
Ghina masih terngiang-ngiang ucapan kakaknya, mungkin kah dirinya akan menyesal jika tidak mengikuti kata hatinya, tidak!!, "Mana mungkin aku bisa menyesal, siapa Zian??, tapi mengapa aku terus memikirkan dia terus, atau mungkin aku sudah jatuh cinta kepadanya", Ghina pun mengusap wajahnya kasar, dia galau, dia bingung apa dia harus menerima Zian atau tidak.
Ghina kemudian turun dari tempat tidurnya, berniat keluar dari kamar hotelnya dan menuju ke kamar sebelahnya, kamar dimana Daddy dan mommy nya sedang beristirahat.
Ghina mengetuk pintunya pelan, tak lama kemudian pintu tersebut pun terbuka lebar dan terlihat Mommy nya lah yang membukakan pintu untuk nya.
"Mommy", Rengek Ghina kepada mommy nya, Alisa pun bingung, kenapa anak nya bisa seperti ini, wajahnya terlihat seperti wajah yang sedang galau.
Alisa membawa Ghina masuk kedalam, ia mendudukkan Ghina di tempat tidur yang disana juga ada Daddy nya yang tengah menonton televisi, Alisa pun memandang ke arah Fandi, dan Fandi pun mengangkat wajahnya seakan penasaran dengan apa yang sedang dialami oleh putrinya.
Alisa pun menggeleng kan kepalanya, memberitahu jika dia juga belum tahu apa yang sedang terjadi dengan Ghina.
Ghina kemudian memeluk Alisa dengan erat, mendekap Mommy nya agar perasaan nya sedikit tenang.
Alisa kemudian mengelus punggung putrinya membiarkan putrinya agar lebih tenang sedikit, setelah dirasa Ghina sudah merasa tenang barulah Alisa akan menanyakan apa yang sedang terjadi sebenarnya.
"Kamu kenapa sayang, cerita sama Mommy",
Ghina kemudian melepas pelukannya, ia kemudian mengambil nafasnya dalam-dalam dan mencoba untuk membuka suaranya.
"Mom, beritahu aku, apa aku harus menerima cinta dari mas Zian??", tanya Ghina kepada Mommy nya.
Alisa kemudian mengerutkan. keningnya, "Maksud kamu apa sayang, Zian nembak kamu??", Tanya Alisa kemudian kepada putri satu-satunya itu.
Fandi yang mendengar nya pun kini turut mengarahkan pandangannya ke arah putri dan istrinya.
Ghina kemudian mengangguk, membuat Alisa tersenyum,
"Pah seperti nya putri kita sudah besar, lihat tuh dia lagi galau", ledek Alisa kepada Ghina.
Ghina kemudian cemberut, bukannya memberi solusi mommy nya justru tambah meledeknya saat ini.
"Daddy, lihat mommy, mommy malah tertawa sekarang, bukannya memberi solusi", Ghina beralih menuju ke arah Daddy nya saat ini.
"Daddy bagaimana ini, aku harus apa??", Tanya Ghina yang bertanya kepada Daddy nya.
"Jadi ceritanya kamu minta pendapat sama Daddy dan Mommy mu??", Tanya Fandi membuat Ghina mengangguk.
"Kalau menurut Daddy dan Mommy, semua itu terserah kamu saja sayang, kamu yang menjalani dan kamu yang merasakan apa kamu benar-benar cinta juga dengan Zian, dan setahu Daddy Zian anak yang baik, Zian itu anak teman Daddy, dia memilih kerja di perusahaan kita karena dia mau mencari uang dengan hasilnya sendiri dan tanpa mengandalkan orang tuanya", ujar Fandi.
Mendengar penuturan dari Daddy nya membuat Ghina menjadi kagum terhadap Zian, tiba-tiba Ghina tersenyum sendiri mendengar Daddy nya bicara, semua itu sedari tadi tak luput dari pengawasan Alisa dan Fandi, melihat itu semua membuat Alisa dan Fandi mengerti jika Ghina juga menyukai Zian.
__ADS_1
"Jadi Daddy dan mommy merestui hubungan kami??", tanya Ghina kepada mommy dan daddy nya.
