Cinta Tulus Suamiku

Cinta Tulus Suamiku
Season 2 Part 22


__ADS_3

Ratna sudah tak menunjukkan senyumannya sama sekali, bibir nya sudah mengerucut, hatinya juga sudah bergemuruh hebat, dan air matanya sudah ingin tumpah membasahi wajahnya, entah apa yang dirasakan Ratna saat ini, dadanya merasa sangat sekali ketika Ghani memberikan undangan tersebut, apakah Ratna sudah mulai jatuh hati kepada Ghani, dan Ratna pun masih belum menyadari nya sampai saat ini.


Makan malam mereka pun sudah selesai, tapi kesalahpahaman yang dialami Ratna masih belum, Ratna masih salah paham kepada Ghani karena sebuah undangan tersebut.


"Mas sudah kan, kalau sudah kita pulang aja ya, aku capek", Ghani pun mengangguk dan mengajak Ratna pergi meninggalkan resto tersebut, tak banyak yang mereka bicarakan, Ratna sudah malas berbicara kepada Ghani dan Ghani pun masih belum menyadarinya.


Ratna pun segera turun dari mobil Ghani, dan Ratna melarang Ghani untuk membukakan pintu mobil untuknya.


"Gak nyuruh aku mampir dulu??", Tanya Ghani.


"Nggak, nanti ada yang marah", Ghani pun bingung dengan ucapan Ratna, ada yang marah??, tapi siapa?? Ghani pun semakin bingung saja.


" Ya sudah aku pulang dulu, Assalamualaikum", ucap Ghani sebelum memutar kunci mobilnya.


" Waalaikum salam", Jawab Ratna yang masih terlihat cuek kepada Ghani.


"Oh ya, jangan lupa datang, aku tunggu", Ratna tidak menjawab, ia kemudian segera masuk kedalam rumahnya dengan rasa sedihnya, baru saja ia melayang terbang tinggi karena perlakuan Ghani kepadanya, tapi selepas itu ia jatuh ke tanah dan merasakan sakit yang amat hebat.


Ratna kemudian segera masuk kerumahnya,segera naik menuju ke kamarnya,


Ia hempaskan tubuhnya ke ranjangnya dan melempar tas yang ia bawa tadi, terlihat undangan itu menyembul keluar dari dalam tas itu dan Ratna pun tak perduli.


"Dasar cowok sama aja, mau nya Menang sendiri, buat apa aku jadi pacar pura-pura nya jika dia sudah punya calon istri, mengapa tidak calon istrinya itu yang di bawa saat menemui Mesya, mengapa aku??", Ratna pun sekarang tengah mengomel tidak jelas dikamarnya, sakit hati, ya memang benar, Ratna saat ini sakit hati kepada Dokter Ghani, tapi sakit hati karena kesalahpahaman yang ia buat sendiri.


Undangan pun sudah benar-benar tersebar, dan Dina sebagai pengelola fandy's food juga sudah menerima undangan dari bosnya tersebut.


🌸🌸🌸


Keesokan harinya, semuanya pun sudah berkumpul, kurang 5 hari lagi tepatnya, kini Rafa harus mengambil cuti selama akan diselenggarakan pernikahannya.

__ADS_1


"Kamu dirumah aja, biar Daddy yang urus kantor, calon pengantin gak boleh kemana-mana" Fandi pun memberitahu putranya, dan Rafa pun menuruti semua perkataan orangtuanya.


"Iya dad, Rafa akan dirumah sampai pernikahan Rafa", Jawab Rafa.


Setelah sarapan berakhir, Rafa pun Kembali ke kamarnya, jujur ia bosan sekali, tapi mau gimana lagi, ia harus tetap dirumah sampai 5 hari kedepan.


Begitu juga dengan Disya, mamanya juga sudah sepakat jika Disya juga tidak boleh keluar rumah, jika ada sesuatu yang ingin ia beli, maka ia harus menyuruh seseorang atau tidak ia bisa berbelanja lewat aplikasi online.


Kini Disya sedang dikamarnya, ia kini sedang asyik dengan buku bacaannya yang akan menemani ia selama masa pingitan ini, bukan hanya buku atau novel, televisi, laptop pun juga sudah siap menghibur Disya dikala ia kesepian.


Tiba-tiba ponsel Disya pun berbunyi, sudah bisa dipastikan siapa yang akan menelfonnya sepagi ini, siapa lagi kalau bukan Rafa, calon suaminya.


Disya pun tersenyum lebar, benar dugaannya, Rafa lah yang sedang menelfon dirinya, dan Disya pun segera menggeser layar benda pipih yang sudah ada ditangannya tersebut.


"Halo kak", ucap Disya saat menerima telfon dari Rafa.


