
Masih didalam mobil, dan masih juga menahan kesal, Ghani hanya bisa mengumpat didalam hatinya, Menahan kesal ternyata membuat wajahnya tak setampan biasanya, wajahnya di tekuk, bibirnya pun mengerucut membuat Ratna ingin sekali menertawakan kekasihnya itu, Ratna hanya bisa menggelengkan kepalanya, tapi sempat ada rasa takut ketika melihat Ghani dan Rio beradu mulut di depan gerbang tadi.
Suasana di dalam mobil begitu sepi, tak ada yang saling bicara mereka hanya saling memandang satu sama lain.
"Beneran kamu kemarin nangis??", tanya Ghani kemudian, Ia ingin mendapat jawaban dari mulut Ratna, tak percaya dengan apa yang dikatakan Rio tadi.
"Kata siapa mas??", tanya Ratna ngeles, sejujurnya ia malu mengakui jika dirinya menangis karena melihat Ghani dengan wanita lain.
"Jawab aja, gak usah balik nanya", Jawab Ghani ketus, Ratna dapat merasakan jika Ghani masih kesal kepada Rio, dan lebih parahnya saat ini semuanya berimbas kepada dirinya, ia harus menjawab pertanyaan yang akan membuat Ghani tahu jika dirinya kemarin menangisi seorang dokter Ghani yang terkenal dingin.
Ratna hanya diam saja membuat Ghani kini berbicara Kembali.
"Jika kamu tidak menjawab gak apa-apa, tapi kamu diam itu menandakan jika semuanya itu benar, kamu kemarin memang benar-benar menangisi aku", Ucap Ghani dengan PD nya.
Ratna pun menyebikkan bibirnya, "Dasar cowok memang tingkat kepedeannya meninggi", Batin Ratna, tapi Ratna tak masalah jika Ghani tahu, ia juga akan menanyakan siapa perempuan yang sedang bersama.
"Iya aku ngaku, tapi itu karena kamu sama perempuan lain juga kan kesana nya, ya wajar aja lah kalau aku nangis, aku cemburu juga lihat mas jalan sama perempuan lain", Ghani kemudian berpikir siapa perempuan yang di temui Ratna waktu itu, beberapa saat kemudian Ghani mulai teringat, ia kemudian tertawa, Perempuan yang dimaksud itu adalah Ghina saudara kembarnya.
Rarna pun menatap Ghani, mengapa Ghani tertawa, apa dia memang sengaja mengejek Ratna.
"Mas, kok malah ketawa, kamu memang jahat mas", Wajah Ratna pun sudah kesal, bibir nya sudah mengerucut,membuat Ghani menjadi gemas kepada Ratna.
"Kamu tuh ya, dia itu adik aku, saudara kembar aku, namanya Ghina", Ucap Ghani sambil menyentil dahi Ratna.
"Awww... sakit mas, tega ya", Ghani kemudian tertawa lagi,
"Makanya kalau mau cemburu lihat-lihat dulu, kalau aku jalannya sama Mesya ya kamu wajar cemburu, Ghina itu saudara kembar ku Sendiri", Ratna hanya manggut-manggut saja.
"Tapi seandainya aku gak mutusin hubungan pura-pura kita, kita mungkin gak akan seperti ini mas, kita masih akan menjalani status bohongan kita", Ghani membenarkan perkataan Ratna, jika jalannya tidak seperti itu mungkin mereka tidak akan jadi seperti ini sekarang ini.
"Oh ya mas, Mama aku juga dapat undangan yang sama kayak yang kaku kasih ke aku, apa mungkin Mama kamu kenal sama mama aku ya??", tanya Ratna penasaran, Ratna belum tahu jika Ghani itu adalah anak dari pemilik resto yang di kelola oleh Mamanya.
"Mungkin, nanti kita lihat aja lah, kalau benar-benar kenal ya bagus, jadi aku gak susah-susah buat ngenalin kamu ke Mommy ku", ucap Ghani.
Mata Ratna pun mendelik, secepat itukah ia akan dikenalkan dengan orang tua Ghani, oh... rasanya Ratna masih belum siap.
