
Ghina turun tepat di resto milik Orang tuanya, Zian sebenarnya menolak, tapi karena Ghina memaksa karena alasan ia harus bekerja part time disini akhirnya Zian pun menyerah.
"Lagi-lagi aku berbohong, bagaimana ini??", Ucap ghina dalam hati, cuma ink salah satu cara agar bisa terlepas dari Zian sore ini, ia tak mau identitas nya diketahui secepatnya oleh Zian.
Mobil Zian pun sudah pergi, Setelah Ghina memastikan semuanya akhirnya Ghina masuk kedalam resto tersebut, benar dugaan Ghina mobil orang tuanya terlihat terparkir di tempat parkir khusus di resto ini.
Ghina masuk kedalam resto, para karyawan yang sudah tahu siapa Ghina memberi hidayah kepada anak pemilik resto tersebut.
Aku masuk kedalam dan tampaknya Daddy dan Mommy ku kini tengah berada di dalam ruangannya.
Aku duduk disalah satu kursi tamu yang ada di sudut resto ini, tanpa aku pesan sesuatu salah satu karyawan resto ini membawakan minuman untukku.
"Silahkan mbak", Ucap karyawan itu kepadaku, dan aku hanya mengangguk dan tersenyum.
"Terimakasih mbak", Jawabku dan karyawan itu pun langsung pergi kembali untuk melanjutkan pekerjaannya.
Aku duduk sambil menikmati milkshake yang ada di mejaku, tak lama setelah itu terlihat pintu ruangan itu terbuka, terlihat Mommy ku keluar tapi tanpa Daddy, aku yakin Daddy masih memeriksa laporan keuangan karena Tante Dina mengajukan cuti karena Suaminya sedang sakit.
Aku melambaikan tangan ke arah Mommy ku, dan nasib baik berpihak kepadaku, Mommy ku langsung saja mengetahui keberadaan ku sekarang.
"Sayang, kok kamu disini, sama siapa??", mommy ku kini mengedarkan pandangannya ke seluruh resto ini, berharap menemukan seseorang yang telah membawaku kesini.
"Aku sendirian Mom, aku kesini mau pulang bareng sama mommy", Jawab ku kepada Mommy, tapi sepertinya mommy tidak puas dengan jawabanku saat ini.
"Kamu pasti bohong kan, pasti ada sesuatu, tumben-tumbenan kamu kesini, biasanya kamu langsung pulang, pasti ada apa-apa nya ini", Ucap mommy yang tahu jika aku sedang berbohong.
"Nggak kok, mom, beneran aku cuma kepingin pulang bareng mommy, gak ada yang lainnya", Ucap ku kepada mommy, dan akhirnya aku pun lega akhirnya mommy ku menyerah.
__ADS_1
"Ya sudah, kamu mau makan??", Tanya mommy ku lagi.
"Iya mom, aku mau makan, tapi makan di dalam ya, gak enak disini", Mommy pun mengangguk dan setelah aku dan mommy memesan mommy pun membawa aku kedalam ruangan Daddy.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Dilain tempat Rafa kini juga sedang perjalanan pulang menuju rumahnya, sesekali ia akan pulang ke apartemen Daddy nya, Rafa kini sudah sampai di halaman rumahnya, ia kemudian turun dan segera masuk kedalam rumahnya, hari ini begitu sangat melelahkan jadi Rafa memutuskan ia langsung saja beristirahat di kamarnya dan tanpa gangguan siapapun.
Malam hari nya semua sudah berkumpul, semua pun sudah berada di dalam satu meja makan kecuali Ghani dan Rafa, Ghani saat ini sedang berada di rumah sakit karena ia mendapat kerja sifat malam, sedangkan Rafa ia kini masih asyik dengan ponselnya yang sedari tadi memandang wajah tunangannya tersebut.
Sudah berulang kali Alisa mengetuk pintu kamar putranya tapi hasilnya tetap sama, Rafa akan makan malam nanti saja dan dia masih belum lapar, Alisa menghela nafasnya, jadi mau tak mau ia membiarkan putra sulungnya itu sementara ini.
