
Rafa sampai di rumahnya dan mendapati semua anggota keluarganya sudah berada di rumah termasuk adik nya Ghani, Rafa dan Disya masuk kedalam rumah tanpa lupa mengucapkan salam mereka.
"Assalamualaikum", Ucap Rafa dan Disya, Mommy nya yang kini sedang berada di ruang tengah tersenyum melihat kedatangan mereka.
"Waalaikum salam, Kalian dari mana??, Mama kira kamu lagi dikamar sya??", Ucap Alisa yang melihat Disya datang bersama Rafa.
Tangan Disya kemudian terulur dan mencium punggung tangan Mama mertuanya.
"Iya ma, Disya tadi keluar sama Kaka Rafa, kak Rafa pulang siang tadi", Ucap Disya.
"Kalau gitu Rafa sama Disya kekamar dulu ya Mom", Ucap Rafa dan Alisa mengangguk.
Alisa senang melihat putra nya bisa bahagia bersama dengan Disya, dan itu membuat Alisa juga merasa sangat bahagia.
Rafa dan Disya masuk kedalam kamar mereka, Disya langsung membuka kerudungnya saat sudah berada di kamarnya, berdua dengan suaminya tak baik jika ia tak melepas apa yang bisa dilihat Suaminya, termasuk melepas kerudungnya.
Rafa merebahkan tubuhnya, begitu Disya menghampirinya Rafa kemudian juga menarik tubuh Disya agar menemani dirinya berbaring sebentar.
"Kamu mau honeymoon kemana sayang??", Tanya Rafa tiba-tiba, Disya tak sama sekali tidak terpikirkan untuk honeymoon, malah suami nya kini yang tiba-tiba membicarakan itu.
"Aku mau ke Bali, Kayaknya disana pemandangan nya bagus kak, sudah lama aku ingin ke Bali bersama kamu tentunya", ucap Disya yang memang ia sangat menginginkan untuk pergi kesana.
"Ok, kita berangkat Sabtu nanti, kamu persiapkan semuanya ya", Disya pun tersenyum sangat lebar, ia kemudian memeluk Rafa dan mencium pipi Suaminya itu.
"Makasih ya kak, aku sayang dan cinta sama kakak", ucap Disya, Rafa pun mengangguk dan membalas pelukan istrinya, ia peluk Kembali wanitanya itu dan tak ingin Rafa lepaskan.
Malam pun tiba, Sudah pukul 9 malam danTernyata hujan tiba-tiba datang dan sangat lebat sekali, Disya pun keluar dari dalam kamarnya dan melihat hujan yang turun dari balkon kamar tidurnya,
Disana juga ada Rafa Suaminya, pasangan suami istri itu belum bisa memejamkan matanya, mereka lebih memilih untuk melihat hujan yang tiba-tiba datang itu,
Udara dingin kini sudah mulai mereka rasakan, dan tangan Disya sudah ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang kedinginan.
"Sayang, dingin ya, ayo kita masuk aja", keduanya kemudian masuk kedalam kamar, dan Rafa sudah mengunci pintu pintu penghubung kamarnya menuju balkon, dan Disya kini yang bertugas menutup korden jendela kamarnya, semuanya pun sudah tertutup dan mereka kini sudah naik diatas ranjang mereka dan bersiap untuk tidur.
Sudah jadi kebiasaan Disya, ia akan tidur dengan menggunakan baju tidur berbahan satin yang cukup membuat Rafa tergoda, Belahan dadanya bisa terlihat jelas oleh Rafa dan Rafa sangat ingin menyentuh benda itu berkali-kali.
Rafa kemudian menarik Disya kedalam pelukannya, Menguncinya dan mengubah posisinya hingga saat ini Rafa yang sudah berada diatas.
Terasa sangat jelas hembusan nafas mereka, Dan nafas itu kali ini semakin sangat terasa karena Rafa semakin mendekatkan wajahnya.
Mata Disya pun tak dapat menolak tatapan mata dari Suaminya, mereka kini sudah tidak bisa mengontrol dirinya masing-masing, dan pada akhirnya mereka saling menuntaskan hasrat mereka.