"Kenapa secepat itu mas, kan baru kemarin jadian udah mau dikenalin ke orang tua mas, aku belum siap", ucap Ratna.
"Udah tenang aja, mommy ku baik kok, kamu tenang aja", Menurut Ghani semakin semakin baik dia mengenalkan Ratna sebagi kekasihnya, siapa tahu jika benar-benar jodoh mereka akan segera menuju ke arah pernikahan seperti kakaknya yang tak perlu menunggu lama untuk meresmikan hubungan mereka.
"Udah gak perlu gugup, nanti pas waktu nikahan kakakku, aku kenalin kamu ke mommy dan Daddy, dan Ghina, kamu penasaran kan Ghina seperti apa??", tanya Ghani, dan Ratna pun mengangguk, sejujurnya ia penasaran apa benar jika Ghina itu benar-benar adik kembar dari Ghani.
Kini mereka sudah sampai tepat di depan gerbang rumah Ratna, Ratna pun langsung saja turun, dan Ghani pun juga gak mampir, jam.makan siangnya sudah hampir habis, jadi Ghani akan kembali menuju ke rumah sakit.
Ratna melambaikan tangannya ke arah Ghani, mereka pun saling melempar senyum.oeeoisahan mereka, sangat manis memang apalagi senyum itu membuat mereka selalu teringat satu sama lain.
"Aku pergi dulu ya, Assalamualaikum", Ghani berpamitan kepada Ratna yang masih setia berada di depan menunggu Ghani sampai mobilnya sudah tak terlihat lagi.
"Waalaikum salam, Hati-hati dijalan mas", Setelah mobil Ghani sudah tidak terlihat lagi di komplek perumahan Ratna, Ratna pun berbalik untuk membuka gerbang rumahnya, Namun siapa sangka, saat ia akan membuka pintu gerbang itu tangannya tiba-tiba diraih oleh seseorang dari belakang,
__ADS_1
Ratna kemudian berbalik dan ingin tahu siapa Yang ada di belakangnya saat ini.
"Rio, lo ngapain disini??", pandangan Ratna masih menelusuri sekitar jalan, sejak kapan Rio ada di sini, mengapa ia tiba-tiba bisa tepat dibelakang nya Setelah Ghani pergi tadi.
"Gue mau bicara sama Lo rat", mata Rio kini menatap Ratna dengan intens, Ada banyak pertanyaan yang akan ditanyakan tentunya oleh Rio.
"Iya, bicara apa??, lebih baik kita masuk dulu", Ratna kemudian melanjutkan membuka pintu gerbang rumahnya dan mempersilakan Rio masuk.
"Lo mau bicara apa??", Posisi mereka saat ini sedang duduk berhadapan, saling memandang satu sama lain, tapi Ratna hanya memandang Rio sebagai sahabatnya, gak lebih, beda lagi dengan Rio, tatapan itu kini berubah menjadi tatapan penuh cinta untuk Ratna.
"Lo gak beneran ada hubungan kan sama dia??", Tanya Rio, Rio ingin sekali mendengar jawaban itu langsung dari mulut Ratna sendiri, ia masih belum percaya dengan semua yang ia lihat tadi.
Ratna mengangguk, menandakan ia benar-benar ada hubungan dengan Ghani,
"Kapan??, kenapa Lo gak bilang sama gue dulu, Lo lihat kan kemarin dia sama siapa??, dia sama cewek lain rat, apa Lo udah lupa", Emosi Rio pun memuncak, ia tak menyangka jika sahabat nya benar-benar kini sudah menjadi milik orang lain.
Rio menampakkan wajah frustasi nya, ia benar-benar tak habis pikir, Kenapa dia malah keduluan sama orang yang baru dikenal oleh Ratna, sedangkan dia udah kenal Ratna sejak lama.
"Yang kita lihat kemarin tidak seperti yang kita lihat, dia bersama adiknya", ujar Ratna menjelaskan.
"Kamu percaya sama dia??", Tanya Rio lagi.