Alisa dan Fandi pun mengangguk, dan Ghina seketika memeluk kedua orang tuanya lagi.
"Ya udah kalau gitu Ghina mau ke kamar Ghina lagi, makasih ya mom dad", Ujar Ghina yang kemudian segera keluar dari kamar Daddy dan mommy nya.
Alisa dan Fandi pun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah putrinya itu, mereka tak menyangka jika Zian lah yang sudah membuat putrinya itu galau.
"Anak-anak jaman sekarang gak kayak kita dulu ya pah, coba papa Dulu, papa dulu cuek sama mama, sok cool lagi jadi bos", ujar Alisa mengingat bagaimana pertama kaki Alisa bertemu dengan Fandi saat pertama kali Alisa masuk ke dalam resto milik Fandi.
"Kan beda mah, Papa kan belum mengenal Mama", ucap Fandi kepada Alisa.
"Ya udah Mama mau tidur dulu pah, sudah malam", Alisa kemudian menarik selimutnya sampai batas dada Alisa membuat Fandi langsung saja ikut masuk kedalam selimut bersama istrinya.
"Mah, papa kangen tau sama mama, Yuk cari pahala", ajak Fandi kepada Alisa.
"Pah, ingat umur dong, nanti papa pinggang nya pegel-pegel, terus Mama lagi yang nantinya mijitin papa", ucap Alisa kepada Fandi, Fandi pun tak perduli dan kini mulai memeluk istrinya dari belakang, meskipun sudah berkepala lima, tapi tak membuat stamina Fandi berkurang malahan Fandi masih sama seperti dulu, hanya saja terkadang ia akan sedikit sakit pinggang dan itu akan membuat Alisa tak bisa tidur.
Keesokan paginya, hari ini adalah hari terakhir mereka di Surabaya, jadi sore nanti mereka akan check out dari hotel dan akan pulang ke Jakarta, dan mereka akan kembali lagi kesini dua Minggu lagi, tepat dimana hari pernikahan Rafa dan Disya.
Hari ini mereka akan pergi menuju ke kebun binatang yang ada di Surabaya, mumpung ini adalah hari Minggu, jadi mereka bisa berlibur bersama keluarga Denis juga, ini merupakan hal yang sangat langka untuk kedua keluarga ini, terakhir kali mereka berlibur saat Rafa masih kecil dan Disya pun belum.lahir waktu itu.
Mobil Denis sudah terparkir di depan pintu utama hotel tersebut, mereka sedang menunggu keluarga Fandi yang akan keluar dari hotel tersebut, mobil yang mereka sewa pun masih terparkir di basemen hotel tersebut.
"Sudah lama den, maaf membuat kalian menunggu lama", Denis pun tak mempermasalahkan itu semua,
"Ya sudah bos, kita berangkat sekarang??", tanya Denis kepada Fandi.
"Iya, nanti kesiangan", ucap Fandi, dan mobil yang disewa Fandi sudah datang, haryu ini Rafa lah yang mengemudikan mobil tersebut dan tak membiarkan Daddy nya yang akan duduk di balik kemudi.
Kedua mobil itu pun akhirnya pergi meninggalkan hotel tersebut, mobil Denis pun terlihat ada di depan, sebagai penunjuk jalan kemanakah rute yang akan mereka lewati nantinya.
Satu jam kemudian, mereka sudah sampai di tempat tujuan, Rafa pun segera turun begitu juga Disya, Ada yang berbeda dengan Disya hari ini, Disya hari ini mengenakan pakaian yang tertutup dan kepalanya kini sudah berbalut dengan pashmina yang membalut kepalanya.
Rafa sedari tadi sama sekali tidak tahu, jadi baru saat ini Rafa mengetahui jika Disya belajar untuk mengenakan hijab.
Disya pun mendekati Rafa, mereka berdua berniat untuk pergi menuju ke loket pemesanan tiket masuk, dan mereka berdua pun akhirnya pergi bersama.
"Kamu cantik sekali, aku sangat suka, terimakasih ya", ucap Rafa membuat Disya sedikit malu.
