
Setelah selesai menyantap makan siangnya, Ghina berniat mengajak Nita ke ruangan Mommy nya, ia tak mau sahabatnya itu salah paham terhadap dirinya dengan beredarnya gosip yang ada di alam satu divisinya.
Ghina pun memasuki lift dan menekan tombol angka 15 untuk sampai ke ruangan orang tuanya.
"Ghin, kita mau kemana, kok kita naik ke lantai 15", Nita pun tampak gugup, mengingat di lantai 15 hanya ada ruangan utama Presdir Disana.
"Katanya Lo mau bukti, tapi setelah Lo tau semuanya, gue mohon jangan bilang ke siapapun, ini rahasia, gue gak mau identitas gue terbongkar disini",
Pintu lift pun terbuka, Kini Ghina menarik tangan Nita untuk masuk kedalam ruangan Daddy dan Mommy nya.
Tangan Ghina kini mulai mengetuk pintu tersebut, dan disaat yang bersamaan terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan dirinya dan Nita masuk.
"Ghin, Lo yakin, Lo gak lagi bohongin gue kan??, Atau jangan-jangan Lo lagi nge prank gue lagi", Ghina pun seketika tertawa, "Lo ada-ada aja, gue gak jago nge prank, Ini asli kok, ayo masuk Lo gak usah takut, mumpung masih jam istirahat dan gak ada orang yang tahu", Akhirnya Nita pun mau dan mengikuti Ghina dari belakang.
"Assalamualaikum Mom", Ucap Ghina saat memasuki ruangan Daddy dan mommy nya.
"Waalaikum salam sayang", Jawab Alisa yang saat ini masih memandang ke arah laptopnya.
Ghina pun masuk bersama dengan Nita kedalam ruangan Mommy nya.
"Kamu sudah makan sayang??", tanya Alisa kepada putrinya.
"Sudah mom, tadi sama Nita", tunjuk Ghina kepada Nita yang kini ada di sampingnya.
Nita pun merasa tidak enak, dan dia pun kini percaya apa yang telah dikatakan oleh Ghina.
"Ghin, ayo udah habis jam istirahat nya", ajak Nita kepada Ghina karena merasa malu berada di dalam ruangan Presdir ini, baru kali ini Nita masuk kedalam ruangan ini, dan hari-hari sebelumnya pun ia tak pernah sama sekali.
"Mom, kayak nya udah habis deh jam istirahat nya, aku keluar dulu ya, salam buat Daddy", Ucap Ghina yang belum melihat Daddy nya hari ini.
"Saya permisi juga Bu", ucap Nita kepada Alisa.
"Iya, jangan panggil ibu, panggil Tante saja, kalau ada waktu main kerumah, Tante dengan senang hati menerima kedatangan kamu", ucap Alisa kepada Nita.
"Iya Tante, terimakasih", Jawab Nita. Lalu Nita pun mengajak Ghina untuk keluar dari ruangan itu, ruangan yang cukup membuat ia panas dingin karena baru pertama kali berhadapan langsung dengan Presdir besar perusahaan ini.
"Ingat ya nit, gue mohon, Lo jangan kasih tahu rahasia ini kepada siapapun, cukup hanya kamu dan mas Zian yang tahu", Nita pun mengangguk mantap, Nita cukup bangga kepada Ghina yang tak ingin diketahui identitas aslinya oleh semua orang yang ada di dalam kantor ini.
🌸🌸🌸🌸🌸
Di rumah sakit, Ghani kini tengah terdiam sambil menikmati sisa waktu istirahatnya, ia sama sekali belum memakan makan siangnya yang ia pesan lewat jasa pemesanan online, Makanan itu masih berada tepat di atas meja kerjanya, menunggu seseorang untuk memakan makanan tersebut.
