mengatakan sah, Dan semua pun turut bahagia, mereka kini sudah menjadi pasangan suami dan istri.


Tak lama setelah itu, Rafa pun bangkit dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar sang istri, menjemput Disya yang saat ini sudah menjadi istrinya yang sah,


Alisa sudah tak bisa membendung air matanya lagi, kini Rafa putranya sudah menjadi seorang suami, menjadi imam dalam kekuarga mereka, dan Alisa sangat bahagia sekali.


Alisa, Ghina kini mengikuti Rafa, mengikuti putranya untuk menjemput sang istri Didalam kamarnya, Menjemput sang menantu untuk keluar dari dalam kamarnya.


Didalam kamar, Disya dan Nisa juga tak bisa membendung air matanya juga, Nisa sangat bahagia begitu juga dengan putrinya Disya yang kini sudah sah menjadi seorang istri.


Tak lama setelah itu, pintu pun terbuka, Dan Rafa lah yang sedang masuk kedalam kamar nya, Nisa pun keluar membiarkan Rafa masuk untuk memasangkan cincin yang sudah ia bawa untuk mas kawin perempuan yang ia cintai tersebut, Rafa kemudian mengusap kepala istrinya dan membacakan doa, setelah itu Rafa kemudian memasangkan cincin tersebut, Disya pun sangat bahagia, ia kemudian mencium tangan Rafa untuk yang pertama kalinya, Rafa kemudian mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang, ciuman halal khusus untuk istrinya.


Mata Rafa masih tetap menatap Disya, dengan balutan baju pengantin Disya terlihat sangat cantik sekali, Rafa pun sampai tak bisa untuk tidak menatap istrinya itu.


"Kak, jangan seperti itu, aku malu", Rafa pun tersenyum, ia tak bermaksud membuat istrinya malu, tapi untuk tidak menatap Disya ia tak sanggup kali in.


"Sayang, kamu sangat cantik", ucap Rafa dan lagi-lagi membuat Disya tertunduk malu.


Tak lama setelah itu pintu pun diketuk kembali, Nisa menyuruh kedua pengantin itu untuk keluar dan menyalami para tamu.


Mereka kembali keluar dengan senyuman yang terus berkembang, betapa bahagianya mereka, dan semuanya juga turut merasakan bahagia, Rafa dan Disya pun memeluk orang tua masing-masing, kedua pengantin ini juga tidak dapat membendung air matanya, Mereka sangat berterimakasih kepada orang tua mereka masing-masing karena sudah merawat mereka sampai sekarang ini, sampai mereka akhirnya menikah.

__ADS_1


Kini giliran Ghina dan Ghani, kedua saudara kembar itu akhirnya mendekat, mengucapkan selamat kepada kedua kakaknya.


"Selamat ya kak, akhirnya kak Disya menjadi bagian dari keluarga kita", Ucap Ghina, Disya pun memeluk Ghina, ia sudah akrab dengan Ghina jadi sekarang sudah tak ada lagi rasa canggung diantara Keduanya.


"Selamat ya kak, akhirnya, Semoga bahagia", Ucap Ghani sambil memeluk kakaknya.


"Iya terimaksih, Kamu kapan nyusul??", Tanya Rafa, "Tunggu saja kak, aku sudah punya calonnya", Ucap Ghani berbisik kepada kakaknya.


Rafa kemudian menepuk punggung adiknya, tak menyangka jika adiknya yang terkenal dingin itu sudah satu langkah lebih maju, dan raga pun masih tidak tahu.


"Semoga segera dilancarkan Ghan, gak baik nunda-nunda hal baik, dan jangan lupa kenalin sama kakak, dan lainnya", ucap Rafa, dan Ghani pun mengangguk, "Tunggu saja Kaka, nanti malam",


Kini giliran Ghani menyalami Disya, Disya dan Ghani sama sekali belum pernah bertemu.


"Hay kak, selamat ya, aku Ghani adik kak Rafa, pasti kak Disya belum pernah ketemu aku kan??', tanya Ghani, Disya kemudian menyambut uluran tangan Ghani, mereka kini saling berkenalan.


"Iya terimaksih ya Ghan", ucap Disya tersenyum.


