Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Kabar kepindahan


__ADS_3

Denis akan berbicara dengan Disya secara pelan-pelan agar tak membuat putrinya itu kaget seperti mamanya, Denis dan Disya kini tengah berada di sofa dan sedang melihat acara televisi kesukaan Disya.


"Sayang, boleh papa bicara sama Disya???", Tanya Denis kepada Disya. Disya pun menoleh, anak itu walau pun masih kecil tapi sudah mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh papanya.


"Apa itu pah", Ucap Disya, tapi mata anak itu masih menatap layar televisi yang sedang menayangkan acara kartun anak-anak kesukaan Disya.


Denis pun mendekat, mencoba sedekat mungkin dengan putrinya, tangan Denis kemudian merangkul Disya, Denis ingin bicara sehalus mungkin agar anak itu tidak salah paham.


"Disya mau apa nggak kalau kita pindah dari sini??", Tanya Denis kepada Disya, Anak itu kemudian menoleh kepada papanya lagi, mendengar kata pindah dari mulut papanya sendiri membuat Disya kini merasa penasaran kemana dirinya akan pindah.


"Kemana pah??", Tanya Disya kemudian, Disya kini merasa tidak sabar mendengar jawaban dari papanya saat ini.


"Kita akan pindah ke Surabaya sayang, di rumah kakek Disya", Jawab Denis, mimik wajah Disya seketika berubah.


"Surabaya itu jauh atau dekat pah??", Tanya Disya polos, anak kelas satu sekolah dasar itu pun masih belum mengerti jika jarak Surabaya dari rumahnya sangatlah jauh.


Denis pun tersenyum kepada Disya, "Surabaya itu jauh sayang, nanti kita perginya naik pesawat", Ucap Denis memberitahu putrinya.


Selama Disya lahir dan sampai sekarang Disya sama sekali belum mengenal kota Surabaya, kota kelahiran papa dan mamanya dan di sana lah Mama dan papanya menemukan cinta mereka.


Anak itu pun terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu.


" Tapi Disya kalau sekolah gimana pah??", Tanya Disya lagi.


"Disya nanti sekolahnya juga pindah sayang, Disya sekolah di Surabaya juga, nanti Disya juga akan punya teman baru", ucap Denis menjelaskan sedetail mungkin agar putrinya itu mengerti.


"Kak Rafa juga ikut pindah pa??", Tanya Disya lagi.


DEG...


Denis pun menelan ludahnya seketika, ini lah yang Denis khawatir kan, putrinya ini sangat dekat dengan Rafa, dan Rafa pun juga sangat dekat dengan Disya.


Apakah Disya akan mau pindah jika kenyataan nya Rafa tak ikut pindah bersama dengan nya.


"Sayang, Disya, dengerin Papa ya nak, kak Rafa akan tetap disini bersama papa Fandi dan Mama Alisa, sebutan Disya untuk Fandi dan Alisa adalah Mama dan papa, kak Rafa nggak akan ikut pindah bersama kita ", Jawab Denis sambil mengelus rambut sebahu putrinya.


" Kalau gitu Disya gak mau pindah pah, Disya mau disini aja sama kak Rafa", Ucap Disya lagi.


kedekatan Rafa dan Disya sangatlah erat, mereka mulai dari kecil sering bermain bersama saat Alisa mengunjungi Nisa.


Nisa, dari belakang mendengar semua interaksi antara Papa dengan anaknya itu, Nisa pun juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan apa yang dirasakan oleh suaminya, bagaimana jika Disya masih tidak mau pindah, dan bagaimana lagi Denis dan Nisa akan menjelaskan semuanya.


Nisa kemudian keluar, ia berjalan menuju ke arah suami dan putrinya.


Nisa duduk tepat di sebelah Disya, dan Disya pun langsung memeluk mamanya.


"Ma, Disya mau sama kak Rafa aja, Disya nggak mau ke Surabaya", Ucap Disya.


Nisa kemudian menatap putrinya,


"Sayang, dengerin Mama ya, disana kakak sama nenek kangen sama Disya, Disya nggak kasihan sama Kakek dan nenek, mereka sudah tua sayang, jadi kita harus ke rumah nenek, Disya mau kan nak ??", Tanya Nisa.


