Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 26


__ADS_3

Kamu kuliah jam berapa??, biar aku jemput kamu, gak usah bawa mobil sendiri, dan jangan mau di jemput sama cowok yang kemarin lagi.


Pagi-pagi sekali Ratna sudah mendapatkan pesan dari kekasih yang baru tadi malam jadian, Ratna pun tersenyum membaca pesan itu, pesan yang begitu memperlihatkan jika Ghani tengah cemburu kepada nya, berarti itu menandakan jika Ghani benar-benar mencintainya.


Iya mas siap, gak usah berpikiran buruk mas, nanti jemput jam berapa??


Balasan Pesan pun terkirim kepada Ghani, dan Ratna pun meletakkan ponselnya kembali dan mulai untuk bersiap-siap.


Satu jam kemudian, tanpa membalas pesan dari Ratna, Ghani pun sudah berada tepat di depan gerbang rumah Ratna, Ghani pun turun dan segera memencet bel rumah Ratna, Bibi yang sedang menyapu halaman kemudian membuka pintu gerbang tersebut,


Terlihat Ghani kini yang sedang ada di depan bibi, dengan kemeja berwarna Dongker dan celana bahannya, membuat kadar ketampanan dokter muda itu kian kentara.


"Loh, ini kan mas yang tadi malam ya??", tanya bibi.


"Iya Bi, Assalamualaikum", ucap Ghani dengan senyuman manisnya.


"Waalaikum salam, cari non Ratna ya??", Tanya bibi lagi.


"Iya Bu, Ratna nya ada??", tanya Ghani.


"Ada den, Mari silakan masuk", ucap bibi, dan Ghani pun masuk dengan diikuti Bibi dari belakang.


Ghani dipersilakan duduk oleh bibi, dan Ghani pun mengangguk, ia kemudian duduk sambil menunggu Ratna yang sedang berada di dalam kamarnya.


Di dalam rumah itu, ayah dari Ratna sudah pulang, ya, pak Bambang, mantan pasien Ghani, kini sudah pulang dan baru tadi malam ia pulang dari dinas luar kotanya.


Pak Bambang pun keluar, ia kaget, kenapa ada dokter Ghani di rumahnya sepagi ini.


"Dokter Ghani??", ucap pak Bambang yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Ghani pun berdiri dan kemudian menyalami pak Bambang yang kini sudah ada dihadapannya.


"Iya pak, bagaimana keadaan bapak??", tanya Ghani.


"Alhamdulillah Dokter, ini semua berkat dokter, saya sekarang sudah sembuh", ucap pak Bambang.


"Alhamdulillah pak, saya ikut senang",


"Hmmm... ngomong-ngomong ada apa dokter di rumah saya sepagi ini??", Tanya pak Bambang penasaran, pak Bambang masih belum mengetahui perihal hubungan anaknya dengan dokter muda ini.


"Saya kesini mau jemput Ratna pak, dan kalau saya diizinkan saya akan mengantar Ratna ke kampus hari ini pak", ucap Ghani.


Pak Bambang pun tersenyum,


"Apa kalian ada hubungan??", Tanya pak Bambang, Ghani kemudian mengangguk, "Iya pak", Jawab Ghani.


Tak lama setelah itu, Ratna pun turun dan melihat Ghani yang sedang berbicara dengan ayahnya.


"Mas, kamu sudah datang??", Tanya Ratna, ia sedari tadi masih belum mengetahui jika Ghani sudah datang menjemputnya.


"Iya, kamu sudah siap??", tanya Ghani, Ratna pun mengangguk.


"Kalian gak sarapan dulu??", Tanya pak Bambang.


"Terimakasih pak, saya sudah sarapan", jawab Ghani.


"Hmm... mas, sebaiknya sarapan dulu ya, nanti mas sakit loh, gak mungkin kan mas sudah sarapan sepagi ini, ini kan masih jam setengah tujuh", ucap Ratna sambil melihat ke arah arlojinya.


"Iya dokter, lebih baik dokter sarapan dulu disini bersama kami", Ghani pun tak dapat menolak permintaan pak Bambang, akhirnya ia pun mengangguk.


