Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 24


__ADS_3

Ghani memukul setir nya dengan kuat, Ghina pun kaget, ada apa saudaranya itu, mengapa setelah keluar dari mall malah jadi seperti ini, tidak biasanya Ghani akan kesal dan marah seperti ini, hadiah pun juga tak jadi Ghani beli, ia lebih memilih meninggalkan tempat ini, tempat ia melihat Ratna bersama dengan seorang laki-laki.


Laju mobilnya di percepat membuat Ghina seakan takut dengan Ghani.


"Kak, jangan ngebut-ngebut, aku takut", Ghina sudah ketakutan dan kini Ghani mulai tersadar dengan apa yang ia lakukan tadi, perbuatan ini bisa membahayakan dirinya dan Ghina.


Mobil pun menepi, dan Ghina kini dapat bernafas dengan lega,


"Ya Allah kak, Kenapa, ada masalah apa, jangan kayak gini, aku takut, kamu hampir bunuh diri tau gak", Ghina pun merasa kesal, tapi ia juga penasaran dengan apa yang sedang di alami oleh Ghani.


"Kalau ada masalah, cerita, jangan dipendam sendiri", Ghani kemudian menyandarkan tubuhnya mencoba untuk menenangkan dirinya.


"Maafkan aku, aku khilaf Ghin", ucap Ghani yang terlihat sangat menyesal karena tindakannya tadi, ia baru sadar jika ia tidak bisa mengontrol dirinya, entah apa yang sedang dirasakan Ghani, yang pasti ia sangat marah dan kecewa karena Ratna sudah memutuskan hubungan diantara mereka.


"Ya udah, sebaiknya kita segera pergi dari sini, jika ada polisi lalulintas pasti kita akan kena tilang karena berhenti disini", ucap Ghina, Dan kemudian Ghani pun segera melajukan mobilnya Kembali.


Ghani sudah mengantar Ghina kembali menuju ke kantor, disana sudah ada Zian, Zian sudah menunggunya sedari tadi, menunggu Ghina yang sedang pergi dengan saudaranya karena ada urusan tersendiri.


"Mau langsung ke rumah sakit lagi??, gak mau ketemu mommy atau Daddy dulu", ucap Ghina setengah berbisik, Ghani pun menggeleng.


"Jangan bilang sama mommy, nanti akan aku ceritakan di rumah", Ucap Ghani, Ghina kemudian mengangguk dan Ghani pun meninggalkan kantor tersebut dan menuju ke rumah sakit Kembali.


Ghina kemudian masuk dan Zian pun menunggu Ghina dengan senyuman di bibirnya.


"Sudah makan kamu Ghin??", tanya Zian, Ghina pun menggeleng tanda ia belum makan siang.


"Kenapa gak makan??", tanya Zian dan Ghina pun melangkahkan kakinya menuju ke arah lift saat ini.


"Ceritanya panjang, dan aku juga belum tahu pasti ceritanya, yang aku tahu kak Ghani tiba-tiba ngajak aku pulang tanpa ada kata apapun", ucap Ghina.


Zian hanya ber oh saja, bertanya lebih lanjut pun tak mungkin, Zian tak mau mencampuri urusan saudara kembar itu, tak lama setelah itu kini mereka berdua sudah sampai di dalam ruangan mereka.


Zian kemudian masuk ke dalam ruangan nya dan Ghina pun duduk kembali dan bersiap untuk melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


🌸🌸🌸


Ratna sudah tak mau berbicaralah lagi, dan Rio pun memutuskan untuk mengantar Ratna pulang karena melihat keadaan Ratna saat ini, Ratna terlihat sangat kacau begitu juga hatinya, Rio tak tau lagi bagaimana cara menghibur Ratna yang saat ini matanya sudah terlihat sangat sembab karena habis menangis.


Ratna masuk kedalam rumahnya, awalnya Rio ingin mengantar sampai kedalam, tapi dengan terang-terangan Ratna menolak dan Rio dapat memaklumi itu, setelah Ratna benar-benar masuk kedalam rumahnya barulah Rio pergi meninggalkan rumah itu, hati Rio sebenarnya juga ikut sakit, ingin rasanya menemui dan berbicara dengan orang yang berbicara dengan Ratna tadi.