Anak itu kembali berpikir, dan tak lama kemudian terlihat anggukan dari kepalanya, Denis dan Nisa pun akhirnya bisa tersenyum lega.


Denis kemudian memeluk putrinya,


"Jadi mulai sekarang Disya dan Mama mulai siap-siap ya, Kalau papa udah keluar dari perusahaan kita berangkat ke rumah kakek", Ujar Denis.

__ADS_1


Malam harinya, Denis mulai mengutak-atik laptopnya, ia akan membuat dan menyerahkan surat pengunduran dirinya, entah bagaimana reaksi bos nya saat ia menyerahkan surat pengunduran dirinya, Rasanya ia juga berat keluar dari perusahaan dan meninggalkan bos yang sudah baik kepadanya.


"Maafkan aku bos", Gumam Denis dalam Hatinya.


Istri dari bosnya itu pastinya juga akan kaget dengan kepindahan kami, bagaimana tidak , Alisa juga sangat dekat dengan Nisa, dan Nisa pun itu juga adalah mantan sekretaris Alisa, Alisa juga sangat menyayangi Disya, Alisa juga sangat menyayangi Disya seperti anaknya sendiri.


Keesokan harinya, Denis berangkat kerja seperti biasanya, Denis sudah mengenakan kemejanya, meskipun hanya sebagai sekertaris tapi gaji Denis cukup besar sehingga ia bisa membeli rumah yang cukup besar dengan hasil kerjanya, Denis harus mengurus bagaimana rumahnya nanti, apakah akan ia jual atau sebaliknya.


Denis tiba di depan kantornya, dan ia segera memasuki kantornya sebelum bosnya itu datang, para resepsionis menunduk memberi hormat kepada Denis, selaku sekertaris Fandi Denis juga sangat disegani di kantor tersebut.


Denis masuk kedalam lift dan segera menuju keruangan nya yang juga termasuk ruangan bosnya, Denis pun duduk di kursi kerjanya dan mulai melakukan pekerjaannya seperti biasanya.


Tak lama setelah itu Fandi datang, ia pun masuk kedalam ruangan nya, Denis yang melihat bosnya datang segera masuk dengan membawa amplop berwarna coklat tersebut, amplop itu berisikan surat pengunduran dirinya, hati Denis Setengah was-was menyerahkan amplop tersebut, bagaimana reaksi bosnya itu.


Pintu pun diketuk oleh Denis dan Fandi sudah menyuruh Denis untuk masuk, Denis pun masuk menggeser kursi yang ada didepannya dan segera duduk, Fandi pun terlihat menatap Denis, ada apa Denis datang menemuinya padahal ia belum memanggil nya sama sekali.


"Bos", Ucap Denis, dan Fandi pun menatap Denis Yang ada di depannya.


Denis meletakkan amplop berwarna coklat itu tepat di atas meja kerja Fandi, Fandi pun mengerutkan keningnya, amplop apa yang sebenarnya di berikan kepadanya oleh Denis.


"Apa ini den??", tanya Fandi sambil mengambil amplop berwarna coklat tersebut.


"Surat pengunduran diri saya bos", Ucap Denis yang membuat Fandi berdiri Seketika.


"Apa surat pengunduran diri??", tanya Fandi kaget.


"Iya bos, maaf, aku harus meninggalkan perusahaan ini bos, aku harus pulang", ucap Denis, Denis dapat melihat raut wajah bosnya yang saat ini, tampak kaget, Fandi tak percaya, sekertaris yang selama ini menemani dirinya dan sudah ia anggap seperti saudara sendiri mengundurkan diri dari perusahaan nya.


"Pulang??", Tanya Fandi lagi, "Pulang kemana??", Fandi masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Denis kepadanya.


"Papa ku memintaku pulang bos, beliau tadi malam menelfon ku, jadi aku harus pulang untuk memenuhi keinginan beliau", Ucap Denis.


