
Ghina masih saja terdiam, niat ingin membicarakan tentang gelang yang saat ini sedang berada di pergelangan tangannya.
"Mas" Panggil Ghina, dan Zian pun menoleh.
"Iya sayang, ada apa??" Tanya Zian sambil tersenyum ke arah Ghina, sebenarnya tidak enak jika Ghina ingin membicarakan hal ini.
"Ada yang mau aku bicarakan sama mas" Zian tampak menoleh lagi, seakan penasaran, namun tetap tidak memperlihatkan gelagat nya.
"Iya sayang, Bicara saja mas akan mendengarkan nya"
Ghina terlihat mengambil nafas panjangnya, dan kemudian membuang nya secara perlahan.
"Aku tadi di beri ini sama Mama mas" Tunjuk Ghina ke arah pergelangan tangannya yang sudah melingkar sebuah gelang emas yang sangat cantik.
"Bagus dong, itu kan gelang milik Oma" Ucap Zian yang mengetahui jika gelang tersebut memang milik Omanya.
"Iya mas, tapi aku merasa belum pantas, dan ini terlalu cepat, kita kan belum menikah mas" Ujar Ghina dan secara tidak langsung Zian sedikit tersinggung dengan perkataan Ghina.
"Maksud kamu gimana??" Tanya Zian.
"Kamu maunya gimana??, mau dilepas??, kamu gak menghargai pemberian Mama??" Tanya Zian, bukan maksud Ghina seperti itu, tapi Ghina merasa ini belum waktunya toh sebentar lagi dirinya dan Zian akan seger menikah, jadi menurut Ghina nanti saja setelah menikah dan sudah menjadi istri Zian.
"Bukan itu maksud aku mas, aku senang kok mas, aku menghargai pemberian Mama, tapi aku merasa belum pantas mas" Ghina mencoba menjelaskan, tapi Zian sudah terlanjur kesal, Zian merasa Ghina sama sekali tidak menghargai pemberian mamanya, padahal Ghina hanya mencoba memberi pengertian, Ghina tak mu di cap perempuan matre yang belum menikah tapi sudah mendapatkan pemberian barang yang sangat mahal dan pastinya sangat berharga.
__ADS_1
Zian sudah tak mau lagi mendengar penjelasan Ghina, ia lebih memilih menatap ke arah depan, kearah jalan yang lumayan cukup sepi karena sudah hampir pukul sepuluh malam.
Kendaraan yang Zian bawa juga melaju dengan kecepatan tinggi, membuat Ghina takut, ini kedua kalinya buat Ghina, pertama dengan kakak kembarnya yaitu Ghani, dan untuk yang kedua kalinya bersama Zian, Zian sudah di selimuti dengan emosi tinggi, membuat ia lupa jika Ghina takut dengan kecepatan tinggi.
"Mas, stop, jangan ngebut mas, aku takut" Zian tak mengindahkan perkataan Ghina sama sekali, malah ia semakin menambah kecepatan mobilnya, Ghina terlihat sudah berkaca-kaca, ia sangat ketakutan, mengapa Zian menjadi seperti itu, mengapa menjadi tak perduli dengannya.
Beberapa menit kemudian, jauh dari perkiraan Ghina, dirinya saat ini sudah berada di depan rumahnya, segera Ghina turun, ia tak memperdulikan Zian lagi, ia juga sangat marah kepada Zian saat ini, Zian tega membuat ia ketakutan seperti tadi.
Ghina keluar sedikit dengan membanting pintu mobil Zian, tak mengucapkan salam atau selamat tinggal, Ghina kemudian terus masuk tanpa memperdulikan Zian.
Mungkin saat ini mereka masih di selimuti rasa amarah mereka, dan Zian kemudian segera menginjak pedal gas nya lagi dan pergi meninggalkan rumah Ghina.
Ghina masuk kedalam rumahnya dengan masih berlinang air mata, tak menyangka makan malamnya bersama dengan keluarga calon suaminya akan berakhir seperti ini, untung saja rumah dalam keadaan sepi, dan ia juga membawa kunci rumah, jadi Ghina tak perlu merangkai kata untuk pertanyaan yang akan di arahkan kepadanya karena tangisannya.