Ratna pun mengangguk, ia percaya sekali dengan Ghani, Ghani tidak mungkin membohongi nya.
"Apa kamu tahu dia siapa??, kalian bahkan baru saja kenal, gak mungkin kamu mengenal dia sudah sejauh ini".
"Dia dokter yang menangani ayah, aku sudah mengenal nya semenjak ayah dirawat, dia baik, dia berjasa banget buat ayah", ucap Ratna, Rio batu tahu jika dia adalah seorang dokter, dokter yang menangani ayah Ratna, Bahkan kini ia sudah kalah telak, ia sudah kalah sebelum berperang, dari segi apapun Rio kini sudah kalah, Ghani adalah seorang dokter, ia sudah mapan dan pastinya Ratna akan bahagia jika bersama dirinya, sementara dirinya, ia hanyalah anak kuliahan semester 6, masih mengandalkan biaya dari orang tuanya.
Ratna pun tersenyum, "Makasih ya, Lo emang sahabat gue yang paling baik di dunia ini, tapi lo tenang aja, mas Ghani gak mungkin nyakitin gue, dalam waktu dekat ini gue mau dikenalin sama orang tuanya" Ucap Ratna, mata Rio kembali mendelik, secepat itukah, bisa-bisa ia benar-benar akan kehilangan Ratna yang selalu bersama kemanapun mereka pergi.
Rio pun tersenyum kecut, Kemudian tangannya terulur dan mengucapkan selamat kepadanya ada Ratna.
"Selamat buat Lo, gue berharap Lo bahagia sama dia", hanya itu yang busa dikatakan okeh Rio.
"Makasih ya, Lo memang sahabat terbaik gue", lagi-lagi Rio hanya dianggap sahabat oleh Ratna, tidak lebih, dan sampai kapanpun akan tetap menjadi sahabat.
"Ya sudah gue pamit dulu", Rio akhirnya pergi dari rumah Ratna dengan kehancuran hatinya, ia benar-benar tidak ada tempat dihati Ratna sama sekali, biarlah perasaan ini ia pendam sendirian tanpa Ratna tahu.
Ratna benar-benar masuk kedalam rumahnya sekarang, badannya sudah sangat lengket dan ia akan membersihkan badannya terlebih dahulu.
🌸🌸🌸
Di kantor Bachtiar Group, Ghina sudah selesai makan siang dengan Mommy nya dan Nita, Mereka makan siang secara tersembunyi di dalam ruangan kerja Mommy nya, selama beberapa hari kedepan Mommy nya sendirian di dalam ruangan ini, Daddy nya kembali menangani Wiratama Corp yang untuk sementara ini di tinggal cuti oleh Rafa.
"Mom, udah selesai nih, aku ke musholla aja duku ya mom, gak enak kan kalau dilihat yang lainnya", ucap Ghina, dan Mommy nya mengangguk, Alisa lebih memilih sholat didalam ruangannya saja.
"Ya udah kamu duluan saja, mommy sholat disini saja", Ghina pun mengangguk dan pergi dari ruangan mommy nya bersama dengan Nita.
Zian sudah beberapa hari ini juga makan siang sendiri, tanpa Ghina, ia sudah tahu jika Ghina makan siang bersama mommy nya.
__ADS_1
Setengah jam kemudian semua sudah kembali ke kursi mereka masing-masing, memukai pekerjaan mereka masing-masing, dan kini Ghina sudah berada di dalam ruangan Zian,
Ghina sedang sibuk memilah beberapa dokumen, "Ini harus cepat diselesaikan, dan besok ini harus sudah berada di ruangan Bu Presdir", ucap Zian, Ghina pun mengangguk, bukan tanpa alasan harus cepat diselesaikan, karena besok adalah hari terakhir ke kantor, sorenya semuanya akan pergi ke Surabaya.
Ghina pun memilah dengan cermat, jangan sampai salah, dan jika salah ia akan kembali dari awal, karena dokumen ini sangat banyak, jadi wajar saja jika Ghina harus teliti dalam melakukan itu semua.