Berbeda dari kakaknya, kini Ghani yang sedang berada dikamarnya tengah sibuk melakukan panggilan video call dengan Ratna, sudah di hari ini mereka tidak bertemu, rindu??, pastinya, Ghani lah yang sangat rindu dengan Ratna, Seperti dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh, Ghani tak henti-hentinya merengek minta bertemu besok, dan Ghani akan menjemputnya selepas pulang kuliah.
"Pokoknya kamu besok hak usah
bawa mobil, biar mas yang jemput", Ratna pun senang, dan sebenarnya tugasnya juga sudah selesai dan ia bisa santai dan tidak di bebani oleh banyaknya tugas kuliahnya.
Pembicaraan mereka kemudian beralih ke pembicaraan keseharian mereka, apa yang mereka lakukan dua hari ini, dan keduanya sama-sama saling bercerita.
"Tapi beneran kan Mesya gak nemuin kamu lagi mas??", tanya Ratna selanjutnya, ia jelas cemburu jika Mesya terus menggangu mas dokternya itu.
"Iya, kamu gak perlu khawatir, sepertinya Mesya sudah menyerah, dan lagi pula mas kan gak suka sama dia", Ghani tidak tahu saja jika Mesya sudah menyiapkan rencana besar.
"Iya mas, tapi kamu hati-hati aja ya, gak tau kenapa aku seharian ini terus mikirin kamu, takut kamu kenapa-kenapa", Ucap Ratna.
Ghani pun tertawa,
"Itu bukan khawatir sayang, itu kamu nya aja yang kangen sama aku", ucap Ghani.
Ratna pun sedikit kesal, ia benar-benar khawatir malah ditertawakan, "Mas, aku serius, kamu harus jaga diri baik-baik, Aku gak mau terjadi sesuatu dengan kamu", Kali ini nada bicara Ratna sedikit serius membuat Ghani menghentikan tawanya.
"Iya sayang, kamu tenang aja", Meskipun mereka hanya pacaran, tapi Ratna sangat menghawatirkan Ghani, ia takut akan terjadi sesuatu dengan hubungan mereka, Bukan karena terlalu bagaimana, tapi Ghani sudah mengutarakan keseriusan nya kepada Ratna , jadi wajar Ratna mengingatkan calonnya itu.
Panggilan pun sudah diakhiri oleh Ghani, mereka memutuskan untuk sama-sama istirahat karena kesibukan mereka besok, Ghani harus sampai di rumah sakit pagi-pagi sekali dan Ratna yang masih harus menjalani kuliahnya.
Ratna masih belum bisa memejamkan matanya, kenapa wajah Ghani masih terus ada saat ia menutup matanya, bayangan Ghani yang sedang bersama Mesya terus berseliweran dalam pikirannya.
"Ada apa ini, mengapa aku berpikiran aneh seperti ini, apa yang akan terjadi??", tanya Ratna dalam hatinya, perasaan nya benar-benar sedang tidak enak malam ini.
Dan pada akhirnya Ratna bisa memejamkan matanya pada jam 2 dini hari, pagi harinya ia bangun kesiangan, dan pastinya ia melewatkan sholat shubuh nya.Ratna kemudian segera pergi Kekamar mandi, Ia sudah telat, dan pastinya mamanya sudah berangkat, dan ia harus naik taksi pagi ini.
Benar saja, saat ia keluar dari kamarnya, rumah itu sudah terlihat sepi, tinggal bibi saja, dan ia begitu sangat kesal mengapa ia bisa bangun kesiangan seperti ini.
Ratna kemudian keluar dari rumah, ia juga tak sarapan, ia harus cepat-cepat berangkat kuliah karena jam kuliahnya juga akan dimulai setengah jam lagi.
Ratna sudah memasuki taksi dan taksi itu segera menuju tempat yang Ratna tuju, ia kini sudah sampai di kampusnya, Ratna sedikit berlari dan sampai ia menabrak seseorang, Ratna sedikit terjatuh dan apesnya lagi ia menabrak dosennya,
Ratna sedikit menunduk kepalanya, jujur ia takut, apalagi itu dosen yang akan mengisi jam kuliah nya saat ini.
