
Dikamar perawatan ini terdapat satu box bayi besar, kemudian aku menyerahkan Ghina yang sudah ku gendong tadi, sebelumnya Fandi terlebih dahulu menidurkan Ghani di dalam box bayinya.
"Aku mau menggendong Ghani mas", Ucap ku kepada suamiku, suamiku mengangguk meng iyakan , kini setelah Ghina sudah berada di dalam box bayinya Ghani kemudian diserahkan kepadaku.
"Ghani sangat mirip dengan mu sayang", Ucap Fandi saat menyerahkan Ghani kedalam gendonganku, aku pun tersenyum, ku perhatikan wajah putra ku, benar perkataan mas Fandi, Ghani sangat mirip denganku.
Bu Mira, dan pak Dimas pun sudah berpamitan pulang, mereka sangat menghawatirkan Rafa, jadi mereka berdua memutuskan untuk segera pulang ke rumah Fandi dan Alisa.
Ghani terlihat menangis, Alisa yakin jika putranya kini tengah kehausan.
"Ghani mungkin haus sayang", ucap Fandi yang melihat putranya begitu gelisah dan menangis.
"Iya mas, aku susui dia dulu", Alisa membuka kancing bajunya, tapi ia terlihat sangat kesusahan, maka dari itu Fandi berniat untuk membantunya.
"Biar mas bantu", Fandi melepas kancing piyama istrinya, Alisa pun mengangguk, dan kemudian Alia mengeluarkan pay*udaranya dan seketika Ghani mulai menyusu kepada Alisa.
Alisa tengah meringis menahan sakit, "Kami kenapa sayang, perut kamu sakit??", tanya Fandi yang terlihat khawatir, ia takut bekas jahitan istrinya yang masih basah itu bermasalah saat ini.
"Aku nggak Apa-apa mas, kamu jangan khawatir,ini sudah biasa jika bayi baru pertama kali menyusu, rasanya memang sedikit perih", ucap Alisa yang tidak ingin membuat Suaminya khawatir berlebihan.
Fandi pun dapat bernafas lega mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya.
Baby Ghani pun sudah tidur, kini giliran Ghina yang ingin Alisa susui, meskipun bayi itu tengah tidur, Alisa yakin jika putrinya itu juga tengah haus.
"Mas, sini Ghina nya, pasti Ghina juga haus", Fandi mengangkat Bayu itu dan memberikannya ke Istrinya.
Ghina terbangun, ia kemudian menyusu sama seperti Ghani, melihat kedua anaknya menyusu membuat Fandi sangat bahagia sekali, ia sangat bersyukur bisa dikaruniai dua anak sekaligus.
Kedua bayi itu sudah tidur dengan pulasnya, Fandi pun juga terlihat duduk di samping ranjang istrinya.
Fandi memperhatikan wajah Alisa sedari tadi, memerhatikan wajah wanita yang sudah melahirkan anak-anak nya,
"Mas??", Ucap Alisa melihat suaminya yang tak berkedip sama sekali,
"Iya sayang, ada apa??", Tanya Fandi kepada istrinya.
"Kamu kenapa??", Tanya Alisa lagi, ia amat penasaran kenapa Suaminya tersebut melihat dirinya sampai seperti itu.
"Mas nggak apa-apa sayang, ada apa, kamu mau apa??",
"Aku lapar mas", Ucap Alisa, perutnya sudah keroncongan, apalagi sehabis menyusui kedua bayinya, itu membuat Alisa menjadi sangat kelaparan saat ini.
Fandi pun tertawa kecil, "Sebentar ya sayang, kamu mau makan apa??, Tapi tunggu sebentar, kamu boleh makan makanan dari luar atau tidak, biar mas tanya suster dulu", Ucap Fandi, kemudian ia segera keluar dari dalam kamar perawatan istrinya.
Di sepanjang koridor rumah sakit, tiba-tiba Fandi bertemu dengan dokter Tamara, kebetulan sekali, lebih baik Fandi bertanya kepada dokter Tamara secara langsung.
"Dokter!!", Dokter Tamara pun berhenti, ia kemudian menghampiri Fandi yang sedang memanggilnya.
