Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 3. Bagaimana ??


__ADS_3

Sesuai janjinya Rafa turun kembali untuk menemani istrinya disana. Mengajaknya untuk sekedar mengobrol karena seharian ini Rafa sudah menghabiskan waktunya di kantor.


Bahkan sekarang, Meskipun Rafa sedang capek Rafa masih mau untuk sekedar membantu untuk menjaga Fasya bergantian dengan istri nya.


"Mau makan sekarang sayang??", Tanya Disya. Pastinya suaminya itu saat ini tengah merasakan lapar karena seharian di kantor.


"Boleh", Jawab Rafa singkat.


"Aku siapkan dulu, kamu jaga Fasya ya sayang", Rafa mengangguk, Dan Disya segera pergi untuk menyiapkan makan malam yang sudah di siapkan tadi oleh Bu Asih.


Rafa melihat istrinya sudah menghilang dibalik tembok, sambil terus melihat Rafa kini mulai memikirkan sesuatu yang sedari tadi ia tahan.


Tak lama setelah itu, Disya kembali. Memanggil suaminya yang saat ini tengah bermain bersama putri mereka.


"Sudah siap, Kita makan malam sekarang", Rafa kemudian berdiri dan tetap membawa fasya yang saat ini berada dalam gendongannya.


"Rafa melihat ada ber-bagai macam makanan di meja, Tak hanya satu tapi ada tiga macam lauk disana.


"Semua ini kamu yang masak??", Tanya Rafa, Rafa tak mengharuskan istrinya untuk memasak berbagai lauk seperti ini, Lauk sederhana saja Rafa sudah Senang. Tak perlu mewah seperti ini.


"Bukan. Ini masakan Bu asih", Jawab Disya sambil mengambil makanan untuk Rafa, suaminya.


Rafa pun diam saja, memilih untuk menyantap makanan yang ada di meja.


"Kamu makan juga sayang, Aku tahu kamu belum makan kan??" Sepertinya tebakan sang suami benar. Disya memang belum mengisi perutnya, Menunggu suaminya pulang adalah tujuan utama Disya, makan malam bersama dengan suaminya.


"Aku sengaja menunggu", Ucap Disya sambil tersenyum.


Fasya yang ada stroller nya hanya melihat orang tuanya makan malam, Bayi itu pun sudah kenyang dengan bubur khusus bayi yang ia makan sore tadi.


Rafa kembali bermain bersama dengan Fasya, sedangkan Disya tadi pamit untuk mencuci piring karena ia tak mau ada piring kotor. Setelah makan harus segera di cuci agar tidak menumpuk.


Ternyata, Saat ini Fasya sudah tertidur di pangkuan sang Papa, Bayi itu teramat nyaman jika tidur dengan bersandar di perut papanya.


Rafa memindahkan putri nya terlebih dahulu. Dan setelah itu kembali untuk menemani istrinya dan bermaksud untuk membicarakan sesuatu.

__ADS_1


"Sayang, Ada hal yang ingin aku bicarakan, Ini sangat penting", Disya yang baru saja selesai Langsung menoleh ke arah sumber suara.


Ternyata suaminya saat ini sedang berada di tengah-tengah pintu dapur, Membuat Disya sedikit kaget karena kemunculan nya yang secara tiba-tiba.


"Sini??", Titah Rafa sambil menuntun istrinya menuju ke ruang tengah. Ruangan dimana disana terletak sofa besar yang bisa untuk bersantai disana.


Mereka duduk berdua, Saling berpandangan seperti saat pertama kali bertemu.


"Ada apa sih??, Bikin penasaran aja", Benar saja, Ekspresi wajah Rafa memang tidak bisa di bohongi. Begitu ingin membicarakan sesuatu kepada istrinya.


"Aku ragu sama pembantu kita", ujar Rafa tiba-tiba. Rafa seperti tidak yakin dengan Bu asih. Entah apa yang sedang di rasakan oleh Rafa. Tapi Rafa benar-benar tidak yakin dengan Art nya saat ini.


"Kenapa??, Bukannya kamu yang cari sendiri Art nya??", Tanya Disya.