Ratna masuk kedalam kamarnya, ia sangat lelah sekali, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur nya tanpa melepas sepatu dan yang lainnya, ia kini masih menatap langit kamarnya, mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi, mengingat semuanya tentang dokter itu, dokter yang mampu mengobrak-abrik hatinya saat ini.


Ratna tak menyangka jika ia sudah masuk terlalu dalam, masuk kedalam hubungan pura-pura yang ia setujui sendiri, dan kini dirinya sendirilah yang menanggung itu semua perasaan yang tak mampu ia hindari.


Mata Ratna perlahan berat, mungkin itu efek karena dirinya sudah banyak menumpahkan air mata nya tadi, tak perlu menunggu waktu lama, Ratna kini sudah masuk kedalam alam mimpinya.


🌼🌼🌼


Ghani memarkirkan mobilnya, ia kemudian turun dan segera menuju ke lantai dimana letak ruangannya, Ghani menghpaskan tubuhnya di sofa yang ada di dalam ruangan nya, hatinya sakit, tak pernah seperti ini, melihat Ratna pergi berdua dengan laki-laki lain membuat Hatinya semakin sakit.


Banyak kenangan di ruangan ini, mulai pertama kali Ratna masuk, sampai ia meminta minum kepada Ghani dengan cara terang-terangan tanpa rasa malu.


Ghani pun mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menghilangkan bayang-bayang Ratna memang sangat susah untuk dihilangkan, apalagi ini memang cinta pertama bagi Ghani sendiri, ia tak pernah merasakan cinta yang sedalam ini kepada perempuan selain Ratna.


Ghani memutuskan untuk pulang saja, Disini pun ia akan semakin mengingat Ratna, lagi pula jam prakteknya Sudan habis, jadi dari pada ia berdiam disini lebih baik ia pergi dan langsung pulang ke rumahnya.


Keduanya sama-sama sedang galau, sama-sama sudah masuk kedalam perangkap mereka sendiri, akhirnya mereka kini terjebak, terjebak dalam cinta yang mereka buat sendiri.

__ADS_1


Keduanya sama-sama sedang kacau, bahkan perasaan mereka tak ada satupun yang tahu, mereka hanya memendam tanpa saling mengungkapkan.


Ghani tiba dirumahnya, ia langsung saja masuk kedalam kamarnya, bahkan kakaknya yang ada di sofa sedang menonton tv pun tak ia sapa, ia sudah tak berkonsentrasi lagi, yang ia pikirkan hanya hubungan nya yang sudah seperti ini.


Rafa memandang ke arah adiknya, tak biasanya Ghani akan cuek dan tidak menyapanya,


"Kenapa anak itu, gak biasanya seperti ini", Gumam Rafa yang melihat Ghani sudah masuk kedalam kamarnya.


Rafa sengaja tak menyusul adiknya, biarlah dia seperti ini dulu, mungkin dia lelah atau mungkin sedang ada masalah.


Rafa pun melanjutkan kembali aktivitas nya, menonton televisi dihari cutinya, sungguh sangat membosankan menurut Rafa, biasanya ia akan di hadapkan dengan beberapa berkas tapi mulai hari ini ia akan bersantai sejenak untuk kelangsungan pernikahannya dengan Disya.


Saat ini Ghani sedang berada di kamar mandi, membasahi tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki nya, ia ingin mendinginkan kepalanya, ia ingin pikirannya kembali jernih dan tak tersulut emosi seperti ini, bahkan ia tadi sampai akan membahayakan nyawanya dan nyawa Ghina.


Ghani keluar dengan rambut basahnya, ia masih mengenakan handuk di pinggangnya, ia kemudian berjalan ke arah lemari pakaiannya dan mengambil celana pendek dan kaos tipis yang biasa ia kenakan saat di rumah.


Setelah itu ia pun kembali ke ranjangnya, merebahkan tubuhnya dan berharap bisa terlelap, tapi itu semua tak dapat ia lakukan, bayangan Ratna masih saja mengikutinya bahkan sampai ke kamarnya.