"Maaf pak, saya tidak sengaja", ucap Ratna sambil menunduk,
"Lain kali itu jalan saja, gak usah lari, Bagaimana kamu ini", Ucap dosen tersebut.
"Iya pak, maaf, saya benar-benar tidak sengaja", Ratna pun tak habis pikir hari ini ia begitu sangat apes sekali, Pertama ia bangun kesiangan dan yang kedua ia mendapat Omelan dari dosennya.
Beberapa menit kemudian akhirnya pak dosennya itu melepaskan Ratna, ia kemudian menyuruh Ratna masuk.
Rio yang melihat wajah kusut Ratna pun mendekat, ia dekatkan mejanya sedekat mungkin dengan Ratna agar bisa berbicara dengan sahabat yang ia cintai itu.
"Muka Lo kenapa kayak gitu??", tanya Rio.
Ratna kemudian membuang nafasnya, "Gue tadi bangun kesiangan, dan apesnya lagi aku nabrak pak dosen sebelum masuk kesini", ucap Ratna.
"Terus gimana, Lo gak dihukum kan??", tanya Rio.
__ADS_1
"Alhamdulillah, gue selamat, pak dosen udah maafin gue", Jawab Ratna.
Dilain tempat, Ghani kini sedang berada diruangannya, Ia sudah selesai melakukan pemeriksaan rutin kepada para pasiennya, sekarang dia sedang beristirahat sejenak dan satu jam lagi ia akan keluar untuk menjemput Ratna.
Tak disangka ada yang membuka pintu ruangannya, Ghani pun penasaran, orang yang membuka pintu itu masih belum masuk juga, tak lama setelah itu terlihat Mesya yang masuk kedalam ruangannya.
"Hay Ghan", Ucap Mesya yang langsung masuk tanpa permisi.
Ghani pun mengerutkan keningnya, Kenapa Mesya tiba-tiba bisa datang kemari.
"Ada yang bisa aku bantu Mey???", tanya Ghani.
"Iya Ghan, aku butuh bantuan mu",Ucap Mesya dan ia segera duduk dihadapan Ghani.
"Apa yang bisa aku bantu Mey, apa kau sakit??", tanya Ghani, menurut Ghani, bantuan yang bisa ia berikan adalah membantu orang yang sedang sakit dan paling penting bisa menyembuhkan nya.
"Iya, aku utuh bantuan, aku sakit, lebih tepatnya hatiku yang sakit Ghan, hatiku sakit bila melihatmu bersama wanita itu, hanya kamu yang bisa menyembuhkan", ucap Mesya.
Ghani pun tak mengerti sama sekali apa yang dikatakan Mesya kepadanya.
"Maksud kamu apa Mey,??", tanya Ghani lagi, Sebenarnya ia tidak mau berlama-lama bersama dengan Mesya, tapi jika harus mengusir nya lagi rasanya Ghani tak enak hati.
"Ghan, aku mohon, aku cinta sama kamu, aku mau jadi kekasihmu", ucap Mesya lagi.
Mungkin urat malu Mesya sudah terputus sehingga ia tak malu mengatakan hal seperti ini kepada Ghani.
Ghani pun menghela napasnya, bagaimana cara untuk membuat Mesya mengerti jika dirinya tidak cinta dengannya.
"Mey, aku kan sudah pernah bilang, jika aku tidak cinta sama kamu Mey, aku sudah punya calon istri, dia bukan hanya kekasih ku, tapi dia sudah menjadi calon istriku", ucap Ghani dengan nada lembut berharap Mesya akan mengerti.
Dan lagi-lagi Mesya menangis, ia tidak terima dengan pernyataan Ghani kepadanya, calon istri??, kenapa Ghani memilih dia bukan dirinya.
Ghani membiarkan wanita yang ada di hadapannya itu menangis, mau dipaksa seperti apapun jika perasaan nya bukan untuknya, mau gimana lagi, yang pasti Ghani tidak mencintai Mesya, dan ia hanya mencintai Ratna seorang.
Ini sudah jam lewat dari yang Ghani katakan kepada Ratna, Ratna terlihat masih setia menunggu Ghani, tapi yang ditunggu saat ini tengah Menerima tamu yang tak diundang di ruangannya.
