
Malam ini Denis tengah di sibukkan dengan layar laptopnya, Denis malam ini mengetik surat pengunduran diri untuk istrinya, Denis tak mau jika istrinya kelelahan karena bekerja dan Denis tidak mau terjadi sesuatu dengan bayinya.
Denis juga merasa senang karena Alisa pun juga mengerti keadaan istrinya, Denis tahu jika Fandi dan Alisa adalah orang baik dan Denis sangat bersyukur bisa bertemu dengan kedua bosnya tersebut.
Denis dengan lincahnya langsung membuat surat pengunduran diri untuk istrinya, dan besok dia sendiri lah yang akan menyerahkan di meja Alisa langsung, dan Denis berharap Alisa bisa segera mendapat pengganti istrinya.
Surat pun sudah tercetak dengan baik dan rapi, Denis kemudian berjalan dan menuju pintu kamarnya, ia ketuk secara pelan-pelan agar tak mengagetkan istrinya.
Denis juga membawa serta pulpen untuk istrinya tanda tangan surat pengunduran dirinya.
" Yang, Abang masuk ya ??", Tanya Denis meminta persetujuan Nisa.
" Iya bang, masuk aja ", Jawab Nisa dengan senyuman, sejujurnya Nisa juga tak mau berjauhan dengan suaminya dan itu juga menyiksa dirinya.
Denis pun masuk dan duduk agak berjauhan dari istrinya agar istrinya tak merasakan mual jika berdekatan dengan dirinya.
Denis pun meletakkan kertas dan pulpen di meja nakas yang tepat berada di samping istrinya.
" Yang, itu surat pengunduran diri kamu udah Abang buatin dan kamu tinggal tanda tangan aja ", Denis pun berbicara dari jarak yang cukup jauh.
Nisa pun mengangguk dan dia tersenyum kepada suaminya.
" Bang kesini, ngapain jauh-jauh, aku nggak Apa-apa kok ", Nisa pun sedikit menahan agar dirinya tidak mual jika berada di dekat Suaminya.
" Kamu yakin yang ??", Tanya Denis, ia tak mau jika Istrinya kembali muntah karena akan membuat tubuh istrinya semakin lemas dan pucat.
" Di coba aja dulu bang, dan aku akan nyoba nahan", Nisa pun meyakinkan Denis.
Dengan tersenyum Denis pun berjalan mendekat ke arah istrinya dan duduk di pinggir ranjang.
Nisa sedikit mual sebenarnya, tapi kali ini ia tahan, ia tak mau membuat Suami nya merasa sedih.
Nisa segera meraih kertas tersebut dan menandatangani surat tersebut.
" Sudah bang ", Nisa pun menyerahkan kembali kertas itu kepada suaminya.
__ADS_1
Nisa Kemudian menyandarkan punggungnya, " Maafkan aku ya bang, aku tahu kamu gak sanggup untuk ini, tapi sejujurnya aku juga gak mau berjauhan sama kamu, tapi gak tau kenapa kalau aku dekat kamu aku rasanya mual " Ujar Nisa sendu menatap suaminya.
Denis pun memasang wajah tersenyum nya,
" Nggak apa-apa yang, kamu tenang aja Abang nggak apa-apa ", Denis pun kembali tersenyum.
" Nanti Abang tidur sini kan ??", Nisa pun menanyakan hal itu takut jika Suaminya akan tidur di luar dan di sofa.
" Iya Abang tidur sama kamu kok ", Jawab Denis tersenyum.
" Ya udah Abang keluar dulu ya, Abang mau masukin ini ke dalam amplop dan Abang taruh di tas takutnya besok tertinggal ", Ujar Denis yang kemudian melangkahkan kakinya keluar, Denis menutup kembali pintu kamarnya dan berjalan menuju tempat ia tadi.
Setelah memasukkan kembali semua barangnya, Denis pun kembali kedalam kamarnya dan sebelum itu Denis memastikan jika semua pintu rumahnya sudah terkunci.
