Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 16


__ADS_3

Pagi ini, pagi yang sangat menegangkan untuk Ghina, pasalnya ia akan menjawab apa yang dinantikan oleh Zian selama beberapa hari ini.


Dan pagi tadi Zian sudah menelfon nya, Zian berniat untuk datang dan menjemput Ghina untuk berangkat ke kantor bersama dengan dirinya.


Ghina juga sudah memberitahu kakaknya jika pagi ini ia tak nebeng seperti biasanya,


"Tumben kamu gak nebeng kakak, biasanya sampai mohon-mohon", ucap Rafa kepada Ghina.


"Em... , pagi ini Zian jemput aku kak, jadi aku mau aja di jemput Zian, itung-itung gak ngerepotin kakak satu hari ini", ucap Ghina kepada Rafa kakak nya.


"Dek, kamu harus bisa jaga diri kamu, meskipun kakak tahu Zian itu baik dan gak mungkin melakukan hal yang di luar batas, kalau laki-laki dan Perempusn itu sering bareng, setannya juga selalu ikut", ucap Rafa mengingatkan.


"Iya kak, Ghina akan jaga diri Ghina, Ghina gak mungkin ngelakuin hal sampai dibatas kewajaran kak", Tak lama kemudian terdengar suara mobil dari arah depan, kini mommy dan Daddy nya baru saja turun dan akan menuju ke meja makan untuk sarapan bersama.


Alisa kemudian mendekat dan duduk di kursi yang biasanya ia duduki, "Kok kayaknya mommy dengar mobil berhenti ya, coba kamu lihat dulu sayang", titah Alisa kepada Ghina, Ghina pun mengangguk dan pergi menuju ke pintu utama untuk melihat siapa yang datang pagi ini.


Ghina keluar dari dalam rumah dan melihat Zian yang sedang keluar dari dalam mobilnya.


Zian pun tersenyum kepada Ghina, dan Ghina pun menghampiri Zian dan mengajaknya masuk terlebih dahulu.


" Assalamualaikum", Ucap Zian saat masuk kedalam rumah Ghina.


" Waalaikum salam", Jawab mereka semua yang kini sedang berkumpul di meja makan, Ghani pun juga sudah bergabung, dan kini Ghina mengajak Zian untuk sarapan bersama.


"Ayo nak Zian kita sarapan bersama, tidak perlu sungkan", Ucap Alisa kepada Zian.


Zian pun mengangguk dan kini duduk tepat disamping Ghina, Ghani sedari tadi memperhatikan Zian, Ghani ingin melihat lebih jelas seperti apa laki-laki yang menyukai saudara kembarnya itu.


Semuanya pun kini sarapan dalam diam, Nasi goreng khas buatan Ghina sudah masuk kedalam perut semua orang.


Ghani selesai lebih dahulu, sudah kebiasaan Ghani, jadwalnya yang padat dan tanggung jawab terhadap pasiennya membuat Ghani harus cepat datang ke rumah sakit.


"Mom, dad, aku berangkat dulu", Ghani kemudian mencium tangan Daddy dan Mommy nya, tak lupa juga Ghani mencium pipi Mommy nya, itu semua sudah kebiasaan kedua putra laki-laki disini.

__ADS_1


Ghani kemudian berpamitan juga kepada Rafa dan juga Ghina, " Aku berangkat duluan kak, Ghin", Ucap Ghani kepada saudara nya, dan tak lupa juga satu orang lagi, Zian, Ghani juga terlihat tersenyum kepada Zian.


Satu persatu pun terlihat meninggalkan meja makan, Rafa yang pagi ini ada meeting mendadak akhir pamit terlebih dahulu, beruntung Ghina sudah di jemput oleh Zian, jika tidak pasti Ghina akan ngambek kepada kakak sulung nya tersebut.


Zian dan Ghina kemudian berangkat, bersama dengan Daddy dan Mommy nya yang juga ikut berangkat ke kantor.


Mereka menaiki mobil berbeda dan kini mobil Zian memilih untuk berada di belakang dan membiarkan mobil orang tua Ghina berangkat terlebih dahulu.


Ghina terlihat diam saja saat bersama Zian, suasana pun terlihat nampak Canggung membuat Zian pun melirik Ghina yang sedari tadi tidak berbicara satu patah katapun.


Zian kemudian menghela nafasnya, ia sebenarnya ingin menanyakan jawaban dari Ghina, tapi sepertinya saat ini belum saat nya, tak mungkin ia akan menanyakan hal itu pagi ini, setidaknya nanti siang atau mungkin bisa nanti malam.


"Ghin, bagaimana persiapan pernikahan kak Rafa, apa sudah siap semuanya??", Tanya Zian yang mencoba memecahkan suasana.


Ghina pun menoleh ke arah Zian dan menunjukan senyum bahagianya.


"Iya, Semuanya sudah hampir siap, tinggal acaranya saja, mas datang ya, nanti jika undangan nya sudah jadi akan ku berikan kepadamu mas", Ucap Ghina, dan Zian pun mengangguk.


"Mas??", Panggil Ghina, dan Zian pun menoleh kearah Ghina.


"Iya Ghin, ada apa??", tanya Zian, mata mereka sekilas saling memandang dan kemudian Zian mengarahkan pandangannya kembali menuju jalanan yang ada di depannya.