"Hmm.. Maaf pak, jangan panggil saya dokter, Panggil nama saya saja, Ghani", ucap Ghani,dan pak Bambang pun mengangguk.

__ADS_1


"Ayo silahkan nak Ghani", Pak Bambang pun pergi menuju ke meja makan dan diikuti oleh Ghani dan Ratna.


Dina yang melihat ada tamu pun tersenyum, "Wah, ada tamu ternyata, ayo kita sarapan bersama", Ghani mengangguk dan menyeret kursi yang ada dan duduk tepat disebelah Ratna.


Setengah jam kemudian, mereka semua selesai sarapan, Ghani dan Ratna pun akhirnya berpamitan.


Mereka kini berada didalam satu mobil, pertama kalinya buat Ratna berada di dalam mobil Ghani, perasaan dag Dig dug pun terasa saat ini, Ratna begitu nervous, ia juga menjadi salah tingkah jika berdua seperti ini.


Perjalanan mereka cukup santai, Ghani tak terburu-buru sama sekali,


"Oh ya, aku kan belum tahu kampus kamu dimana??", ucap Ghani.


"Oh iya mas, maaf aku lupa, aku kuliah di universitas yyy " ucap Ratna, Ghani pun mengerti dan kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah kampus yang sudah diberitahu kan Ratna kepadanya.


Mereka akhirnya pun sampai tepat di depan kampus tersebut.


"Nanti pulang jam berapa??", tanya Ghani.


"Aku pulang siang mas, kenapa ??", tanya Ratna.


"Biar aku yang jemput, ingat gak usah sama cowok yang kemarin, aku gak suka", ucap Ghani.


Ratna pun membuang nafasnya kasar,


"Mas, itu sahabat aku, tiap hari aku sama dia, aku kan gak ngapa-ngapain mas, aku gak cinta Dia, yang aku cintai cuma kamu, jadi kamu gak perlu berpikiran aneh-aneh", ucap Ratna yang kemudian membuka pintu mobil tersebut.


"Ya udah aku keluar dulu ya, kamu hati-hati dijalan, oh ya,kamu jangan sampai kepincut Mesya ya, aku juga gak suka", ucap Ratna mengingatkan.


Ghani pun tertawa kecil.


"Iya, tenang aja, aku gak akan kepincut sama dia, kan aku sudah kepincut sama anak kecil ini", ucap Ghani sambil mengusap kepala Ratna.


"Ya udah cepat keluar, nanti kalau udah pulang jangan lupa telfon aku", Ratna pun mengangguk dan kemudian ia keluar dari dalam mobil Ghani.


"Hay rat, tumben Lo gak bawa mobil lagi??", tanya Rio, mobil Ghani pun tak jadi ia jalan kan, ia masih ingin mengetahui interaksi antara Ratna dan Rio.


"Iya aku gak bawa mobil, aku di antar lagi", ucap Ratna.


Rio pun hanya ber oh saja,


"Ya udah lebih baik kita masuk aja", Ratna dan Rio pun akhirnya masuk bersama, sesekali Ratna menoleh kebelakang untuk melihat Ghani sudah meninggalkan kampusnya atau belum.


Ghani terlihat mengepalkan tangannya, tapi ia mencoba untuk tetap tenang selama tidak ada perbuatan lebih terhadap Ratna, dan Ghani pun kemudian menjalankan mobilnya dan berangkat menuju ke rumah sakit tempat ia bekerja.


Ghani tiba di rumah sakit, ia kemudian segera turun dan meraih tas kerjanya tak lupa jas putihnya kedokteran nya ia bawa, Ghani merupakan salah satu dokter muda dan tampan di rumah sakit ini, setiap Ghani memasuki rumah sakit pasti para suster pun akan melihat Ghani sampai ia memasuki lift.


Ghani kini berjalan ke ruangannya, di belakang ada seorang suster yang memanggil nya, lebih tepatnya suster yang menjabat sebagai asisten nya, suster tersebut memberitahu kan jika ada seorang wanita yang tengah menunggu dirinya saat ini, dan wanita itu kini ada di dalam ruangan nya.


