
Tangan Ratna sudah terangkat ingin mengetuk pintu ruangan tersebut, tapi ia urungkan kembali, sudah hampir lima kali Ratna ingin mengetuk pintu tersebut dan sudah hampir lima kali juga Ratna urungkan niatnya,
Ratna kemudian membuang nafasnya kasar dan menetralkan degupan jantungnya, ia sendiri tidak tahu kenapa di saat mau bertemu dengan dokter Ghani kinerja jantungnya tak dapat di kondisikan seperti ini.
Ratna sudah memutuskan untuk mengetuk dan masuk kedalam ruangan dokter itu, Ratna sudah tidak mau membuang waktu lagi, jika tidak sekarang, mau kapan lagi, toh ia sudah tidak mau kembali ke tempat ini, lagi pula siapa yang mau kembali ke ruang sakit, tidak akan pernah.
Tangan Ratna sudah terangkat kembali, mencoba untuk mengetuk, tapi siapa sangka saat ia benar-benar ingin mengetuk, justru pintu tersebut terbuka tiba-tiba dan sial nya lagi mengenai wajah tampan dokter itu, Ratna pun seketika kaget, mulutnya seketika menganga mengingat apa yang ia lakukan barusan.
"Maaf dokter, saya tidak sengaja", Dokter Ghani pun saat ini tengah mengusap kening yang sudah terkena tangan Ratna, Memang apa yang dilakukan Ratna memang cukup kerasa sehingga membuat dokter Ghani seketika memelototkan matanya.
"Kamu???, apa yang kamu lakukan??, apa kamu tidak lihat kamu sedang mengetuk kening ku", Ucap Ghani kepada Ratna.
Ratna pun lagi-lagi tertunduk mendengarkan ocehan Ghani untuk yang ke tiga kalinya.
"Maafkan saya dok, saya tidak sengaja, saya memang berniat untuk menemui dokter, tapi saat saya ingin mengetuk pintu, ternyata dokter malah keluar terlebih dahulu", ucap Ratna yang mencoba menjelaskan semuanya.
Ghani pun terlihat masih setengah kesakitan, tapi ia memaklumi apa yang dilakukan wanita ini.
"Ada apa kamu mau menemui ku??", tanya dokter Ghani akhirnya, Ratna pun mulai lega karena urusan kening tadi sudah terselesaikan.
" Saya hanya ingin mengucapkan terimakasih kepada dokter, dan hari ini saya akan membawa ayah saya pulang", ucap Ratna.
"Hmm, baiklah, itu semua sudah tugas saya sebagai seorang dokter, jadi kamu tidak perlu melakukan hal itu", ucap Ghani.
Ratna merasa urusan nya sudah selesai, dan ia kini berniat pamit karena tidak mau sampai berlama-lama berurusan dengan yang namanya doker Ghani.
"Saya rasa sudah tidak ada lagi yang ingin saya katakan dokter, kalau begitu saya mau pamit duku, permisi", ucap Ratna yang saat itu juga dihentikan oleh Ghani.
"Mau kemana kamu??", Tanya Ghani kepada Ratna.
"Saya mau pulang Dok, bukannya urusan saya sendiri dah selesai disini, jadi untuk apa saya masih berada disini??", tanya Ratna.
"Selesai katamu??", Tanya Ghani lagi dan Ratna pun hanya mengangguk.
"Urusan kita belum selesai begitu saja, kamu harus bertanggung jawab, kening saya masih sakit, jangan pernah kabur dari saya", ucap Ghani.
Ratna pun semakin kesal, bukannya semua sudah selesai tapi ini apalagi, tanggung jawab??, rasanya Ratna mau pukul saja wajah dokter itu dengan tasnya.
__ADS_1
"Mana ponselmu??", Tanya Ghani kepada Ratna.
"Ponsel??, untuk apa??", tanya Ratna tidak mengerti
"Sudan jangan banyak tanya, cepetan mana ponselmu", perintah Ghani kepada Ratna, dengan terpaksa pun Ratna akhirnya menyerahkan ponselnya kepada Ghani, entah apa yang akan dilakukan dokter itu dengan ponsel Ratna, Ratna pun masih belum tahu dan hanya sebatas melihat saja
Terdengar ponsel berbunyi dari saku jas putih milik Ghani, dan setelah itu ghnyai pun menyerahkan ponsel Ratna kembali.
"Jangan pernah kabur dari ku, Jiak sewaktu-waktu aku memintamu untuk bertanggung jawab kamu harus segera datang", ucap Ghani yang kemudian berlalu dari hadapan Ratna.
Ratna pun mendengus kesal, di a kemudian memasukkan ponselnya kembali kedalam tasnya,
"Dasar dokter gila", ucap Ratna sedikit keras membuat Ghani berbalik arah melihat Ratna.
Ratna pun menutup mulutnya, tak sangka apa yang ia ucapkan tadi terdengar oleh Ghani yang Ratna rasa sudah berjalan cukup jauh dari dirinya.
Ratna akhirnya pun kembali kedalam ruang rawat ayahnya, memang ruang rawat itu cukup jauh, dan itu lagi-lagi membuat Ratna lelah saat berjalan menyusuri koridor rumah sakit untuk segera sampai di ruang rawat inap ayahnya.
