Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 81


__ADS_3

Ghani sudah memberikan obat penurun panas untuk Ghina, dan saat ini Ghina sedang istirahat, wajahnya masih terlihat pucat membuat Zian yang melihatnya menjadi sangat khawatir.


"Bagaimana keadaan Ghina Mah??" Tanya Zian kepada Mama nya.


"Panasnya sudah turun, Kamu gak usah khawatir, lebih baik kamu istirahat saja sayang, biar kamu cepat sehat" Ucap Tania dan Zian kemudian mengangguk, Zian kemudian mulai memejamkan matanya dan mulai istirahat, ia ingin cepat sembuh, dan ingin kembali beraktivitas seperti biasa nya.


Alisa saat ini sedang menemani Ghina, Ghina sudah diberikan ranjang khusus yang juga berada tepat di samping Zian, jadi Zian pun juga lebih leluasa untuk melihat Ghina disampingnya meskipun terpisah.


Rafa dan Disya sudah pulang sejak setengah jam yang lalu, Rafa tak pulang ke apartemen nya, ia saat ini tengah berada di jalan dan menuju ke arah rumah orangtuanya.


"Kita nggak apa-apa kan menginap dulu di rumah, gak ada orang sayang, cuma bibi aja, Daddy dan Mommy di rumah sakit malam ini"


Saat ini mood Disya sering berubah-ubah, Rafa takut jika tidak memberitahu kan terlebih dahulu Disya ngotot ingin minta pulang ke apartemen.


"Iya kak, gak apa-apa, lagi pula aku juga udah kangen rumah, aku kangen kamar kita" Ujar Disya, Rafa pun tersenyum nakal kepada istrinya.


"Pasti kamu kangen saat kita lagi sayang-sayangan kan sayang" Ujar Rafa, dan itu membuat Disya mendelik.


"Maksudnya kak Rafa apa??" Tanya Disya pura-pura tidak tahu.


"Kamu jangan pura-pura gak tahu sayang, aku tahu kaku sengaja menghindar kan??" Tanya Rafa.

__ADS_1


"Nggak kak, aku beneran gak tahu" Disya pun menghentikan kata-katanya, bisa-bisa kalau diladeni malah tambah kemana-mana pikiran suaminya.


Rafa saat ini membelokkan mobilnya ke salah satu warung bakso, entah Kenapa mencium aroma bakso di pinggir jalan membuat air liur Rafa seakan mau menetes.


"Kita mau ngapain kak??" Tanya Disya lagi.


"Kakak mau makan bakso sayang, tiba-tiba aja kakak jadi kepengen makan bakso" Ujar Rafa, dan setelah mobilnya terparkir dengan sempurna barulah Rafa keluar dan kemudian berlari kecil untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya.


Disya pun kemudian segera turun, Dan ia mengikuti Rafa dari belakang, Rafa kemudian menarik pelan tangan istrinya agar sejajar dengan dirinya.


Rafa memilih tempat yang sedikit sepi, banyak pengunjung di warung tersebut dan Rafa memilih tempat paling ujung sendiri, aroma khas dari kuah bakso sangat membuat perut Rafa semakin keroncong, dan ia kemudian segera memesan agar ia cepat menikmati bakso tersebut.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka pun sudah tertata di meja, Disya yang awalnya kurang minat menjadi ikut tergiur juga, segera keduanya mengambil saos, kecap beserta sambal untuk meracik bakso di mangkuk mereka, Rafa segera mencicipi kuah bakso untuk pertama kalinya, benar saja Rafa langsung saja tersenyum lebar saat merasakan kuah bakso tersebut.


Disya yang sedari tadi melihat hanya diam saja, ia begitu intens dari tadi menatap suaminya yang seperti tak makan berhari-hari.


Rafa yang menyadari Disya belum menyentuh makanannya langsung saja menyadarkan Disya dari lamunannya.