"Iya pak Fandi ada apa??", Tanya dokter Tamara, ia melihat seperti ada yang ingin dipertanyakan oleh suaminya dari pasien nya tersebut.
"Kebetulan bisa bertemu dokter disini, saya hanya ingin mempertanyakan apakah istri saya boleh memakan makanan dari luar rumah sakit ini??", Tanya Fandi, sebaik nya ia bertanya dan ia bisa tahu apa makanan yang boleh dikonsumsi istrinya yang saat ini tengah selesai menjalani operasi Caesar.
Fandi tak mau jika nantinya apa yang ia berikan akan berdampak buruk kepada istrinya.
"Maaf pak Fandi, untuk saat ini lebih baik Bu Alisa makan makanan yang disediakan okeh pihak rumah sakit, mengingat Bu Alisa yang masih baru keluar dari ruang operasi, jadi saya sarankan jika Bu Alisa memakan makanan dari rumah sakit saja",Ucap Dokter Tamara dengan jelas.
"Terimakasih dokter, maaf jika saya mengganggu waktu dokter", ucap Fandi,
" Tidak apa-apa pak, nanti saya akan suruh Suster untuk membawakan makanan untuk Bu Alisa, kalau begitu saya permisi dulu pak Fandi", Dokter Tamara kemudian pergi meninggalkan Fandi, dan Fandi pun kembali menuju ke ruangan rawat istrinya.
Tak lama setelah itu, suster yang bertugas pun datang dengan membawakan makanan yang akan dimakan oleh Alisa.
Suster meletakkan 1 piring yang berisikan nasi beserta lauk, dan ada juga satu mangkuk sup.
__ADS_1
"Terima sus", Suster itu pun tersenyum kepada Fandi beserta Alisa.
"Kalau begitu saya permisi dulu", Pamit suster tersebut kepada Alisa dan Fandi, mereka berdua pun mengangguk mengiyakan.
Setelah suster keluar dari dalam kamar rawatnya, Fandi segera mengambil piring yang berisikan nasi dan kemudian ia tuangkan sup itu kedalam nasi tersebut.
"Ayo sayang, biar mas suapi", Alisa kemudian membuka mulutnya, nasi yang berada di sendok itu pun sudah berhasil mendarat di mulut Alisa dengan cepat.
Fandi terlihat telaten mengurus istrinya, Alisa pun terlihat sangat bahagia, ia merasa beruntung bisa mempunyai suami baik dan perhatian seperti Fandi, Fandi sama sekali tak gengsi jika harus merawat bahkan menyuapi istrinya tersebut.
Saat ini Alisa sudah tidur, Setelah ia menghabiskan makanannya, Fandi menyuruhnya untuk istirahat dan Alisa pun menurut dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.
Ghina dan Ghani sekarang tengah meminum susu formula yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit, jika keduanya minum asi dari ibunya, Fandi tidak yakin jika Alisa akan kuat menyusui kedua buah hatinya jika mereka tidak dibantu dengan susu formula.
Kedua bayi kembar itu sangat kuat dalam menyusu, Setelah mereka kenyang akhirnya mereka tertidur kembali di dalam box bayinya.
🌼🌼🌼🌼
Satu Minggu kemudian, Alisa sudah diperbolehkan pulang, bekas jahitannya juga sudah berangsur kering, kini Alisa tengah di duduk kan di kursi roda oleh Fandi, Fandi tidak akan membiarkan istrinya berjalan sendiri karena bekas luka jahitannya belum kering sempurna.
Bu Mira sudah tiba satu jam yang lalu dengan pak Dimas, pak Ardi tidak bisa datang menjemput kedua cucunya karena pak Ardi sekarang tengah berada di luar kota.
Ghina dan Ghani, kedua bayi tersebut kini tengah di gendong oleh Oma dan opa nya, kedua orang tua itu pun tersenyum saat melihat kedua cucu mereka.
"Pah, Ghina lebih mirip Fandi ya pah", Ujar Bu Mira.