Ghani pun kembali bangun, ia harus pergi untuk saat ini, pergi menuju ke rumah Ratna, menjelaskan semuanya, tekat Ghani pun bulat, ia akan pergi, ia kemudian meraih jaket, dompet dan kunci mobilnya, dan kemudian keluar dari kamarnya. ia melewati kakaknya lagi, dan Rafa pun juga melihat kepergian Ghani yang tanpa pamit itu.


"Sebenarnya dia tahu tidak sih aku ada disini", gumam Rafa dalam hatinya. ia merasa aneh saja dengan adiknya itu, ia datang dan pergi tanpa menyapanya sama sekali.


Ghani langsung saja pergi menuju ke ruang Ratna, ia tak perlu menghubungi Ratna, ia akan langsung saja ke sana memastikan semuanya dan menjelaskan siapa yang akan menikah, Ghani baru sadar jika Ratna salah paham soal undangan tersebut, Ratna menyangka jika dirinya lah yang akan menikah, sekilas Ghani ingin tertawa, tapi ia urungkan, ia masih akan menjelaskan semuanya agar salah paham ini tidak berangsur lama.


Ghani kini sudah sampai tepat di halaman rumah Ratna, rumah itu terlihat sepi, tapi ada mobil disana yang Ghani tahu itu adalah mobil Ratna.


Ghani kemudian turun, berjalan menuju ke depan gerbang rumah Ratna, benar saja rumah itu terlihat sepi sekali, Ghani kemudian menekan bel di depan gerbang Tersebut, tak lama setelah itu ada seorang ibu-ibu paruh baya keluar dari dalam rumah, Ghani yakin itu pasti adalah asisten rumah tangga keluarga Ratna.


"Cari siapa den??", Tanya asisten rumah tangga tersebut yang sudah berada di balik pintu gerbang tersebut.


"Oh temannya non Ratna, maaf den, non Ratna nya masih belum pulang", Ucap bibi yang tak mengetahui jika Ratna sudah pulang dan kini tengah tidur di kamarnya.


"Belum pulang ya Bi, ya sudah kalau begitu, boleh saya tunggu Ratna disini bi??", Tanya Ghani yang ingin menuggu Ratna pulang.


" Iya den, silakan, Apa tidak sebaiknya Aden masuk??", tanya Bibi.


"Tidak bi, terimakasih, lebih baik saya tunggu disini saja biar saya tahu Ratna pulang nanti", Ucap Ghani.


"Ya sudah kalau begitu den, saya permisi masuk kedalam dulu", ucap Bibi, dan Ghani pun mengangguk.


Ghani kemudian masuk kembali ke dalam mobilnya, ia sandarkan tubuhnya, dan menunggu Ratna di depan rumahnya.


Waktu pun berlalu cepat, kini jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Ghani yang sedari tadi mengawasi rumah Ratna masih belum melihat Ratna pulang.


Tak lama setelah itu ada mobil yang masuk kedalam rumah itu, ya, Mama Ratna sudah pulang, tapi Dina masih belum menyadari jika ada mobil yang terparkir sedari tadi didepan rumahnya.


Mama Dina pun masuk dan pada saat yang sama Ratna keluar dari kamarnya, bibi yang baru saja keluar dari dapur pun seketika kaget.


"Loh non, non kapan pulangnya??", Tanya bibi kepada Ratna. Mata Ratna masih terlihat sembab karena habis menangis siang tadi.


"Aku pulang nya dari tadi siang bi, ini baru bangun tidur", ucap Ratna lagi, bibi pun semakin kaget dan panik.


"Aduh gawat non, gawat", ucap Bibi.


Ratna dan mama nya pun bingung, "Gawat, gawat apa maksud bibi??", Tanya Ratna lagi.


"Didepan ada cowok yang nyariin non dari dua jam yang lalu, dan dia lagi didepan masih nungguin non pulang", ucap Bibi, Ratna pun kaget, dan dia berjalan ke arah jendela, cowok Siapa yang dimaksud oleh Bibi.

__ADS_1


Ratna menyingkap korden Yang ada di rumahnya, terlihat mobil yang tak asing lagi, mulut Ratna pun menganga, ternyata mobil yang ada di depan adalah mobil Ghani.


Mama Dina pun mendekat, ia juga penasaran siapa yang ada di depan yang sedang menunggu putrinya.