"Sayang, sayang, kamu kenapa??" Tak ada respon Sama sekali dari istrinya tersebut, dan Disya masih tetap terus menatap kearah Rafa.


Rafa kemudian menggerakkan tangan nya, dan barulah Disya mulai tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Hey sayang, kamu kenapa??" Tanya Rafa, Disya pun mulai gelagapan, ia terpergok melamun dan memandang suaminya tersebut, betapa malunya Disya saat ini ,dan ia kemudian mulai menurunkan pandangan nya.


"Aku nggak Apa-apa" Sangkal Disya, dan ia kembali menikmati bakso yang masih banyak itu.


"Jangan bohong, suamimu ini tahu sayang jika istrinya sedari tadi memperhatikan ketampanan wajah suaminya" Ujar Rafa kepada Disya, mendengar kata-kata Rafa Disya pun menjadi ter batuk-batuk, "Kenapa tingkat ke Pede an suaminya ini semakin bertambah dan tak berkurang sama sekali" Gumam Disya, jujur ia sangat malu sekali, tapi sudah terlanjur dan ia lebih memilih diam, bicara pun percuma dan akan menambah ejekan dari suaminya itu.


Setelah selesai Rafa segera membayar bakso yang tadi ia makan bersama istrinya, dan Disya pun langsung saja pergi ke arah dimana mobilnya berada, ia tak mau menunggu suaminya, ia lebih memilih masuk kedalam mobilnya dan menunggu suaminya didalam.


Rafa sudah masuk kedalam mobil dan itu artinya perjalanan mereka akan dilanjutkan kembali, Disya pun tampak menguap, ia sudah mulai mengantuk, ia lelah dan tak lam setelah itu Disya pun terlelap, Rafa menoleh ke arah samping, tangan nya naik keatas dan mengusap pucuk kepala istrinya yang berbalut pasmina berwarna pink itu, Rafa tahu jika istrinya sekarang sedang lelah, jadi Rafa tak mau mengganggu dan membiarkan istrinya tidur.


Setengah jam kemudian, Mobil sudah sampai di depan halaman rumah besar Orangtuanya, rumah itu terlihat sepi sekali, orangtuanya berada di rumah sakit, Ghina pun juga, dan sepertinya Ghani adiknya ada tugas malam juga dan tak pulang malam ini, jadi hanya mereka berdua dan ada para bibi yang ada di dalam rumah sebesar ini.


Rafa kembali menoleh ke arah istrinya, rasanya tak tega jika harus membangunkan nya, dan akhirnya Rafa pun berinisiatif untuk menggendong Disya sampai ke kamarnya.


Rafa sedikit kewalahan, berat badan istrinya memang akhir-akhir ini terus saja bertambah sejak kehamilan nya, pipinya juga semakin chubby membuat Rafa terkadang gemas kepada Disya sendiri.


Disya kini dibaringkan di ranjang king size yang ada di dalam kamarnya, tak lupa juga Rafa melepas pasmina istrinya, Sepatu, dan yang lainnya, Rafa ingin istrinya tidur dalam keadaan nyaman saja.


Setelah semua itu selesai, Rafa kemudian beranjak dan berjalan menuju kearah kamar mandi, ia ingin membersihkan tubuhnya terlebih dahulu baru setelah itu ia akan pergi tidur untuk menemani istrinya yang sudah terlelap terlebih dahulu.


Badan Rafa saat ini sudah segar, ia hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya, segera ia membuka lemari pakaiannya dan mencari celana pendek dan kaosnya yang berbahan tipis yang masih ada di dalam kamarnya, Rafa dan Disya sengaja tidak membawa semua bajunya, mereka ingin jika ada hal yang mendesak ia akan. lebih mudah jika harus menginap di sana tanpa membawa baju satu pun,

__ADS_1


Setelah selesai semuanya, Rafa akhirnya menyusul istrinya dan tidur tepat di samping istrinya dengan memeluk istrinya tersebut.


__ADS_2