Ghina segera masuk kedalam kamarnya, niat ingin membanting pintu kamarnya tapi ia urungkan, ia tak mau membuat satu rumah kaget dengan suara pintu kamarnya.
Ghina pun masih larut dalam pemikirannya sendiri, tak mau memikirkan lagi, ia lebih memilih untuk tidur, kejadian tadi juga sempat menguras emosinya.
Zian saat ini masih berada di dalam mobilnya, mengendarai mobil tersebut tak tentu arah, ia masih marah, jujur saja kecewa, Zian menganggap Ghina tidak menghargai pemberian mamanya Sama sekali, Zian kemudian memukul kemudinya dengan keras untuk meluapkan seluruh emosinya.
Zian tak mau pulang dalam keadaan seperti ini, ia tak mau mamanya tahu jika dirinya saat ini sedang bertengkar dengan Ghina.
Zian menepikan mobilnya, cukup sepi memang, tapi menurut Zian tempat ini cukup untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Hawa dingin saat ini tengah menusuk badan Zian, ia keluar dari mobil dan dapat ia rasakan angin yang berhembus sangat kencang.
Ia ingin diam sejenak, mencoba menetralkan deru nafasnya yang sudah tidak terkontrol sejak tadi, dan setelah di rasa sudah normal dan tenang, Zian kemudian mengeluarkan ponselnya, ia ingin menghubungi Ghina kembali, tak baik jika ia harus bertengkar sedangkan dirinya dan Ghina sebentar lagi akan menikah.
Zian mulai mencari nomor kontak calon istrinya itu, dan segera memanggil nya.
Panggilan pun tersambung, tapi Ghina masih belum menerima nya, Zian memutuskan lagi panggilan nya dan mencoba lagi.
Sedangkan saat ini Ghina baru saja keluar dai kamar mandi, ia tak jadi memejamkan matanya, ia belum membersihkan badannya sebelum tidur, jadi Ghina pergi ke kamar mandi terlebih dahulu.
Ghina melihat ponselnya yang hidup, segera ia mendekati dan melihat siapa yang saat ini sedang menelepon nya, ada seulas senyuman di bibir Ghina, ia senang ketika melihat Zian yang menelefon nya, Ghina berharap Zian tak marah dan salah paham lagi dengannya.
Segera ia menggeser layar ponselnya, sebelum panggilan tersebut terputus.
"Halo mas, Assalamualaikum" Ghina yang terlebih dahulu membuka suaranya, berusaha tetap tenang menunggu si penelpon pertama berbicara.
"Halo sayang, maafin aku ya, aku tidak bermaksud membuat kamu menangis seperti tadi" Ujar Zian, Zian sebenarnya menyesal telah membuat Ghina menangis karena ulahnya.
"Iya mas, aku tidak apa-apa, aku juga minta maaf mas, mungkin omonganku menyakiti hati kami mas"
"Iya sayang, aku ngerti kok, jamu boleh pakai gelang itu jika kamu udah sah menjadi istri ku, aku tidak masalah" Ghina pun tersenyum mendengar penuturan Zian, ia merasa lega karena masalah bisa terselesaikan tanpa para orang tua tahu tentang pertengkaran mereka.
"Makasih ya mas, kamu udah ngertiin aku" Ucap Ghina dan Zian pun tersenyum,
__ADS_1
Saat ini tak jauh dari tempat Zian ada segerombolan orang yang saat ini tengah memperhatikan Zian, mereka merencanakan sesuatu, melihat Zian membuat mereka tahu jika Zian bukanlah orang biasa, apalagi mobil beserta barang lainnya yang Zian pakai, membuat segerombolan orang itu ingin sekali memiliki nya.
Zian kemudian segera mengakhiri panggilan nya, ia ingin segera pulang karena tempat tersebut sangat lah Sepi sepi sekali dan tak ada satu orang pun yang lewat di jam-jam seperti ini.