"Terimakasih sus, saya akan menemuinya", ucap Ghani, Ghani sudah mengira jika yang datang pasti adalah Mesya, perempuan ini tidak pernah berhenti untuk mengejar dirinya.


Pintu pun di buka oleh Ghani, dan yang ia lihat pertama kalau adalah seorang wanita yang sedang duduk di sofa sedang menunggu dirinya, Mesya Zevanya, dia yang sedang menunggu seorang dokter Ghani sepagi ini,


"Mey..", ucap Ghani saat masuk kedalam ruangannya, Mesya pun berdiri, ia tersenyum dan menghampiri Ghani Yang berjalan menuju ke arah kursi kebesarannya.


"Ngapain kamu kesini??", tanya Ghani, Mesya pun semakin mendekat dan membuat Ghani sedikit menjauh dari Mesya.


"Aku mau ketemu kamu, nggak boleh??", tanya Mesya.


Ghani pun membuang nafasnya kasar, pagi ini ia bukan menghadapi seorang pasien,malahan ia menghadapi wanita yang selalu mengejar dirinya.


"Mey, kamu tahukan aku sedang bekerja, dan lagi pula kamu sudah tahu kalau aku sudah punya pacar, jadi aku mohon jangan ganggu aku", Ucap Ghani yang sudah tak tahu lagi harus berkata seperti apa kepada Mesya.

__ADS_1


Mesya pun tertunduk, matanya sudah berkaca-kaca,


"Maaf, tapi aku sayang sama kamu, apa gak ada sedikit rasa buat aku??", tanya Mesya lagi.


"Mey, sudah berulang kali aku bilang, aku hanya menganggap kamu seperti adikku sendiri, kamu ngerti kan??", Mesya pun mengangguk, merayu Ghani dengan cara seperti ini ternyata gagal, meski ia harus menemuinya sepagi ini tapi tak membuat Ghani simpati kepadanya.


"Sudah ya Mey, sebenarnya aku gak mau ngusir kamu, tapi kamu tahu kan ini jam kerja aku, jadi aku mohon kamu pulang aja ya", Mesya akhirnya pun pergi dari ruangan Ghani, Ghani tak menyangka jika Mesya masih terus mendekatinya sampai sekarang.


setelah kepergian Mesya Ghani pun memulai aktivitas nya, ia segera keluar dari ruangan nya untuk memulai mengecek kondisi pasien-pasiennya yang ada dirumah sakit ini.


Mesya pun keluar dari rumah sakit ini, berlari tanpa memperdulikan orang yang kini tengah melihatnya, ia sangat sakit hati kepada Ghani, kenapa Ghani sama sekali tidak pernah melirik nya, kurang apa ia selama ini, ia sudah mengenal Ghani sejak SMA.


Mesya pun akhirnya pulang, ia ingin mengatakan semuanya kepada mamanya, ia butuh teman curhat saat ini.


Tak lama setelah itu, jarak rumah sakit dari rumah Mesya memang tidak terlalu jauh, akhirnya Mesya sampai di rumahnya, ia berlari masuk kedalam kamarnya, mamanya melihat Mesya yang kini sudah memasuki kamarnya, dan mamanya juga melihat jika Mesya sedang menangis,


Melly, mamanya Mesya kemudian segera menemui putrinya, ia ingin tahu apa penyebab putrinya sampai menangis seperti ini.


"Mey...Mey.. sayang, buka pintunya", ucap Melly sambil terus mengetik pintu kamar tersebut.


Mesya masih saja menangis ia kini sedang menyembunyikan wajahnya di balik bantalnya.


Sudah lama Melly mengetuk pintu kamar putrinya, namun tak ada jawaban, kemudian ia putar kenop pintu kamar Mesya dan dapat dilihat jika Mesya benar-benar sedang menangis.


Melly pun mendekat, ia ingin tahu apa penyebab nya, mengapa putrinya itu sampai menangis seperti ini.


"Mey, sayang, kamu kenapa, ayo cerita sama mama", Mesya kemudian bangun, ia kemudian memeluk mamanya yang saat ini sedang berada di dekat nya.