Sudah hampir setengah jam, dan Ratna memutuskan untuk pergi ke rumah sakit saja, mungkin Ghani tidak bisa menjemputnya, dan Ratna memaklumi itu.
Ratna saat ini sudah menaiki taksi, dan menuju ke arah rumah sakit, tapi sebelum itu ia akan pergi ke resto dulu, membeli dua kotak makanan yang akan ia makan bersama dengan Ghani, perutnya memang sudah meronta minta diisi sedari pagi tadi.
Ratna keluar dari resto dengan membawa dua buah kotak makanan, ia kemudian memasuki taksinya kembali dan menuju kearah rumah sakit.
Ghani didalam ruangannya lupa jika ia harus menjemput Ratna, ia masih berada di dalam ruangannya dan masih melihat Mesya yang tak kunjung keluar dari ruangannya.
"Mey, aku mohon, sudah jangan pernah mengharapkan ku lagi, kamu tahu kan kalau aku hanya menganggap mu sebagai adik, tidak lebih", ucap Ghani.
Mesya kemudian mendekat, ia kemudian berlutut dihadapan Ghani.
"Kenapa kamu tega sama aku Ghan, aku benar-benar cinta sama kamu, aku sayang sama kamu", acap Mesya yang masih dalam posisi yang sama, masih berlutut di kaki Ghani.
Ratna terlihat senang sekali bisa bertemu Ghani, karena sudah dua hari ini Ghani sama sekali tidak menemuinya, jadi ia akan memberikan surprise kepada Ghani lewat kedatangan nya saat ini, dan Ratna pun segera masuk kedalam ruangan itu dan juga tanpa mengetuk pintunya.
Pintu pun terbuka, dan tepat saat Ratna membuat pintu tersebut, Ghani yang sedang berdiri tengah menahan tubuh Mesya yang akan jatuh ke lantai.
Ratna pun tercengang, ia kaget melihat pemandangan yang ada di dalam ruangan itu, Ghani sedang memeluk Mesya, Kotak makan yang dibawa oleh Ratna pun jatuh membuat Ghani melihat ke arah Ratna.
Ghani segera melepas pelukannya, dan ia kemudian mengejar Ratna yang sudah berlari keluar dari ruangan Ghani, Ratna menangis sejadinya, ternyata ini yang dimaksud oleh Ratna, bukan Ghani yang harus dikhawatirkan tapi dirinya lah.
Ratna kini sudah berada di depan, tepatnya di tepi jalan raya,ia kini sedang mencari taxi untuk ia pergi meninggalkan Ghani yang ia tahu sedang mengejar dirinya.
Ratna akhirnya mendapatkan taxi dan ia segera memasuki taxi itu dan segera pergi,
Ghani pun mencoba menghentikan taxi itu, ia kemudian berlari untuk mengambil mobilnya dan segera mengejar taxi yang di tumpangi Ratna.
Didalam ruangan Ghani, Mesya kini bisa tertawa puas,"Ternyata gampang buat mereka bubar ya, pas banget, pas wanita itu datang ada adegan pelukan", ucap Mesya penuh kemenangan, Mesya kemudian keluar dari ruangan itu , Meisya berjalan sambil ketawa puas Ia sangat senang hari ini karena bisa mengelabuhi ghani dan Ratna.
sementara itu Gani kini tengah mengejar Ratna yang sudah hampir jauh dari jangkauan mobilnya, ia terus mempercepat laju mobilnya karena ia ingin menghalau taksi yang sedang dinaiki oleh Ratna.
kini ia baru sadar jika dirinya lupa Jika ia akan menyusul Ratna dari tadi dan itu karena Mesya yang datang secara tiba-tiba dan membuat ia harus berada di dalam ruangan itu bersama dengan Mesya.
di dalam mobil Ratna terus saja menangis ia tak menyangka Jika ia akan mendapatkan pandangan seperti ini, ia menyesal percaya dengan Gani tapi sekarang ia sudah benar-benar marah dan ingin meminta putus dengan Gani.
setengah jam kemudian Ratna sudah tibadi depan rumahnya Dania segera membayar Argo taksi tersebut dan segera memasuki rumahnya ia mengunci rapat-rapat rumahnya dan tak mau jika Gani akan datang menemui dirinya, ia ingin sendiri dan ingin menangis sepuasnya.