Kini mereka sudah berada di tempat acara lagi, menyalami para tamu yang akan pulang dari acara tadi.


Kini Disya sudah bisa bernafas dengan lega, akhirnya acara pagi ini selesai, tinggal menunggu acara malam nanti, acara resepsi yang akan di selenggarakan di salah satu hotel yang ada di kota Surabaya.


Rafa dan dan Disya bisa sedikit bisa istirahat saat ini, kini mereka berada di dalam kamar Disya, mereka kini tengah istirahat karena nanti sore Disya sudah akan di make up kembali oleh MUA yang sudah merias Disya tadi pagi.


Di tempat lain, saat ini Ratna sudah berada di hotel.temoat ia menginap, Ratna akan datang pada saat acara nanti malam, jadi ia masih bisa bersantai dulu di hotel tersebut, Tak lama setelah itu, ponselnya berbunyi dan sudah bisa dipastikan jika itu adalah Ghani, Ratna pun bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya yang sedang ia charger di meja nakas, ia kemudian meraih ponselnya, ternyata salah, yang sedang menghubungi nya saat ini adalah Rio sahabatnya, "Tumben telfon, ada apa ya??" Tanya Ratna dalam hatinya, dan Ratna segera menggeser layar ponselnya.


"Halo, Ada apa??" Tanya Ratna langsung, tak biasanya Rio akan menghubungi dirinya.


"Gue gak ada dirumah sekarang, gue ada di Surabaya", ucap Ratna memberitahu.


"Surabaya??, Ngapain disana, kok gak ajak-ajak gue",


"Gue ada acara pernikahan kakaknya mas Ghani, dan ternyata Mama juga di undang, jadi ya gue sekarang disini sama mama", Rio pun meremas baju nya, lagi-lagi Ratna sekarang sedang berada bersama dengan dokter itu,


"Oh, ya sudah, have fun ya ", Ucap Rio dan kemudian menutup ponselnya.


Ratna pun meletakkan kembali ponselnya, dan menunggu Ghani menghubungi nya.


Sore harinya, sudah selesai di dandani, Disya terlihat lebih berbeda,semakin tambah cantik membuat semua orang sangat terkesima termasuk Suaminya sendiri.


Rafa yang sedari tadi duduk hanya memperhatikan istrinya saja, dan yang diperhatikan menjadi tambah salah tingkah.


"Kak, udah cukup, gak usah kayak gitu dong, aku tambah malu tau", Rafa kemudian terkekeh,


"Sayang, kakak mandangin kamu itu udah halal jadi wajar kan kalau kakak terus memandangi istri kakak yang sangat cantik ini", Ucap Rafa, Rafa kali ini memang tidak bisa memalingkan wajahnya, melihat istrinya begitu cantik,membuat Rafa ingin sekali mencium istrinya tersebut.


Para tamu satu persatu sudah datang, Zian pun juga sudah datang, tapi tanpa ia sangka, orang tuanya juga berada disini.


Zian pun mendekat, ia menghampiri mamanya, ia begitu rindu, dan saat ini ia bisa melihat mamanya di tempat yang tak ia duga.


"Mama", ucap Zian, dan Zian pun datangi hampiri dan segera memeluk mamanya.

__ADS_1


Tania senang bisa melihat putranya juga, Ia juga merindukan putranya tersebut.


"Mama dan papa di undang juga??", tanya Zian,


Tania pun mengangguk, "Iya, kan mas Fandi sama Alisa teman baik Mama sama papa", ucap Tania.


Zian memutuskan untuk bekerja sendiri tanpa bantuan sang papa,mirip sekali dengan Niko dulu, Niko dulu juga lebih memilih bekerja dengan hasilnya sendiri dan tidak mau berdiri di belakang orang tuanya.


"Bagaimana pekerjaan kamu, lancar??" Tanya Niko,


"Alhamdulillah pah, pekerja Niko lancar semua", Tak lama setelah itu Fandi mengetahui jika Niko dan Tania sudah datang, Fandi mengajak Alisa untuk mendekat, menyapa Niko dan Tania yang memang sudah lama tidak bertemu.