Tak lama setelah itu terdengar suara pintu terbuka, ya siapa lagi jika bukan Mesya, Setiap hari gadis ini selalu datang sejak kedatangannya dari luar negri tempo hari lalu, sebenarnya Ghani sudah melarang Mesya untuk datang, tapi rasanya larangan itu tak didengar atau di lakukan oleh Mesya, gadis ini selalu saja datang dan membuat Ghani seketika bad mood jika melihat nya.
__ADS_1
Memang dari dulu, semenjak SMA Mesya selalu mengejar Ghani, mengejar cinta seorang Ghani Adelio Wiratama, tapi sayangnya Ghani sama sekali tidak meresponnya.
"Hay Ghan, makan siang bareng yuk, aku belum makan siang nih", Mesya kini sudah duduk tepat dihadapan Ghani, memang gadis ini cukup cantik dan seksi, tapi tak membuat Ghani luluh sama sekali dengan kecantikan seorang Mesya.
"Maaf Mey, Tapi aku sudah makan", ucap Ghani, berharap penolakan itu tak menyakiti hati Mesya.
"Kok udah makan sih, kamu kan tahu setiap hari aku akan datang kesini buat makan sama kamu, tapi kamu kok tega makan duluan tanpa nunggu aku",
Mesya kini tampak cemberut, tapi tak mampu meluluhkan hati Ghani lagi,
"Mey, udah ya, kan aku sudah bilang, kamu gak perlu panas-panas datang kesini, dan maaf Mey, sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, masih banyak pasien yang harus aku tangani", Ghani pun akhirnya bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan untuk membuka pintu ruangannya.
Mata Mesya pun mengikuti kemana Ghani pergi,
"Jika tidak ada urusan lagi kamu bisa pergi, aku juga mau keluar, mau memeriksa pasienku",
Akhirnya Mesya pun pergi, dengan hati yang sedikit dongkol akhirnya Mesya pun menyerah dan pergi meninggalkan ruangan Ghani.
Ghani pun akhirnya bisa bernafas lega, bagaimana caranya bisa membuat gadis ini menyerah, Ghani hanya menganggap Mesya seperti adiknya tidak lebih, dan kini Ghani harus mencari cara agar Mesya tak lagi mengganggu dan mendatangi nya setiap saat.
Ghani teringat dengan seseorang, ia kemudian merogoh ponselnya dan segera mencari nomor kontak gadis yang selalu membuat ia kesal, ya, dia adalah Ratna, gadis yang selalu membuat masalah dengan Ghani.
Ghani segera menulis pesan kepada Ratna berharap gadis itu mau menemuinya sore ini.
Temui aku di kafe Anggrek sore ini, aku tunggu, harus datang, jika tidak datang kamu tahu sendiri konsekwensinya
Dilain tempat, Ratna yang masih berada di dalam kampus dan sedang menikmati makan siang di kantin, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi, ada pesan masuk dan Ratna pun segera membacanya.
Ratna tiba-tiba memelototkan matanya, Dokter gila itu tengah mengirim pesan dan bernada ancaman.
"Dasar dokter gila, dia pikir mau ngancem gue", Seseorang yang tengah makan bersama Ratna pun seketika menatap Ratna.
"Ada apa Rat, siapa yang ngancem kamu??", tanya Rio menyelidik.
Ratna baru sadar jika dirinya tidak makan sendirian, ia kini sedang makan bersama dengan Rio sahabat nya.
"Oh, enggak kok, cuma SMS dari orang aneh, orang yang suka nipu-nipu itu", ucap Ratna mengelak, ia tak mau jika Rio tau dan ini akan merepotkan Rio nantinya.
"Oh, aku kira ada yang ngancem kamu beneran", Ratna pun menunjukan senyum palsunya, ia harus cepat-cepat ia harus menelfon dokter gila ini dan menanyakan apa yang ia mau.
Ratna kemudian berpamitan pulang, dan Rio pun hanya mengangguk,
"Hati-hati dijalan, mau nya sih nganterin Lo pulang, tapi setiap hari Lo bawa mobil sendiri jadi ya bagaimana lagi", ucap Rio kepada Ratna.