Ghani Sudah mengira jika Ratna akan pulang,Jadi Ghani memutuskan untuk segera pergi ke rumah Ratna dan menjelaskan semuanya,
Rumah Ratna terlihat sepi dan tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya tapi Ghani tidak pergi begitu saja Ia tetap menunggu di depan rumah Ratna dan terus mengetuk pintu rumah Ratna.
"Assalamualaikum", ucap Ghani.
Bibi yang sedang di dalam dapur dan tidak mengetahui Ratna pulang langsung saja berjalan ke depan dan membuka pintu karena bibi mendengar ada orang yang sedang mengetuk pintu rumah majikannya.
"Waalaikumsalam, sebentar", Jawab bibi dan terus berjalan dan membuka pintu utama tersebut.
Bibi pun tersenyum melihat Ghani yang sedang ada di depan rumah,
"Eh mas ganteng datang, cari non Ratna ya, maaf den, non Ratna nya masih belum pulang", jawab Bibi yang belum tahu jika Ratna sudah berada di dalam kamarnya.
"Jadi Ratna belum pulang ya Bi, kalau gitu aku tunggu di sini sampai Ratna pulang ya Bi", ucap Ghani kepada Bibi.
"Ya sudah dan silakan masuk Bibi buatin minum ya", Ucap Bibi yang kemudian meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju dapur.
di dalam kamarnya Ratna kini tengah menangis sejadi-jadinya ia mengingat Ghani yang sedang berpelukan dengan Mesya tadi, "Ternyata Ghani lupa menjemputnya karena ada Mesya,aku begitu bodoh aku begitu bodoh bisa percaya dengan Ghani", Ucap Ratna sambil menangis.
Ratna terus memukul-mukul ranjang yang sedang tidur, hari ini ia benar-benar patah hati karena dokter itu, dokter yang memperkenalkan dirinya tempo hari sebagai calon istri kepada keluarganya.
__ADS_1
3 jam kemudian terdengar suara mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Ratna, dan bisa dipastikan jika itu adalah mama Dina, mamanya Ratna yang sudah pulang dari Resto tempat ia bekerja selama ini.
Dina kemudian masuk ke dalam rumahnya dan ia melihat Ghani yang sedang tidur di sana, sudah cukup lama Ghani berada di sana dan akhirnya ia tertidur karena menunggu Ratna yang belum juga datang.
Dina kemudian langsung menuju dapur dan meminta penjelasan kepada Bibi Kenapa ada Gani di ruang tamu dan tidak ada Ratna.
"Assalamualaikum Bi", Ucap Dina kepada bibi.
"Waalaikumsalam nyonya, nyonya sudah datang??", tanya Bibi kepada Dina.
"Iya bi baru saja, oh iya di depan kok ada Ghani ya, dan terus Ratna ke mana??", tanya Dinda kepada Bibi.
"Non Ratna masih belum datang Nyonya, sudah dari tadi den Ghani di sini, Bibi kasihan sama den Ghani nyonya, sudah dari 3 jam yang lalu nunggu non Ratna", Ucap Bibi.
Dina kemudian menghela nafasnya "Ya udah Bi, aku kamar dulu nanti kalau Ratna sudah datang Bibi bilang sama aku", Ucap Dina dan kemudian berjalan menuju kamarnya.
Dina penasaran, nggak mungkin jika Putri nya belum datang sampai saat ini, kemudian ia mencoba membuka kamar Ratna, dan Apa yang dia lihat Ratna tengah tertidur di dalam kamarnya.
Dina kemudian masuk dan melihat Ratna yang benar-benar telah tertidur, Dina kemudian menggoyang-goyangkan tubuh Ratna agar putrinya itu terbangun.
Ratna yang merasa tidur tidurnya terusik tiba-tiba saja mulai membuka matanya.
"Mama?? ada apa ma??", tanya Ratna sambil duduk di atas ranjangnya.