"Baiklah den, kalau itu sudah keputusan mu, aku tidak dapat menahan mu, terimakasih atas semua yang kami berikan kepada ku, kami sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, jangan pernah lupakan aku, kita saudara", ucap Fandi.


Denis dan Fandi pun berdiri, mereka berpelukan dengan sangat erat, pelukan sebagai kakak ke adiknya, jujur Fandi sangat menyayangi Denis, dan Disya Fandi juga amat sangat menyayangi Disya putri dari Denis, Disya sudah ia anggap seperti anak Fandi sendiri.


"Terimakasih bos, aku tidak akan pernah melupakan bos, maafkan semua kesalahanku bos", ucap Denis.


"Pasti, seringlah datang kemari", Ucap Fandi.


"Baik bos, kalau begitu aku keluar dulu bos", Denis pun keluar dari ruangan Fandi, di sudut mata Fandi, terlihat Fandi menangisi kepergian Denis, orang yang selama ini selalu menemaninya bekerja, kini ia harus pulang dan memenuhi semua permintaan orang tuanya.


Denis mulai mengemasi barang-barang nya, ia akan merindukan ruangan ini, sudah 8 tahun lamanya Denis bekerja disini, bekerja dengan Fandi, orang yang begitu baik kepadanya.


"Aku janji tidak akan melupakan semua kebaikan kalian", gumam Denis.


Sore harinya, Denis berpamitan kepada semua rekan kerjanya, gajinya juga sudah Fandi berikan, gaji yang tidak seperti biasanya gaji yang cukup untuk membayar dirinya untuk 5 bulan kedepan, sungguh teramat baik Fandi kepadanya.


Fandi juga sudah keluar dari perusahaan, kepalanya mendadak pusing, ia bingung bagaimana cara mengatakan ini kepada istrinya, terutama kepada Rafa, putranya itu pastinya akan sedih mendengar Disya yang akan pergi dari Jakarta, meninggalkan dirinya dan semuanya yang ada di Jakarta.


Mobil Fandi berhenti tepat di halaman parkir rumahnya, Fandi kemudian turun dan segera masuk, Rafa kini sedang berjalan masuk kedalam rumah, matanya kini tertuju kepada Rafa, Rafa yang tengah bermain dengan Ghani dan Ghina, mereka tengah asyik bermain sampai mereka tak tahu jika Daddy mereka sudah pulang.


Fandi tak mau mengganggu mereka bermain, Fandi berjalan menuju ke kamarnya, Alisa sudah pulang terlebih dahulu dengan dijemput oleh pak Dadang, Fandi masuk kedalam kamar, ia hempaskan tubuh nya di atas sofa empuknya, ia pijat pelipisnya yang kini terasa pusing.


Alisa melihat Fandi yang kini sedang memejamkan matanya, Alisa mendekat, pasti telah terjadi sesuatu sehingga membuat suami seperti ini.


"Mas, kamu sudah pulang??', Tanya Alisa yang kini sudah selesai mandi.

__ADS_1


Fandi kemudian membuka matanya, wajahnya terlihat kusut, dan Alisa dapat melihat itu.


"Mas kamu kenapa ??", Tanya Alisa lagi, Fandi pun membuang nafas nya kasar, jika ia mengatakan itu pastinya istrinya akan kaget juga.


"Sayang, Denis mengundurkan diri dari perusahaan", ucap Fandi, mata Alisa seketika mendelik mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.


"Kamu gak bohong kan mas, kok bisa, memangnya Denis kenapa??, apa kamu memecatnya??", Tanya Alisa lagi.


Fandi menatap istrinya, bagaimana bisa istrinya beranggapan jika dirinya memecat Denis.


"Aku gak mungkin pecat Denis sayang, Denis dapat telfon dari papanya,papanya ingin Denis Kembali kepada keluarganya, dan sepertinya orang tua Denis sudah mau menerima Nisa sebagai menantunya", Ucap Fandi.


Ada rasa lega dihati Alisa, akhirnya Nisa bisa diterima di keluarga Denis, tapi ada rasa sedih juga jika pada akhirnya mereka akan pergi meninggalkan kita ini dan meninggalkan dirinya.


