
Zian benar-benar mengajak Ghina pulang bersamanya, mengajak dirinya pergi ke suatu tempat, Zian saat ini ingin mengutarakan niatnya, ia sudah ingin sekali memiliki Ghina seutuhnya, tapi tidak dengan cara yang tidak terhormat, ia ingin memliki Ghina dengan cara menikahinya tentunya, tapi apa Ghina mau dan Zian masih belum menemukan jawabannya.
Kini mereka duduk bersama di sebuah taman, Bibir Zian rasanya Kelu, susah sekali ia ingin mengatakan hal itu, tapi ia harus bisa, sebagai seorang laki-laki tentunya Zian harus bisa mengutarakan niatnya, niat untuk melamar Ghina.
Diam-diam Zian memang sudah memiliki cincin, cincin yang diberi oleh mamanya untuk membawa Ghina ke rumahnya nanti, membawa Ghina sebagai seorang istri pastinya.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu", Ucap Zian, ia bingung harus dari mana ia memulai, tapi yang pasti ia pastikan jika hari ini ia harus bisa melamar Ghina.
Tak perduli prinsip nya dahulu, dahulu ia berniat ingin mapan dulu sebelum menikah, tapi ia rubah prinsip itu.
"Iya mas, kamu mau ngomong apa??, seperti nya serius??", Tanya Ghina lagi.
Memang Ghina sangat penasaran, tak biasanya Zian akan seperti ini, Biasanya jika ia akan bicara kepada Ghina tak terlihat setegang ini.
Zian kemudian berdiri, dan kemudian ia berjongkok di depan Ghina, tangannya kemudian merogoh saku celananya dan memperlihatkan sebuah kotak merah.
Mata Ghina pun mendelik melihat benda tersebut, apakah Zian akan benar-benar melamarnya hari ini, gumam Ghina dalam hatinya.
Mata Ghina pun masih menatap Zian penuh arti, dan Sampai akhirnya Zian Kemudian membuka suaranya.
"Ghina, maukah kamu menjadi istriku??", Ucap Zian kepada Ghina to the points, tak ada kata-kata lain yang Zian ucapkan, yang ia inginkan ia ingin melamar Ghina tanpa basa-basi terlebih dahulu.
Mata Ghina pun berkaca-kaca, ia tak menyangka jika pertemuan pertamanya dengan Zian kali ini ia langsung dilamar oleh nya.
Ghina pun seketika mengangguk, memberi tanda jika ia mau menjadi istri Zian.
"Iya mas, aku mau, aku mau jadi istri kamu", Ucap Ghina sambil meneteskan air Matanya.
Zian kemudian mengambil cincin tersebut dan ia sematkan di jari manis Ghina.
"Ini cincin pemberian dari Mama, Mama sangat mendukung jika aku melamar mu",
"Aku senang mas, aku bahagia", Ucap Ghina sambil terus mengeluarkan air matanya.
__ADS_1
"Ini tandanya aku udah mengikat kamu sayang, nanti kita bicarakan acara lamaran resminya", Ghina pun mengangguk dan Zian pun kembali berdiri.
"Sekarang gak usah nangis lagi, kita pulang aja, aku gak mau nanti Papa kamu mikir aku yang aneh-aneh, gak baik ngajak anak gadis bos sampai lupa waktu", Ghina pun tersenyum dan kemudian ia menghapus air matanya dan kemudian ikut berdiri dan kemudian pulang bersama dengan Zian.
Ghina masih melihat cincin yang sudah melingkar di jari manisnya, ia tak percaya, ia masih belum benar-benar percaya jika ia sudah menjadi tunangan Zian.
"Oh ya sayang, aku mau tanya sesuatu", Ucap Zian dan Ghina kemudian menoleh kearahnya.
" Apa mas, kok kelihatannya serius??", Tanya Ghina.
"Pas waktu aku dibandung aku dapat kiriman ini", Tunjuk Zian pada ponselnya yang sudah terdapat foto Ghina sedang bersama Daddy nya.
"Kamu baca aja sayang, aku penasaran siapa yang gak suka sama kamu di kantor",Tanya Zian lagi.