" Terimakasih untuk apa kak??", Tanya Disya.
__ADS_1
"Terimakasih untuk kamu yang sudah mau menutup aurat mu, Hanyay aku yang boleh melihatnya nanti, dan bukan orang lain", ucap Rafa membuat Disya mengangguk kan kepalanya.
" Iya kak, aku akan belajar mulai dari sekarang", Ucap Disya.
kini mereka sudah kembali menuju ke arah rombongan keluarga mereka, Setelah mendapatkan tiket masuk kini kedua keluarga tersebut terlihat berjalan bersama sambil melihat berbagai macam hewan yang ada di kebun binatang tersebut.
Ghina yang membawa kameranya tak lupa mengabadikan setiap momen yang ada di kebun binatang tersebut, beberapa kali Ghina juga berfoto bersama dengan Disya, mereka berdua kini sudah semakin akrab, padahal kedua wanita ini baru saja bertemu, tapi keakraban mereka seperti sudah lama mengenal.
Waktu kini sudah berganti, kini mereka harus meninggalkan kota Surabaya dan kembali menuju ke Jakarta,
Disya pun terlihat sangat sedih, baru kemarin dia bisa bertemu dengan Rafa lagi, tapi hari ini harus berpisah lagu dan akan bertemu saat acara pernikahan mereka.
"Mama pulang dulu ya sayang, jaga kesehatan, Sebentar lagi kan mau nikah ,jadi Disya gak boleh sampai sakit", ucap Alisa.
Disya kemudian memeluk Alisa yang sudah ia anggap seperti Mama kandung nya sendiri, begitu juga dengan Alisa, ia sudah menganggap Disya seperti putri kandungnya sendiri saat Disya lahir ke dunia ini.
Fandi juga berpamitan kepada Denis, dua Minggu lagi status mereka akan berubah menjadi besan Setelah kedua anak mereka menikah nantinya.
Disya kini beralih memeluk Ghina,
"Sering-sering telfon mbak ya, mbak senang bisa bareng kamu dua hari ini", ucap Disya kepada Ghina.
"Iya mbak, sampai jumpa dua Minggu lagi ya kakak ipar", ucap Ghina membuat Disya Seketika tersenyum.
Lalu kini giliran Rafa mendekat,
Disya terlihat sedih saat melihat Rafa.
"Sudah jangan sedih sya, dua Minggu lagi kita akan sama-sama terus, kakak akan membawa kamu kemanapun kakak pergi",Ucap Rafa.
"Iya kak, hati-hati ya, nanti kalau sudah sampai jangan lupa kabarin aku", Rafa pun mengangguk dan kemudian meninggalkan Disya dan segera masuk kedalam bandara.
Dua Minggu sangat lama menurut Rafa dan Disya, mereka sudah tidak sabar lagi akan segera menikah, mereka sudah ingin hidup bersama sebagai pasangan suami dan istri.
Setelah keluarga Fandi memasuki pesawat mereka, Denis, Nisa dan Disya pun segera pulang karena harus menjemput Putri mereka yang masih berada dalam acara sekolahnya.
Beberapa jam kemudian Fandi dan keluarga sudah tiba di Jakarta, supir yang ditugaskan pun juga sudah tiba, barang-barang pun juga sudah dimasukkan kedalam bagasi mobil, dan mereka kini segera meninggalkan bandara dan segera menuju ke rumah mereka.
Tepat jam 7 malam mereka sudah sampai di rumah, Ghani ternyata ada dirumah, hari Minggu biasa nya Ghani akan keluar bersama dengan teman-teman nya untuk sekedar melepas penat karena sibuknya bekerja, tapi hari ini Ghani berada dirumah dan tak keluar sama Sekali.
Ghina segera ke kamarnya, ia ingin segera mandi dan segera tidur,besok Ghina akan mulai bekerja dan akan menjawab pernyataan cinta Zian kepadanya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rafa, ia juga masuk kedalam kamarnya setelah ikut menyeret koper miliknya sendiri, Ia juga akan mandi terlebih dahulu dan kemudian akan mengabari Disya jika ia sudah sampai di Jakarta dengan selamat.