"Mah, Ghani gak cinta sama aku, dia cinta sama perempuan lain ma", ucap Mesya, Melly pun mengerti, putrinya kini tengah patah hati rupanya.


"Ghani??, Ghani anaknya Tante Alisa??", tanya Melly kepada Putri nya, Mesya pun mengangguk, Melly sama sekali tak menyangka jika putrinya menyukai putra dari sahabat dekatnya itu.


"Mesya sayang, kamu harus sabar, cinta itu tidak bisa dipaksakan, dan kamu harus berbesar hati menerima itu semua", Melly tidak pernah memanjakan Mesya berlebihan, ia takut jika Mesya manja maka anaknya itu akan susah diatur.


Mesya pun semakin menangis, tak menyangka jika mamanya sama sekali tidak memihak nya.


"Mama jahat, kenapa mama tidak membelaku, kan Mama bisa bicara sama Tante Alisa buat nyuruh Ghani bisa dekat dan cinta sama aku", ucap Mesya lagi,


Melly pun mendelik kan matanya,


"Mama nggak mau sayang, Mama gak mau memaksakan cinta Ghani, Mama mau cinta itu tumbuh sendiri dan bukan karena paksaan, dan Mama gak mau sampai hubungan persahabatan Mama akan hancur karena persoalan ini", Melly pun berdiri, ia kemudian keluar dari ruangan putrinya, tak menyangka jika putrinya akan meminta hal seperti ini, yang jelas Melly tidak mau, apalagi nanti papa nya, yang jelas Anton tidak akan mau itu.


🌼🌼🌼


Di kampus, Ratna masih diikuti oleh Rio sedari tadi, kemanapun Ratna pergi, maka Rio juga ikut dengannya, sampai saat ini Ratna yang tengah menunggu Ghani pun juga ia ikuti.


"Lo beneran gak mau pulang sama gue??", tanya Rio lagi, Ratna pun mengangguk, ia sudah berjanji kepada Ghani dan tak mungkin ia ingkari, bisa-bisa Ghani akan marah kepadanya.


"Iya, gue bentar lagi dijemput kok", ucap Ratna lagi.


Ratna masih mengedarkan pandangannya,ia mencari mobil Ghani, apakah sudah sampai atau belum, Tak lama setelah itu mobil yang ditunggu pun sudah datang, di dalam mobil Ghani dapat melihat jika Ratna sedang bersama dengan Rio, dan Ghani pun seketika kesal.


"Mau ngapain anak itu, masih aja dekat-dekat Ratna", ucap Ghani, mobil pun semakin mendekat, dan Ratna terlihat tersenyum saat Ghani datang.


Rio pun merasa tak asing juga, ia dapat mengenali siapa pemilik mobil ini, Rio pun tercengang saat melihat siapa yang turun dari mobil itu, Ghani, pacar pura-pura dari Ratna sahabat nya, Rio masih belum tahu jika status Ratna sudah berubah, sudah berubah menjadi milik Ghani tentunya.


"Kamu??", Rio pun menunjuk Ghani dengan tangannya, Tangan Rio pun disingkirkan dari wajah Ghani.


"Iya ada apa??", tanya Ghani, Ghani mencoba diam saja saat berhadapan dengan Rio.


"Kamu mau apa kesini, pasti kamu mau nyakitin Ratna lagu kan??, Sudah cukup air mata yang di tumpahkan Ratna buat cowok kayak kamu, kamu gak pantas buat Ratna tangisi", ucap Rio.

__ADS_1


Ghani pun semakin mendekat, mendengar kata tidak pantas membuat Ghani ingin sekali memukul wajah Rio.


"Kamu jangan pernah menilai orang lain, saya pantas berada di dekat Ratna, kami saling mencintai jadi kamu gak berhak untuk mengatur Ratna untuk dekat dengan siapa, dan perlu kamu tahu Ratna sudah jadi milik ku, jadi kamu gak berhak lagi untuk dekat dengan Ratna, ingat itu" Ucap Ghani, Rio pun memandang ke arah Ratna, apa benar Ratna sudah benar-benar menjadi milik laki-laki ini atau dia hanya berbohong.


__ADS_2