Pan Dimas pun mengangguk, "Iya mah, tapi lihat Ghani, dia lebih mirip Mommy nya, jadi impas ma, semua kebagian", Para Oma dan opa itu pun saling membicarakan kemiripan antara kedua cucunya, kini mereka berdua berjalan keluar dari ruang sakit, Alisa sangat bersyukur akhirnya bisa keluar dari rumah sakit ini, Alisa sudah rindu dengan Rafa, satu Minggu tidak melihat putra pertamanya itu, membuat Alisa selalu kepikiran dengan Rafa, meskipun Fandi juga selalu bilang Rafa baik-baik saja, tapi pikiran Alisa selalu tertuju kepada putra pertamanya
Link mereka sudah sampai di kediaman Fandi, Bu kira sudah turun terlebih dahulu, Rafa sudah menantikan kedatangan mommy nya, anak itu langsung saja berlari dan memeluk mommy nya,
"Afa, rindu mommy, mommy enapa gak pulang-pulang" Ujar anak itu menangis,
Alisa merasa terenyuh, ia juga meneteskan air matanya.
Mereka pun masuk kedalam rumah, didalam kamar Rafa, kini juga sudah tersedianya dua box bayi untuk Ghina dan Ghani,
"Rafa sekarang kalau tidur punya teman, itu namanya Adek Ghani, dan yang ini Adek Ghina", ucap Bu kira kepada Rafa.
Rafa tersenyum senang, ia senang jika mempunyai teman baru, meskipun ia belum mengerti, tapi anak itu terlihat sangat gembira.
Tak kama kemudian, suara ketukan dari pintu depan pun terdengar, Bi Jum pun segera membukakan pintu tersebut.
"Assalamualaikum Bi", ucap Denis dan Nisa,
Denis dan Nisa datang karena sudah mengetahui jika Alisa sudah diperbolehkan pulang hari ini, Disya juga sudah berumur hampir satu tahun, dia sudah mulai belajar berjalan dan terlihat sangat menggemaskan .
"Waalaikum salam, Den Denis, non Nisa, silahkan masuk", Ucap Bi Jum kepada keduanya.
"Terimakasih bi, Pak bos sudah pulang??", Tanya Denis, selama satu Minggu ini Denis lah yang mengurus perusahaan dengan dibantu oleh pak Dimas tentunya,Selama satu Minggu ini Fandi sama sekali tidak datang ke kantor karena sibuk mengurus istrinya, dan Denis akan selalu mengabari tentang bagaimana perkembangan perusahaan nya selama ia tidak datang dalam satu Minggu ini.
"Den Fandi, non Alisa dan si kembar sudah pulang Den, non, Mereka ada dikamar atas, mari saya antar", Bi Jum mengantar Denis dan Nisa, setelah mereka sampai Denis dan Nisa pun segera masuk kedalam kamar tersebut.
"Assalamualaikum", ucap Denis dan Nisa.
"Waalaikum salam", Jawab semua orang yang ada di kamar itu
Alisa tersenyum melihat Nisa dan Disya.
"Disya, Tante sangat kangen sama kamu, dan kak Rafa pastinya juga kangen sama Adek Disya", Ujar Alisa.
Rafa terlihat tersenyum ketika melihat Disya datang, Rafa sangat senang bermain dengan Disya, walaupun mereka masih kecil tapi mereka sudah sering bermain bersama.
Pandangan Nisa kini tertuju kepada Alisa, "Bagaimana keadaan mbak??", Tanya Nisa, melihat Alisa yang masih berada di atas kursi roda, bisa Nisa pastikan jika Alisa masih belum bisa terlalu banyak bergerak.
__ADS_1
"Alhamdulillah Nis, Mbak sehat", Jawab Alisa dengan tersenyum.
Nisa kemudian mengalihkan pandangannya ke dalam box bayi tersebut.
Nisa pun tersenyum,
"Bang, bisa minta tolong bawa dusta sebentar, aku mau menggendong bayi lucu ini", ujar Nisa.
Denis mengambil alih Disya, dan Fandi juga memanggil Rafa.
"Lebih baik kita keluar saja Den, ikut keruang kerjaku", Ajak Fandi.
Para lelaki tersebut kini tengah berada didalam ruang kerja yang tidak jauh dari kamar Rafa, mereka masih bisa mendengar jika ada seseorang yang akan memanggil nya nanti.