Ratna berubah pikiran, ia kemudian tidak menuju ruang rawat ayahnya terlebih dahulu, ia akan mengurus pembayaran perawatan ayahnya selama di rumah sakit ini, jadi Ratna memutuskan untuk langsung turun ke lantai utama untuk melakukan pembayaran di bagian administrasi rumah sakit.
Langkah Ratna sangat cepat,ia baru ingat jika jam 11 nanti ia ada jam kuliah, kemudahan ia segera kembali ke ruangan ayahnya dan segera membawa ayahnya pulang dari rumah sakit ini.
Satu jam kemudian Ratna akhirnya sampai di pelataran rumahnya, rumah yang tidak cukup besar tapi juga tidak kecil, hanya dua lantai,Ratan pun turun dan kemudian membukakan pintu untuk mamanya.
Terlihat pak Bambang sudah sangat sehat sehingga membuat Ratna tak khawatir lagi, pekerjaan ayahnya yang sangat sibuk membuat pak Bambang akhirnya jatuh sakit dan dilarikan kerumah sakit selama satu Minggu ini.
Setelah mengantarkan orang tuanya ke dalam, Ratna pun kembali berpamitan, Ratna sudah hampir telat dan ia segera berangkat menuju ke kampusnya.
Ia kemudian kembali mobilnya dengan kecepatan lumayan tinggi, ia sudah hampir telat dan tak mungkin juga jika ia akan kena hukum dari dosen yang akan mengisi jam kuliah nya sekarang.
🌸🌸🌸🌸
Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, kini Ghina mengajak Nita untuk segera pergi ke kantin, ia akan memberitahukan segalanya kepada Nita, ia tidak mau kita akhirnya salah paham karena telah menutupi identitas asli dirinya.
"Lo mau makan apa, biar gue yang traktir", ucap Ghina kepada Nita.
Mata Nita pun kembali berbinar, ada acara apa sehingga Ghina mentraktir makan siang lagi hari ini.
__ADS_1
" Beneran nih Li yang traktir", ucap Nita kepada Ghina, Ghina pun mengangguk dan membuat kita segera memanggil Mbak yang berjualan di kantin kantor ini.
Nita memesan bakso dan ia juga memesankan menu yang sama untuk Ghina, itu sudah menjadi menu favorit mereka ketika makan siang di kantin kantor ini, dan minuman nya tak lupa jus jeruk dengan es yang sangat banyak.
Kini mereka sedang menunggu makanan mereka datang, dan sambil menunggu akhirnya Ghina pun mulai membuka suaranya.
"Nit, ada sesuatu yang mau gue sampaikan ke elo, tapi gue mohon Lo jangan kaget dan Lo jangan heboh, mulut Lo jangan ember", ucap Ghina memperingatkan Nita terlebih dahulu.
"Iya, apa??, Gue gak heboh dan gak bakalan ember, sumpah", ucap Nita sambil tersenyum.
Ghina kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam, mencoba untuk mempersiapkan diri dengan apa yang ingin ia katakan kepada Nita.
" Nit, gue mau jujur sama Lo, dan gue gak mau nutupin semuanya dari lo siapa gue sebenarnya", ucap Ghina terjeda.
Nita pun tak menyela, ia masih fokus mendengarkan kelanjutan dari mulut Ghina.
"Gue sebenarnya udah jadian sama pak Zian", ucap Ghina membuat Nita memelototkan Matanya.
"Seriusan??, kapan??, kok gue gak tahu??", tanya Nita lagi yang terus melontarkan pertanyaan nya.
" Iya, tadi pagi waktu pak Zian jemput gue di rumah, dan sebenarnya pak Zian udah nembak gue sejak seminggu yang lalu dan baru tadi pagi gue kasih jawaban itu",Ucap Ghina.
Nita pun seketika tersenyum, "Gak nyanga ya ternyata, pantesan aja pak Zian selalu manggil Li kedalam ruangannya, ternyata ada rasa", ucap Nita sambil terkekeh.
"Hmm.. seharusnya itu harus di publikasikan, biar orang gak pada salah paham Sama Lo, Lo kan dikirain suka sama pak Fandi", ucap Nita kepada Ghina.
Ghina kemudian seketika tertawa,
"Gila Lo ya nit, ya jelas lah gue Suak sama pak Fandi, dia kan bokap gue, dan Bu Alisa itu nyokap gue", ucap Ghina yang membuat Nita tidak percaya dengan perkataan Ghina.
"Ih, Lo jangan bohong, Lo lagi nutupin sesuatu kan??, pasti itu cuma buat nutupin", ucap Nita sedikit bercanda kepada Ghina.
"beneran, masa gue bohong, belia memang orang tua gue", ucap Ghina.
"Mana buktinya??", tanya Nita.
"Mau bukti, sebentar", Ghina kemudian merogoh saku blazer nya, ia hendak mencari ponselnya tapi ternyata ponselnya tertinggal di dalam tasnya.
__ADS_1
"Ponsel gue tertinggal, tapi Lo jangan khawatir, gue bakalan kasih bukti ke elo", Tak lama setelah itu, makanan yang di pesan kedua wanita ini pun datang dan mereka memilih untuk menyantap terlebih dahulu maka siang mereka.