"Siapa sayang??", Tanya Mama Dina kepada Ratna.


Ratna pun berbalik dan menutup kordennya,


"Bukan siapa-siapa ma, mungkin orang iseng aja, ayo ma kita masuk aja, aku mau mandi", ucap Ratna yang kemudian meninggalkan mamanya disana.


Dina pun masih penasaran, ia kemudian membuka korden kembali dan melihat memang ada mobil yang ada di depan rumahnya.


"Bi, udah lama ya mobil itu didepan??", Tanya Dina kepada bibi.


"Sudah lama Bu, sudah dua jam lebih, tapi cowoknya ganteng bu", ucap bibi.


Dina pun menghela nafasnya, ia sebenarnya penasaran dengan laki-laki yang sedang menunggu putrinya, tapi ia akan menemui putrinya terlebih dahulu dikamarnya, ia mau menanyakan Sebenarnya ada apa diantara mereka.


Dina kemudian mengetuk pintu kamar putrinya, ia kemudian masuk setelah Ratna mengatakan jika ia boleh masuk kedalam kamar tersebut, Dina kemudian duduk dan melihat putrinya yang masih duduk di menghadap meja towalet nya.


"Sayang, sebenarnya siapa dia, dia bahkan belum pergi sampai saat ini, kamu temui aja ya, kasihan dia", ucap Dina, Kemudian mata Dian pun tertuju pada undangan yang ada di atas meja nakas kamar putrinya.


Dina kemudian beranjak, ia kemudian mengambil undangan tersebut, undangan yang sama dengan undangan yang ia terima dari keluarga bosnya.


"Sayang, kamu dapat undangan ini dari siapa??", tanya Dina kepada putrinya.


Ratna pun menoleh, ia melihat mamanya yang memegang undangan yang belum ia buka sama sekali sampai sekarang.


"Ratna dapat undangan itu dari orang yang ada di dalam mobil itu ma, mobil yang ada didepan", ucap Ratna, Kening Dina pun berkerut, kenapa bisa anaknya itu dapat undangan yang sama dengan undangan yang ia terima.


"Maksud kamu sayang??, Dua sebenarnya siapa??", tanya Dina kepada Ratna.


Ratna pun membuang nafas nya,


"Mah, dia dokter yang menangani ayah, dia kan yang mau nikah", Ucap Ratna, wajah Ratna terlihat berbeda lagi, dan Dina pun dapat melihat perubahan itu.


"Dokter Ghani maksud kamu??", Tanya Dina, Ratna pun mengangguk,


Dina pun penasaran dengan undangan tersebut, siapa tahu undangan itu sama bentuknya dan berbeda orangnya.


"Mama buka ya??", ucap Dina meminta izin kepada putrinya, melihat undangan tersebut seperti nya undangan tersebut masih belum dibuka oleh putrinya.


Ratna pun mengangguk dan Dina pun segera membukanya, Mata Dina pun terbelalak, ternyata benar yang ada di dalam undangan tersebut adalah nama Rafa, putra dari Alisa sahabatnya.


"Kamu kenal dengan Rafa, orang yang mau nikah ini??", Tanya Dina, Ratna pun menoleh, "Rafa siapa??, bukannya yang akan menikah adalah Ghani??" Gumam Ratna.


"Rafa siapa sih ma, bukannya yang nikah adalah Ghani??", tanya Ratna.


Di pun seketika menoleh lagi ke arah Putrinya, kini Dina baru mengerti apa yang terjadi sebenarnya.


"Sayang, kamu kira yang nikah adalah dokter Ghani??", tanya Dina, Ratna pun mengangguk dan membuat Dian seketika tertawa,


"Sayang, makanya kamu tuh ya, pasti kamu sekarang lagi ngambek sama orang yang ada didepan itu kan, kamu kira dia yang mau nikah kan??", Tanya Dina membuat Ratna Seketika malu.


" Yang tertulis disini itu nama Rafa dan Disya sayang yang mau nikah, bukan Ghani", Ucap Dina.


Ratna pun seketika berdiri, ia ternyata salah paham dengan Ghani, dan ia kemudian segera keluar untuk menemui Ghani yang ada di luar rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2