Denis melihat istrinya sudah tertidur, Denis kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi untuk sekedar mencuci mukanya.
Didalam kamar mandi Denis juga memastikan kembali jika badannya tidak bau kali ini, Denis menganggap jika istrinya tidak suka bau badannya.
Setelah selesai Denis pun keluar dan ia membaringkan tubuhnya tepat di samping istrinya, melihat tidak ada respon yang membuat istrinya terganggu Denis pun kemudian langsung saja memejamkan matanya.
Denis pun mendengar suara istrinya yang sedang muntah-muntah akhirnya ia pun terbangun dan berlari menghampiri istrinya.
" Yang kamu nggak apa-apa kan ??", Denis pun kembali khawatir, begitu besar perjuangan istrinya dalam kehamilan yang sudah ia nantikan ini.
Nisa pun segera mengelap mulutnya kembali, matanya pun sudah berair karena terlalu banyak memuntahkan makanan nya.
"Aku nggak apa-apa bang ",Nisa pun kemudian berjalan keluar dan mengambil air putihnya.
Denis pun kembali menghindar dan tak mendekat ke arah istrinya.
"Abang tidur di bawah aja ya yang, kamu di atas, Abang nggak mau lihat kamu muntah-muntah terus Abang nggak tega ", Denis pun kemudian mengambil bantal dan mengambil selimut dari dalam lemari,
Tak lupa ia juga menggelar kasur lantai tipis yang ada di pojok kamarnya.
Nisa pun tidak menolak, jika ia memaksa dia akan terus muntah lagi nantinya.
__ADS_1
Pagi harinya Nisa seperti biasanya memasak sarapan pagi, badannya terasa agak membaik jika tidak berdekatan dengan Denis Suaminya.
Makanan pun sudah siap dan Denis yang berada di dalam kamarnya sedang bersiap-siap untuk berangkat bekerja.
" Bang sarapannya sudah siap, kamu nanti sarapan sendiri ya aku mau kedepan ", Nisa dengan sedikit mengeraskan suaranya agar suaminya mendengar.
" Iya yang ", Jawab Denis.
Denis pun sudah siap dan dia segera keluar dan sarapan dengan makanan yang disiapkan oleh istrinya, meskipun kali ini ia sarapan sendiri tapi ia tidak apa-apa, ia akan sabar sampai empat bulan kedepan.
Denis pun keluar dari rumahnya dengan menenteng tas kerjanya,
" Yang, Abang berangkat dulu ya, Assalamualaikum ", Denis pun segera memasuki mobilnya dan Nisa pun melambaikan tangannya dengan tersenyum.
" Hati-hati ya bang, Waalaikum salam ", jawab Nisa.
Nisa merasakan kesepian kali ini, biasanya ia akan pergi bekerja bersama dengan Suaminya, tapi kali ini ia harus berada di rumah.
Denis pun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia nantinya akan menelfon bosnya untuk meminta izin kalau dirinya akan datang terlambat.
Segera Denis merogoh ponselnya yang ada di sakunya, ia kemudian segera menelfon Fandi dan tak lama kemudian panggilan tersebut sudah dijawab oleh Fandi.
" Halo bos, Assalamualaikum ", Ucap Denis kepada Fandi.
" Waalaikum salam den, ada apa ??", Tanya Fandi yang kini akan berangkat menuju ke kantor.
"Nanti sepertinya aku telat sedikit Bos, aku mau ke kantornya Bu bos menyerahkan surat pengunduran diri Nisa ", Ujar Denis.
Fandi pun memberi izin dan mengakhiri panggilan ya.
" Dari siap mas ??",Tanya Alisa.
" Dari Denis yang, katanya mau menemui kamu secara langsung untuk menyerahkan surat pengunduran Nisa ", Jawab Fandi.
Fandi segera mengemudikan mobilnya dan dan segera mengantarkan istrinya menuju ke kantor, pastinya Alisa kini ditunggu oleh Denis jadi sebisa mungkin Fandi harus datang lebih cepat.
__ADS_1