Ghina pun menurut, ia membaca pesan yang tertulis di bawah foto tersebut.
"Jadi mas sudah tau foto ini??, kenapa gak langsung bilang??", Tanya Ghina.
"Mas gak tau apa yang aku alami, di permalukan gara-gara foto ini, padahal itu kan foto aku sama Daddy, dan aku di tuduh merayu bos yang itu adalah orang tuaku sendiri",Ujar Ghina.
"Maaf jika mas tidak ada saat kamu butuhkan", Ucap Zian yang terlihat sangat merasa bersalah.
"Tidak apa-apa mas, mas gak salah", Tak lama setelah itu mobil Zian sudah berada tepat didepan rumah Ghina,
"Sekali lagi maafin mas sayang",
"Sudah mas aku sudah melupakan itu, lagi pula semua orang kantor sudah tau siapa aku sebenarnya, jadi aku gak perlu main rahasia lagi, semua sudah terbongkar",
Ghina kemudian keluar dari mobil Zian.
"Makasih ya mas, aku senang banget hari ini, sekali lagi terimakasih, aku akan bicara sama Daddy dan Mommy",
Zian pun mengangguk dan kemudian berpamitan kepada Ghina.
__ADS_1
"Ya sudah aku pulang dulu sayang, Assalamualaikum", Zian akhirnya pergi dari rumah Ghina dan Ghina segera masuk kedalam rumahnya.
Suasana rumah masih terlihat sepi, mobil kakaknya juga belum terparkir di rumahnya, mobil Ghani pun juga, pasti Ghani juga belum datang.
Ghina kemudian segera masuk dan segera naik ke lantai atas menuju ke kamarnya, Ghina ingat jika Zian pernah bilang kalau dia ingin sarapan masakan darinya, jadi Ghina pun mempunyai ide jika ia besok akan memasak masakan khusus untuk Zian.
Ghina kemudian segera mandi, ia telah mempunyai ide masakan apa yang akan ia bawakan untuk tunangannya itu.
Setelah mandi dan sholat, Ghina kemudian segera turun, semuanya pun sudah ada terkecuali Rafa dan Disya, kakak dan kakak iparnya itu belum juga datang dan pergi entah kemana.
Ghina pun kemudian duduk di antara Daddy dan Mommy nya, ia ingin memberitahu jika ia sudah dilamar oleh Zian.
"Mom, Dad, ada yang ingin Ghina bicarakan sama Mommy dan Daddy", Ucap Ghina yang membuat Fandi dan Alisa menatap putrinya itu.
"Iya sayang, ada apa??", Tanya Alisa, tak Biasanya putrinya itu mau berbicara serius seperti ini, biasanya ia akan sedikit jahil.
"Dad, Mom, mas Zian udah melamar aku, apa Daddy merestuinya??", tanya Ghina.
Fandi pun terlihat kaget, mengapa Zian tak berbicara dulu, setidaknya ia harus membawa orang tuanya untuk bertemu dengan nya.
"Kapan??, dan mengapa Zian tidak datang kesini untuk menemui Daddy terlebih dahulu??", Tanya Fandi, ia merasa sangat terkejut dengan semua ini, begitu cepat, dan Zian tidak berbicara dulu dengannya.
"Nanti mas Zian akan kesini Dad, dan membicarakan semuanya dengan Daddy", Fandi pun manggut-manggut saja,
"Ok, Daddy tunggu Zian datang kesini", Ucap Fandi sambil tersenyum.
"Jadi Daddy merestui nya??", Tanya Ghina lagi, dan Fandi pun langsung mengangguk,
Ghina kemudian langsung menghambur kedalam pelukan Daddy nya karena merasa senang sekali, "Terimakasih Dad, Daddy yang terbaik", Ucap Ghina.
Fandi pun mengelus punggung putrinya, ia juga dapat merasakan kebahagiaan yang disarankan oleh putrinya saat ini.
Rencananya mau up tadi malam, eh ketiduran, ya udah aku up pagi ini, selamat membaca
__ADS_1