"Selamat datang untuk kalian, apa kabar, lama kami tidak mendengar kabar kalian, terakhir satu bulan yang lalu", ucap Fandi, dan kemudian menjabat tangan lalu memeluk Niko.


Alisa juga mendekat, dan memeluk Tania, sudah lama juga mereka tidak bertemu, dan kini mereka saling melepas rindu mereka.


"Alhamdulillah kami baik mas, oh ya bagaimana kinerja Zian di perusahaan mas Fandi??", tanya Niko, Niko hanya ingin memastikan jika anaknya bekerja dengan baik di perusahaan Fandi.


Zian yang mendengar pun merasa aneh, kenapa papanya bisa tahu Jiak ia bekerja di perusahaan Bachtiar Group,


"Maaf Pah, papa bagaimana bisa tahu jika aku bekerja di perusahaan pak Fandi??", tanya Zian.


Fandi dan Niko pun saling melempar senyum, "Papa tahu semuanya Zi, Papa gak mungkin tidak memantau kamu, dan ternyata kamu bekerja di perusahaan pak Fandi, papa sangat senang sekali", Fandi kemudian menepuk bahu Niko, mereka sudah sama-sama berumur, tapi mengapa kadar ketampanan mereka masih saja terlihat.


Zian kemudian mengedarkan pandangannya, dan ia mencari seseorang, ya, Ghina masih belum terlihat sedari tadi begitu juga Ghani, kedua anak itu menghilang tanpa kabar.


Ghani kini sedang berada tepat di loby hotel untuk menjemput Ratna, Ghani sudah berjanji jika ia akan menjemput dan membawa Ratna langsung ke tempat acara.


Ratna keluar dengan sangat berbeda, kini wajahnya sudah ber make up, dan kini Ratna terlihat sangat anggun, ia sangat cantik dan sama sekali tidak memperlihatkan jika ia adalah anak kuliahan.


Mereka kini berjalan menuju ke tempat acara, tepat di lantai 10, Dan kini mereka berjalan bersama menuju ke tempat acara.


Dina sudah berangkat terlebih dahulu, lima menit yang lalu dan kini giliran Ghani dan Ratna yang datang ke acara tersebut.


Kini mereka sampai di tempat acara, acara sangat meriah sekali, sudah banyak para tamu undangan yang datang, kolega bisnis Denis dan Fandi pun juga sudah datang.


Tak lama setelah itu, kedua pasangan yang dinantikan pun sudah memasuki area tempat resepsi, Ghina mengikuti pasangan itu dari belakang, semua mata pun tertuju kepada mereka berdua, bak raja fan ratu sehari, Rafa memang sangat tampan dan Disya juga sangat cantik.


Setelah mereka duduk di singgasana nya, Ghina kemudian turun dan tangan Zian pun sudah melambai ke arahnya, dan Ghina pun segera menghampiri Zian.


"Aku udah cari kamu dari tadi, ternyata kamu sama mas Rafa", ucap Zian, Ghina hanya tersenyum saja, tapi ia sangat bahagia ternyata Zian mencarinya sedari tadi.


"Ayo kesini, aku mau kenalin kamu sama orang tua ku", ucap Zian, Ghina pun mengikuti langkah Zian, tak lama setelah itu mereka sampai di meja bundar dimana kedua orang tua Zian berada.


"Mah, pah, kenalin ini Ghina, pacar Zian", ucap Zian memperkenalkan Ghina. Ghina kemudian mencium punggung tangan Tania dan Niko, mereka berdua pun tersenyum ramah kepada Ghina.


Tania menatap Ghina secara intens, wajah Ghina begitu tidak asing bagi Tania, dan itu membuat Tania penasaran.


"Boleh Tante bertanya??", tanya Tania, dan Ghina pun mengangguk.


"Kalau boleh tahu siapa orang tuamu, mengapa rasanya Tante tak asing melihat wajahmu", ucap Tania.

__ADS_1


Tania memang tidak tahu, Setelah kelahiran Zian waktu itu, mereka kemudian pindah karena Niko mendapat mutasi tugas di kota lain dan mengakibatkan mereka harus meninggalkan kota Jakarta sampai sekarang.


__ADS_2