
Kabar pertunangan Rafa dan Disya sudah diketahui oleh kedua adiknya, Ghani, yang pagi itu mendengar berita itu dari Ghina tampak terlihat biasa saja, dia hanya diam saja sambil mendengar celotehan dari Ghina.
"Lo kok gak kaget sih, kak Rafa udah tunangan tadi malam, dan Mommy kok gak bilang sama kita dulu, tau gitu gue ikut", Ghina yang kini berada di dalam kamar Ghani sedang berbicara panjang lebar tapi Ghani sama sekali tidak merespon, Ghani baru saja sampai rumah, Setelah mendapatkan jadwal operasi malam, akhirnya pagi ini Ghani bisa merasakan empuknya tempat tidurnya.
"Udah selesai ngomongnya, gue ngantuk banget, lebih baik Lo keluar sana sebelum gue yang pindah tidur di kamar Lo", Ghina yang mendengar kamarnya akan dipakai langsung saja segera keluar, gadis itu masih mengenakan piyama tidurnya, rambut yang masih dikuncir agak berantakan membuat ia terlihat sangat cantik meskipun tidak memakai makeup sama Sekali.
"Iya, iya, gue keluar, gak perlu marah lagi, kalau Lo galak kayak gitu gak bakalan punya pacar Lo", Setelah mengatakan itu Ghina cepat keluar dari dalam kamar Ghani kakaknya, meskipun mereka lahir bersama tapi Alisa akan menyuruh Ghina memanggil di kakak seperti panggilan mereka kepada Rafa.
Ghina lega bisa kabur dari kamar itu, sebelum bantal yang ada di kamar Ghani melayang, lebih baik Ghina menyelamatkan dirinya terlebih dahulu.
Setelah menutup kamar Ghani, ghina melihat Mommy nya yang baru saja keluar dari dalam kamarnya,
"Mom???", Ucap Ghina dan kemudian mengikuti mommy nya yang turun ke bawah.
Ghina kemudian memeluk tangan Mommy dan bergelayut manja saat menuruni tangga.
"Kamu kenapa, tadi Mommy lihat kamu keluar dari kamar Kakak mu??", Alisa pun penasaran, tak biasanya putranya itu memperbolehkan seseorang untuk memasuki kamarnya.
"Kak Ghani ngusir aku dari kamarnya, kan sebel jadinya, tadinya mau curhat eh, dia nya ngantuk katanya habis pulang shift malam", ucap Ghina yang sudah cemberut.
Alisa menggeleng kan kepalanya pelan, "Kamu kenapa gangguin kakak mu sayang, ya wajarlah, capek, pastinya ngantuk", Alisa tak kaget mendengar Ghina yang selalu seperti ini, Ghina memang sedikit jahil dengan saudara kembarnya, tapi kalau dengan Rafa Ghina tak akan berani, ia takut kakaknya itu akan marah dan tidak mau memberi tambahan uang jajan kepadanya.
__ADS_1
Alisa dan Ghina kini sudah berada di dapur, Bi Siti yang sudah 10 tahun ini bekerja dengan Alisa tersenyum saat melihat ibu dan anak ini yang akan membantu dirinya memasak di dapur.
Alisa selalu mengajarkan ghina memasak, Alisa tidak mau jika Ghina akan menjadi seperti dirinya dulu, menjadi wanita manja dan tidak bisa apapun.
"Mom, mau masak apa??", Ghina yang kini sudah memakai apron nya masih menunggu apa yang akan di masak oleh Mommy nya.
"Terserah kamu aja sayang, kamu mau masak apa aja mommy ikut aja", Alisa sengaja memberi kebebasan kepada Ghina untuk menentukan apa menu sarapan setiap pagi, dan Ghina pun menjadi sangat senang bisa menentukan apa yang ingin ia masak sekarang.
Ghina kemudian menuju ke arah lemari pendingin, ia mulai mencari bahan makanan apa saja yang ada disana, Setelah menemukan bahan masakan yang ia cari, Ghina kemudian memulai untuk membuat sarapan pagi ini.