Alisa kemudian turun, dan semuanya pun melihat ke arah Alisa, Alisa turun sendirian tanpa Rafa disampingnya, Alisa segera duduk membuat Fandi ingin menanyakan sesuatu kepada istrinya tersebut.
"Dimana Rafa mah??", Tanya Fandi kepada Alisa.
"Ya sudah lebih baik kita makan saja, nanti keburu dingin", ucap Fandi yang langsung diangguki oleh Alisa dan Ghina.
Didalam kamarnya, Rafa masih setia dengan panggilan yang ia lakukan dengan Disya, Rafa sudah rindu, memang sudah beberapa hari ini semenjak mereka bertunangan mereka sama sekali belum bertemu.
Rafa masih setia memandang wajah Disya membuat Disya malu saja, Disya sesekali memalingkan wajahnya ketika Rafa memerhatikan wajahnya secara intens.
"Kamu jangan seperti ini kak, aku malu", ucap Disya, Rafa pun hanya terkekeh mendengar penuturan Disya.
"Kamu harus terbiasa sayang, kan sebentar lagi kita mau nikah, jadi kamu harus terbiasa jika aku seperti ini", Disya pun mendelikkan matanya, mengapa berhadapan dengan Rafa membuat ia seperti ini, dan naasnya lagi, orang sangat ia cintai tersebut merasa biasa saja jika dalam suasana seperti ini, oh rasanya Disya sudah tidak dapat melihat wajah Rafa lagi, ia ingin cepat segera mengakhiri panggilan video nya ini.
"Kak, sudah malam, lebih baik kakak istirahat, besok kan harus kerja lagi", ucap ku agar kak Rafa mau mengakhirinya.
__ADS_1
"Ya udah, kami istirahat saja ya, Assalamualaikum", Rafa akhirnya mengakhiri panggilan nya membuat Disya bisa bernafas lega.
Disya kemudian keluar dari kamarnya, sejujurnya ia belum mengantuk, tapi untuk menghindari dari tatapan Rafa ia harus sedikit berbohong kepada laki-laki yang sangat ia cinta i tersebut, tak terasa waktu pun terus berjalan, dengan berjalannya waktu semakin dekat acara pernikahan Disya dan Rafa, dan mereka masih belum menyiapkan semuanya,
Mulai dari baju pernikahan pun Disya masih belum mendiskusikan itu semua dengan mamanya atau pun Rafa.
Disya turun dari tangga dan menuju ke arah mamanya, disana terlihat adik perempuan nya yang sedang mengerjakan PR nya.
"Dek, mau coklat gak??", Disya mulai merayu adiknya yang kini sudah berusia 13 tahun, Baru dua hari ini Disya bertemu dengan adiknya selama ia sampai dari Amerika, Thalita, Dia sesyang ada acara di sekolahnya sehingga membuat ia harus menginap di sekolahnya tersebut.
Thalia pun mengangguk,
"Bentar ya, mbak ambilin",Disya kemudian pergi menuju ke dapur mengambil coklat yang ia letakkan di lemari pendingin tersebut.
Coklat khusus untuk adiknya ini, ia bawa langsung dari Amerika oleh-oleh khusus untuk adiknya itu.
"Ini", Disya menyerahkan satu batang coklat, dan bisa dilihat jika Thalita sangat senang sekali,
Nisa yang melihat itu semua menjadi sangat bahagia, kini Keluarga nya sudah lengkap karena kehadiran dua putri dalam keluarga nya.
Thalita kemudian memakan coklat tersebut.
"Mbak katanya mau nikah ya, sama siapa mbak, kok Lita gak pernah tau mbak pacaran??"
Lita begitu penasaran dengan calon kakak iparnya itu.
"Rahasia dong, nanti kalau udah jadi suami mbak kamu juga bakalan tahu", Disya kemudian duduk di samping mamanya.
__ADS_1
Nisa terlihat sangat bahagia bisa berkumpul dengan putri nya, ini merupakan hal langka selama lima tahun ini, semenjak Disya di luar negri rumah ini menjadi sepi tanpa ada kegaduhan yang diciptakan oleh kedua kakak beradik ini.