Nisa kini tengah menggendong salah satu dari mereka.
"Siapa namanya mbak??", Tanya Nisa kepada Alisa.
"Nama nya Ghina, dan yang satunya lagi Ghani, mas Fandi yang memberikan nama itu", Ucap Alisa.
Nisa pun tersenyum, ia masih menatap bayi tersebut dengan kekaguman, bayi itu sangat cantik sekali seperti mommy nya, tapi, Ghina wajahnya lebih mirip dengan daddy-nya.
Didalam ruangan Fandi, kini Rafa dan Disya sedang bermain di lantai, banyak mainan yang Fandi bawa untuk dua orang anak kecil yang ia bawa sekarang,
Para hot Daddy itu pun kini sedang menatap kedua putra dan putri nya itu dengan seksama.
"Bagaimana den, selama seminggu ini ada masalah yang serius??", Kalimat pertama Fandi saat menanyakan keadaan perusahaan nya.
"Alhamdulillah bos, semua lancar, tidak ada kendala sama sekali, proyek kita juga lancar bos", Jawab Denis, selama satu Minggu ini proyek yang sedang Fandi tangani dipindah tangankan kepada Denis selaku sekertaris pribadi Fandi, menurut Fandi Denis bisa melakukan itu semua, meskipun awalnya Denis menolak karena ia khawatir ia tidak mampu, tapi Fandi memaksanya dengan menghadirkan papanya.
"Jika tidak ada kendala, satu bulan kedepan apa yang sudah bos bangun saat ini akan segera selesai", ucap Denis.
Fandi pun tersenyum lega, setidaknya proyek yang ia tangani bisa segera terselesaikan dengan bantuan Denis dan papanya.
"Terimakasih den, ternyata kamu sangat bisa aku andalkan", puji Fandi kepada Denis.
"Jangan memujiku seperti itu bos, itu semua berkat bantuan pak Dimas juga, jika tidak ada beliau mungkin apa yang aku kerjakan tidak semulus yang kita kira", Denis masih terlihat merendah, tapi menurut apa yang dikatakan oleh papanya, Denis lah yang mengerjakan itu semua.
Satu jam kemudian, Denis dan Nisa berpamitan pulang, Rafa terlihat sangat sedih, ia masih ingin bermain dengan Disya,
"Isya, angan pelgi, kakak acih mau main Ama isya", Rafa pun terlihat sudah berkaca-kaca, anak itu sebentar lagi pasti akan menangis karena Disya akan pulang bersama orang tuanya.
"Rafa, Disya nya mau pulang sama om Denis dan Tante Nisa, kapan-kapan Rafa bisa main lagi sama Disya, Daddy janji", Fandi membujuk putranya, dan akhirnya pun Rafa mengangguk setuju.
Akhirnya Denis dan Nisa pun pulang, dan Rafa pun masih terlihat sedih melihat Disya yang sudah tak terlihat lagi.
Fandi membawa Rafa masuk kedalam rumah, Bi sum pun menghampiri Rafa,
"Aden, ayo mandi dulu, udah sore", Rafa berjalan menghampiri Bi sum, kini Rafa sudah digendong oleh Bi sum dan segera menuju ke kamarnya untuk segera mandi.
Fandi mengikuti putranya dari belakang, tujuan mereka sama, menuju kearah kamar Rafa yang saat ini sudah menjadi kamar Ghani dan Ghina juga.
Fandi masuk kedalam kamar tersebut, ia mendekat kearah istrinya.
"Sayang, kamu mau mandi juga??", Tanya Fandi.
"Iya mas, aku sudah gerah", Fandi kemudian mendorong kursi roda Alisa, Mereka berdua kini sudah berada di dalam kamar pribadi mereka.
Fandi mulai melepas kerudung istrinya, kemudian beralih ke arah gamis yang juga sedang dipakai istrinya, Alisa tidak menolak, ia sangat senang bisa diperhatikan oleh suaminya.
Fandi kemudian mengangkat tubuh istrinya dan ia bawa menuju kamar mandi segera memandikan istrinya.
episode paling panjang ya, gimana
__ADS_1
udah 2000 kata nih