__ADS_1
"Kapan-kapan aja ya, ya udah gue pulang dulu, gue ada urusan", Ratna akhirnya pergi meninggalkan Rio sendirian.
Ratna masuk kedalam mobilnya dan kemudian mengeluarkan ponselnya kembali, ia harus menanyakan apa yang diinginkan dokter itu.
Panggilan pun tersambung dan tak lama setelah itu Ghani pun menerima panggilan tersebut.
"Halo!!", Ucap Ghani ketus saat menerima panggilan tersebut.
"Halo ada apa!!", Tanya Ratna yang tak kalah ketus.
"Nanti sore kamu harus temuin aku di kafe yang sudah aku kasih tahu tadi, gak ada penolakan, kamu masih harus tanggung jawab dengan apa yang udah kamu lakuin tadi pagi", Ucap Ghani kepada Ratna.
"Iya, iya aku akan datang, kamu gak perlu khawatir pak dokter", Jawab Ratna.
"Aku tunggu, awas kalau kamu gak datang, aku bakalan cari kamu", Nada Ghani penuh dengan ancaman , membuat Ratna mau tak mau harus menuruti dokter yang menurut Ratna sudah gila itu.
"Iya, ya udah gue cuma mau tanya itu doang", Panggilan pun di putus sepihak oleh Ratna membuat Ghani menjadi bertambah kesal.
"Dasar cewek aneh", Ghani pun kemudian berjalan menuju ke ruangan pasien dan segera melakukan pemeriksaan karena ia harus pulang lebih awal karena ia kan bertemu dengan Ratna nanti sore.
Sore harinya, Ratna menepati janjinya, ia datang ke tempat yang sesuai dengan janji mereka tadi, kini Ratna sudah duduk di meja kosong yang berada di bagian ujung sendiri, tempat yang cukup sepi tak akan ada orang yang tahu dengan apa yang akan dibicarakan nanti.
Ratna terlihat mengarahkan pandangannya, mencari sosok orang yang sedang ia tunggu, sudah sepuluh menit, tapi dokter itu tak kunjung datang.
"Udah ditungguin tapi gak datang-datang", Ratna agak sedikit kesal, tapi setelah itu Terlihat seseorang yang tengah ditunggu pun akhirnya datang, Ghani pun segera duduk.
"Maaf, aku telat",
"Iya gak apa-apa, ya udah langsung aja, kamu mau ngomong apa, aku masih banyak urusan",
Akhirnya mereka berdua saling menatap satu sama lain, dan akhirnya juga Ghani mulai berbicaralah kepada Ratna.
"Ok, gak perlu lama-lama, aku mau minta tolong sama kamu, besok kamu harus datang ke rumah sakit, ke ruangan aku, kamu harus pura-pura jadi pacar aku", Mata Ratna seketika mendelik,
"Pura-pura jadi pacar kamu??, Gak mau!!", Ucap Ratna langsung menolak apa yang dikatakan oleh Ghani.
Ratna tak menyangka jika dia akan menjadi pacar pura-pura dokter gila ini
"Kamu gak boleh nolak, bukannya kamu janji mau bertanggung jawab dengan apa yang kamu lakukan tadi pagi, jadi ini yang aku minta, dan kamu harus mau",
Ratna pun membuang nafasnya kasar,
"Ok, cuma pura-pura aja kan, besok aku akan pergi ke rumah sakit, sesuai dengan permintaan kamu",
__ADS_1
Akhirnya Ghani pun dapat tersenyum lega, Jadi besok dia akan memberitahu siapa Ratna kepada Mesya jika Mesya datang ke Ruangannya, jadi ia tak perlu lagi diganggu oleh Mesya lagi.
"Ok, kalau sudah aku mau pergi dulu", Ratna pun beranjak dari tempat duduk nya dan segera pergi meninggalkan Ghani.