"Mas, Kau sudah punya jawaban itu mas, dan aku sudah memikirkan nya matang-matang beberapa hari ini", Ucap Ghina, Zian pun kemudian menoleh dan menunggu kelanjutan dari perkataan Ghina, Zian pun tak menyangka jika Ghina yang terlebih dahulu mengatakan ini tanpa ia harus bertanya nanti.


"Jadi Bagaimana Ghin??, Apa kamu mau menerima ku, menerima cinta ku??", tanya Zian lagi di sela-sela ia mengemudikan mobilnya.


"Iya mas, Aku menerima cinta kamu mas, aku mau kamu jadi bagian hidup ku, dan aku juga sayang sama kamu mas", Ucap Ghina yang membuat Zian seketika tersenyum lebar.


Zian pun terlihat sangat bahagia sekali, ia tak menyangka jika Ghina akhirnya menerima cinta nya, ini bagai mimpi untuk Zian, tapi mimpi itu kini telah menjadi kenyataan.


"Terimakasih Ghin, Terimakasih sudah sudah mau menerima cintaku, aku berjanji akan membuatmu nyaman bersama dengan ku, aku juga berjanji tidak akan menyakitimu Ghin", ucap Zian bersungguh-sungguh.


" Iya mas, aku percaya itu, jadi sekarang kita sudah resmi pacaran ya, tapi...", Ucap Ghina terpotong.

__ADS_1


"Tapi apa Ghin, Ada apa??, Apa ada masalah??", Tanya Zian.


"Bagaimana nanti di kantor, pastinya semua akan tahu jika kita punya hubungan", ucap Ghina yang khawatir dengan para karyawan yang ada dikantornya.


"Kamu jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa, jika mereka semua tahu itu bagus, berarti semua tahu jika aku itu milikmu dan kamu adalah milikku, jadi, tidak ada yang berani mendekatiku ataupun mendekatimu",


Ghina pun menjadi lega, setidaknya rasa khawatirnya itu sudah berangsur hilang, meskipun itu semuanya itu belum pasti terjadi, tapi setidaknya Ghina harus berjaga-jaga jika ada seseorang yang akan membicarakan dirinya tentang hubungannya dengan Zian.


Mobil mereka akhirnya sampai, jauh sesudah mobil orang tuanya yang sudah sampai sedari tadi, untung saja mereka berdua tidak telat, jadi mereka tidak perlu mendapat teguran oleh pimpinan perusahaan yang tak lain adalah orang tua Ghina.


Mereka bersua pun masuk bersama, mereka berdua kini pun jadi pusat perhatian karena Ghina yang baru saja keluar dari mobil yang sama dengan Zian.


Resepsionis yang ada di loby pun juga menatap Ghina dengan tatapan aneh nya, lebih tepatnya lebih mengerikan dari yang biasanya, memang disini Zian tergolong laki-laki yang masuk dalam incaran banyak wanita yang bekerja disini, namun Zian pun tak pernah menggubris, malah ia bersikap cuek dan tidak pernah merespon semua apa yang dilakukan wanita-wanita di kantor ini.


Ghina dan Zian masuk dalam satu divisi secara bersamaan, lagi-lagi semua mata tertuju pada mereka, Zian sudah tidak perduli, tapi untuk Ghina, ia merasa semua mata kini sedang menatap dirinya sedari ia keluar dari dalam mobil sampai sekarang.


Ghina duduk di kursi kerjanya, ia kemudian segera memulai pekerjaannya dan tidak mempedulikan sekitar, mungkin hanya Nita lah yang akan ia beri tahu nanti, tapi tidak untuk lainnya, Nita merupakan sahabat baik Ghina, jadi tidak enak jika Nita tidak mengetahui perihal hubungannya dengan Zian.


🌼🌼🌼🌼🌼


Hari ini merupakan hari terakhir pak Bambang dirawat di rumah sakit, Ghani pun sudah memberitahu jika pak Bambang sudah bisa pulang, keadaan pak Bambang memang sudah cukup membaik setelah menjalani beberapa pemeriksaan selama ini.


Ratna pagi ini berniat menjemput orang tuanya setelah kurang lebih satu Minggu berada di sini, Ratna memang capek terkadang harus bolak-balik ke kampus, pulang dan setelah itu ke rumah sakit.


"Mah, sudah selesai atau belum??", Tanya Ratna kepada Mamanya.


"Iya sebentar lagi, kamu temui duku dokter Ghani ya, bilang terimaksih kepadanya", Ucap Bu Dina kepada Ratna putrinya.


Ratna pun mengangguk, tapi sejujurnya ia malas sekali jika harus bertemu degan dokter Ghani, Dokter yang paling dingin di rumah sakit ini, para suster muda dan para dokter muda pun masih belum menyerah mendekati seorang dokter Ghani, tapi lagi-lagi dokter Ghani hanya menganggap itu biasa saja.


Ratna kini berjalan menuju ke ruangan dokter Ghani, ruangan yang mengingatkan kejadian dirinya yang tak tahu malunya meminta minum didalam ruangan tersebut.


"Gimana ya, aku masuk atau tidak??", tanya Ratna dalam hatinya, sejujurnya ia sangat malas jika harus kehadapan dengan dokter yang dianggap sombong oleh Ratna itu.

__ADS_1


__ADS_2