Disya heran saja, Suaminya baru saja bertemu pertama kali dengan Bu Asih, tapi kenap bisa berpendapat seperti itu.


"Aku nggak tahu sayang, Tapi aku benar-benar tidak yakin", Rafa kembali memberi penegasan, jika dirinya benar-benar tidak yakin dengan Art nya tersebut.


"Jadi Bagaimana??. Mau pecat Bu asih??", Tanya Disya.


"Iya, Aku juga sudah tanya. Dan Bu Asih juga jawab sama. Jika suaminya benar-benar sudah meninggal. Jadi apa yang harus di ragukan dari Bu Asih, Dia jujur sayang, Tidak ada kebohongan",


Ujar Disya memberi pembelaan, Bukan membela tepatnya, Tapi jujur ia teramat kasihan jika Bu asih harus di pecat oleh sang suami.


"Kita lihat saja dalam beberapa hari ini. Jika aku berubah pikiran aku tidak akan memecat Bu Asih",


Mereka pun larut dalam pikiran masing-masing, Dan Disya pun sempat kembali berpikir.


Apa yang membuat suaminya sangat ragu terhadap Bu Asih.


Disya dan Rafa kemudian kembali berbincang-bincang, beda topik. Kini Rafa kembali membicarakan masalah pekerjaan nya.


Jujur Rafa juga perlu dukungan dari istrinya.


Dukungan agar ia kembali semangat untuk memegang proyek besar yang saat ini ia tangani.

__ADS_1


"Mau aku bantuin??, Mungkin aku bisa bantu sayang", Ucap Disya menawarkan diri.


Selama ini dirinya sama sekali belum mempraktekkan apa yang ia pelajari di luar negeri.


Bahkan Papanya pun sempat menawarkan untuk bekerja, Tapi Disya sudah berhasil di bawa oleh Rafa untuk hidup bersamanya.


"Boleh, Tapi kamu nggak capek??, Kan seharian sudah urus Fasya??", Tanya Rafa.


Rafa hanya takut jika istrinya akan kecapekan karena aktifitas mengurus putri nya yang sangat aktif itu.


"Nggak kok. Jangan khawatir. Aku siap bantu kamu", Rafa kemudian beranjak pergi, Menaiki tangga dan menuju ruang kerjanya yang sudah ia tata terlebih dahulu, Menata senyaman mungkin agar ia bisa betah dengan suasana ruang kerjanya di rumah.


Tak lama setelah itu, Raga kembali turun dengan menenteng dua tas kerja. Satu berisikan beberapa dokumen, dah satu berisikan Laptop yang akan mempermudah ia dalam bekerja.


Rafa membuka laptopnya. Banyak file yang harus ia buka. terutama email masuk yang harus ia copy terlebih dahulu.


"Coba kamu pelajari ini sayang, Aku tahu kamu pasti bisa", Ujar Rafa.


Dan Disya pun segera mengambil alih laptop milik suaminya itu.


"Menurut kamu bagaimana kontrak kerjanya??, Apa menguntungkan perusahaan kita??, Aku benar-benar sudah tidak bisa berpikir. Banyak sekali yang harus aku Handle dari kemarin",


Disya pun kembali membaca kontrak kerja milik suaminya. Cukup membingungkan memang.


"Sepertinya ini terlalu bertele-tele. Dan menurut aku ini bertujuan agar kamu Bingung dalam memahami isinya", Ujar Disya.


"Jadi sebaiknya, rundingkan lagi isi dari kontrak ini. Agar bisa menemui titik terang nya", Rafa melihat istrinya begitu lihai dalam memahami suatu masalah. Rafa merasa bangga mempunyai istri seperti Disya.


"Terimakasih sudah membantu ku sayang",


"Sudah kewajiban aku jika kamu kesulitan aku akan membantu sebisaku",


"Sudah malam. kita istirahat saja, Kasihan kamu pasti kamu capek", Lagi-lagi Rafa memahami jika istrinya kelelahan seharian ini.


"Kamu juga istirahat, kamu kan juga capek kerja seharian",

__ADS_1


Mereka Berdua pun kembali ke kamar merek dan segera istirahat karena Besok masih banyak hal yang harus mereka kerjakan.


__ADS_2