Dina dapat melihat jika mata putrinya kini terlihat sembab, bisa dipastikan jika Ratna habis menangis dari tadi.
"Kamu kenapa??", Tanya Dina yang ingin mengetahui apa yang tengah terjadi, Dina ingin mengetahui Ratna jujur atau tidak kepadanya.
"Aku tidak apa-apa mah, Memang kenapa ??", Tanya Ratna.
"Kamu pasti bohong kan sama mama??", tanya Dina kepada Ratna.
"nggak ma, kenapa??,aku nggak kenapa-napa kok", Ucap Ratna meyakinkan.
Dina tahu jika putrinya tengah berbohong, jika tidak mengapa Ghani bisa sampai menunggunya dan sampai tertidur di sofa.
"Ya udah, sini ada yang mau Mama tunjukin sama kamu", Ucap Dina yang mengajak Ratna keluar, penampilan Ratna sudah acak-acakan, rambutnya juga sudah tak beraturan lagi, dan matanya benar-benar sembab.
Dina kemudian membawa ratna menuju ke ruang tamu, memperlihatkan ghani yang sedang tertidur di sana.
"Coba kamu lihat kalau memang kalian gak ada masalah nggak mungkin Ghani bisa tidur sini tanpa sepengetahuan kamu",
Ratna kemudian membuka mulutnya, tak menyangka jika Ghani ada di rumahnya saat ini, mengapa iya bisa tidak tahu jika Ghani sedari tadi berada di dalam rumahnya dan kini ia sedang tertidur karena menunggu dirinya.
Ratna kemudian mendekat dan ingin membangunkan Ghani, Ratna kemudian menggoyang goyang kan tubuh Ghani secara perlahan agar tak mengagetkan Ghani yang sedang tertidur.
"Mas bangun, ngapain kamu di sini??", tanya Ratna, dan Ghani yang mendengar suara Ratna tiba-tiba saja terbangun.
Ghani saat ini terbangun,ia mengerjapkan matanya perlahan dan mulai mengumpulkan kesadarannya, tapi setelah ia melihat Ratna ia langsung saja duduk seketika dan memeluk ratna dan meminta maaf kepadanya.
"Semua itu salah paham dan itu semua tidak benar, apa yang kamu lihat tadi itu bukan sebenarnya, aku sudah mencoba mengusir Mesya, tapi dia tetap nggak mau pergi dan tetap berada di ruangan aku, dan apa yang kamu lihat tadi aku hanya ingin menolong Mesya", Ucap Ghani menjelaskan, tapi sepertinya penjelasan itu hanya sia-sia saja Ratna tidak percaya sama sekali dengan ucapan Ghani, "Maaf mas sebaiknya kamu pulang saja dan maaf, aku udah nggak bisa ngelanjutin lagi mas, maaf kita putus", Dina yang mendengar pun menjadi tercengang, ada masalah apa sebenarnya kenapa bisa putrinya dan putra sahabatnya itu bisa putus.
"Ratna aku nggak mau putus sayang, apa yang kamu lihat tadi itu hanya kecelakaan saja aku dan Mesya nggak ada apa-apa, aku cuma menganggapnya seorang adik saja nggak lebih", Ratna pun tak mendengar ucapan Ghani, dan dia langsung saja masuk ke dalam kamarnya kembali, ia kemudian menutup pintu kamarnya dan bersandar di balik pintu kamar tersebut.
Ratna menangis di balik pintu itu, dan dia mencoba untuk tetap tegar dan bisa untuk melepaskan Ghani dari hidupnya.
Ghani meraup wajahnya Frustasi, ia tak menyangka jika hari ini ia akan putus dengan Ratna, dan dia bersumpah akan menjauhi Mesya jika sampai benar-benar Ratna tidak mau menemuinya lagi.
Dina merasa kasihan kepada Ghani dan mencoba untuk menenangkan putra sahabatnya itu, "Sabar dulu nak Ghani, Tante akan mencoba untuk berbicara kepada Ratna terlebih dahulu", ucap Dina kepada Ghani.