Ghina sudah meletakkan dokumen yang sudah ia pilih tadi, semuanya pun sudah berada dalam tumpukan masing-masing,
"Mas, sudah selesai, aku keluar dulu ya", ucap Ghina dan Zian pun menggeleng, ia tak mau jika Ghina pergi dari ruangannya.
"Duduk disini dulu, temani aku, emang kamu gak kangen sama aku, udah dua hari ini kami gak datang ke ruangan aku, kita hanya ketemu pas waktu lewat aja", ucap Zian yang memang dua hari ini Ghina tidak menemui nya diruangannya.
Ghina kemudian berpindah tempat, tepat di depan Zian, dan mereka kini saling berhadapan.
"Mas, aku keluar aja ya, gak enak sama yang lain, nanti aku janji pulangnya kita bareng", Zian pun mengalah, membiarkan Ghina keluar dari ruangan nya.
"Ok, nanti tunggu di depan aja", ucap Zian, Ghina pun mengangguk dan kemudian pergi dari ruangan Zian.
Dua jam kemudian, mereka semua sudah pergi meninggalkan ruangan mereka masing-masing, mereka semua sudah pulang, kini tinggal Ghina yang sedang menemani Mommy nya untuk turun dari ruangannya.
"Mom, aku pulang sama mas Zian,mommy gak apa-apa kan pulang sendiri??", tanya Ghina.
Alisa pun tersenyum, "Iya gak apa-apa, lagi pula mommy pulang sama Daddy mu, Daddy udah ada di depan katanya, sengaja gak turun dari mobil", Ghina pun tersenyum,
"Ghin, nanti langsung pulang aja, gak usah kemana-mana, udah sore", Ghina pun mengangguk.
"Iya mom, siap", Mereka kini sudah sampai di lantai utama, melewati lobby kantor yang juga sudah sepi, hanya ada satpam yang ada didepan, terlihat mobil daddy nya sudah ada didepan pintu utama kantor ini, dan Alisa pun segera menuju ke mobil milik suaminya.
"Ingat, jangan kemana-mana, langsung pulang", Ghina kemudian mencium tangan Mommy nya.
"Iya mom, ya udah mommy sama Daddy hati-hati ya", Alisa pun mengangguk dan membuka pintu mobil suaminya.
"Daddy, hati-hati ya", ucap Ghina dan Fandi pun tersenyum kepada putrinya.
Ghina kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil yang sudah menunggunya sedari tadi, Ghina kemudian masuk, dan terlihat Zian yang tersenyum manis kepada nya.
"Maaf mas lama, aku masih harus menjemput mommy dulu di ruangannya", ucap Ghina, dan Zian pun mengangguk mengerti.
"Iya gak apa-apa, aku malah senang kamu perhatian sama orang tuamu, sedangkan aku, orang tuaku jauh berada di luar kota, aku disini hanya tinggal sendiri di apartemen", ucap Zian, Ghina pun mengelus punggung Zian, ia tahu Zian sangat merindukan orang tua nya saat ini.
Mobil yang dikemudikan Zian pun berjalan santai menyusuri jalan kota yang sudah senja, matahari pun sudah ingin kembali ke peraduannya membuat sinar yang hampir redup itu terlihat indah saat dilihat oleh banyak mata manusia.
Kini, Ghina dan Ian sudah sampai tepat di depan rumah Ghina, Ghin Apun segera turun dan Zian pun langsung meninggalkan rumah Ghina.
Ghina pun segera masuk dan terlihat kakaknya yang sedang duduk didepan menunggu dirinya pulang.
"Assalamualaikum", ucap Ghina.
"Waalaikum salam, udah pulang dek??", Tanya Rafa.
__ADS_1
"Iya kak, ya udah, Ghina masuk dulu ya, mau mandi, keburu Maghrib nanti", Raga pun mengangguk dan Ghina pun masuk meninggalkan Rafa yang masih duduk di depan sambil menikmati pemandangan sore hari yang tak setiap hari Rafa bisa melihat nya.