"Kapan mereka berangkat mas??", tanya Alisa.


"Aku masih belum tahu, yang jelas secepatnya mereka akan berangkat menuju ke Surabaya", ucap Fandi lagi.


Alisa pun mengangguk, tapi kemudian ia teringat dengan putranya, bagaimana jika Rafa tahu, pasti nya ia akan marah mendengar Disya akan pindah.


"Apa Rafa sudah tahu mas??", tanya Alisa, Fandi pun menggeleng, ia belum memberitahu putranya tentang kepindahan Rafa, dan mau tak mau Fandi dan Alisa harus memberitahu putranya tersebut.


Fandi kemudian mengeluarkan ponselnya, ia mencari nomor kontak Denis, ia kemudian segera menelfon Denis untuk menanyakan keberangkatan nya menuju ke Surabaya.


Panggilan pun tersambung, Fandi dapat mendengar suara Denis dari ponselnya.


"Halo bos, ada apa??", Tanya Denis, Denis pun mengerutkan keningnya, apa mungkin Fandi masih akan menanyakan pekerjaan yang belum sempat ia selesaikan di kantor tadi


"Aku mau menanyakan kapan kalian berangkat ke Surabaya", Ucap Fandi.


"Kami berangkat besok sore bos, kami sudah memesan tiket pesawat untuk penerbangan sore hari", Ujar Denis.


"Baiklah tunggu kami besok siang, kami sekeluarga akan datang kesana", ucap Fandi, baik bos, kami akan sangat senang jika bos mau datang.


Panggilan pun terputus, Alia yang masih berada di samping Fandi penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh suaminya kepadanya.


" Mas, bagaimana??, kapan mereka akan berangkat??", tanya Alisa kepada Fandi.


" Mereka berangkat besok sore sayang, jadi kita semua besok siang harus kesana, mas tidak mau melihat Rafa sedih karena tidak mengantar Disya ke bandara", Alisa mengangguk, dan ia harus menyiapkan semuanya, barang-barang Yang akan ia berikan kepada keluarga Denis pun harus ia siapkan mulai dari sekarang.


Fandi masuk kedalam kamar mandi, dan Alisa pun keluar dari dalam kamarnya untuk melihat sebentar apa yang kini tengah dilakukan okeh anak-anaknya saat ini.


Melihat semua anak-anak nya bermain membuat Alisa terlihat senang, tapi ia kasihan melihat putra sulungnya, ia pasti akan marah jika mendengar kepindahan Disya ke luar kota, anak itu pasti tidak akan mudah menerima semua itu, dan Alisa harus siap-siap menjelaskan semua kepada putranya.


Didalam rumah Denis, Mereka kini sudah bersiap-siap untuk mengemasi barang-barang mereka, semua pakaian pun sudah masuk kedalam beberapa koper besar, Koper Disya juga cukup besar, baju dan semua perlengkapan Disya, boneka Disya dan mainan Disya juga sudah masuk kedalam koper tersebut.


Disya masih terlihat sedih, wajahnya terlihat murung, Nisa pun mendekati putrinya, Nisa mengerti jika putrinya itu masih belum ikhlas menerima semua ini.


" Disya kenapa, kok sedih??", tanya Nisa.


Disya pun menggeleng, tapi setelah itu anak itu memeluk mamanya dan kemudian terdengar isakan dari mulut Disya.


"Disya kenapa??, cerita sama mama", ucap Nisa.


"Disya mau ketemu Kaka Rafa dulu sebelum Disya pergi ma, Disya sedih mau pisah sama kak Rafa", ucap Disya yang masih menangis, entah kenapa jika soal Rafa Disya akan menangis sampai seperti ini.


Nisa pun tersenyum lalu mengusap air mata putrinya yang jatuh menetes di wajahnya.

__ADS_1


"Disya tenang aja, besok sebelum kita pergi, papa Fandi, Mama Alisa, kak Rafa dan adik kembar akan kesini", ucap Nisa.


Mata Disya pun melebar, senyum pun sudah terbit dibibir nya, anak itu terlihat senang setelah mamanya memberitahu jika Rafa akan datang besok.


__ADS_2