Tak lama kemudian dari arah tangga, Rafa turun dan menghampiri mereka berdua, Rafa kemudian menghampiri Mommy nya dan mencium pipi Mommy nya, mungkin ciuman Rafa mendahului ciuman Daddy nya dan terkadang itu membuat Fandi cemberut ketika ia sudah didahului oleh sang anak.
"Ghin, bikinin kakak kopi dong??", perintah Rafa kepada Ghina, Ghina yang kini sedang sibuk memotong bawang harus berhenti karena perintah dari kakaknya.
"Iya sebentar kak, Pahit apa manis??", tanya Ghina.
"Pahit aja, lagi pula kakak kan udah manis", ucap Rafa yang membuat Ghina yang semula sudah ingin berjalan seketika berhenti.
"Kakak kok pede banget sih, oh ya maklum lah, yang udah punya tunangan tadi malam jadi wajar lah kalau tingkat kepedeannya tinggi", Ucap Ghina Setengah mengejek.
Memang banyak yang mengakui jika Rafa itu sangat manis, enak dipandang, dan semua wanita mengakuinya, termasuk para karyawan nya di kantor.
__ADS_1
"Udah gak usah ngomong terus, kakak tunggu nih kopinya", Ghina kemudian berjalan kembali untuk membuatkan kopi khusus untuk kakak tercintanya.
Rafa kemudian berjalan menuju ke arah halaman samping rumahnya, ia setiap pagi akan selalu duduk di situ, menikmati apa yang ada di dalam rumahnya tersebut, sebuah kolam renang yang cukup luas dan itu membuat Rafa bisa merefresh kan pikirannya.
Satu jam kemudian, Rafa sudah turun kembali dengan pakaian rapinya, Ghina juga mengikuti Rafa dari belakang, selama satu Minggu ini Ghina sudah bekerja di Bachtiar Group, bekerja sebagai karyawan biasa dan tanpa ada yang tahu siapa diri Ghina sebenarnya.
Mereka semua duduk, Fandi, Alisa, Rafa dan juga Ghina, Ghani tidak ikut sarapan, Ghani kini sedang berada di dalam kamarnya dan ia kini sedang tidur.
Setelah sarapan mereka semua meninggalkan rumah, meninggalkan Ghani yang sedang istirahat di kamarnya.
Rafa dan ghina keluar dari rumah, dan bersiap untuk berangkat bekerja.
"Kak, nebeng ya??", Rafa mengangguk mengiyakan, meskipun arah kantor mereka berbeda rasanya Rafa tak tega jika harus melihat adiknya pergi sendirian.
Safety belt pun sudah terpasang, dan Rafa segera memutar kunci mobilnya dan segera melajukan mobilnya menuju ke tempat Ghina.
Ghina terlihat ingin memutar musik didalam mobil tersebut, tangannya terus saja menyentuh layar yang ada didepannya itu.
"Dek, kamu kok nggak bawa mobil sendiri??", Rafa melihat jika Ghina sama sekali belum pernah membawa mobilnya ke tempat kerjanya dan selama satu Minggu ini Ghina hanya mengandalkan taxi online untuk membawanya Sampai menuju ke kantor Mommy nya, nebeng sama orang tuanya membuat ghina akan diketahui identitas yang sebenarnya, hanya orang kepercayaan Alisa dan Fandi yang mengetahui siapa Ghina yang kini bekerja di bagian personalia HRD di Bachtiar Group.
"Ghina kan nggak mungkin bawa mobil sendiri kak, tau sendiri mobil Ghina seperti apa, bisa heboh satu kantor kalau melihat Ghina membawa mobil sport Ghina", Ucap Ghina membuat Rafa terkekeh, benar juga apa yang dikatakan Ghina, jika mobil yang dibelikan Daddy ya itu di bawa ke kantor, bisa jadi mereka semua curiga dan tahu siapa Ghina Sebenarnya, dan Ghina tidak mau seperti itu, ghina ingin dikenal sebagai perempuan biasa sama seperti teman-temannya di dalam kantor tersebut.
__ADS_1