"Halo sayang, kamu sedang apa??", tanya Rafa, Rafa belum tahu jika Disya juga tidak boleh keluar rumah, dan yang Rafa tahu Disya masih menjalani aktivitas nya setiap hari.


Rafa pun tertawa, Ternyata nasib calon istrinya sama dengannya, sama-sama tidak boleh keluar rumah.


"Loh, kok ketawa kak, emang nya ada yang lucu??, kan aku nggak lagi ngelawak", Disya pun heran kenapa bisa ia ditertawakan seperti ini.


"Pasti kamu senang kan kak aku gak boleh keluar sama mama, kamu mah enak kak, masih bisa keluar dari rumah",


Rafa pun kembali tertawa, mendengar Disya yang seperti nya sedang meratapi nasibnya membuat Rafa lagi-lagi tertawa.


"Siapa bilang kakak senang di atas penderitaan kamu, kakak juga sama, kakak juga lagi dikurung sama mommy, udah gak boleh keluar sampai tanggal pernikahan kita", Disya pun tersenyum, ia kini mengerti ini pasti sudah rencana mamanya dan Mama Alisa, kedua ibu-ibu itu memang tidak memperbolehkan kedua anak jua untuk keluar dari rumah sebelum acara pernikahan mereka diselenggarakan.


"Ya udah berarti udah adil dong, kita sama , sama-sama di kamar dan sama-sama bosan" Ucap Rafa lagi kepada Disya.

__ADS_1


Mereka kini asyik dengan pembicaraan mereka di telfon, mereka harus menunggu 5 hari lagi menuju halal, menuju dimana mereka akan hidup bersama dan saling berbagi suka maupun duka keluarga mereka.


Di kampus, Ratna sama sekali tidak bersemangat, ia masih teringat undangan yang diberikan Ghani kepadanya, undangan itu masih berada di atas meja nakas kamar Ratna, untuk menyentuhnya saja Ratna sudah tidak mau, Ratna tidak mau tahu kapan itu akan diselenggarakan.


Rio kemudian datang, ia duduk tepat di belakang meja Ratna, jam kuliah pun akan dimulai dan Ratna sama sekali tidak bersemangat.


"Rat, Ratna, hey", Berulang kali Rio memanggil Ratna tapi tak ada respon sama sekali.


"Hey Lo kok ngelamun sih, emang ada masalah??", tanya Rio yang kini sedang ada dibelakang Ratna.


Ratna pun membuang nafasnya secara kasar, ia bingung, cerita pun tak mungkin, ia tak mau menceritakan soal hubungan pura-pura nya dengan dokter itu, dan imbasnya sekarang Ratna lah yang patah hati.


"Gue gak apa-apa, cuma kurang tidur aja", ucap Ratna sengaja berbohong.


"Oh, gue kira Lo lagi punya masalah, tapi seandainya benar, gue mau kok jadi tempat curhat Lo, cowok begini gue bisa jaga rahasia, gak ember", ucap Rio, Dan Ratna pun langsung saja tersenyum.


"Iya gue tahu Lo gak ember, tapi gue sedang gak ada masalah sama sekali", Ratna masih dalam pendiriannya, masih tidak mau cerita apa yang sedang ia alami.


🌸🌸🌸


Di resto milik Fandi, kini Dina sedang menuju ke ruangannya, ruangan yang sama saat pertama kali ia naik jabatan sebagai pengelola resto ini,


Dina pun masuk, ia kemudian segera duduk di kursi kebesarannya sebagai manajer resto ini,


Matanya kini mulai melihat benda yang ada di atas meja nya, lebih tepatnya sebuah undangan, Dina kemudian segera meraihnya, dan membuka undangan tersebut, Dina pun seketika tersenyum, ternyata yang mengirimkan undangan tersebut adalah keluarga bosnya, keluarga Alisa sahabat sekaligus bosnya di resto ini.


"Alhamdulillah, akhirnya Rafa menikah juga", ucap Dina yang masih memegang undangan tersebut.


"Lebih baik aku segera mempersiapkan semuanya, Kan acaranya Minggu depan, jauh lagi tempatnya, jadi sebaiknya aku siap-siap mulai sekarang", ujar Dina kepada dirinya sendiri, ia mulai mempersiapkan semuanya, terutama untuk putrinya, Dina pastinya akan mengajak putri beserta Suaminya ke acara tersebut.

__ADS_1


Dina sama sekali tidak mengetahui jika putrinya sudah kenal dan mendapatkan undangan itu juga, Dan Dina juga belum tahu jika putrinya kini tengah patah hati dengan putra bungsu bosnya tersebut, Dina pun juga begitu, ia belum hafal wajah dari Ghani putra dari bosnya itu, yang Dina tahu hanya lah Rafa, karena Rafa sudah sering ikut ke resto dan beberapa kali juga ikut membantu dalam urusan pengembangan Resto milik keluarganya.


__ADS_2