"Iya Tante terimakasih, tolong bilang sama Ratna kalau Ghani sangat mencintai Ratna dan ingin menjadikan Ratna istri Ghani", Dina pun tersenyum sambil mengangguk, kamu tenang saja, Tante akan berbicara dulu sama Ratna, jika nanti Ratna sudah lebih baik kamu bisa datang kesini untuk berbicara dari hati ke hati dengan Ratna, Tante suka sama kamu dan tante merestui hubungan kalian, Tante bahagia jika kamu benar-benar ingin menjadikan Ratna sebagai istri kamu", Ghani pun seketika tersenyum lebar mendengar penuturan dari mamanya Ratna.
"Terima kasih Tante, kalau gitu Ghani pamit pulang dulu, Assalamualaikum", Ucap Ghani sambil mencium tangan Dina",
"Waalaikum salam, hati-hati di jalan", Ghani kemudian pulang dan akan mencoba untuk menghubungi ratna nanti malam.
Ghani pulang dengan wajah kusutnya dia sangat tidak bersemangat sama sekali, Alisa yang sudah pulang dari kantor melihat Ghani yang seperti itu seketika mengerutkan keningnya, tak biasanya putranya itu pulang dengan wajah seperti itu.
Ghani kemudian langsung saja masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu tersebut ia tidak ingin diganggu oleh siapapun karena pikirannya sangat kacau dan ia ingin sendiri dan berpikir di dalam kamarnya.
Ghani menghempaskan tubuhnya di atas kasurnya, bayang-bayang wajah Ratna terus aja terbawa sampai di dalam kamarnya, dia masih terus berpikir kenapa hari ini bisa menjadi hari terburuk baginya.
Ghani kemudian memutuskan untuk segera mandi membersihkan tubuhnya dan segera melakukan shalat, ia ingin menjernihkan pikirannya terlebih dahulu.
Alisa penasaran sekali dengan tingkah putranya yang satu ini, kemudian iya berjalan ke kamarnya dan ingin membicarakan sesuatu pada suaminya, terlihat fandi saat ini tengah menatap layar televisi yang ada di dalam kamar nya, dan Alisa kemudian menghampiri dan duduk tepat di samping suaminya. dia kemudian menyandarkan tubuhnya di lengan suaminya Fandi merasa aneh dengan wajah istrinya mengapa istrinya mengapa istrinya masuk dan tiba-tiba duduk dan menyandarkan tubuhnya, pasti ada sesuatu jika Alisa melakukan hal seperti itu.
"Kamu kenapa ma??," tanya Fandi.
"Papa lihat muka mama kok jadi kayak gini padahal tadi ceria aja??", Tanya Fandi
"Iya pah, lagi mikirin Ghani, nggak tau kenapa pas pulang tadi wajahnya aneh gitu,pasti ada sesuatu pah", Ucap Alisa.
"Gak usah mikir yang aneh-aneh, mungkin lagi capek aja, kita kan nggak tahu dirumah sakit lagi banyak pasien atau nggak, bisa aja kan Ghani kecapekan", ucap Fandi
Alisa kemudian berpikir mungkin benar apa yang dikatakan oleh suaminya, pasti putranya itu sedang lelah.
Malam hari pun tiba, semuanya sudah berkumpul di meja makan terkecuali Ghani, Ghani masih ada di dalam kamarnya dan belum turun sampai sekarang. Alisa kemudian menyuruh Gnina untuk segera memanggil kakaknya tersebut.
Ghani sudah berulangkali mengetuk pintu kamar Ghani, dan sudah beberapa kali juga Ghina tidak mendapatkan sahutan dari Ghani.
Ghina mencoba membuka pintu tersebut dan ternyata pintu tersebut terkunci.
Ghina pun seketika panik dan memanggil Ghani berulang kali.
"Kak, kakak nggak apa-apa kan, tumben pintunya dikunci, Mommy nyuruh Kakak makan", ucap Ghina.
__ADS_1
Namun, tak berapa lama kemudian pintu tersebut akhirnya terbuka dan memperlihatkan Ghani yang tengah memakai kopyah, ternyata Ghani habis selesai mengaji didalam kamarnya untuk sekedar menenangkan pikirannya.